
dean menghentikan laju mobilnya tepat di jalan yang tadi pak arman sebutkan.
Jalanan yang cukup sepi dan tak banyak kendaraan berlalu lalang. Dean menepikan mobilnya dipinggir jalan lalu melihat kesekitar yang nampak sepi, hanya ada beberapa pejalan kaki.
"kenapa papa menyuruhku kesini ?? Apa papa sedang mengerjai ku ??" ucap dean sambil celingukan mencari zelia ditempat itu.
Namun nihil, dean tak melihat zelia berada disekitar sana. Yang ada hanya deretan makan yang berjejer rapi disebuah Tempat pemakaman umum di daerah itu .
"kenapa papa menyuruhku mendatangi tempat pemakaman ini ?? Apa zelia benar ada disini ??? Apa disini letak makam ayah nya?? "
terbesit tanya di dalam hati dean yang kemudian dapat langsung ia temukan jawabannya. Dean baru menyadari kemungkinan besar zelia benar berada disini karena mungkin disinilah ayah zelia di makamkan waktu itu.
Wajar saja jika dean tak mengetahui dimana letak makam ayah zelia dan dimana tempat tinggal zelia sebelum dia tinggal bersama keluarganya. Karena saat itu ia memang masih berada diluar negri dan sampai saat ini ia tak pernah menanyakan hal itu pada zelia.
Dean bergegas turun dari mobil. rasa tak sabarnya untuk segera menemui zelia membuatnya tak tahan untuk berlama-lama didalam mobil.
Dengan langkah panjang dari kaki jenjangnya, dean dengan cepat dapat memasuki area TPU yang amat luas itu.
Dean melihat kesekeliling area makam yang nampak sepi. Bahkan tak ia temui satu orang pun berada di makam itu terlebih di bawah cuaca panas terik seperti hari ini.
Namun dean tak berputus asa hanya disitu. Ia tetap menerobos masuk untuk mencari keberadaan zelia dan dimana makam ayah nya.
Dean terus berjalan melewati deretan makam yang berjejer rapi dan begitu terawat dengan rumput hijau yang tumbuh subur menyelimuti .
Mata nya menyusuri setiap sudut tempat berharap ia dapat melihat zelia berada disana.
kini langkahnya terhenti saat mata nya tertuju pada seorang wanita dengan rambut yang tergerai panjang sedang duduk menghadap ke sebuah makam.
Meski dean belum melihat wajahnya. Namun dilihat dari punggung dan bentuk rambut nya yang bergelombang alami membuat dean yakin bahwa itu adalah wanita yang selama ini ia cari-cari.
dean mengembangkan senyumnya saat wanita yang telah berhari-hari ia cari kini ia temui meski disebuah makam yang begitu sunyi.
Dean berjalan mendekat kearah zelia secara perlahan, bahkan langkah kakinya nyaris tak terdengar. Belum lagi, suara isak tangis zelia membuatnya tak fokus ada suara derap langkah seseorang mendekat dan kini telah berdiri dibelakangnya.
"yah... zeli gak sanggup melewati hidup ini sendiri. Andai zeli boleh meminta, zeli ingin tinggal bersama ayah saja hiks hiks" ucap zelia ditengah isak tangisnya.
"yah, setiap detik zeli selalu rindu ayah. Ayah mau gak sih ngeluangin waktu sejam aja untuk bertemu zeli. Zeli Ingin dipeluk yah "
__ADS_1
sesekali zelia mengelap ingusnya yang terus mengalir seiring dengan air mata yang mengalir dengan deras.
Zelia benar-benar merasa terpuruk setelah berhari-hari hidup sebatang kara tanpa ada satu orangpun yang peduli dengan isi hatinya.
Bahkan ia sudah hampir putus asa dan terlintas dalam fikirannya bahwa ia ingin mengakhiri hidup saja. Untunglah iman yang sejak kecil sudah tertanam membuatnya dapat berfikir ulang untuk melakukan hal sekeji itu hanya karena sulit menerima ketetapan takdir hidup.
Zelia menangis tergugu, sesekali tangannya mengusap air mata yang terus saja berjatuhan.
"yah disini sekarang zeli sendirian yah, zeli takutt !" ucapnya pada sebuah makam yang tetap tenang tanpa jawaban.
.
.
"jangan pernah merasa kamu sendirian. karena aku selalu bersama mu" sahut dean.
jawaban dean juga mewakili jawaban sang ayah dari balik tanah.
Zelia menengok kebelakang dimana asal suara itu terdengar. Sungguh terkejut dan ada rasa tak percaya melihat sesosok lelaki tampan yang telah lama ia rindukan kini berdiri tepat dibelakangnya sambil tersenyum.
"waktu itu mimpi bertemu ayah, kali ini mimpi bertemu kak dean. Kenapa kalian hanya hadir dalam mimpi sih !!"
Ia fikir kali ini ia hanya sedang bermimpi sama seperti waktu saat dirinya memimpikan sang ayah ketika ketiduran diatas makam ayahnya.
Dean tersenyum melihat zelia yang masih tak percaya akan kehadirannya bahkan kini
Zelia kembali menoleh menatap makam sang ayah dan mengabaikan keberadaan dean disana.
dean berjalan mendekat lalu berjongkok tepat disebelah zelia yang masih duduk sambil menangis tersedu.
"kamu gak mimpi bi, ini aku datang untuk menjemputmu"
dean mendekatkan wajahnya menatap lekat wajah wanita nya yang terlihat begitu pucat.
zelia menggeleng, kali ini bukan karena ia tak percaya. Namun hatinya cukup kecewa karena mengapa baru sekarang dean datang dan ingin menjemputnya. Entah kemana dean beberapa hari yang lalu hingga nomor handphonenya sangat sulit untuk dihubungi oleh zelia .
"ayolah bi. Kamu harus kembali, aku datang untukmu" dean menggengam tangan zelia sambil terus menatap wajah sendu itu.
__ADS_1
Zelia menundukkan pandangannya merasa tak sanggup untuk memperlihakan betapa kecewa dirinya terhadap dean yang tak ada disaat dia terpuruk dan membutuhkan dean untuk berada disisinya.
"maafkan aku bi, maaf" dean memeluk erat tubuh zelia yang kini nampak sedikit kurus .
zelia hanya terdiam, tak membalas pelukan dean namun tak berusaha untuk melepas pelukan itu. Pelukan yang akhir-akhir ini ia rindukan namun terasa hambar karena telah dibalut oleh kekecewaan.
"bi, maafkan aku telat datang menolongmu. Namun aku berjanji, setelah ini semua akan baik-baik saja. Percayalah kamu pasti aman bersama ku. Dan aku kembali ke jakarta untuk menepati janji-janjiku sebelum aku pergi"
Dean mencoba meyankinkan zelia bahwa dirinya tak pernah ingkar akan janji yang pernah ia ucap sebelum ia pergi ke surabaya bahwa ia akan memberitau seluruh keluarga tentang hubungan mereka yang sebenarnya.
Zelia masih terdiam, seketika air mata nya kembali melintas perlahan membasahi wajah pucatnya.
Merasakan ada yang menetes dari mata zelia. Dean menangkup wajah zelia dengan kedua tangan seraya berkata
"mulai hari ini, aku akan memberi tau dunia bahwa kamu adalah milikku yang sesungguhnya. Kamu akan menjadi satu-satunya permaisuri dalam hidupku bi. Aku berjanji kamu akan bahagia hidup dalam mahligai rumah tangga yang akan kita bangun berdua"
Dean menatap manik mata zelia yang juga balas menatapnya. Sungguh hati dean saat ini bagai tertusuk oleh sebilah bambu runcing yang dapat menembus hingga ke bahunya saat melihat keadaan zelia yang begitu memprihatinkan dan tak seceria sebelumnya.
Zelia tersenyum tipis. Bibir pucatnya bergetar tak mampu mengeluarkan kata-kata. Ia merasa senang dan bersyukur karena dean masih menhingat semua ucapan janjinya, zelia hanya bisa berharap bahwa dean dapat mempertanggung jawabkan semua perkataannya.
.
Dean senang meski zelia masih enggan membuka suara, namun terukir senyum dibibir manis yang selalu ia rindukan.
"ikutlah bersamaku, ada yang ingin ku tunjukkan pada mu bi"
Dean menggandeng tangan zelia dan mengajaknya bangkit lalu pergi meninggalkan makam dengan nama ivan wiguna dalam batu nisannya.
Zelia mengikuti langkah dean dengan tangan yang masih tetap berada erat dalam genggaman lelakinya itu.
hati dean benar-benar sakit melihat tingkah zelia kini berbeda dari dulu. Sungguh ia sangat menyesal karena telah meninggalkan zelia hanya demi sebuah proyek yang ia fikirkan keuntungannya saja.
zelia terus mengikuti langkah dean menyelusuri sela-sela makam meski sedikit tertatih.
dean segera membuka pintu mobil untuk zelia dan mempersilakan zelia masuk kedalamnya. Setelah itu ia pun membuka pintu sebelah kemudi dan mulai masuk kedalamnya lalu kembali melajukan mobilnya menuju rumah utama arman wijaya.
.
__ADS_1
.