Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 83. terdengar berita


__ADS_3

[Disurabaya]


"hans, apa lo masih belum bisa dapatkan nomor handphone zelia sekarang???"


Tanya dean begitu cemas sambil menatap hans tajam.


Dean mengingat kejadian saat ia berada dilokasi pembangunan sebuah gedung yang berada didekat danau buatan bekas galian pertambangan.


Saat itu, ia sedang mengangkat telpon dari salah satu partner bisnis yang bekerja sama untuk mengembangkan usaha mereka.


Namun naas, saat ia sedang berbicara dibalik telpon sambil berjalan ditepi danau , kakinya terpleset hingga akhirnya handphone yang ia pegang terpental dari genggaman tangan. Untunglah saat itu hans yang melihat dean akan terjatuh pun begitu sigap menarik tangan dean agar tak ikut jatuh ke dalam danau .


Namun handphone nya tak bisa terselamatkan untuk tidak tenggelam kedasar danau. hingga membuatnya kesulitan untuk mencari nomor zelia karena hanya di handphone itulah nomor zelia tersimpan.


.


"sabar !! Gue belum bisa dapet nomor handphone zelia de"


jawab hans yang masih sibuk mengutak atik laptopnya mencari jejak nomor handphone zelia yang tertinggal di akun email dean.


"huffttt kenapa disurabaya kamu jadi bodoh sekali hans !! "


umpat dean yang semakin kesal karena hans benar-benar menguji kesabarannya.


" kenapa dia bisa menyimpulkan berada di kota yang berbeda, berbeda pula cara kerja otakku?? Dasar bos sinting"


gumam hans dalam hati. Ia terus saja mengutak atik laptop nya namun tak menemukan jejak nomor handphone zelia dan begitu sulit untuk melacaknya.


"kenapa perasaan gue gak enak ya hans ! Gue takut terjadi sesuatu pada zelia dijakarta"


layaknya cara kerja setrika, dean berjalan kesana kemari dihadapan hans yang masih sibuk bergelut dengan laptop dan handphone nya.


" apa belum ada tanda-tanda keberadaan nomor handphone zelia yang bisa terbaca?"


Lagi lagi dean berceloteh panjang lebar membuat hans justru merasa kesulitan untuk berkonsentrasi .


"sepertinya zelia tak pernah menghubungi lo lewat email, gue sulit melacaknya"


Ucap hans yang hampir putus asa.


Dean menatap kembali ke arah hans yang membuat hati nya semakin gundah karena pernyataannya. Alih-alih melihat tatapan dean bak singa yang siap menerkam mangsa nya, hans berupaya untuk mencari solusi lain agar dean tak meluapkan emosinya.


"apa kita minta nomor handphone zelia sama sean atau bu ida ??"


hans menatap dean yang terlihat begitu panik dengan celoteh saran yang terdengar begitu konyol. Bagaimana mungkin meminta nomor zelia pada suaminya sendiri ??

__ADS_1


"oo gue tau !!! Coba lo hubungi nomor rumah. Gue yakin pasti bi darmi yang akan mengangkat telpon nya" titah dean kepada hans yang tak kunjung menyelesaikan pekerjaannya untuk mendapatkan nomor handphone zelia.


Tak ada pilihan lain bagi dean selain meminta pertolongan pada bik darmi, sebab meminta nomor handphone zelia pada sean dan bu ida pun percuma, karena hanya dean satu-satunya penghuni rumah itu yang memiliki nomor pribadi zelia.


"lalu apa hubungannya dengan bi darmi ?? jangan bilang lo akan berpaling dengan bi darmi atau minta di kenalkan dengan anak gadis nya??"


Ledek hans memecah ketegangan diantara mereka sambil mencari nomor rumah utama arman wijaya yang akan ia hubungi.


"bangsruttt.... Gak semudah itu gue untuk berpaling !! Katakan kalau lo udah bosan hidup hans ! Gue lagi panik gini gak usah cari masalah "


Pekik dean saat mendengar celoteh hans yang mengajaknya bercanda namun sulit untuk ia terima.


"sorry sorry" jawab hans santai.


"ini..." hans menyodorkan handphone yang sudah terhubung dengan panggilan nomor rumah dan dapat dipastikan suara bi darmi sudah berkicau disana.


Dean segera meraih handphone yang dipegang hans.


"hallo bik" sapa dean


"iya den, owalahh ini den dean to. Kenapa den??" tanya bi darmi yang langsung mengenali suara majikannya itu.


"bagaimana keadaan keluarga dijakarta? Apakah baik-baik saja ??"


Seketika bi darmi terdiam, ia tak tau harus menjawab apa. Menceritakan kejadian yang sesungguhnya pun mungkin hanya akan membuat tuan muda nya disana khawatir.


"ba_baikk den" jawab bi darmi sedikit terbata.


Dean menghela nafas berat. Ia harus berani menanyakan kabar zelia pada bi darmi yang ia anggap pasti akan dapat mengerti mengapa ia begitu peduli pada wanita yang mereka tau itu adik iparnya sendiri.


"bik apakah zelia baik-baik saja?" tanya dean.


"kenapa bertanya seperti itu den???" perasaan bik darmi mulai tak enak.


"aku ingin bicara pada nya !"


"apa harus sekarang den ??" tanya bi darmi.


"apa aku harus kembali menghubungi nomor ini bulan depan untuk berbicara padanya?"


Bik darmi terkekeh padahal jantung nya berdegup kencang karena merasa takut.


Jujur bik darmi merasa takut jika bu ida akan marah karena mengetahui bik darmi lah yang telah mengadukan kepergian zelia pada dean.


Namun ia sendiri tak tau harus beralasan apa untuk menjawab pertanyaan dean yang jelas-jelas ingin berbicara dengan seseorang yang telah pergi dari rumah ini.

__ADS_1


Bik darmi terdiam sejenak sebelum akhirnya suara dean menggelegar di gendang telinganya dan membuyarkan lamunan nya.


"bikk... Apa zelia ada ???!" suara bareto dean membuat bik darmi terperanjak kaget dan terpaksa harus memberitau apa yang terjadi sesungguhnya.


"ginii den... Non zelia tidak ada "


jawab bik darmi gemetar.


Tubuhnya seketika menjadi dingin membeku dan terasa kaku. Seandainya bisa ia memilih, mungkin bik darmi lebih memilih untuk tak mengangkat telpon masuk dan membiarkan telpon itu terus berdering menunggu jawaban.


"maksud bibik ???!" nada suara dean terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.


"non zeli _ non zeliaaa pergi den dari rumah " ucap bik darmi ragu.


"maksud bibik zeli kabur ???" lagi-lagi suara dean seperti suara barito komandan yang memberikan komando. Entah sebegitu terkejut kah dean hingga suaranya mampu menembus gendang telinga lawan bicara nya.


"enggak den_ tapi ......"


Tittt titt titt


Belum sempat bik darmi menceritakan kejadian sebenarnya dean sudah lebih dulu menutup panggilannya.


Bik darmi menghela nafas berat "mati aku" ucapnya seraya menaruh telpon yang ia genggam dengan tangan gemetar.


.


.


"gue harus pulang !"


Ucap dean sambil menaruh handphone barunya dengan kasar.


"lho kenapa de ?? Kerjaan kita kan belum selesai ??" hans bertanya-tanya akan keputusan dean yang sangat tiba-tiba.


"ada urusan yang jauh lebih penting dari ini ! Lo urus semua pekerjaan disini. Gue bisa pulang sendiri !!" ucap dean yang terlihat sangat panik dan gusar .


"tapi de _ " hans mencoba untuk menahan kepergian dean apalagi membiarkannya untuk pulang membawa mobil sendiri.


Hans tau dalam keadaan panik seperti ini dean pasti akan kesulitan untuk dapat mengemudi dengan baik. karena tak ingin bahaya menimpa bos nya, hans mencoba untuk mencari cara lain agar dean bisa berfikir lebih jernih untuk tak terburu-buru pulang ke jakarta.


"gak ada tapi-tapian hans, gue percaya lo bisa handle semua nya !! "


Dean menepis tangan hans, lalu pergi meninggalkan hans yang hanya bisa melongok melihat kepergian bosnya.


"huffttt apalagi yang dilakukan perempuan itu disana hingga dean seperti sedang kebakaran jenggot !! " gerutu hans saat dean sudah tak lagi terlihat oleh pandangan mata.

__ADS_1


"padahal nyetir sendiri dalam keadaan khawatir itu bahaya de ! Tapi lo susah banget buat dikasih tau !! Susah emang kalo ngomong sama orang yang bucinnya kebangetan !!"


Umpat hans yang merasa kesal dan khawatir akan keselamatan dean.


__ADS_2