
sean yang baru saja selesai mandi kini keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang melilit di tubuh nya. ia menyeka air yang menyisa dirambutnya dengan jari jemari nya hingga tanpa sengaja telah berhasil membuat zelia terbangun karena tetesan air yang jatuh tepat diwajahnya.
"aaaaaaaaaaaaaaaghh....." teriak zelia dengan spontan kala ia melihat lelaki yang berdiri didepannya, meski lelaki itu menghadap ke kaca lemari namun punggung kekar dan tubuh yang bertelanjang dada hanya menggunakan balutan handuk yang menutup di tubuh bagian bawah nya membuat zelia merasa terkejut.
"heh.. lo ngapain sih teriak-teriak, ntar di kira mama, lo gue apa-apain lagi" sean segera membungkam mulut zelia dengan tangannya.
zelia menggelengkan kepala nya mencoba melepaskan bungkaman tangan sean yang membuat nya kesulitan untuk bernafas dan berbicara.
"lo ngapain disini??" tanya zelia dengan nafas yang sedikit memburu tak beraturan karena syok melihat sean berada di satu kamar yang sama dengan nya.
"lo nanya gue kenapa gue disini??? lo gak salah? yaa,,, jelas gue disinilah, inikan kamar gue zeliaaaa...!?" jawab sean sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah zelia. zelia pun memalingkan wajah nya menjauh dari sean meski yang ia hirup aroma wangi dan segar dari sean yang baru saja selesai mandi.
"ini kamar lo? bukannya kamar lo ada di sebelah??" mata zelia melotot memastikan kebenaran atas ucapan suaminya itu.
"ha ha ha sejak kapan kamar gue di sebelah, yang di sebelah itu kamar kakak gue. kamar itu dikunci, jadi mana bisa gue tidur di kamar itu" jawab sean sambil kembali menghadap ke kaca lemari dan menyisir rambut nya dengan jemarinya.
"itu lo bisa gak sih pake baju sama celana dulu gitu, risih tau gak.?!gue ngeliat nya..!!" ucap zelia sambil memalingkah wajah nya menatap langit hitam dari jendela kamar nya.
"ya kenapa sih, bukannya kita udah muhrim? atau lo takut yaa???? lo takut lo secepat itu jatuh hati sama gue? atau lo udah bergairah karena ngeliat gue dengan tubuh telanjang dada seperti ini?" tanya sean dengan nada merayu sambil terkekeh melirik ke wajah zelia yang terlihat sedikit memerah.
"tapi gue maklum sih kalo secepat itu lo jatuh hati sama gue, secara.. tampang gue ini bagai malaikat yang turun dari langit. gak jarang memang kalau banyak wanita yang langsung terpesona kalau melihat ketampanan gue"
ucap sean dengan rasa percaya diri yang begitu besar. zelia tak menyangka bahwa lelaki yang kemarin begitu dingin dan cuek kini berubah menjadi lelaki yang begitu percaya diri dan banyak bicara. namun itu semua membuat zelia malah merasa risih dan sedikit takut. ia takut bahwa sean akan meminta hak nya sebagai seorang suami dan meminta zelia melayani nya layaknya seorang istri.
__ADS_1
"ternyata lo begitu percaya diri ya ... izroil" zelia mencoba balas menatap mata sean meski sebenarnya ia merasa merinding dan sedikit takut jika sean akan memberika perlawanan.
"hah.. izroil.?? siapa itu izroil?" sean menatap dan mendekat ke arah zelia.
zelia merasa sedikit gugup ketika sean melangkah kan kaki semakin mendekatinya
"bilang ke gue, izroil itu siapa??? mantan lo? kekasih lo? atau...."
"izroil itu malaikat" sahut zelia memutus ucapan sean
"ha ha kan udah gue bilang, kalo gue emang tampang-tampang malaikat" sean kembali berjalan berbalik arah menuju ke lemari pakaian dan mulai memilih pakaiannya.
zelia pun berjalan menuju ke kamar mandi dengan santai "iya, lo emang bagai malaikat tapi malaikat pencabut nyawa" bisik zelia tepat di telinga sean.
"zel, zeliaaa ... sial lo ya, awas lo udah nyamain gue sama malaiakat pencabut nyawa ..." umpat sean kesal sambil menggedor pintu kamar mandi.
terdengar tawa riuh suara zelia dari dalam kamar mandi . membuat hati sean kesal bercampur tawa.
"awas ya lo gadis malang, ternyata lo berani juga " ancam sean sambil tertawa kecil dalam hati.
mereka yang dari kemarin terlihat kaku dan kikuk kini sudah mulai menunjukkan sifat asli mereka yaitu bagaikan kucing dan tikus.
bukan lagi seperti suami istri namun lebih tepatnya seperti kakak beradik.
__ADS_1
ya begitulah mungkin karena usia mereka yang terbilang muda jadi belum sewajarnya menyandang gelar sebagai suami istri dan bertingkah dewasa layaknya suami istri pada umumnya.
setelah selesai mengganti pakaian nya, sean segera menuruni anak tangga. terlihat mama dan papa yang sudah menunggu dirinya dimeja makan "mana zelia?" tanya mama begitu melihat anak lelakinya itu turun dari lantai atas hanya seorang diri.
"masih mandi kali " ucap sean sambil duduk dan mengambil piring yang berada di meja makan. "hussss" mama menepuk dan menepis tangan sean yang hendak mengambil makanan untuk nya. "kenapa sih ma?" tanya sean manja.
"nanti dulu, tunggu istri kamu kesini biar kita makan sama-sama" jawab mama.
pak arman hanya terdiam melihat drama antara anak dan mama nya di depan meja makan.
sean mengurungkan niat nya mengambil makanan yang tadi hendak ia ambil meski sebenarnya cacing-cacing dalam perut sudah sejak tadi berdendang.
"lama banget sih zelia" gerutu sean
"yaudah sana gih kamu susul, mungkin dia merasa sungkan untuk makan bareng kita disini"
sean pun langsung berjalan kembali menuju ke kamarnya "woy cepetan makeup nya, ditungguin mama papa noh di meja makan" ucap sean sambil menyilangkan tangan di depan dadanya dan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar serta mengamati zelia yang masih memoles wajah nya di depan cermin.
zelia pun bergegas berjalan berlalu melewati sean tanpa banyak bicara. karena pasti akan banyak pertanyaan dan obrolan-obrolan yang sama sekali malas untuk zelia tanggapi.
"ckkkk awas lo ya" sean berdecak melihat tingkah zelia yang semakin berani kepadanya.
sean membuntuti langkah zelia menuju ke meja makan. bu ida tersenyum melihat anak dan menantu nya itu datang . "maaf ma, bikin mama menunggu lama" zelia mulai belajar untuk terbiasa memanggil bu ida dengan panggilan mama. "iya gak apa-apa sayang, yuk kita makan" mereka berempat pun langsung menikmati makan malam yang telah di hidangkan oleh bi darmi dengan obrolan-obrolan sederhana.
__ADS_1
setelah makan malam selesai, zelia langsung membantu bi darmi membereskan piring kotor sisa makanan. "taruh disitu aja non, gak usah dicuci piringnya" pinta bi darmi. "ah tidak apa-apa bik, zelia sudah terbiasa kok nyuci piring kalau dirumah" jawab zelia. "gak usah non, nanti bibik kena marah sama nyonya kalau nyonya tau non zelia nyuci piring" tepis bik darmi. zelia pun menuruti permintaan bi darmi dan meninggalkan tumpukan piring kotor itu berserakan di dapur dan bergegas kembali ke dalam kamar nya.