
zelia kini tengah membantu bu ida untuk menyiapkan sarapan dimeja makan.
setelah semuanya siap, mereka pun menikmati sarapan itu bersama-sama. Sungguh kebersamaan yang sangat bu ida rindukan karena sudah lama tak lagi tercipta diantara mereka.
"kak nanti setelah ini kita main di pantai ya" ajak sean sambil mengunyah makanan yang berada didepannya.
dean hanya mengangguk tanpa bersuara dan terus menikmati sarapannya.
"kemarin waktu aku sama pak bambang cari umang-umang, aku liat diujung sana banyak ikan. Nanti kita tangkep ya kak " rengek sean pada dean yang terlihat tetap tenang merespon setiap perkataannya.
"iya !" sahut dean sekilas melirik ke arah zelia yang berada di hadapannya dan duduk disebelah sean.
"yaudah habisin dulu makannya, nanti kita semua main ke tepi pantai" sahut bu ida sambil tersenyum melihat kedua putranya tumbuh dengan rukun dan damai.
.
.
"kak disana tempat yang banyak ikannya " sean menujuk ke ujung pantai tempat dimana kemarin ia mencari umang-umang bersama pak bambang.
"jauh banget, kakak mau disini aja " ucap dean sambil melihat kesekitar karena saat ini mama papa dan zelia pun berada disana.
"huu kakak cemen !! "
sean memercikkan air kearah dean yang membuat dean merasa kesal dan mengejar adiknya untuk membalas tingkah jailnya itu.
"ayo kejar kalau bisa.... Weeekkk" sean berlari sambil menjulurkan lidah meledek sang kakak yang tak berhasil menangkapnya.
"awas yaa kamu !!" dean pun mempercepat langkahnya untuk mengejar sean. Namun sean tak kalah cepat nya meski ia berlari sambil tertawa karena kini ia berhasil membawa dean ke tempat dimana ikan-ikan itu berada.
Bu ida yang melihat tingkah kedua anaknya itupun hanya tersenyum, memorinya teringat pada kenangan berapa tahun silam. Saat anak-anaknya masih duduk dibangku sekolah. setiap liburan sekolah dean dan sean selalu mengajak mama dan papa untuk berlibur kebali. Mereka selalu senang bermain di tepian pantai dan berlarian seperti itu. Tanpa terasa bocah kecil yang dahulu selalu saja bertengkar jika berebut mainan kini telah menjelma menjadi dua lelaki dewasa.
__ADS_1
.
Zelia pun ikut tersenyum dan larut dalam kebahagiaan yang tercipta.
keadaan hati yang tak lagi sepi membuatnya mampu tersenyum bahagia.
"terimakasih ya li, kamu sudah menjaga kedua putra mama dengan baik" ucap bu ida seraya menatap wajah zelia yang berdiri disebelahnya.
"menjaga apa sih ma? Bukan zelia yang menjaga mereka tapi justru mereka yang menjaga zelia" ucap zelia sambil menatap wajah mama mertua nya.
"apa kamu bahagia dengan pernikahanmu ?" tanya bu ida sambil menggenggam tangan anak menantu nya itu.
zelia menundukkan kepala berusaha untuk menguatkan hati agar dapat menutupi isi hati yang sebenarnya, ingin sekali saat ini juga ia berkata bahwa ia tak bahagia dengan pernikahannya. Namun ia sadar bahwa saat ini, dia adalah salah satu wanita beruntung yang dapat hadir ditengah-tengah keluarga bahagia itu. Bagaimana mungkin zelia dapat menceritakan semua isi hati nya bila semua itu hanya akan membuat bu ida bersedih dan kecewa. Bahkan zelia anggap pengorbanan hatinya saat ini menjadi salah satu bentuk balas budi terhadap keluarga pak arman yang telah sudi menerima nya menjadi anak menantu dan mau bertanggung jawab penuh mencukupi segala kebutuhan hidup nya serta biaya pendidikannya.
Zelia mendongakan kepala menatap wajah bu ida sambil tersenyum. Meski ia tau bahwa jawaban ini akan sangat mendustai hati namun terpaksa harus ia ucapkan.
"bagaimana mungkin aku tak bahagia ma, jika saat ini aku telah menikah dengan lelaki periang seperti sean" kata zelia menutupi segala isi hatinya yang sedang berkecambuk.
Bu ida tersenyum dan memeluk zelia "makasih ya li, mama sangat beruntung memiliki menantu sepertimu" ucap bu ida.
Pak arman yang melihat sang istri dan anak menantunya sedang berpelukan akrab pun kini beranjak pergi menjauh dari mereka dan kembali ke rumah dengan tatapan yang tak dapat zelia artikan.
.
.
Bu ida dan zelia pun kini memilih untuk duduk bersantai di bawah pohon rindan tepian pantai. Hembusan angin membuat geraian rambut zelia bergerak kesana kemari seirama dengan gerakan gelombang air laut. melihat dua kakak beradik yang sedang asyik menangkap ikan pun menjadi pemandangan tersendiri bagi bu ida dan zelia.
"li, apa kamu tau perempuan mana yang sedang dekat dengan kakak mu?"
Seketika mata zelia membulat menatap bu ida saat pertanyaan itu terlontar dari mama mertua sambil menatap kearahnya.
__ADS_1
Zelia terdiam bahkan kali ini lidahnya terasa kaku tak tau harus menjawab apa.
"akhir-akhir ini, mama liat kakak kamu bawaannya happy terus. Sepertinya dia mulai bisa menerima wanita lain dalam hidupnya. Semoga saja dia segera dipertemukan dengan jodoh terbaiknya ya li, biar kak dean bisa segera menyusul kalian dipelaminan" ucap bu ida sambil tersenyum dan menatap ke arah dua putranya yang berjarak lumayan jauh dari tempat mereka bersantai.
Zelia menelan saliva nya kasar. Dia hanya bisa mengangguk tanpa tau harus berkata apa, lidahnya benar-benar terasa kelu tak dapat lagi banyak berbicara. Berpura-pura bahagia dengan pernikahan antara dirinya dan sean saja sudah mampu menghujam jantungnya, apalagi jika ia harus berpura-pura menyetujui kak dean untuk mendekati wanita lain. Mungkin akan terasa runtuh seluruh hidupnya.
"maafin zeli ma" hanya perkataan itu yang dapat zelia ucapkan dalam hati saat ia rasa tak sanggup lagi untuk banyak berkata agar ia tak semakin membohongi hati nya sendiri juga mama mertuanya.
.
.
Hari berlalu begitu cepat bagi mereka yang baru saja menikmati kebersamaan yang sudah berapa lama tak dapat mereka rasakan. petang itu zelia mulai mengemasi pakaian dan barang-barang yang hendak mereka bawa pulang ke jakarta besok pagi.
Sedangkan dean, dia lebih memilih duduk bersantai di teras rumah yang berhadapan langsung dengan pemandangan hamparan laut biru yang luas terbentang juga sunset yang sudah mulai menenggelamkan cahaya nya menjadi kegelapan.
suara deburan ombak yang menghantam batu karang pun tak luput menjadi pelengkap riuhnya suasana dan indahnya pemandangan.
Dean kembali memetikkan api pada lintingan benda kecil yang ia selip di jemari tangannya. Sebuah kebiasaan yang selalu bu ida anggap buruk namun tetap digemari oleh kedua anak lelakinya. Namun mereka cukup mematuhi aturan dari sang mama untuk menghisab dan menghamburkan kepulan asap itu diudara pada ruangan terbuka.
Alih-alih derap langkah kaki pak arman pun kini kian mendekat menyusul ke arah anak sulungnya yang sedang bersantai ria.
"papa" sapa dean santai saat menyadari papa nya yang sudah berdiri dan mulai menjatuhkan tubuhnya di kursi kosong sebelah dean.
"kemana yang lain?" tanya pak arman sekedar berbasa-basi untuk memulai pembicaraan ke hal yang lebih inti.
dean menggeleng, sambil kembali menghisab benda kecil itu dan menerbangkan asapnya bebas ke udara.
"apa kamu menyukai benda dengan api kecil itu?" tanya pak arman.
"tentu... Apa papa ingin kembali mencoba?" den menyodorkan bungkusan putih kecil itu mendekat ke arah pak arman.
__ADS_1
pak arman menggeleng dan menyunggingkan senyum disudut bibir nya.
.