Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 15. kedekatan dengan kakak ipar


__ADS_3

sean keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan rapi. celana jeans dan hoodie sepertinya andalan fashion favorit sean ketika hendak kemana-mana.


zelia yang sedang duduk di tepi ranjang menatap intens kearah sean yang sedang berkaca di depan cermin sambil menyisir rambut basah nya. tak lupa ia menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya sehingg ruangan kamar itu pun berubah menjadi penuh dengan aroma parfum sean.


"lo mau kemana? sore-sore gini udah rapi banget"


tanya zelia sambil memainkan handphone nya. ia tak mau terlalu lama menatap intens suaminya itu, karena rasa kagum ketika melihat sean berpenampilan rapi sehabis mandi kini mulai tumbuh dalam hati zelia.


"mau tau aja apa mau tau banget?"


sean melihat kearah zelia dari balik cermin.


"ckkk"


zelia berdecak mendengar jawaban sean sedangkan sean menjulurkan lidahnya kemudian berlalu pergi keluar kamar meninggalkan zelia yang masih terduduk di tepi ranjang.


hari sudah semakin malam, gemerlap bintang sudah terlihat dari balik tirai jendela.


zelia berjalan ke arah balkon, ingin duduk bersantai menikmati angin malam karena ternyata sendiri didalam kamar tanpa ada teman ngobrol mampu membuat dirinya merasa bosan.


baru saja ia melangkahkan kaki nya di pintu balkon, ia melihat kak dean sudah duduk di sana. ia hampir saja mengurungkan niat nya untuk kembali masuk namun kak dean yang menyadari kedatangan adik ipar nya itu kini menoleh ke arah zelia.


"sini zel" ucap kak dean.


"iya kak" zelia berjalan mendekat ke arah kakak ipar nya dan duduk di kursi yang berada disebelahnya, hanya terhalang meja bundar yang tak terlalu besar berada diantara kursi tersebut.


"sean pergi?" tanya kak dean meski kini mata nya kembali menatap ke arah laptop yang berada di depannya.


"iya kak" jawab zelia singkat. sebenarnya zelia masih merasa sedikit canggung untuk berbicara akrab dengan kakak iparnya itu. karena pembawaan kak dean yang sangat berwibawa dan juga wajah kak dean terlihat sangat serius dalam segala hal.


meskipun sebelum nya mereka pernah berbicara meski tak begitu akrab tapi tidak untuk duduk berdua seperti saat ini. biasanya mereka saling berbincang bersama mama papa di ruang keluarga jika mereka ada waktu senggang.


sedangkan kak dean, dia lebih memilih menghabiskan waktunya dirumah setelah selesai bekerja dikantor daripada bermain tak jelas diluaran sana.


"sean pergi kemana?" kak dean kembali bertanya seputar adiknya, entah karena ia juga merasa kikuk untuk ngobrol akrab dengan adik iparnya yang usianya jelas terpaut jauh darinya .


"gak tau kak" zelia melihat kearah langit hitam yang dipenuhi bintang-bintang.


"dia gak pamit sama kamu?" kak dean memberikan banyak pertanyaan namun matanya tak lepas dari pandangan laptop yang seolah tak bisa teralihkan.

__ADS_1


zelia menggelengkan kepala nya, meski entah kak dean melihat atau tidak jawaban dari nya.


zelia memutar kursinya menghadap ke arah kak dean yang sedang fokus dengan laptop nya.


"kenapa?" tanya kak dean menyadari posisi zelia yang kini berhadapan dengannya.


"kakak ngerjain apa sih dilaptop?" tanya zelia memangku telapak tangannya di bawah dagu.


ketika beberapa kali kak dean memberika pertanyaan-pertanyaan singkat kepada zelia, kini zelia lebih memberanikan diri untuk berbalik bertanya kepada kakak iparnya itu yang sedari tadi ia perhatikan begitu sibuk dengan laptop nya.


"ngerjain kerjaan kantor zel" jawab kak dean.


kini tak ada jawaban dan tak ada obrolan lain yang kak dean berikan untuk zelia.


"kak dean mau zeli bikinin kopi?"


tanya zelia mencoba memecah keheningan diantara mereka.


"boleh" sahut kak dean.


zelia beranjak pergi menuju ke dapur. ia membuat dua gelas kopi yang satu berisi kopi hitam asli dan satu gelas lagi kopi cappuchino .


zelia menaruh dua gelas kopi dan satu toples camilan diatas nampan dan membawa nya keatas balkon. masih terlihat kak dean yang begitu serius dengan laptop nya.


"ini kak" zelia menyuguhkan kopi kearah dean


"makasih" kak dean menghentikan pekerjaannya dan menyeruput kopi yang masih terasa panas.


"enak" lanjut kak dean memberikan pujian kecil yang menghadirkan garis senyum dibibir manis zelia.


selama di rumah ini baru kali ini ia merasa bisa bermanfaat membantu orang lain dan mendapat pujian atas dirinya.


kak dean membalas senyuman zelia yang membuat zelia merasa kagum dengan kakak iparnya itu. kak dean kembali menatap laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya.


"kamu suka ngopi juga?" dean melirik kearah zelia yang menyeruput kopi dengan hati-hati.


"kadang-kadang kak, kalo pas udara dingin kaya gini aja" jawab zelia.


"kak dean lama ya tinggal dijepang?"

__ADS_1


tanya zelia sambil menatap dean yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"enggak sih zel, baru 5 tahun kok" cetus dean


"itu termasuk lama lah kak" sahut zelia.


"kakak sih mau nya sampe 20 atau 25 tahun tinggal disana" dean terkekeh dengan jawabannya yang berhasil membuat zelia membulatkan mata nya.


"itu sih lama banget kak, apa karena kak dean mau punya istri orang sana?" tanya zelia terkekeh.


dean menggelengkan kepala nya


"kenapa kakak gak mau punya istri orang jepang?" tanya zelia sambil memangku telapak tangannya dibawah dagu.


"sepertinya mulai berani anak ini..?!!" ucap dean dalam hati.


"kakak suka produk dalam negri" ucap dean sambil menatap sebentar kearah zelia.


zelia tertawa mendengar jawaban kakak iparnya .


"kenapa?" tanya dean kepada zelia.


"gakpapa, ternyata kebalik ya kak, kalo aku berharap bisa berjodoh dengan orang luar negri tapi kalo kakak malah suka sama produk lokal" jawab zelia.


"kenapa kamu suka sama orang luar?" tanya dean.


"abis ganteng-ganteng kak"


"emang sean gak ganteng?" pertanyaan kak dean membuat zelia mengerucutkan bibirnya.


dean tertawa melihat adik iparnya dengan raut masam di wajahnya.


"tapi kalo kegantengan kakak gak beda jauh kan sama orang-orang luar?" sean sebenarnya mengejek adik iparnya yang berwajah masam itu agar kembali tersenyum.


zelia mendelik kearah dean yang ia kira sangat jaim namun ternyata bisa sepercaya diri itu. zelia tertawa mendengar ucapan dean yang memuji dirinya sendiri.


kini mereka bisa saling berbincang tanpa ada rasa canggung diantara mereka. cukup lama mereka bersama hingga angin malam yang berhembus mampu masuk kedalam pori-pori kulit zelia dan seolah menusuk kedalam tulangnya. zelia menggosok-gosokkan telapak tangannya mencoba mengahsilkan rasa hangat karena gesekan kedua tangan namun tak dapat menghilangkan rasa dingin yang menyelimuti dirinya.


zelia pamit untuk masuk kedalam kamar lebih dulu dan meninggalkan kak dean yang masih berteman laptop dan segelas kopi buatan zelia.

__ADS_1


__ADS_2