
Didalam kamar mandi dean terkekeh membayangkan zelia pasti terkejut dan sedang senyum-senyum sendiri melihat baju dinas yang ia pilihkan untuk zelia pakai setiap malam.
Dean tak sabar melihat ekspresi bahagia zelia dan bagaimana aura kecantikan terpancar saat baju yang tadi ia belikan melekat ditubuh seksi istrinya.
Dean segera menyudahi ritual mandi nya karena sijoni sudah tak bisa diajak kompromi dan berdiri tegak seperti tiang listrik padahal ia hanya membayangkan bagaimana seksinya tubuh zelia yang sudah memakai baju itu diluar sana.
"sabar dong jhon... Nanti kita puas-puasin main sama sijeni ya"
ucap dean seraya mengelus perkutut kesayangan yang menjadi aset berharga nya itu.
Tak henti-hentinya dean mengulas senyum. Ia segera melilitkan handuk di pinggang dan keluar kamar mandi untuk menemui sang istri.
.
"lho kok belum dipakai bi???" senyum yang sejak tadi menghiasi bibirnya pun hilang saat dean melihat zelia masih memakai kimono yang sama dan belum mengganti pakaiannya.
"kak dean !!! Ini baju apaan yang kakak beli ???" pekikan zelia dengan wajah terkejut cukup memekakan telinga dean.
"bukankah baju itu bagus?? " tanya dean tak mengerti.
"jadi menurut kak dean ini bagus?? Terus aku harus pakai baju-baju ini???" zelia melotot ke arah dean.
"iya bi, apa ada yang salah ???"
dean menggernyitkan dahinya mengapa zelia tak mengerti arti dari baju ini.
"ini bajunya tipis banget kak ! Nanti kalau aku masuk angin gimana??"
tanya zelia dengan begitu polosnya. Dean tak habis pikir apa zelia benar-benar polos atau hanya berpura-pura tak tahu.
Dean terkekeh entah mengapa istri kecil nya ini terlihat begitu menggemaskan. Apa semua ini kesalahannya karena terlalu cepat menikahi zelia yang masih terbilang muda hingga wanita nya itu tak tau bagaimana caranya menggoda gair*h suaminya?
"Hufftt harus lebih sabar dan ngasih banyak pengertian" batin dean.
Dean melebarkan baju itu didepan dada dengan kedua tangannya. kini zelia dapat melihat jelas bagaimana bentuk baju yang sangat tipis dengan belahan dada yang cukup terbuka.
__ADS_1
"tunggu tunggu tunggu !! Ini bukannya seperti baju wanita-wanita yang bekerja sebagai pel*cur ?? " zelia melihat baju ini terlalu seksi dan begitu terbuka.
"Apa kakak anggap aku sama seperti wanita-wanita itu ??" zelia memberikan tatapan tajam dan pertanyaan mengintimidasi yang berhasil membuat dean menelan salivanya kasar.
"salah lagi salah lagi" batin dean.
Zelia kini malah menjadi berburuk sangka dengan baju yang dean belikan untuknya.
"enggak bi, kakak gak bermaksud seperti itu"
dean menggaruk kepalanya. Entah bagaimana lagi menjelaskan pada zelia tentang baju ini karena zelia kini terlihat begitu kecewa .
"terus apa?? apa karena sebelum ini aku memiliki masalalu yang kelam. Atau karena kakak menikahi aku yang sudah berstatus janda. Jadi kakak bisa samakan aku dengan wanita-wanita pel*cur diluaran sana !"
Zelia semakin kesal, tanduk dengan bara api sudah tumbuh diatas kepala membuatnya sulit untuk berfikir jernih dan menerima apapun penjelasan dari dean. Buliran bening pun sudah menumpuk dipelupuk matanya namun masih berhasil ia tahan.
Entah mengapa melihat dean membelikan baju semacam ini untuknya ia anggap sebagai penghinaan untuk dirinya.
"bi... Enggak seperti itu !! Baju ini namanya lingerie. Baju yang biasa para istri pakai dimalam hari untuk melayani suaminya. Baju ini memang terbuka tapi tidak bukan berarti siapa pemakainya memiliki artian yang sama dengan seorang pel*cur. Baju ini sah-sah saja kamu pakai, asal kamu memakai baju itu didepan aku"
"Tapi..... Kalau kamu keberatan dan tak ingin memakainya , tak apa bi. Nanti aku buang saja semua baju lingerie ini"
selembut mungkin dean memberikan penjelasan pada zelia yang sedang salah paham dengan niat baiknya.
Dean mengemas kembali lingerie yang sudah berserakan didepan zelia dan memasukkan kembali kedalam totebag.
Hati dean sebenarnya cukup kecewa. Ia fikir setelah ia keluar dari kamar mandi si joni akan dapat segera bermanja-manja dengan mami nya namun ternyata ia salah. Zelia malah mengira bahwa dirinya memandang wanita kesayangannya serendah itu.
Dean menghela nafas panjang dan berat. Ia membawa kembali totebag berisi lingerie yang tadi ia beli untuk ia buang. Menyadari bahwa ada rasa kecewa yang terpancar daefi wajah dean, zelia menjadi merasa tak enak hati.
"tunggu...." sergah zelia menahan lengan dean yang baru saja hendak melangkah meninggalkannya.
"kenapa?" tanya dean saat langkahnya terhenti dengan aksi zelia.
"jangan dibuang. Sini aku simpan didalam lemari" pinta zelia seraya meraih totebag itu kembali.
__ADS_1
"untuk apa kamu simpan?" tanya dean dengan ucapan dingin dan datar.
"untuk pajangan !" cetus zelia.
Zelia segera menaruh totebag itu kedalam lemari miliknya.
"buang aja bi dari pada menuh-menuhin lemari" kata dean yang kini tengah duduk di tepi tempat tidur.
"biar aja. Tadi aku lihat harganya lumayan mahal. Sayang kalau mau dibuang!! " sahut zelia kemudian merebahkan tubuh disamping sang suami.
Lagi-lagi dean hanya bisa menghela nafas panjang untuk meredam amarahnya. Alih-alih sijoni akan merasakan kebahagiaan dengan sensasi yang berbeda namun ternyata semua hanya harapan belaka. Dean melirik kearah zelia yang kini telah terlelap sambil membelakanginya. Hanya terlihat rambut yang terurai panjang. Bahkan punggung putih dan mulus itu tak terlihat karena kimono mandi yang masih ia pakai.
Sijoni pun akhirnya memilih untuk mundur karena lawan tempurnya sudah tertidur.
Dean mengusap rambut zelia lembut seraya mengecup puncak kepala nya mesra.
"padahal malam ini aku ingin bermanja-manja denganmu bi. Tapi sepertinya kamu sangat lelah sampai-sampai kamu tak mengerti dengan keinginanku. Maaf ya aku sudah membuatmu marah dengan baju-baju itu. Aku tak bermaksud lain selain hanya ingin membuat hubungan kita selalu menjadi lebih baik. Selamat tidur bi, Aku sayang kamu"
Ucap dean lirih.
Zelia yang dean fikir sudah terlelap, ternyata masih dapat mendengar perkataan maaf itu. Bahkan kini hatinya dipenuhi dengan rasa bersalah yang begitu besar karena ia terlalu mengabaikan dean yang sudah mengorbankan waktu seharian ini untuk menemaninya.
Bahkan bagi zelia kini dean lah satu-satu nya orang yang menjadi penyemangat dalam hidupnya.
Dean pun sepertinya sudah terlelap seraya memeluk tubuh sang istri. Terdengar dengkuran halus pertanda bahwa dean sudah larut ke alam mimpi.
Zelia mengusap wajah yang masih sangat tampan meski sudah tak lagi terbilang muda. Zelia mencium pipi lelaki itu penuh tanda cinta dan berjuta maaf yang tak bisa ia ucap.
Akhirnya zelia pun ikut terlelap dalam dekapan hangat sang suami yang selalu mau mengalah dan berfikir dewasa untuk mengimbanginya yang masih terbilang muda.
.
.
..
__ADS_1