Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 118. bertemu


__ADS_3

Dean menyunggingkan senyum seolah menganggap remeh perkataan zelia yang tak semudah itu ia percayai. Karena bagi dean tak mungkin bu fatma berada dirumah sakit ini seorang diri tanpa ada si rendi gila itu yang mendampingi.


"kakak masih tak percaya?" seketika zelia menghentikan langkah kakinya seraya menatap wajah dean tajam.


Dean menaikkan kedua bahunya memberi isyarat entah dia sudah percaya atau belum dengan perkataan sang istri.


"hufttt" zelia menghela nafas panjang. Tak tau harus dengan cara apalagi menyakinkan suaminya ini bahwa yang ia katakan benar. Karena realitanya meyakinkan orang yang sedang cemburu memang lebih sulit.


Mereka kembali melangkahkan kaki beriringan menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju ke area parkir dimana mobil dean berada.


Hati zelia terus merutuki dirinya sendiri yang begitu ceroboh hingga bisa berbicara diluar kendali. "bagaimana kalau kak dean tetap marah? Oh Tuhan, tolong aku" batinnya memohon.


Namun seperti nya nasib baik sedang memihak padanya. Dari kejauhan zelia melihat seorang wanita parubaya sedang mendorong sebuah kursi roda. Meski ia berjalan membelakangi zelia, namun zelia paham betul dengan perawakan wanita itu jika itu adalah bu fatma.


"kak ayo" zelia menarik lengan dean untuk dapat berjalan lebih cepat mengikuti langkah kakinya.


"hey, pintu keluar disana bi. Kita mau kemana?"


Dean terpaksa mengikuti zelia meski ia merasa aneh dengan tingkah istrinya.


"aku punya bukti" zelia terus menarik lengan itu agar dapat mengikutinya dan mempercepat langkahnya membelah lalu lalang orang yang berada di rumah sakit itu.


"bu fatma" panggil zelia sedikit berteriak ketika jarak antara mereka tak lagi berjauhan.


Bu fatma menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah zelia dan dean. Bu fatma tersenyum dan mengangguk.


Zelia mengajak dean untuk semakin mendekat ke arah bu fatma. Dapat zelia pastikan bahwa wanita yang duduk di kursi roda yang sedang di dorong oleh bu fatma itu adalah kak tiara.


"Ibu masih disini?" zelia menyalami bu fatma begitupun dengan dean.


"iya nak, ibu masih disini karena pengobatan kakak nya rendi belum selesai. Kamu kok kembali lagi kesini? Kamu sakit zelia?" tanya bu fatma.


Bu fatma terus menggenggam pegangan kursi roda tersebut. Namun ia tak memutar arah kursi roda itu hingga kini posisi tiara tetap membelakangi mereka.


"enggak bu, kami hanya ada perlu disini" zelia tersenyum.

__ADS_1


Zelia sedikit menoleh melirik ke arah tiara yang terasa seperti tak nyaman. zelia sempat ingin melangkahkan kaki mendekati tiara namun bu fatma segera menahan pergerakannya seraya menggelengkan kepala. Zelia mengangguk meski ia tak terlalu mengerti mengapa bu fatma menahan langkah kaki nya yang berniat baik ingin menyapa tiara.


Bu fatma hanya takut tiara akan marah. Setelah kejadian itu, tiara memang menjadi orang yang begitu menutup diri. Ia enggan bertemu dan menerima orang baru yang ingin mengajaknya berbicara atau hanya sekedar menyapa berbasa basi.


Tiara memegang tangan bu fatma pertanda ia meminta untuk terus berjalan menuju ruang rawat inapnya.


"nak zelia, ibu pergi dulu ya" pamit bu fatma mengikuti permintaan tiara.


"baik bu. Kami juga pamit karena suami zelia juga akan bekerja"


"baiklah, hati-hati ya"


mereka berdua kembali bersalaman begitu pun dengan dean.


.


"jadi kamu benar kalau ibu nya rendi hanya sendiri menjaga kakak nya rendi dirumah sakit ini?"


tanya dean saat mereka kembali memutar badan untuk menuju pintu keluar.


"suara itu...." gumam tiara.


Suara yang selalu terngiang dalam benaknya. Suara yang tak pernah berubah meski sudah bertahun-tahun tak pernah ia dengar. Suara khas lelaki yang dulu sangat ia cintai dan sangat ia rindukan.


"dean" ucapnya lirih nyaris tak terdengar karena tubuhnya yang lemah.


Tiara menoleh ke belakang mencari keberadaan pemilik suara tersebut. Namun sayang karena mereka berdua tak lagi terlihat dan telah menghilang di balik dinding pembatas rumah sakit.


"kamu mencari siapa ra?" tanya bu fatma yang juga menoleh ke belakang mereka.


Tiara menggeleng, ia tak begitu yakin bahwa yang ia dengar benar-benar suara kekasihnya.


.


.

__ADS_1


.


Zelia yang hari ini sedang libur kuliah memutuskan untuk ikut dean ke kantor. Selain ia merasa jenuh jika harus sendiri dirumah yang segede GOR itu, zelia juga tak ingin merepotkan dean dengan bolak balik mengantarkan ia pulang sedangkan antara rumah sakit dan kantor milik dean memang searah dan tak terlalu jauh.


"kamu disini aja, kakak ada meeting sebentar" titah dean setibanya mereka di ruangan itu.


"baiklah" sahut zelia tanpa lagi banyak tanya.


Dean segera menyiapkan beberapa berkas dan mencium puncak kepala zelia sebelum ia pergi meninggalkan zelia diruang kerja nya seorang diri.


Zelia cukup lama menanti dean diruangan yang lumayan besar ini. Sedangkan sebentarnya dean dalam meeting itu memakan waktu yang cukup lama bagi zelia. Ia pun memutuskan untuk berjalan melihat-lihat interior isi ruangan ini yang semua nya didominasi dengan furniture minimalis namun terkesan sangat elegant. Dean memang tak terlalu menyukai sesuatu yang berlebihan yang bisa memenuhi seisi ruangan .


Entah mendapat keberanian dari mana zelia mulai membuka satu persatu laci meja kerja milik suaminya. Seolah hanya sebatas keinsengan saja, zelia ingin melihat barang apa saja yang biasa dean simpan didalam sana.


Zelia mulai membuka satu laci berisi banyak tumpukan map dan berkas-berkas yang mungkin sangat penting hingga harus ia simpan dengan seprivasi ini.


Zelia kembali menutup laci tersebut, kemudian ia kembali membuka laci selanjutnya. Terdapat satu set pakaian ganti yang entah mengapa dean menyimpan pakaian itu di laci kerjanya.


Zelia hanya mampu mengulum senyum lalu kembali membuka laci-laci berikutnya. Dan tiba pada laci terakhir, disana ia menemukan satu bingkai foto yang entah mengapa dean lebih suka menyimpannya dari pada memajang pigura foto itu seperti foto-foto yang lain.


"ini foto siapa ?" batin zelia bertanya-tanya karena dean menaruh bingkai foto itu dengan posisi tertelungkup.


Zelia segera mengambil foto tersebut. Seketika matanya terbelalak, kemudian ia mengeruykan dahinya hanya untuk memastikan bahwa yang sedang berada dalam pandangannya itu benar. Dia adalah wanita yang tadi mereka temui di rumah sakit.


Degg


"tiara? Ada hubungan apa kak dean dengan kak tiara?" batin zelia semakin bertanya-tanya.


Zelia mencari penjelasan lain. Benar saja di bawahnya terdapat sebuah kertas yang tersimpan dengan tulisan tangan yang sudah sedikit usang.


Tertulis disana "tiara amanda kusuma dan dean fero wijaya" yang dibubuhi emot love di ujung kata penulisannya.


"apa maksud semua ini?" batin zelia.


.

__ADS_1


.


__ADS_2