
Dean mulai melajukan mobilnya meninggalkan area pemakaman itu. Namun zelia masih tetap diam enggan berbicara walau hanya sepatah kata saja, padahal biasanya zelia adalah orang yang ceria dan memiliki banyak cerita.
Dean benar-benar murka kepada keluarga nya yang telah membuat zelia murung seperti memiliki trauma dan kesedihan yang mendalam.
"bi, apa kamu tak merindukanku?"
Tanya dean pada zelia dan berharap zelia mau berbicara pada nya.
Zelia mengangguk dengan tatapan sendu dibola mata nya.
Dean kembali menepikan mobil nya di pinggir jalan. Dia belum puas jika zelia masih saja diam seperti ini tanpa mau berbicara.
"bi, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku beberapa hari yang lalu mungkin aku telah mengecewakanmu" dean meraih dan menggengam kedua tangan zelia.
Zelia masih terdiam, sorot matanya menatap dean namun penuh kekosongan.
Dean benar-benar terpukul melihat keadaan zelia saat ini. Mata nya sembab entah berapa lama ia menangis disepanjang hari, wajahnya pucat mungkin karena disetiap malam tidurnya tak dapat lagi terlelap, tubuhnya pun kini sedikit kurus karena asupan makanan yang tak lagi terjaga.
Dean memeluk erat tubuh wanita nya itu. Ia mencoba menahan air dipelupuk mata nya yang sudah saling dorong mendorong ingin keluar. Dan pada akhirnya air mata itupun menetes begitu saja melintas di pipi dean.
Menyadari lelaki yang tengah memeluknya menangis, zelia melepaskan pelukan mereka lalu mengusap air diwajah lelaki kesayangannya iti.
"jangan menangis" ucap zelia lirih bahkan nyaris tak terdengar.
Hati dean semakin teriris melihat keadaan zelia untuk berbicara saja seolah telah kehilangan tenaga .
"maafkan aku bi, aku memang tak berguna untukmu. Aku tak ada disaat kamu terpuruk seorang diri dan pasti membutuhkanku !. Aku memang bodoh bi, aku bodoh !!"
ucap dean merutuk dirinya sendiri yang merasa tak berguna bagi zelia karena ia tak mampu melindungi zelia dan berada disamping zelia saat zelia melewati hidup ditengah keterpurukan.
"terimakasih kakak sudah datang"
ucap zelia sambil mengulas senyum mencoba untuk menepiskan rasa kekecewaan dalam hati.
"aku sangat mencintaimu bi, aku akan memberi balasan untuk mereka yang telah menyakitimu dan membuatmu menjadi seperti ini"
dean memeluk kembali tubuh zelia mencoba mencari ketenangan di sana. berulang kali ia mengecup puncak kepala zelia sebelum kembali mengemudikan mobilnya.
"apa kamu tak merindukanku ?" tanya dean sambil menatap wajah zelia lebih dekat lagi.
__ADS_1
Zelia tersenyum lalu mengangguk "aku sangat merindukanmu" jawab nya.
" berjanjilah setelah ini jangan pernah tinggalkan aku lagi" lanjut zelia menatap sorot mata dean yang menatapnya begitu lekat.
Dean mengangguk "aku berjanji bi, aku berjanji tak akan meninggalkanmu seperti ini lagi".
Zelia tersenyum merasakan semangat dalam hidupnya kini telah kembali.
Dean menghujani wajah zelia dengan banyak ciuman sebagai ungkapan bahwa ia sangat merindukan zelia dan sangat mencintainya.
dean kembali melajukan mobilnya setelah berhasil membuat zelia kembali bersuara.
"aku lelah, bolehkah sebentar saja aku bersandar di bahu kakak" ucap zelia lirih menatap lurus jalanan yang nampak sedikit sepi.
"bersandarlah bi, selama apapun kamu ingin menyandarkan kepala mu di bahuku, lakukanlah !" titah dean seraya menepuk bahunya mengisyaratkan zelia agar segera bersandar disana.
Zelia menyandarkan kepalanya pada bahu dean. Kini ia mendapatkan ketenangan yang beberapa hari telah hilang. karena rasa nyaman yang tak dapat lagi ditepiskan membuatnya tak butuh waktu lama untuk terlelap disana.
Dean tersenyum melihat kekasihnya kini telah terlelap sempurna .
.
.
mata zelia mengerjab saat ia sadar mobil dean telah sampai disuatu tempat. Dengan nyawa yang masih setengah sadar, zelia melihat kesekitar halaman yang tak asing baginya. Ia melihat lagi ke sisi sebelah kiri dan benar saja ia terkejut saat dean membawanya kembali ke rumah yang beberapa hari lalu sang pemilik rumah itu telah mengusirnya dengan hina.
zelia menggeleng menatap dean dengan wajah memelas menunjukkan bahwa ia enggan berada disana.
"ayo turun" pinta dean lembut seraya membelai rambut zelia mesra.
"aku gak mau turun kak. Mereka sudah tak lagi menginginkanku" ucap zelia sedikit terbata karena ketakutan.
"tenanglah, kakak akan selalu menjagamu"
Dean mencoba menenangkan zelia dan meyakinkan bahwa dia pasti akan baik-baik saja.
"enggak kak aku gak mau ! Silahkan kakak turun sendiri karena aku akan tetap pergi !!"
Zelia mencoba membuka seatbelt nya dan ingin keluar mobil dengan paksa.
__ADS_1
"percayalah bi. Semua akan baik-baik saja. Setelah semua urusanku didalam selesai, kita akan pergi berdua. Aku tak kan mengajakmu untuk tinggal dirumah ini lagi, percayalah "
ucap dean memohon seraya menahan lengan zelia yang memutuskan untuk pergi.
Zelia terdiam merenungi setiap ucapan dean yang tertuju untuknya. Zelia yakin dean tak akan mempermainkannya. Zelia pun akhirnya mengikuti keinginan dean untuk masuk kedalam rumah itu, meski dengan hati yang sangat was was juga jantung yang berdegup kencang tak lagi beraturan.
.
.
Dean dan zelia mulai melangkahkan kaki masuk kedalam rumah melalui pintu utama sambil bergandeng tangan.
Zelia memegang erat tangan dean layaknya anak kecil yang sedang ketakutan.
benar saja, baru selangkah dean dan zelia memijakkan kaki nya kedalam rumah. Suara bareto sean yang tengah duduk di sofa membuat zelia terperanjak kaget atas sambutannya.
"heyy, wanita jal*ng ternyata kamu masih memiliki nyali untuk menginjakkan kaki mu kedalam rumah ini lagi" suara itu terdengar lantang tanpa peduli siapa lelaki yang berada disebelah wanita yang sedang ia hina.
dean mengeratkan genggamannya berharap zelia tak berusaha untuk kabur dari sana. Rahangnya mengeras, dada nya pun naik turun seraya degupan jantung yang kini memompa lebih cepat dari sebelumnya.
"jaga ucapanmu sean !!" pekiknya dengan lantang sambil menatap tajam adik kesayangannya yang telah berkata kasar pada zelia .
"kenapa kakak tidak terima?? untuk apa kakak membawanya kemari lagi? aku sudah tak membutuhkannya dan sekarang kami telah resmi bercerai!"
"bagus, ceraikan dia karena memang kamu tak pernah pantas untuknya !" sahut dean yang sudah semakin tersulut emosi. Sedangkan zelia hanya terdiam melihat perdebatan kakak adik yang sangat menegangkan.
"memang aku tak pernah pantas untuk wanita murahan seperti dia!" jawab sean dengan angkuh.
Bughhh
Akhirnya dean melayangkan satu bogem mentah ke wajah sean karena merasa tak tahan atas ucapan sean yang begitu merendahkan wanita kesayangannya.
sean terhuyung ke belakang, ia memegang pipi dengan tetesan darah disudut bibirnya karena mendapat pendaratan sempurna dari kepalan jemari kakak nya sendiri.
sean mengusap darah itu dan tersenyum kecut kearah dean yang lebih membela wanita yang ia anggap telah menjadi penghianat besar dalam pernikahannya.
.
.
__ADS_1