Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 35. hari yang apes


__ADS_3

dari jarak yang tak begitu dekat, citra tersenyum puas melihat perdebatan antara dua manusia yang mengaku saudara sepupu itu. kali ini, ia merasa menang satu langkah diatas zelia. meski zelia tak pernah menganggap bahwa citra adalah saingan untuknya. karena perasaannya yang tak memihak kepada sean, lalu untuk apa ia bersaing dengan citra jika hanya untuk mengejar lelaki yang sama sekali tak ia cintai.


zelia berlalu meninggalkan sean yang masih terpaku dengan penyesalan karena keputusan yang sangat mengecewakan zelia. zelia kecewa bukan karena sean lebih memilih pulanh dengan citra, namun ia kecewa karena sudah cukup lama ia menunggu dan sean memberinya harapan bahwa mereka akan pulang bersama setelah ia menyelesaikan urusannya dengan citra. andai saja dari awal sean memberitau nya bahwa ia akan pulang bersama citra, mungkin zelia sudah sejak tadi meninggalkan mereka dengan semua kebucinannya. anita pun sempat mengajak zelia untuk pulang bersama, namun zelia menolak karena tak ingin merepotkan anita yang rute rumahnya tak searah dengan rumah mereka.


zelia mencoba menahan air yang seperti sedang saling dorong mendorong untuk keluar dari mata nya saat mendengar sean lebih mementingkan citra daripada dirinya yang sudah jelas-jelas telah menjadi istri sahnya.


"lo kalah satu langkah dari gue!" ucap citra saat zelia lewat didepan nya untuk menuruni anak tangga.


zelia menoleh ke arah citra yang tersenyum puas dan merasa kemenangan sedang memihak kepadanya "lo bukan tandingan gue!" sahut zelia lalu berjalan meninggalkan citra yang masih berdiri disana.


"masih bisa songong juga ya lo" ucap.citra lirih sambil menatap zelia yang semakin menjauh dari mereka.


citra berjalan keluar gerbang, hari sudah hampir sore. kampus pun sudah teelihat sedikit sepi, hanya ada beberapa mahasiswa senior yang zelia sendiri pun tak mengenali mereka. sebenarnya, jam kuliah zelia sudah berakhir sejak jam 10 pagi namun ia menunggu sean yang mengikuti ujian susulan karena sean yang menjanjikan setelah selesai ujian mereka langsung pulang. sean pun mengikuti keinginan sean menunggu nya hingga selesai ujian. namun ia tak tau bahwa sean masih harus bertemu citra dan bahkan memilih untuk pulang bersama nya.


zelia berjalan menyusuri trotoar jalanan.


sial kenapa pake acara mati lagi !!


umpatnya kesal saat melihat handphone nya yang mati padahal ia ingin memesan taksi online. zelia mendengus kesal, ingin sekali ia membanting handphone nya dijalanan sebagai pelampiasan kekesalannya namun ia sadar bahwa banyak kenangan di handphone tersebut yang tak mungkin lagi bisa ia dapatkan. yaaa.... kenangan itu adalah kenangan bersama mendiang ayahnya. foto-foto dan beberapa video yang masih ia simpan dan sangat ia jaga karena itulah kenangan peninggalan almarhum ayahnya.


rute jarak antara kampus dengan rumah mereka masih sangatlah jauh. zelia masih menyusuri jalanan meski kini air itu berhasil lolos dari pipinya. entah apa yang membuat nya sekecewa ini, tapi yang pasti bukan karena cinta. hanya sebatas rasa kesal yang berlebih dan tau harus tercurah dengan bagaimana? dan harus melampiaskannya dengan rasa apa?

__ADS_1


lo gak boleh nangis zel, manusia semacam mereka gak pantes buat lo tangisin ! hatinya mensugesti diri sendiri dan menguatkan bahwa dirinya tak serapuh itu.


lo pernah merasakan sakit, kecewa, marah lebih dari ini, masa baru segini aja lo cengeng ucapnya sambil mengusap air mata disepanjang perjalanan.


yaa.. rasa sakit lebih yang zelia maksud adalah rasa sakit karena kehilangan sang ayah. saat itu, hatinya benar-benar seperti tercabik-cabik. sakit, marah, kesal, kecewa, ia rasakan lebih dari ini. namun saat itu pun ia tal tau harus melampiaskan nya kepada siapa saat ia rasa takdir begitu kejam memperlakukanny.


zelia berjalan memilih jalan yang tak ramai orang melintas disana. ia merasa sejak tadi dirinya banyak diliat oleh orang-orang yang meilntas karena ia menangis dan berbicara sendiri sepanjang trotoar hingga mungkin orang menganggapnya sudah tidak waras.


zelia berjalan, dan benar saja tak ada satupun mobil yang melintas bahkan sangat jarang ia temui pejalan kaki yang lewat disana. langit terlihat sangat gelap, sepertiny hujan akan turun sangat deras kali ini. zelia mempercepat langkah kaki nya, namun naas tetesan air dari atas langit itu satu persatu mulai turun membasahi bumi dan juga tubuhnya. zelia berlari mencari tempat untuk berteduh meski tubuhny sudah basah kuyup karena hujan turun dengan sangat deras sesuai perkiraan zelia.


ia berdiri disebuah gubuk kecil seperti tempat bekas berjualan buah musiman yang sudah tak terpakai lagi. tangannya bersedekap saling bertautan didepan dada. rasa dingin mulai menyelimuti tubuhnya karena semilir angin yang lumayan kencang mampu menghantarkan rasa dingin yang seolah menusuk hingga ketulang. bibir zelia kini sudah mulai terlihat pucat, tubuhnya mulai menggigil kedinginan. masih belum ada satupun mobil yang melintas disana.


craaaaatttttt


ciiiiittttt


pekik suara rem mobil yang berhenti berhenti mendadak saat ia rasa ban mobilnya menginjak sebuah kubangan lubang yang berisi penuh dengan air hingga menghasilkan cipratan yang mengenai seseorang dipinggir jalan yang sedang meneduh disana. benar saja, tubuh zelia yang basah kuyup itu kembali tersiram air yang berasal dari kubangan yang terinjak oleh mobil yang melintas dengan cepat hingga menghasilkan cipratan yang hampir merata ke seluruh tubuh zelia.


"bangsuuuuuuttttttt, kenapa hari ini gue apes banget sih ya Tuhan"


teriaknya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


zelia merasa sangat geram ,tangannya mengepal dengan kuat. hati nya benar-benar bertambah kesal, ia menyiapkan makian dan kata-kata kasar untuk si pengemudi yang tak berhati-hati dalam berkendara dan bisa membahayakan pengguna jalan lainnya.


mobil itupun berjalan mundur kembali mendekat ke ke arah zelia yang sudah memasang wajah marah. ia sudah menumbuhkan tanduk api pada ujung kepala nya namun yang terlihat oleh si pengemudi itu dari dalam mobil adalah bando seperti bidadari. realitanya, kecantikan wajah zelia tak berhasil memperlihatnya bahwa dirinya sedang terbakar oleh amarah.


"maaf nona" ucap si pengemudi seraya menurunkan kaca mobil nya dari dalam.


zelia menelan saliva nya saat menatap si pengemudi yang cukup tampan dan tersenyum ramah dengannya. zelia menggeleng-gelengkankan kepala nya mencoba menormalkan otaknya yang sepertinya mulai konslet, mengapa bisa secepat itu ia tergoda hingga mengurungkan niat untuk memaki si pengemudi tersebut saat melihat senyum di wajah nya.


"mau bareng?" ajak lelaki itu saat zelia mulai membuat ancang-ancang untuk membuka mulut dan memaki nya sesuai rencana awal.


"gak perlu !!!" sahut zelia dengan dan mengalihkan tatapannya dari lelaki yang memperlihatkan wajahnya dari kaca pintu mobil yang terbuka.


"yakin gak mau bareng? ini udah jam berapa loh" kata nya sambil melihat ke arah jam tangan yang ia pakai tanpa menyebutkan saat ini sudah pukul berapa. namun bisa zelia pastikan bahwa hari sudah semakin sore, belum lagi langit mendung membuat hari menjadi semakin gelap.


"kalau nona gak mau sih gak apa-apa, aku cuma mau ingetin kalo disini suka ada preman yang sering berkeliaran, jadi nona harus selalu waspada ya" lanjut lelaki itu saat melihat zelia menolak tawarannya dengan ketus dan sombong, namun tak bisa dibohongi bahwa sangat tersirat rasa takut di wajah cantik zelia.


lelaki itu tersenyum dan mengarahkan tangannya untuk menekan tombol agar kaca mobilnya kembali tertutup...


baru sepersekian detik tangannya berada diatas tombol itu.


"hei !!!" pekik zelia dengan keras, menghentikan gerakan tangannya untuk menekan tombol itu.

__ADS_1


__ADS_2