
Zelia bergegas kembali kerumah dengan membawa berita bahagia serta lembaran kertas hasil pemeriksaannya yang sudah tak sabar ingin segera ia sampaikan pada suaminya. Bahkan ia melupakan tentang tiara dan enggan bercerita pada dean karena baginya itu tak penting. Apalagi yang ia tau bahwa dean tak mengenal siapa tiara dan justru dia akan marah jika zelia masih saja membicarakan tentang rendi ataupun keluarga nya yang selalu berhasil membuat dean cemburu jika membahas mereka.
Setibanya dirumah zelia segera membersihkan diri. Kini dirinya dipenuhi semangat yang membara, terlebih saat dokter kandungan tadi mengatakan bahwa tidak butuh waktu lama untuk nya bisa merasakan hamil sebagaimana pasangan suami istri pada umumnya.
"bi...." panggil dean menggema mencari keberadaan sang istri.
Aroma theraphy sabun serta shampo telah memenuhi seisi kamar menandakan bahwa zelia baru usai membersihkan diri.
"iya" sahut zelia berjalan menemui sang suami dengan menggunakan kimono mandi dilengkapi dengan lilitan handuk di rambutnya.
"wangi banget" puji dean seraya mencium sebelah pipi sang istri. Zelia langsung mengalungkan tangannya pada tengkuk leher dean dengan manja.
"aku punya sesuatu loh untuk kakak"
Zelia tersenyum manis membuat rasa letih pada tubuh dean hilang seketika.
"hem" sahut dean dengan senyuman yang mengembang dibibirnya.
"tebak dulu dong aku punya apaan?" pinta zelia dengan sangat manja.
"baru pulang udah diajak main tebak-tebakan. Kakak fikir kamu langsung mau ngajak kakak bikin anak-anak bi"
Dean terkekeh saat wajah zelia berubah menjadi masam.
"mesum banget !"
"habis kamu sudah mandi dan pakai baju beginian. Kamu tau gak kalau ini tuh sangat menggoda"
jelas dean.
Zelia melepaskan lengannya lalu meraih kertas yang memang telah ia siapkan diatas nakas samping tempat tidur.
"taraaaaa...."
"apa ini bi?"
Dean mengambil alih kertas itu lalu membacanya dengan teliti. Terlihat dean mengerutkan dahi sambil sesekali melirik ke arah zelia.
__ADS_1
"jadi ?" tanya dean tak mengerti.
"jadi tadi zeli kerumah sakit. Lalu kata dokternya kita bisa melakukan program kehamilan secepatnya"
Jawab zelia.
"bi, tapi kan kamu masih kuliah. Memang kamu sudah siap?"
Tanya dean memastikan karena ia tak ingin membuat zelia menjadi kehilangan masa-masa bahagia nya menikmati bangku kuliah dengan adanya kehadiran seorang anak. Bagi dean anak bukanlah point utama, karena yang terpenting baginya adalah kebahagiaan zelia.
"tak ada alasan untuk aku bilang gak siap kak ! Atau jangan-jangan justru kakak yang belum siap punya anak dari aku? Kakak masih ingin bermain-main dengan pernikahan ini ?"
Zelia melipat kedua tangannya didada. Justru kini malah zelia menjadi merajuk mengingat dean yang seperti menghalangi keinginannya. Ia menjadi salah paham dengan maksud baik dean menanyakan kemantapan hatinya. Karena sebenarnya dean tak menuntut untuk zelia hamil secepat ini.
"bukan begitu bi, kakak hanya tak mau kamu nantinya merasa terbebani karena kamu harus kuliah dan harus mengandung. Kakak tau itu bukanlah hal yang mudah bagi seorang wanita. Belum lagi tugas mu tak hanya disitu, dirumahpun kamu masih harus sibuk melayani kakak. Kakak tak ingin kamu kelelahan atau kenapa-kenapa sayang"
Jelas dean dengan lembut untuk meluruskan kesalahpahaman tanggapan zelia atas ucapannya.
"kalau aku sudah ingin melakukan program itu berarti aku sudah siap !"
Cetus zelia membuat dean menghela nafas panjang karena kini ia malah menjadi merajuk yang berkepanjangan.
"duhhh jadi harus semakin ekstra ini, butuh banyak nutrisi dan asupan vitamin agar daya tahan tubuh kakak tetap kuat berstamina"
"lho yang mau hamil kan aku? Kenapa kakak yang sibuk menyiapkan daya tahan tubuh. Yang harusnya tetap berstamina itu ibu hamil" sangkal zelia .
"ya tapikan sebelum itu kakak harus lebih berstamina lagi untuk membuat kamu hamil. Jika stamina kakak baik, kita bisa lebih sering membuatnya sebanyak mungkin agar program kehamilan ini berjalan dengan lancar"
Sahut dean terkekeh seolah merasa menang karena dia akan terus-terusan menggempur zelia tanpa adanya penolakan.
"ya gak gitu juga kali konsep nya " zelia mencapit batang hidung dean dengan kedua jari tangannya.
Mereka berdua tertawa bersama lalu saling berpelukan satu sama lain.
.
.
__ADS_1
Di langit yang sama, seorang wanita yang sedang duduk di kursi roda sambil menikmati indahnya taman rumah sakit. Entah sudah berapa lama ia berada dirumah sakit ini hingga kini ia sudah menganggap rumah sakit ini seperti rumah nya sendiri.
"tiara, ayo kita masuk. Matahari sudah semakin terik" pinta bu fatma.
tiara mengangguk. Tiara yang dulu seorang yang periang kini berubah menjadi pribadi yang pendiam. Terlebih saat ia dinyatakan lumpuh total dan permanen, ia seolah sangat membenci kehidupannya sendiri. Meski bu fatma dan pak sofiyan seringkali mengingatkannya untuk berdamai dengan takdir dan menjalani semua nya dengan ikhlas. Justru ia semakin menjadi depresi.
Bahkan sudah beberapa kali ia melakukan percobaan bunuh diri. Untung lah semua aksi nya tak pernah berhasil karena Tuhan memang masih menyayanginya. Karena realitanya ia masih diberi kesempatan hidup dan selamat dari kecelakaan maut yang menewaskan kedua orang tuanya.
"jadi disini kamu kemarin melakukan pemeriksaan?" tanya dean yang kini mulai berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
"iya kak" zelia menggandeng lengan dean dengan manja menuju ruang dokter kandungan yang kemarin ia sambangi.
Hari ini, hari pertama zelia mengajak dean untuk berkonsultasi langsung tentang rencana program kehamilannya.
Setelah selesai melakukan berbagai macam pemeriksaan. Dean dan zelia kembali berjalan karena memang dean masih memiliki banyak pekerjaan di kantor yang hari ini sengaja ia halau sebentar.
"lain kali, kakak gak ngizinin kamu kesini seorang diri !"
"lho memangnya kenapa?" tanya zelia merasa aneh dengan permintaan dean.
"kamu gak takut apa jalan di rumah sakit ini sendiri? Lagian disini kan gak ada orang yang kamu kenal. Kalo kamu kenapa-kenapa gimana coba?"
Jelas dean.
"yaampun kak, ini kan rumah sakit bukan rumah hantu. Ya kali aku mau kesini ngajak temen ramean, ya malag dimarah dong. Lagian siapa bilang aku gak kenal dengan merek yang ada disini. Gak usah terlalu naif deh sampe berfikir yang enggak-enggak. Nyatanya kemarin aku ketemu dengan ibunya rendi kok di sini. Ups!"
Zelia segera menutup mulutnya yang keceplosan menyebut nama rendi, lelaki yang membuat dean selalu keluar tanduk berapi jika zelia menyebut-nyebut namanya jika sedang bersama dirinya.
"rendi? ibunya? Ooh jadi sebenarnya kemarin kamu kesini karena ingin bertemu dengan lelaki itu? Penggemar rahasia mu itu? Mau ngasih foto bareng, temu kangen gitu ceritanya !"
"duh keceplosan lagi ! tuh kan pasti kak dean langsung keluar tanduknya jika membahas rendi" batin zelia memaki dirinya sendiri.
"bukan gitu kak. Jangan salah paham dulu dong"
"lalu ?" tanya dean yang sudah terlanjur kesal.
"kemarin aku hanya bertemu bu fatma. Ia sedang menemani keponakannya dirumah sakit ini. Tapi aku gak bertemu dengan anaknya kok, sumpeh "
__ADS_1
Zelia menaikkan dua jarinya membentuk huruf v ke arah dean dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
.