Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 114. mulai usaha lagi


__ADS_3

Zelia balas menoleh menatap dean dengan serius dengan tatapan menanti jawaban penuh atas pertanyaannya.


"yang salah karena sean sering memperhatikanmu selama disana !" ucap dean dengan tenang namun penuh penekanan.


"kakak gak suka kamu berlama-lama di sana selama sean masih berada dirumah itu !" jelas dean melanjutkan kalimatnya.


"lalu sean mau tinggal dimana kalau bukan dirumah itu? Kakak kadang aneh deh, Adikmu itukan masih kuliah" ujar zelia.


"ya terserah sean mau tinggal dimana saja. Kamu kenapa sih masih saja membela dia? Kamu masih ada rasa sama dia???" tanya dean yang seperti sedang menyudutkan zelia.


"hey, sejak kapan aku memiliki rasa dengan lelaki lain. Meskipun kami pernah ada hubungan ! Tapi tak pernah secuil pun aku memiliki rasa sama dia !!!"


ujar zelia dengan nada meninggi karena dean menuduhnya yang tidak-tidak, Membuat amarahnya membuncah .


dean tersenyum merasa senang mendengarkan penuturan zelia bahwa ia tak pernah mencintai lelaki lain selain dirinya.


"iya iya kakak percaya" ucap dean merendahkan nada bicara nya menjadi lembut seraya mengelus rambut zelia.


"gak percaya juga gak apa-apa !!" sentak zelia sambil menepis gerakan tangan dean. Terlanjur kepancing amarah, zelia menjadi keterusan merajuk pada lelaki yang duduk disampingnya.


"kok jadi marah sih bi. Jangan marah dong !" bujuk dean pada zelia yang kini berpaling muka melihat ke arah luar dari kaca jendela.


"terserah !!" watak keras kepala dan egoisnya memang sangat melekat hebat di diri zelia hingga berulang kali dean harus menghela nafas panjang guna meredam amarahnya dan berusaha untuk bisa sesabar mungkin menghadapi sikap zelia.


"hufftt begini sulitnya memiliki istri yang jauh lebih muda. Aku malah seperti jadi bapaknya " gumam dean dalam hati saat melihat zelia berjalan lebih dulu masuk kedalam rumah mereka.


"bi, jangan marah dong ! Lagian ngapain sih tadi kita bahas-bahas sean" dean mengekor di belakang zelia sambil merengek meminta maaf setibanya dirumah.


"lagian siapa yang memulai membahas sean dalam pembicaraan kita !" zelia masih saja berbicara ketus pada dean karena rasa kesal yang sulit ia hilangkan begitu saja.


"iya iya kakak minta maaf.. Jangan marah lagi dong" rengek dean tiada henti sebelum ia berhasil mendapatkan maaf dan perlakuan manis dari sang istri.


"bi..."


"iya aku maafin ! Yaudah aku mau mandi. Jangan ngikutin terus kaya gini !" zelia merasa risih saat dean mengikuti kemana saja arah dia berjalan.

__ADS_1


"kakak ikut !" ledek dean.


"gak usah aneh-aneh deh ! Emang kakak gak kerja?? Ini udah siang loh " zelia melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan.


"kakak mah santai" sahut dean yang memang telah rapi karena ia memilih mandi saat masih di kediaman orang tuanya. Dean menyunggingkan senyum saat ada niat terselubung setelah ia mendapatkan maaf dari zelia dan ingin mengulang kembali gempuran panas nya semalam.


.


Dering ponsel dean menghentikan aksi genit dean yang sedang asyik menggoda sang istri.


"kenapa ?!" tanya dean dari balik telpon pada assistennya yang selalu menggangu waktu nya bersama zelia.


"bos, apa lo lupa kalau tiga puluh menit lagi ada meeting dengan klien dari luar kota?" ucap hans mengingatkan bosnya yang sering lupa apalagi kalau sedang di mabuk cinta.


Mata dean membulat sempurna bahkan ia tak mengingat sedikitpun tentang adanya jadwal meeting yang akan diadakan pagi ini juga.


"kenapa lo baru bilang sekarang hah !!!"


Maki dean paFFS hans sebelum ia mematikan telpon itu secara sepihak. Hans di sebrang sana mendengus kesal saat dirinya selalu menjadi pelampiasan amarah dan selalu salah dimata bosnya. Padahal ia sudah mengingatkan dean tentang meeting ini sejak tiga hari lalu. Hanya saja dean yang sibuk bucin dengan sang istri sampai lupa hal penting seperti ini.


Dean menggunakan jas dan bersiap untuk ke kantor.


"iya, tuh kan kakak sudah mulai pikun. Sampai-sampai lupa kalau pagi ini ada jadwal meeting " cerocos zelia sambil melihat suaminya yang tergesa-gesa menyiapkan segala keperluan kantornya. Zelia hanya bisa melihat karena ia sendiri tak tau berkas mana saja yang akan dean bawa ke kantor pagi ini.


"bi.. Jangan bilangin aku pikun. Aku kan belum tua" sahut dean menatap tajam ke arah zelia.


"iya percaya kakak kan masih berumur tujuh belas tahun" zelia tertawa kala melihat dean semakin menekuk wajahnya .


Tak lama kemudian dean pamit untuk pergi ke kantor. Bahkan jika jalanan macet sudah dapat dipastikan dia akan telat untuk tiba disana.


.


.


Waktu berjalan seiring pergerakan bumi yang memutar mengikuti porosnya. Satu tahun sudah dean dan zelia menikah. Namun berita baik dengan adanya garis dua pada alat test kehamilan tak kunjung mereka dapatkan. Disaat bayi citra sudah lahir dan sudah berusia beberapa bulan, zelia masih tetap menanti perut ratanya itu memiliki isi.

__ADS_1


"kak...." zelia memeluk erat tubuh dean yang sedang duduk disampingnya dan berada diatas ranjang yang sama dengannya.


"hemm" dean membelai rambut zelia dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.


"kakak gak akan ninggalin aku kan?" tanya zelia


"tak ada alasan bagi kakak untuk meninggalkanmu sayang" dean membelai rambut zelia dengan sangat lembut.


"tapi, aku takut kakak kecewa denganku_" zelia menggantung perkataannya. Dean menunggu kalimat apa yang akan zelia katakan selanjutnya.


zelia menghela nafas berat sebelum ia melanjutkan kalimatnya tadi.


"aku takut kakak kecewa karena aku belum bisa memberi kakak seorang anak" zelia menenggelamkan kepala pada dada bidang dean. Hatinya terasa hancur setelah sekian lama menanti sesuatu yang kunjung membuahkan hasil. Padahal mereka sudah melakukan pemeriksaan dan program kehamilan selama enam bulan terkahir ini.


"sabar sayang, jika sudah waktunya Tuhan pasti akan menghadirkan anak dalam rumah tangga kita" dean mengecup puncak kepala zelia. Meski sebenarnya ia pun sangat menginginkan adanya kehadiran seorang anak ditengah-tengah mereka. Namun ia tak dapat berbuat banyak jika pada akhirnya Tuhan memang belum mempercayakan titipan itu untuk tumbuh dirahim istrinya dan hadir dalam rumah tangga mereka.


"maafin aku kak" zelia mengeratkan pelukannya pada tubuh dean.


"gak ada yang perlu dimaafkan sayang, ini sudah takdir Tuhan. Tugas kita saat ini hanya berusaha sambil berdoa" dean mengecup puncak kepala zelia lebih lama dan seketika suasana diantara mereka menjadi hening.


"bi...."


Zelia mendongakan kepala saat dean memanggilnya.


"yuk kita mulai usaha" Zelia mengerutkan dahinya.


"usaha apa kak ini kan sudah malem? Kakak mau maling atau jaga lilin??" Tanya zelia.


"kamu ini ngawur" Dean menyentil kening zelia pelan. Zelia menggelus kening sambil mengerucutkan bibirnya.


"kita mulai usaha bikin anak lagi sampai berhasil..."


Zelia membulatkan mata mendengar perkataan dean yang terkekeh saat melihat ekspresi wajahnya .


.

__ADS_1


__ADS_2