Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 60. penyebab rendi sakit


__ADS_3

"aku yakin kamu pasti mendapatkan yang lebih dari aku. Jaga selalu kesehatanmu, jaga pola makan dan tidurmu. Kalau kau benar-benar sudah pulih, kau bisa mendatangiku ke jakarta" pesan zelia saat rendi telah melepaskan pelukannya.


"bisa-bisa nya zelia meminta lelaki ini untuk menemuinya kembali" rutuk hati dean.


Zelia tak bermaksud lain selain hanya ingin memberi semangat untuk kesembuhan rendi. Karena ia yakin, sekalipun nanti rendi telah pulih mungkin dean atau yang lainpun tak akan membiarkan rendi menemui zelia dengan leluasa. namun zelia berharap setidaknya ucapannya menjadi motivasi untuk rendi.


"aku pamit dulu" zelia hendak bangkit dari duduknya namun rendi menahan tangannya.


"tunggu sebentar zel, aku ada sesuatu untukmu" rendi berjalan ke arah kanvas-kanvas yang berjajar berisi coretan seni yang rendi lukiskan disana. Ia mengambil sebuah lukisan berukuran sedang bergambar wajah seorang wanita yang sedang tersenyum dan mirip sekali dengan zelia. Rendi memberikan lukisan tersebut pada zelia.


"terimakasih ren, lukisan ini sangat bagus" puji zelia sambil menatap wajahnya dalam goresan kuas warna itu.


"ada satu lagi zel" rendi kembali berjalan untuk mengambil sesuatu. Sepertinya ia hendak mengambil lukisan yang berukuran lebih besar dari sebelumnya. Namun mereka semua tak tau lukisan apa itu karena rendi menutupnya dengan kain berwarna putih.


rendi membuka kain penutup itu, barulah terlihat bahwa terdapat sepasang gambar lelaki dan wanita yang sedang bergandengan sambil tersenyum dan saling bertatapan.


"sengaja lukisan ini aku buat untuk mu zel, aku tutup rapat agar lukisan ini tak ternodai oleh debu-debu nakal dikamar ini" ucap rendi sambil membawa lukisan besar itu.


"lihat lah, disini ada sepasang manusia. Dibawahnya kutulis rendi dan zelia. dulu ku harap kita menjadi sepasang kekasih namun kamu tak pernah menganggapku lebih dari sebatas teman. Anggaplah ini sebagai bukti bahwa aku sangat menghargai pertemanan kita, dan kita selalu berteman baik" perkataan rendi membuat zelia merasa bersalah karena realitanya hatinya tak pernah bisa jatuh pada lelaki yang sejak lama memendam perasaan untuknya.


"terimakasih ren, aku akan menjaga semua lukisan ini" ucap zelia.


Rendi memberikan lukisan itu pada dean yang sedang berdiri diantara kedua orang tuanya.


"bawa ini, tak mungkin zelia mengangkat lukisan sebesar ini" rendi menyodorkan dengan paksa lukisan itu pada dean. Mau tak mau dean pun harus menerima lukisan itu karena ia pun tak kan mungkin membiarkan zelia membawa lukisan-lukisan yang dia anggap lebay seperti ini .

__ADS_1


mereka keluar kamar rendi, zelia berpamitan pada pak sofiyan dan bu fatma. namun dean langsung keluar tanpa berpamitan pada mereka. Selain karena hatinya yang merasa kesal, ia pun merasa kesusahan untuk membawa lukisan bertuliskan nama rendi dan zelia. "ingin sekali aku buang lukisan ini" gerutu dean.


.


"kamu yakin bisa bawa nya?" tanya rendi saat zelia sudah tiba di depannya. Mengingat bahwa mereka hanya mengendarai sepeda motor untuk kerumah pak sofiyan dan harus pulang dengan membawa lukisan-lukisan yang dean anggap sangat merepotkan.


"bisa kak" jawab zelia .


"kita buang saja yang ini" dean menatap lukisan yang ia pegang sejak tadi.


"hus gak baik membuang pemberian orang" bantah zelia yang sesekali tersenyum ke arah pak sofiyan dan bu fatma yang berdiri diteras rumah.


"bisa enggak nak zeli?" tanya pak sofiyan yang melihat dean dan zelia yang tak kunjung naik keatas motor .


"bisa pak, kami pamit dulu"


Dean dan zelia melaju meninggalkan kediaman pak sofiyan.


"seandainya dia mau menerima rendi, mungkin rendi tak akan seperti ini ya bi" ucap bu fatma mengiringi kepergian zelia.


"huss gak boleh ngomong gitu mi. jodohkan tidak ada yang tau, kita juga gak boleh memaksakan kehendak kita. Hati tak pernah salah untuk jatuh cinta pada siapa" ucap pak sofiyan sambil melingkarkan tangannya pada bahu istrinya.


"iya sih bi" mereka berdua pun masuk kedalam rumah dan melihat rendi yang menatap jendela kamar melihat kepergian zelia.


"terimalah semuanya dengan ikhlas, umi yakin akan ada zelia-zelia yang lain yang bisa membuatmu jatuh cinta" ucap bu fatma yang merasa tak tega melihat anaknya yang sedang berdiri ditemani dengan lamunan.

__ADS_1


"apa aku bisa melupakannya mi?" tanya rendi pada bu fatma yang merangkul pundaknya.


Bu fatma merasa terharu sekaligus merasa senang karena semenjak rendi di vonis mengalami gangguan kejiwaan, ini kali pertama nya rendi mau berbicara sopan dengannya.


"kamu pasti bisa sayang, umi akan selalu mendampingimu hingga kamu bisa melupakannya" jawab bu fatma . Pak sofiyan merasa tertegun melihat kedua orang yang amat ia cintai itu sedang berpelukan.


"selama ini mungkin aku hanya kurang ikhlas dan tak bisa menerima keadaan mi, hingga banyak yang mengira aku gila. Awalnya aku sangat membenci takdir hidupku mi, tapi sekarang aku sadar bahwa kebagiaan zelia bukan hanya jika bersamaku. Dan bagiku melihatnya bahagia adalah segalanya" ucap rendi dalam pelukan sang umi.


Bu fatma mengelus kepala putranya penuh rasa haru.


.


.


semula benar, rendi hanya tak bisa menerima takdir terlebih saat ia tau zelia sudah menikah dengan lelaki yang tak zelia kenal. Rendi banyak mencari tau tentang kehidupan zelia melalui om irwan juga sahabat zelia lainnya yang dia kenal. Rendi mengetahui pernikahan zelia hanya karena terpaksa. Zelia pun diminta untuk tinggal bersama mereka yang digadang-gadang keluarga kaya raya.


rendi hanya khawatir bahwa zelia akan diperlakukan semena-mena seperti pada sinetron-sinetron yang sering ia lihat ditelevisi bahwa orang kaya akan selalu menyiksa istri dan menantu nya yang miskin.


Karena rasa cinta nya yang teramat dalam, rendi sering berhalusinasi bahwa ia sedang menjaga zelia dari kejauhan. Ia sering marah-marah seolah sedang memarahi suami atau mertua zelia yang jahat. Ia pun sering tertawa mengingat zelia yang juga tertawa dengannya. Ia kadang betingkah layaknya orang yang sedang berkelahi berhalusinasi bahwa dia sedang melawan suami zelia yang ingin menghajar zelia.


Ya begitulah kurang lebih yang rendi lakukan saat ia tau zelia telah menikah. pak sofiyan dan bu fatma yang melihat perubahan sikap dan tingkah laku anaknya pun menganggap anak memiliki gangguan kejiwaan hingga ia meminta dokter untuk memeriksanya. Namun rendi malah menghajar dokter tersebut karena ia anggap dokter itu suruhan mertua zelia yang ingin menyuntikkan racun pada tubuh zelia.


jika cinta terkadang membuat gila? Apa ini buktinya??


namun setelah kedatangan zelia kerumahnya. Ia merasa bahwa zelia sudah bahagia dengan pernikahannya. Ia pun tersadar atas semua ucapan zelia bahwa tak ada lagi yang perlu diharapkan darinya karena saat ini dia telah bergelar sebagai istri orang lain.

__ADS_1


.


.


__ADS_2