
tiga hari sudah dean mencari zelia kesana kemari. Namun berita dan keberadaan zelia tak terdengar sama sekali bak tertelan bumi.
Dean hampir saja putus asa, hampir seisi kota jakarta sudah ia telusuri namun zelia tak kunjung ia temui. Dean mengusap wajahnya kasar karena merasa kecewa.
Tak ada pilihan lain selain menelpon om irwan di bandung dan menanyakan apakah zelia berada disana.
Dean menepikan mobilnya yang sudah tiga hari menjelajah ibu kota. Ia mencoba menghubungi nomor handphone om irwan.
"hallo nak dean" sapa om irwan hangat saat panggilan mereka telah terhubung.
"hallo om. Apa kabar om??"
jawab dean sekedar berbasa basi sebelum menuju ke inti pembicaraan.
"baik nak dean. Kabar keluarga dijakarta bagaimana?? apakah zelia disana baik-baik saja ?"
Hati dean seolah berhenti berdetak saat om irwan menanyakan kabar zelia. Pertanda bahwa zelia sudah pasti tak berada disana.
"baik om" dean terpaksa berbohong agar om irwan tak khawatir dengan keadaan zelia.
" Akhir-akhir ini om sering sekali memimpikan dia. Tapi syukurlah kalau zelia disana baik-baik saja. Akhir-akhir ini om irwan juga sedang sibuk mengurus warung, jadi jarang memberi kabar pada nya. Om titip zelia ya nak, sampaikan pada sean juga"
ucap om irwan yang hanya bisa dean jawab dengan kata 'Iya' agar om irwan tak curiga dengannya.
"yasudah de, om kembali bekerja lagi ya"
"iya om" sahut dean.
Dean segera mengakhiri panggilannya. Terlihat dia menghela nafas berat setelah ia tau bahwa ternyata om irwan tak mengetahui dimana keberadaan zelia.
.
Dean menyandarkan kepalanya pada dinding kursi kemudi. Ia tak tau harus mencari zelia kemana lagi. Rasanya dirinya saat ini sudah hampir putus asa, apakah dia haruskeliling dunia untuk mencari kekasih nya?
Dean memejamkan mata berharap zelia muncul dihadapannya saat mata nya terbuka. Namun kali ini lagi lagi hatinya kembali kecewa. Karena yang tersuguhkan didepan mata hanya dereta mobil yang berlalu lalang begitu saja.
Drrrtt drrrtt drrttt
Dean segera mengangkat panggilan masuk dari hans yang telah berhasil membuyarkan lamunannya.
"hallo de"
sapa hans dari seberang sana dengan begitu antusias
"hemm"
jawab dean yang sebenarnya sedang malas untuk berbicara.
"kapan lo balik lagi kesini ?? secepatnya lo harus balik lagi kesini karena Ada sebuah berkas yang harus lo tanda tangani"
ucap hans sedikit memaksa. Sebenarnya hans merasa kuwalahan jika harus menghandle semua pekerjaan dean disurabaya.
__ADS_1
Karena jiwa bisnis nya belum sebesar dean dan ia sebenarnya tak memegang kendali apa-apa dalam proyek baru ini. Ia hanya bertugas membantu dean untuk mengawasi saja, namun ternyata dean malah mempercayakannya untuk mengurus semua pekerjaan disana.
"hufft gue bukan artis yang harus dimintain tanda tangan !!"
Jawab dean kesal karena omongan hans yang tak begitu penting baginya.
"tapi de _ "
Tuutttt tuutttt tuttt
Belum sempat hans melanjutkan ucapannya dean sudah lebih dulu memutus panggilan secara sepihak.
Hans mendengus kesal, sama kesalnya dengan dean yang merasa terganggu kesendiriannya.
"siapa juga yang bilang dia artis !! Apa dia lupa kalau dia bos besar di proyek ini ??!"
umpat hans yang tak tau lagi harus bagaimana menanggapi sikap dean yang kini menjadi labil dan tak bertanggung jawab dengan pekerjaan.
.
.
"entah sepenting apa berkas itu hingga harus dengan tanda tanganku !! " gumam dean kesal.
Hatinya yang merasa lelah karena zelia tak kunjung ditemukan, kini harus bertambah lelah dengan panggilan dari hans yang sama sekali tak ia harapkan.
.
.
Handphone yang baru saja dean taruh di dalam dashboard kini kembali bergetar membuat dean benar-benar merasa geram karena menggangu dirinya yang sedang butuh ketenangan dan kesendirian.
dengan malas dean menekan tombol hijau dilayar handphone nya tanpa lagi melihat siapa nama pemanggil yang tertera.
"kenapa lagi hah ??? Pake tanda tangan lo kan bisa !! Kalau ada yang komplain, nanti tinggal lapor sama gue !! "
Ucap dean dengan nada meninggi karena emosi yang sulit untuk terkendali .
"siap bos"
sahut seseorang di sebrang sana dari balik telpon namun dengan suara yang tak asing lagi baginya.
"papaaaaa !!!???"
Pekik dean terkejut saat suara lelaki yang membalas ucapannya adalah suara sang papa.
Dean terdiam memilih untuk bungkam suara, ia takut sang papa marah karena ucapannya tadi.
"bodoh, sial banget ! Kenapa gue kira ini telpon dari hans !"
Umpat dean merutuk dirinya sendiri yang begitu ceroboh hingga tak melihat siapa si penelpon.
__ADS_1
" sudah berani meninggikan suara dengan papa sekarang ?" tanya pak arman yang selalu bersikap tenang dan berwibawa. Namun disetiap perkataan yang ia ucapkan tersirat penuh makna.
"maaf pa, dean kira tadi panggilan masuk dari hans" jawan dean .
"akhir-akhir ini papa mendapat laporan bahwa kamu telah mengabaikan proyek baru mu, kenapa?"
Tanya pak arman langsung ke inti pembahasan hingga ia harus menelpon dean hanya untuk menanyakan apa alasan dean hingga ia rela meninggalkan pekerjannya dan malah mempercayakan sang assisten untuk menghandle semua.
"dean sedang mencari zelia pa. Dia telah pergi dari rumah " jawab dean jujur saat ia rasa tak perlu lagi ada yang harus ia tutup-tutupi dari keluarga. terlebih karena pak arman pun telah mengetahui apa yang terjadi diantara dirinya dan zelia.
" apa sepenting itu zelia bagimu ? Hingga kamu rela meninggalkan proyek besar yang seharusnya masih kamu tunggu disana"
"iya pa. Bahkan bagi dean, zelia jauh lebih penting daripada semua pekerjaan yang ada"
Pak arman tak menyangka bahwa anak sulung nya itu begitu terobsesi dengan wanita yang bestatus sebagai adik iparnya sendiri hingga rela meninggalkan pekerjaan demi mencari keberadaan wanita pujaannya itu.
dikejauhan sana pak arman menggeleng mendengar begitu berani nya dean mengatakan bahwa zelia lebih penting dari semua pekerjaan. Ia tersenyum, karena sikap tegas dean mengingatkan dirinya di masa muda dulu yang begitu mencintai bu ida dan memperjuangkan kekasihnya itu lebih dari apapun.
"lalu apa sekarang kamu sudah menemukannya?" tanya pak arman kembali.
sikap pak arman yang selalu tenang, membuat dean pun tak berani untuk berdebat dengan sang papa dengan emosi. Meski selalu ada perdebatan kecil diantara mereka namun cara bicara mereka tetap tenang dan penuh wibawa.
"belum" ucap dean seraya menggeleng.
"payah... Hanya di jakarta yang segitu saja kamu tak sanggup menemukannya " ledek pak arman pada putra sulungnya yang seperti sudah hampir putus asa.
dean mendengus mendengar sang papa yang justru malah meledek nya.
"pergi ke jalan xxx, percayalah kamu akan menemukan nya disana "
Pak arman langsung mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban dari dean karena ia yakin dean pasti memiliki banyak pertanyaan yang akan membuat kepala nya semakin pusing.
Dia hanya ingin dean mengikuti perintahnya tanpa harus banyak bertanpa apa dan mengapa.
tanpa pikir panjang dean langsung memutar balik arah mobilnya dan melajukan mobil itu menuju ke tempat yang tadi pak arman arahkan.
Dean yakin sang papa pasti sudah mengetahui semua dan tak main-main dengan ucapannya.
Pak arman sebenarnya memang sudah lama mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di kediamannya dijakarta.
Meski ia masih berada dibali, namun banyak cctv yang terpasang di jakarta untuk mengintai seluruh gerak gerik keluarga nya.
walau pun ia jauh dan tak selalu berkomunikasi dengan mereka dijakarta, namun tak ada waktu yang terlewat sedetikpun tanpa informasi tentang mereka.
Hingga pak arman menjadi orang pertama yang mengetahui mengapa penyebab terjadinya pertengkaran diantara sean dan zelia. Hingga pada akhirnya sean meminta zelia untuk keluar dari rumah nya.
Namun pak arman tak pernah menyangka bahwa dean akan semudah itu meninggalkan proyek besar yang kini menjadi terbengkalai dan menjadi ancaman penyebab kerugian besar untuk perusahaannya hanya untuk mencari zelia.
Beberapa hari ini semenjak dean memutuskan untuk pulang lebih awal dari surabaya, pak arman sengaja mengetest dean dengan membiarkannya mencari zelia seorang diri, meski sebenarnya sejak pertama pak arman telah mengetahui dimana keberadaan zelia.
Semakin hari pak arman semakin merasa pusing karena semakin lama dean pergi untuk mencari zelia, selama itu pula pekerjaannya di surabaya juga pekerjaannya dijakarta akan terbengkalai. Hingga akhirnya pak arman memutuskan untuk memberitau dean dimana zelia berada dengan harapan setelah bertemu dengan zelia, dean dapat kembali fokus untuk bekerja.
__ADS_1
.
.