
"ayok balik !" ajak zelia yang melihat sean keluar dari kelas karena ia baru selesai mengerjakan ujian susulan kemarin.
"tunggu zel, ada yang mau citra omongin sama gue, lo tunggu disini ya" sean menahan langkah zelia karena melihat citra yang sudah menunggunya di depan kelas lain yang tak begitu juah dari mereka. zelia menghela nafas kesal, namun tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan sean kali ini. zelia kembali duduk di kursi depan kelas, matanya menatap sean yang berjalan ke kelas lain untuk menemui citra disana. zelia memainkan handphone nya saat sean telah hilang dari balik pintu masuk kedalam kelas dan tak lagi terlihat.
"mau ngomong apa sih sayang?" kata sean lembut saat melihat citra tengah berdiri menantinya.
"jelasin sama aku, dia siapa??" tanya citra dengan tatapan seperti sedang mengintimidasi.
"dia siapa sayang?" jawab sean tak mengerti dengan siapa yang dimaksud oleh kekasihnya itu.
"siapa lagi kalau bukan cewek yang selalu bareng kamu !" sahut citra sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"oh zelia? kan udah aku bilang dia itu sepupu aku" entah mengapa kali ini hati sean terasa berat untuk mengatakan bahwa zelia adalah sepupunya. namun tak ada pilihan lain untuk menjawab pertanyaan citra selain memberikan alasan ini karena bagi sean ini bukan waktu yang tepat untuk memberi tau citra bahwa siapa zelia sebenarnya.
"kenapa kamu punya sepupu seperti itu? aku gak suka ya kamu bareng terus sama dia !! dia itu kampungan dan berani melawan omongan aku !! kalau dia beneran sepupu kamu, seharusnya dia tau dong siapa aku !! seharusnya dia bisa menghargai aku !!" ucap citra dengan tegas tak seperti biasanya yang selalu bersikap lebay dan manja.
"apa lagi yang zelia lakuin ke citra sampe dia semarah ini sama gue !" batin sean.
"dia emang orang nya begitu sayang, maka nya mama sama papa nya lelah mengurusnya dan mennyuruh dia untuk tinggal dirumah kami biar dia merasa jengah, tapi seperti nya dia memang sulit untuk berubah" ujar sean memberi alasan meski harus menjual nama mama dan papa zelia yang sebenarnya bukan seperti itu alasan utamanya.
"ya seharusnya kamu bisa menolak dong kehadiran dia di rumah kalian !! " pekik citra menyangkal alasan sean yang menurutnya tak masuk akal.
mana ada orang tua yang membuang anak nya dan menyuruh tinggal di rumah saudara karena alasan lelah untuk mengurus anak, pikir citra.
"susah sayang, mama sangat menyayangi nya. kamu tau kan? sudah lama mama memang menginginkan anak perempuan . jadi dia sangat welcome dengan kehadiran zelia dikeluarga kami " ujar sean.
"bilang sama mama kamu, aku yang akan jadi anak perempuan nya. cuma aku satu-satu nya anak perempuan dirumah kalian" ucap citra penuh penekanan di kata-kata cuma aku satu-satunya anak perempuan. citra memang tak mengetahui banyak tentang keluarga sean, hingga ia tak tau bahwa sean bukanlah anak tunggal dalam keluarga itu.
__ADS_1
sean berjalan mendekat ke arah citra lalu merengkuh pinggang nya mencoba menenangkan emosi citra yang sedari tadi meledak-ledak. "iya sayang, pesanmu ini nanti bakal aku sampein sama mama" bisik sean lembut tepat ditengkuk leher citra menggugah gairah citra untuk mendapatkan sentuhan bibir yang lembut pada bibirnya.
sean mendekatkan wajahnya ke wajah citra yang sudah memejamkan mata menunggu pendaratan manis dari bibir sean. begitupun dengan sean yang terlihat sangat haus dan ingin segera melahap benda kenyal milik citra yang kini berada tepat dihadapan nya dan berjarak hanya beberapa centimeter.
mata sean pun terpejam, tiba-tiba...
cletak
seperti ada yang menghantam pikirannya saat mengingat zelia yang sedari tadi pasti masih menunggu nya didepan kelas.
sean segera mengurungkan niatnya untuk melakukan pendaratan itu disaat bibir mereka hampir menyatu dengan sempurna.
sean segera menjauhkan wajahnya dan menengok ke luar kelas mencoba memastikan zelia tetap berada disana meski tak terlalu terlihat dengan jelas.
citra membelakakan mata nya, kali ini lagi-lagi sean berhasil membuat hatinya benar-benar merasa kesal . citra memicingkan matanya menatap sean yang sedang menatap keluar hingga dengan spontan mengagalkan pendaratan dibibirnya. justru sean malah memilih memalingkan wajah menoleh ke arah pintu kelas yang sedikit terbuka. "pasti gara-gara cewek sialan itu!" umpat citra dalam hati.
"aku mau dianter kamu!" ucap citra datar.
sean menoleh ke arah citra "tapi sayang, aku kan bareng zelia pulangnya" sahut sean.
"oh jadi kamu lebih milih dia daripada aku?!!" citra mengunci langkah kakinya membuat langkah sean pun ikut terhenti. "bukan gitu, kamu kan biasa bareng sama alesa dan meli"
"mereka udah pulang duluan !" citra kembali mengerucutkan bibirnya melepaskan gengaman tangan sean dengan paksa dan kembali merajuk karena sean lebih membela perempuan paling nyebelin itu baginya.
sean membuang nafas kasar,tak tau harus bagaimana? apakah harus memilih mengantar citra atau pulang bersama zelia. sean memijat pelipis matanya merasa pusing dengan pilihan yang kali ini terasa sulit untuk ia pilih. seandainya citra memberi pilihan lain untuk membonceng mereka berdua secara bersamaan, mungkin sean tak kan sepusing ini untuk menuruti permintaan citra.
"jadi gimana? kamu pilih pulang bareng aku atau dia?" zelia menunjuk ke arah zelia yang masih duduk dikursi depan kelas sambil menunduk memainkan handphone menunggu kedatangan mereka.
__ADS_1
lagi-lagi sean membuang nafas panjang dan kasar "iya iya aku anter kamu pulang" jawab sean dengn berat hati, membuat citra tersenyum penuh kemenangan dan kembali berjalan sambil memeluk pinggang sean dengan erat dan mesra.
[didepan kelas]
sudah hampir satu jam zelia menunggu sean yang tak kunjung keluar dari dalam kelas itu. rasa lelah dan jenuh sudah sedari tadi menghampirinya. namun tak ada pilihan lain selain bertahan untuk menunggu sean demi baktinya kepada mama dan papa. zelia masih sangat mengingat pesan yang selalu mama mertua nya sampaikan bahwa ia harus pulang dan pergi bersama sean. ia menuruti itu semua bukan karena patuh kepada sean sabagai suaminya. namun ia takut menjadi anak durhaka karena melanggar perintah mama nya.
"lama banget sih sean !" zelia melirik ke kelas yang tadi sean dan citra masuki, sudah cukup lama ia menunggu namun tak ada tanda-tanda bahwa sean akan keluar dari sana.
"heran deh gue, masih sempet-sempetnya mereka mesum di tempat seperti ini. mana ini kampus lagi, mentang-mentang anak pemilik saham laju bisa ngelakuin apa aja seenak jidat" umpat zelia yang sudah mulai merasa bosan dan lelah.
sean keluar dari dalam kelas bersama citra yang menggelayut manja dilengannya. membuat zelia berdecak kesal melihat tingkah dua manusia yang bucinnya melebihi anak SMP sampai gak tau tempat dimana mereka harus memadu cinta.
"kamu tunggu disini, aku bilang dulu sama zelia kalo aku mau bareng kamu" ucap sean melepas pelukan tangan citra di lengannya lalu berjalan mendekat kearah zelia.
citra menuruti ucapan sean, ia berdiri di tepi tangga yang menuju lantai bawah sambil menantikan perdebatan seru yang akan terjadi antara dua saudara sepupu yang sebenarnya masih sangat ia ragukan.
"lama bnget sih lo" pekik zelia kesal saat sean berdiri dihadapannya.
"zel, lo tunggu disini dulu ya. gue anter citra pulang dulu bentar" ucap sean sedikit gugup karena merasa tak enak hati dan entah mengapa kali ini hatinya terasa berat untuk mengucapkan perkataan ini.
"hah, jdi maksud lo gue hrus nungguin lo yang mau nganter citra pulang? lo gila apa gak waras sih se!!!!! gue udah hampir satu jam dari tadi nungguin lo disini jadi obat nyamuk. dan sekarang lo masih suruh gue buat nunggu lagi !! mau berapa jam lagi gue nunggu lo disini ?? gk sekalian aja lo suruh gue nginep disini ?? lo bener-bener kelewatan ya !!" umpat zeli kesal, tangannya mengepal kuat menahan emosi yang tak lebih meledak-ledak dari perasaan citra tadi.
rasanya, ingin sekali zelia mendaratkan pukulan keras ke wajah sean yang suka memeperlakukannya seenak jidat. sedangkan sean memilih untuk menundukan kepala, dia tau bahwa zelia akan memakinya dan memberikan ocehan yang panjang sepanjang jalan kenangan dan pasti akan berlarut dan akan selalu ia bahas meski nanti mereka sudah berada dirumah.
"sorry zel " hanya itu kata-kata yang bisa sean ucapkan untuk wanita yang sedang marah dihadapannya itu.
hati zelia benar-benar merasa kesal. sesak, marah, kecewa bercampur aduk menjadi satu didalam hati membuat air mata nya terasa ingin tumpah sejadi-jadinya karena ternyata ia memang tak pernah sean anggap ada dan bukan prioritas baginya.
__ADS_1
dada nya naik turun mengikuti irama detak jatung yang berdetak kencang namun tak beraturan. tak tau harus bagaimana lagi menghadapi sikap sean yang semakin hari semakin membuat nya muak dan makin membenci lelakili tengil tak berpendirian itu.