
Dean tiba lebih awal di sebuah club yang sudah ia tentukan. Dean segera masuk kedalam gedung besar dengan lampu remang-remang itu setelah ia menaruh mobil di tempat parkir. Irama dentuman musik dj khas tempat hiburan malam pun terdengar begitu lantang menggema memenuhi seluruh isi ruangan. begitu pula dengan banyak orang yang sedang bergoyang mengikuti alunan musik membuat raut wajah mereka semua terlihat bahagia bebas tanpa beban.
Kepulan asap rokok dari sekian banyak orang tak luput ikut menari-nari bebas diudara. Aroma alkohol yang sangat menyengat mungkin sudah terbiasa bagi indera penciuman mereka.
Dean berjalan memecah keramaian menuju tempat dimana bartender meracik dan menyajikan minuman untuk para tamu nya.
bahkan ada satu wanita dengan pakaian seksi dengan sangat berani menghampiri dean dan langsung menggandeng tangannya dengan sangat manja juga menggoda. Jesika, seorang wanita penghibur yang sudah lama bekerja ditempat itu. Entah mengapa kali ini matanya langsung tertuju pada lelaki dengan tampilan menawan juga wajah tampan yang tak asing lagi bagi nya. Meski lelaki itu sudah lama sekali tak menampakkan diri di club itu, namun bagi jesika wajah tampan itu tak pernah berubah sedikitpun hingga tak asing lagi bagi penglihatannya.
jesika menyambut kedatangan dean dengan senyuman manis dibibir tipis dengan lipstik yang berwarna merah merona senada dengan dress mini yang ia kenakan saat ini.
penampilan nya yang seksi juga body yang seperti gitar spanyol dulu pernah menjadi tempat dean bermain-main disana. karena siapapun lelaki yang melihatnya pasti akan langsung tergoda . Dulu dean pernah sedepresi itu ketika tiara meninggalkan dirinya untuk selamanya. Hingga akhirnya club malam juga wanita penghibur yang ia gunakan sebagai pelampiasan rasa sedih yang teramat dalam saat itu.
"sudah lama kau tak datang kemari tuan" ucap jesika sambil menggelayut manja di tangan dean. namun dengan sigap dean langsung menepis tangan yang dulu selalu menyentuhnya itu.
"sorry "
ucap jesika sedikit kecewa atas perubahan sikap dean, padahal ia sudah berusaha untuk dapat bersikap akrab kembali seperti dulu.
jesika adalah wanita pertama yang dulu selalu dean cari saat ia tiba diclub itu. kini semua telah berbeda, Bahkan dean seolah tak lagi mengenali jesika yang dulu selalu menjadi teman disaat dia menghabiskan malam dengan tegukan demi tegukan minuman beralkohol yang berseluncur jaya dari rongga mulutnya.
"menyingkir, jangan sentuh saya !"
ucap dean ketus seraya menyingkirkan tangan wanita yang dengan sangat berani menggelayut manja di lengannya. Dean merasa bahwa saat ini ia tak ingin diganggu dengan siapapun termasuk wanita yang dulu selalu menjadi teman malamnya.
Bukan ia lupa pada siapa wanita itu ! Namun ia sudah mengubur dalam masa kelam nya dulu. malam ini ia memutuskam untuk datang ketempat itu lagi sebagai pelampiasan amarahnya juga rasa sakit hati nya yang tak tau lagi harus ia hempaskan kemana.
jesika menjaga jarak meski ia terus berjalan mengiringi langkah dean dengan hati yang kecewa. Sejak pertama ia melihat dean datang kembali ke club itu, jesika mengembangkan senyumnya merasa bahwa lelaki yang telah lama ia rindukan kini akan kembali mencarinya. Namun ternyata ia salah ! Dean yang dulu ia kenal berbeda dengan dean yang kini baru datang.
__ADS_1
"kau mau minum apa?" jesika kembali bersikap manis dan profesional menawarkan minuman meski seorang bartender sudah berdiri didepan tempat duduk mereka.
"apa saja" jawab dean tanpa memperhatikan wanita yang menawarinya minuman .
mata dean memutar melihat kesekeliling menyusuri setiap sudut ruangan memecah kerumunan orang yang sedang asyik bergoyang. Kali ini, bukan lagi wanita penghibur yang sedang ia cari melainkan hans sang assisten pribadi yang tak kunjung datang.
"sial !! Kenapa hans lama banget!!" umpat dean dalam hati.
Lagi lagi dean kembali meneguk minuman yang jesika tuangkan ke dalam gelasnya hingga habis. jesika tersenyum, meski kali ini dean bersikap lebih dingin namun setidaknya dean tak menolak setiap tetes demi tetes alkohol yang ia tuang kedalam gelasnya.
.
.
Hans memarkirkan mobilnya tepat disebelah mobil dean berada. Bersanding dengan mobil hight class membuat mobil hans terlihat tak ada apa-apanya. Hans tersenyum melihat kedua mobil itu berjejer berdampingan.
Ucap hans sambil tersenyum. Entahlah, mengingat bagaimana kebaikan dean kepadanya. hans benar-benar merasa iba. Meski dean seringkali berkata kasar padanya, namun rasa sayangnya pada dean lebih dari sahabat bahkan sudah seperti saudara.
Hans segera beranjak meninggalkan tempat parkir itu dan bergegas masuk untuk menemui lelaki yang dia sendiripun tak tau sudah berapa lama dean menunggu nya didalam.
Hans menyusuri kerumunan orang yang bergoyang mengikuti irama dentuman musik dj yang sangat memekik di gendang telinga.
Mata hans tertuju pada seorang lelaki yang sedang duduk dikursi depan bartender bersama seorang wanita seksi dan beberapa botol minuman yang masih utuh juga satu botol minuman yang sudah kosong.
Hans segera menghampiri dean yang sudah hampir mabuk karena terlalu banyak menenggak minuman.
"sudah hentikan nona, sekarang kau boleh pergi !! " ucap hans sopan namun penuh penekanan disetiap perkataannya pada jesika yang hendak menuangkan kembali minuman itu pada gelas kosong dean.
__ADS_1
jesika mengerucutkan bibirnya lalu pergi meninggalkan dean yang sudah ditemani oleh lelaki yang bersikap lebih dingin daripada sikap dean tadi.
"lama sekaliii kau bangsruttt. lo nyasar apa gimana????" ucap dean dengan gaya orang setengah mabuk.
Hans menyeringai, lalu membawa dean ke tempat yang lebih sepi dan tak begitu bising dengan suara musik. dean berjalan sambil sempoyongan dan menolak hans yang hendak membantunya berjalan.
"aku bisa hans" ucap dean seraya menepis tangan hans yang hendak meraih tubuhnya.
"gak usah pegang-pegang !!! sok sweet banget lo sama gue, jijik tau gak !"
lagi-lagi dean berbicara cetus pada hans namun hans menyadari bahwa saat ini dean sedang dibawah kendali alkohol.
Hans berjalan lebih dulu lalu memilih sofa yang terletak agak jauh dari keramaian tempat itu. Hans sebenarnya tak terlalu menyukai tempat bising seperti ini namun ia terpaksa kesini untuk memenuhi permintaan dean yang diiringi dengan ancaman yang mematikan.
"jadi lo nyuruh gue kesini cuma buat liat lo mabuk kaya gini lagi de ?? Huftt ..." hans mendengus kesal, karena hal sepele seperti ini selalu saja dean lakukan untuk mengerjainya .
"lo kira hanya karena itu gue minta lo dateng !!! Itu nama nya Buang-buang waktu hans" ucap dean sambil menjatuhkan tubuhnya disofa yang sudah jauh dari kebisingan musik di tempat tersebut.
"lalu, untuk apa kita kesini ???" tanya hans mencari kepastian.
"zeliaaa.... kemarin lo tanya siapa dia??? gue ingin memberitahu lo tentang siapa dia sebenarnya" kata dean.
Kali ini dean memang masih sadar meski bicaranya sedikit ngelantur . Dean hanya setengah mabuk, alkohol itu belum berhasil membuat dirinya sepenuhnya mabuk, itupun dikarenakan hans berhasil mencegah jesika yang hendak menuangkan kembali minuman ke dalam gelas dean. Hans berhasil menghentikan dean dari setiap tegukan minuman beralkohol itu, oleh sebah itu hans memutuskan untuk membawa dean menjauh dari hadapan berbagai jenis minuman alkohol yang berjejer mengantri untuk dapat dituang kedalam gelasnya.
.
.
__ADS_1