
Mobil dean telah berhenti di tempat parkir sebuah gedung apartemen. Dean dan zelia segera turun dan mulai masuk kedalam gedung bertingkat itu. Mereka berdua berjalan dan mulai menaiki lift hingga lift itu berhenti di lantai 10.
Zelia melihat kesekitar, tempat yang begitu asing dan baru kali ini ia sambangi. hatinya masih bertanya-tanya mengapa dean membawanya kemari. Kaki zelia terus saja melangkah seiring dengan langkah kaki dean yang menjadi penuntunnya.
Mereka berdua berhenti disebuah kamar dengan nomor 55, dean segera membuka pintu kamar itu mempersilahkan zelia untuk masuk kedalamnya.
"ini apartemen siapa kak?" ujar zelia bertanya-tanya.
"ini apartemen pribadiku bi, kita bisa tinggal disini. Dan aku akan segera mengurus semua pernikahan kita setelah masa idah mu selesai" jawab dean.
zelia mengangguk, terukir senyum bahagia dari bibirnya mendengar perkataan dean yang akan segera menikahinya.
dean menjatuhkan tubuhnya di sofa, begitu pun dengan zelia yang ikut duduk disebelahnya.
"sudut bibirmu berdarah. Boleh aku obati ?"
tanya zelia yang merasa kasihan pada dean karena harus bertengkar dengan adiknya sendiri demi membela dirinya.
dean mengangguk, "kotak obat ada disebelah sana" dean menunjuk sebuah kotak berwarna putih berukuran kecil diatas nakas.
Zelia beranjak untuk mengambil kotak itu lalu kembali duduk di sebelah dean dan bersiap untuk mengobati luka disudut bibir kekasihnya.
Zelia mulai membuka kotak itu, diambilnya kapas dan dibaluri dengan cairan alkohol lalu ia mulai menempelkan kapas basah itu secara perlahan pada sudut bibir dean.
Dean menyeringai saat kapas basah itu tepat mengenai luka yang dapat menimbulkan rasa perih.
"sakit ???" tanya zelia yang menyadari bahwa dean sedang menahan rasa sakit.
"sakit ini tak sebanding dengan penderitaanmu kemarin"
ujar dean seraya tersenyum menatap manik mata zelia yang kini terlihat sendu.
"atas nama mama, aku meminta maaf atas semua perlakuan mama dan perkataan kasarnya pada mu bi"
Ucap dean mewakili sang mama untuk meminta maaf pada zelia. Dean sadar semarah apapun dirinya terhadap sang mama. Namun bu ida tetap lah seorang ibu yang tak mungkin bisa tergantikan.
"aku sudah memaafkan mama kak dan aku tetap menyayanginya seperti mama ku sendiri"
Jawab zelia seraya meneruskan gerakan tangannya untuk membersihkan luka dean lalu mengobati nya dengan obat merah.
"terimakasih bi, aku memang tak pernah salah untuk memilihmu sebagai calon ibu dari anak-anakku"
Ujar dean menatap wajah zelia yang terlihat begitu fokus dan berhati-hati untuk mengobati luka nya.
"apa kakak percaya bahwa aku sedang tidak hamil ?"
__ADS_1
Tanya zelia membalas tatapan dean.
dean mengangguk seraya tersenyum menjawab pertanyaan konyol zelia. Dean tau bahwa sesungguhnya semua itu hanyalah sebuah kesalahpahaman yang terjadi diantara mama, sean dan zelia.
Dean percaya bahwa zelia adalah wanita baik yang tak mungkin melakukan itu. Karena selama dekat dengannya pun, zelia tak pernah meminta lebih disaat mereka sedang bercinta.
"apa kakak ingin aku melakukan test agar kakak benar-benar percaya pada ku?"
Tanya zelia lebih serius saat dean menjawab pertanyaannya hanya dengan anggukan yang dibarengi dengan senyuman.
"kalau kakak memintamu untuk melakukan test itu, itu pertanda bahwa kakak tak percaya padamu. Jadi untuk apa kamu ingin melakukan itu ? Kakak sangat percaya pada mu bahwa kau tak mungkin hamil"
ujar dean seraya mengelus rambut zelia yang terurai panjang.
"kenapa kakak bisa seyakin itu ?"
"bagaimana kamu bisa hamil kalau sijoni kakak saja belum pernah berkelana didalam sana"
Ledekan dean membuat wajah sendu zelia kini merona karena menahan malu.
"apa sijoni kakak boleh berkelana malam ini?"
Tanya dean mendekatkan wajahnya pada wajah zelia yang semakin merona seperti tomat matang.
"apaan sih, mesum "
"aduuuhh"
pekik dean karena lukanya tertekan oleh tangan zelia .
"maka nya jangan mesum mulu, nikah dulu !! baru deh si joni boleh berkelana melalang buana di sabana"
"uuhh jadi tak sabar ingin segera menyusuri sabana dibawah sana, seberapa subur semak -semaknya yaa "
dean menaik turunkan sebelah alis nya menggoda zelia yang kini makin tersipu malu atas rayuan yang ia lontarkan.
Tak tahan melihat wajah zelia yang merona dan terlihat menggemaskan, deanpun langsung merengkuh tubuh mungil itu dan memeluknya dengan sangat erat..
"aku sangat mencintaimu bi"
Dean benar-benar tak pernah menyangka bahwa dia masih bisa sebucin ini dalam percintaan meski usianya tak lagi terbilang muda.
"aku juga "
Balas zelia dalam dekapan hangat dean yang selalu menghasilkan rasa nyaman.
__ADS_1
Cukup lama mereka larut dalam dekapan kasih sayang yang telah lama mereka rindukan.
Dean pun mulai menghujani wajah zelia dengan banyaknya ciuman. Tak lupa bibirnya kini terhenti disebuah benda kenyal ranum milik zelia yang selalu menggoda. Tanpa butuh waktu lama dean sudah menautkan kedua bibir mereka menjadi sebuah ciuman hangat yang semakin lama semakin memanas.
Zelia membalas semua pergerakan bibir dean. Bagaimana lidahnya menari-menari didalam mulutnya namum zelia sudah sangat pandai mengimbangi setiap tariannya .
Tangan dean mulai menyusuri kedua gunung kembar yang berada didalam baju longgar milik zelia. Dan kini tangan itu mulai bergerak liar didalam sana membuat zelia sesekali melengguh merasakan kenikmatan.
pertempuran itupun terhenti saat keduanya merasa sudah puas saling melepas kerinduan selama mereka berpisah dan selama zelia menghilang berhari-hari.
.
" mandilah, setelah itu istirahat. kakak tau kamu pasti sangat lelah"
Titah dean melihat wajah zelia yang masih terlihat pucat.
"apa kakak tak ingin mandi ?"
Zelia heran mengapa dean menyuruhnya mandi sedangkan yang ia tau bahwa dean pun belum sempat membersihkan diri.
"apa kamu ingin kita mandi bareng ??"
Tanya dean kegirangan saat ia mengira zelia menginginkan mereka untuk mandi bersama.
zelia menggeleng "tuh kan mesum lagi" ujar nya lalu bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi.
"tapi kamu suka kan bi ??"
ucap dean sedikit berteriak agar tetap terdengar oleh zelia yang sudah berada didalam kamar mandi dan mengunci pintu nya dengan rapat.
"gak tau gak denger !!"
jawab zelia yang berpura-pura tak mendengar teriakan dean karena ia malu jika harus berterus terang menjawab iya pada dean.
Dean terkekeh lalu merebahkan tubuhnya disofa yang baru saja menjadi saksi kemesraan yang terjadi.
dean mengusap wajahnya kasar, bayang-bayang sang mama yang berdiri mematung bersama deraian air mata masih saja menari-nari dipelupuk matanya.
Meski disisi lain hatinya merasa bahagia karena kini wanita yang ia cari-cari telah aman bersama nya, namun ia merasa sedih dan bersalah karena telah membuat sang mama menangis dan terluka.
"maafkan dean ma, suatu saat mama akan mengerti mengapa dean seberjuang ini untuk mempertahankan wanita yang bagi dean dia lah cinta sejati"
Ucap dean lirih saat matanya terpejam mengingat wajah sang mama.
.
__ADS_1
.