
"bi... Hari ini kamu kuliah?" tanya dean sambil mengancingkan lengan kemeja nya seraya menatap zelia yang sedang memoles wajah didepan cermin meja rias.
Zelia mengangguk sambil terus menggesekkan lipstik berwarna nude pada bibir ranumnya.
"jangan cantik-cantik, nanti banyak yang naksir" dean mendekat dan berbicara tepat ditengkuk leher zelia.
Zelia terkekeh karena tubuhnya seketika meremang saat mendapatkan sapuan hangat dari hembusan nafas dean.
"bukankah seharusnya kakak bangga kalau punya istri cantik dan banyak yang suka" goda zelia membuat dean merasa kesal dan cemburu.
"bi... Hari ini kamu libur dulu deh kuliahnya. Kakak gak rela kalo nanti dikampus kamu banyak yang naksir " pinta dean.
Zelia terbahak melihat sikap posesif sang suami.
"bukankah tidak ada hukum yang melarang orang lain untuk mencintai siapapun . Yang terpenting, hatiku tetap untuk kamu dan aku selalu mencintaimu suamiku"
zelia membalikkan tubuhnya dan mengalungkan lengan pada tengkuk leher dean. Tak lupa senyuman manis dan kedipan mata menggoda membuat hati dean seketika meleleh begitu saja.
"bi jangan menggodaku dipagi hari seperti ini. Kenapa sekarang kamu menjadi pintar sekali untuk menggoda" dean menelan saliva nya kasar. Jakunnya naik turun menahan sesak didalam celana karena tak tahan akan gombalan yang zelia layangkan.
Zelia terkekeh, bahkan ia bisa merasakan desakan si joni dari balik celana dean yang sudah bersitegang dan mengeras.
Dean menci*m bibir zelia semakin dalam dan semakin menuntut. Membiarkan mereka saling bertukar saliva sebagai sarapan pembuka antara mereka pagi ini. Bahkan tangannya mulai bergerak liar hendak menelusuri isi kemeja yang zelia kenakan.
"stop !" zelia menahan lengan dean. Matanya menatap jam dinding, dagunya menunjuk ke arah jarum di sana yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan.
"bukankah hari ini ada meeting?" Zelia tersenyum dan kembali mengingatkan dean agar tak melancarkan aksinya pagi ini. Karena sudah dapat dipastikan dean akan terlambat tiba di kantor jika saja pagi ini mereka kembali melakukan pergumulan panas yang jelas akan banyak menyita waktu.
"shiiitttt mengapa jadi serba tanggung begini !! " umpat dean kesal bercampur kecewa.
Zelia terkekeh melihat ekspresi dean mengacak kembali rambutnya yang sudah tersisir rapi karena frustasi.
Zelia membantu merapikan kembali rambut dean dan merapikan dasi yang sudah menggantung di leher suaminya .
__ADS_1
"perfect !" pujinya saat melihat penampilan dean yang memang terlihat selalu sempurna setiap harinya.
"jangan kembali menggoda ku dengan pujian-pujian kecil seperti itu. Apa kamu tak lihat betapa mood ku hancur pagi ini karena sijoni yang tak bisa menyelam di bawah sana !"
Ketus dean terbawa kesal. Bahkan kini rasa pusing dikepala turut menghinggapi dirinya.
"iya iya.. Maaf" zelia sebisa mungkin menahan tawa karena ekspresi dean yang merajuk kepadanya.
.
.
Siang ini zelia memang pulang kuliah lebih awal. Ada beberapa jam pelajaran yang kosong karena dosennya tidak datang. Akhirnya zelia memutuskan untuk pulang. Namun sayang, kali ini dean tak bisa menjemputnya karena ada pekerjaan dan meeting yang belum terselesaikan. Zelia cukup mengerti akan kesibukan yang saat ini sang suami miliki. Akhinya ia memilih untuk memesan taksi online tanpa mau merepotkan siapapun.
.
"pak kita berhenti dirumah sakit intan medika ya"
Pinta zelia pada supir taksi yang ia tumpangi.
Zelia segera menemui dokter kandungan setelah selesai melakukan pendaftaran. Entah mengapa tiba-tiba saja ia ingin melakukan cek rahim dan konsultasi tentang bagaimana caranya mengikuti program kehamilan. Zelia memang belum membicarakan semua ini pada dean, namun bukan tanpa alasan ia tak memberi tau dean bahwa saat ini ia sedang berada dirumah sakit. Ia hanya ingin memberi kejutan pada dean dengan membawa hasil bahwa rahimnya sehat dan baik-baik saja serta masih besar harapan untuk mereka dapat memiliki momongan melalui program kehamilan.
Setelah selesai berkonsultasi dan mendapat hasil yang memuaskan sesuai ekspetasinya. Zelia segera bergegas untuk kembali pulang kerumah. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang sangat ia kenali tengah duduk di kursi tunggu pasien.
"bu fatma" panggil zelia yang seketika membuat wanita parubaya itu menoleh ke arah nya.
"nak zelia" balas bu fatma seraya berjalan mendekat ke arahnya.
Zelia mengulurkan tangan dan menjabat tangan bu fatma. Ia tak menyangka akan bertemu dengan bu fatma yang ia ketahui bu fatma masih tinggal di bandung.
"ibu ngapain disini? Ada yang sakit? Apa rendi sakit? Bagaimana keadaanya bu?" tanya zelia beruntun karena penasaran mengapa bu fatma berada dirumah sakit di jakarta.
"ehmm bukan rendi yang sakit zel, kalau keadaan rendi sekarang sudah sangat membaik setelah kau menjenguknya waktu itu. Sejak saat itu sepertinya ia mulai dapat berdamai dengan takdir dan menerima semua kenyataan tentangmu dengan ikhlas. Kini ia sudah dapat melanjutkan kuliahnya yang dulu sempat terputus"
__ADS_1
Jelas bu fatma dengan raut bahagia.
"lalu siapa yang sakit? pak sofiyan?" tanya zelia semakin penasaran.
"bukan zel"
Lagi-lagi dugaan zelia salah. Karena yang sakit bukanlah orang-orang dalam keluarga bu fatma yang ia kenali.
"ibu kesini karena menemani keponakan ibu. Kamu masih ingatkan dengan sepupu rendi yaitu kak tiara?"
Zelia mengerutkan dahinya hampir tak percaya bahwa ternyata tiara masih hidup. Karena setaunya tiara sudah meninggal karena tragedi kecelakaan beberapa tahun silam.
"bu, bukankah waktu itu kak tiara kecelakaan dan sudah _?"
"kamu benar zel. Namun ternyata Tuhan masih berbaik hati padanya dan masih memberi tiara kesempatan untuk hidup meski kini hidupnya menjadi yatim piatu. Karena kejadian saat itu membuat orang tua tiara meninggal"
Jelas bu fatma memungkas omongan zelia yang memperlihatkan raut terkejut terbalut syukur bahagia.
"aku turut bersedih atas duka kecelakaan waktu itu. Lalu bagaimana keadaan kak tiara bu?" tanya zelia.
"tiara sedang ditangani dokter. Namun alhamdulillah semakin hari ia semakin membaik. Oleh sebab itu ibu selalu menemaninya disini setelah rendi sembuh. Karena selama rendi sakit tiara melakukan pengobatan sendiri dirumah sakit ini tanpa di temani siapapun. Karena ibu sibuk mengurus rendi dan hanya sesekali menengoknya dirumah sakit ini" ungkap bu fatma penuh kesedihan dan rasa bersalah.
"lantas kak tiara sakit apa bu?"
Zelia semakin penasaran dengan penyakit yang diderita tiara.
"dia lumpuh zel. Setelah kejadian itu dia menjadi lumpuh total. Namun kini kondisinya sudah mulai membaik hanya saja ia belum bisa berjalan seperti dulu"
Raut wajah sedih tak bisa lagi bu fatma sembunyikan, terlebih saat ia mengingat betapa malang nasib keponakannya yang sudah ia anggap anak nya sendiri itu.
Zelia mengangguk dan turut prihatin atas duka dan kondisi yang sekarang tiara alami.
.
__ADS_1
.