
kehidupan baru zelia kini akan dimulai.
mobil pak arman telah memasuki halaman rumah. rumah yang begitu megah bagi seorang zelia yang notabene nya ia hanyalah gadis yang sederhana.
"ayo sayang" ajak bu ida kepada anak menantu nya itu. terlihat sekali bahwa bu ida sangat bahagia menyambut kedatangan zelia sebagai anak perempuannya karena ia pun tidak memiliki anak perempuan.
"iya tante" ucap zelia gugup, ia mulai menuruni mobil dan berjalan berdampingan dengan bu ida. sedangkan sean sedang menurunkan barang-barang zelia dari dalam bagasi mobil.
"jangan panggil tante lagi dong, kan sekarang kamu jadi istri sean, jadi kamu manggilnya harus mama dan papa" ucap mama ida dengan nada lembut.
zelia hanya mengangguk meski sebenarnya ia masih sangat canggung untuk memberikan panggilan itu kepada kedua orang yang kini telah menjadi mertua nya itu. kini mereka lah yang menjadi pengganti orang tua zelia yang telah meninggal. zelia dan mama ida masuk kedalam rumah, terlihat bik darmi yang menyambut kedua majikan nya itu dengan ramah. bu ida pun memberi tau zelia tentang siapa dan berperan apa bik darmi dirumah itu. zelia tersenyum membalas senyum bik darmi yang menyambutnya dengan hangat. zelia melihat wanita parubaya itu sangat sederhana, yaa.. usia nya mungkin tak terpaut jauh dengan almarhumah ibu nya. melihat bik darmi membuat zelia merasa rindu dengan ibu nya.
berbeda dengan mama mertua nya, mungkin usia nya juga tak terpaut jauh dengan usia mereka, hanya saja perawatan mahal yang ia pakai membuat penampilannya 10 tahun lebih muda dari usia nya.
"zelia itu kamar kamu dan sean ada di atas" bu ida menunjuk lantai atas tempat dimana kamar zelia berada "iya ma" jawab zelia.
"bik, bibi udah siapkan kamar untuk mereka kan?" tanya bu ida pada bik darmi yang sedari tadi membuntuti langkah kedua majikannya.
"beres buk, kamar sudah saya siapkan, begitu juga makan malam sudah saya siapkan semua nya" jawab bik darmi ramah.
__ADS_1
"yaudah li, sekarang kamu mandi gih, mama tau kamu pasti capek, nanti selesai mandi kita makan malam bareng ya, mama tunggu di meja makan, mama juga mau mandi nih gerahhh banget" bu ida mulai memanggil zelia dengan panggilan kesayangan dari keluarga nya tanpa ada rasa sungkan. seperti nya ia benar-benar sudah menganggap zelia seperti anak kandung nya sendiri. ia pun tak mau membuat zelia merasa asing berada di rumah itu.
"iya ma, yaudah zelia ke atas dulu ya" zelia pun berjalan menaiki anak tangga diikuti dengan bik darmi yang memberi tau dimana letak kamar majikan barunya ini.
" ini non kamar nya, baju-baju non juga sudah tersedia di dalam lemari" bik darmi membuka kan pintu kamar yang sudah tertata rapi. "makasih ya bi" zelia tersenyum dan masuk kedalam kamar. bi darmi pergi meninggalkan zelia, zelia menutup pintu kamar dan membuka jendela kamar yang terdapat balkon di depannya. pemandangan yang indah ,, sunset yang hampir saja usai namun masih terlihat sisa-sisa keindahannya terlihat sangat cantik untuk pandang dari atas balkon mampu membuat hati dan fikiran zelia merasa lebih tenang . ia menghirup udara dalam-dalam. terasa sejuk meski ia berada di tengah panasnya Kota Jakarta, zelia kembali mengamati seisi kamar dengan barang-barang yang tertata rapi.
"ini rumah apa istana sih, gede banget,mimpi apa gue bisa tinggal di rumah gedongan kaya gini" batinnya seolah masih tak percaya dengan kehidupan baru nya.
zelia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur "kasur nya empuk banget" ucapnya dalam hati.
. " seandainya ayah ada disini, pasti ayah seneng ngeliat zelia tinggal dirumah ini, tapi.. seandainya zelia boleh milih, zelia lebih memilih ayah tetap ada bersama zelia meski kita harus tetap tinggal di kontrakan lama kita yah hiks hiks" hati zelia kembali melow. karena memang duka itu belum hilang dalam hati zelia. tanpa sadar zelia kini telah terlelap dalam lamunannya, karena ia memang sangat kelelahan setelah beberapa hari kemarin ia kurang istirahat.
Sean segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Ia Tak sabar untuk segera menelpon Citra kekasihnya karena seharian ini ia belum mendengar suara kekasihnya itu
" halo sayang" sapa Citra dari balik telepon
"iya sayang" sahut sean.
"kamu dari mana aja sih, udah malem gini baru hubungin aku" tanya citra dengan suara manja nya.
__ADS_1
"iya sayang, maaf ya tadi aku sibuk bantuin mama" sean mencoba mencari alasan
"kamu bantuin mama?? bantuin apa sayang?" tanya citra penasaran dengan alasan yang diberikan sean, karena tak biasa nya sean memberikan jawaban yang terdengar tabu bagi citra.
"ohh.. itu sa sayaanng.. tadi bantuin mama merapikan taman bunga nya, jadi aku bantu pindahin dan angkat pot bunga nya" jawab sean meski sedikit gugup.
"oohhh tumben kamu mau bantuin mama" canda citra dibalik telpon "iya dong, soalnya aku kan anak yang berbakti he he" sean tertawa karena berhasil memuji dirinya sendiri.
cukup lama mereka berbicara di balik telpon, cukup untuk mengobati rasa rindu sean terhadap kekasihnya itu.
"yaudah ya sayang, aku mau mandi dulu ,, gerah banget nih" lanjut sean mengakhiri obrolannya dengan citra "oh iya sayang, miss you" jawab citra.
sean pun mengkahiri panggilannya. ia tersenyum karena hanya citra yang mampu membuat nya bahagia melewati hari-hari nya. namun takdir tak memihak kepada mereka, sean melihat ke arah zelia yang masih terlelap diatas tempat tidur.
"gadis malang, gara-gara lo gue sama citra makin sulit buat bersatu" batin sean mencaci zelia.
"gimana coba kalo citra sampe tau kalo gue udah merid sama lo"
sean mengacak rambutnya kasar. dan ia pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melepas penat di hati karena pernikahan yang tak ia harapkan ini. ia berharap kekecewaan itu akan larut dan hanyut bersama air yang mengalir menyiram tubuhnya di bawah shower.
__ADS_1
ia memejamkan mata nya menikmati guyuran air yang membasahi tubuhnya. "tuhan... seandainya gue gak ugal-ugalan waktu itu, pasti hidup gue gak bakal kaya gini" batinnya masih terus mencaci takdir yang belum dapat ia terima dengan iklas hati. "tapi semua nya udah terjadi... aku ikut alur dari mu aja tuhan, semoga hidup ku masih terus bahagia" pinta nya pada sang pemilik kehidupan dan terus mencoba menerima takdir nya meski begitu pahit untuk ia rasa.