Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 82. pergi


__ADS_3

"baiklah ma, zelia akan pergi jika mama memang tak bisa percaya pada zeli bahwa alat itu bukan milik zeli"


Ucap zelia disela-sela tangisnya dengan wajah memelas sambil menatap wajah bu ida yang juga begitu pilu.


Zelia berharap bu ida mau merubah keputusan sean dan menahan kepergiannya. Namun sepertinya itu semua hanya sebatas harapan saja. Karena bu ida masih terdiam dan tak mau angkat bicara.


Bukti yang benar-benar sudah terpampang nyata membuatnya tak bisa semudah itu percaya dengan pengakuan zelia.


Bu ida menyingkirkan kedua telapak tangan zelia yang berada diatas pangkuannya.


Secara tak langsung sikap bu ida pada zelia telah meminta zelia untuk pergi dari rumah mereka. benar-benar hal yang tak pernah zelia bayangkan sebelumnya. Karena baru kali ini zelia mendapatkan perlakuan acuh dari sang mama mertua.


"udah sana lo pergi !! Gak usah banyak drama apalagi meminta belas kasihan dari mama ! Dan satu lagi, jangan pernah kembali lagi kerumah ini !!"


ucap sean dengan kasar seraya melipat kedua tangan didepan dada dengan begitu arogan.


Zelia menatap tajam sean yang begitu angkuh memperlakukan nya. Ia segera bangkit dan beranjak dari tempat ia bersimpuh dikaki bu ida.


zelia menghapus deraian air mata yang seharusnya sudah tak berjatuhan lagi, zelia berjalan menuju kamar untuk mengemasi pakaian yang hendak ia bawa pergi.


Meski sampai saat ini zelia tak tau kemana ia harus pergi !


Bi darmi melihat drama yang terjadi diantara mereka dari kejauhan pun hanya bisa menangis melihat kepergian zelia. Ia begitu yakin bahwa itu semua hanya sebatas kesalah pahaman, karena ia tau bahwa zelia adalah gadis baik yang tak mungkin sejahat itu menghianati keluarga majikannya.


namun bik darmi sendiri pun tak bisa ikut andil dan berbuat banyak untuk membantu zelia dan mencegah kepergiannya.


.


.


"gue benci lo sean !!!. "


ucap zelia lirih penuh kebencian saat menatap sean yang masih berada di ruang keluarga bersama bu ida. zelia membawa tas berisi pakaian dan barang-barangnya . berjalan menuruni anak tangga.


zelia melihat bu ida masih berada diruang keluarga duduk sama seperti semula. Zelia menghela nafas berat, mungkin memang ini saat nya untuk ia pergi dari kehidupan mereka. mungkin sudah saat nya untuk zelia mengakhiri drama atas pernikahan yang sejak dulu tak pernah ia kehendaki. Mungkin inilah jawaban atas doa-doa yang selalu ia panjatkan bahwa ia sudah lelah dengan peran yang selalu ia mainkan untuk berpura-pura bahagia menjadi seorang istri apalagi didepan kedua orang tua dan keluarga.


dengan berat zelia melangkahkan kaki berjalan ke arah bu ida berada tanpa peduli sean yang masih berada disana.


"ma zeli pergi, maafin zeli atas semua kesalahan zeli. terimakasih ma sudah mau menyayangi zeli selama ini."

__ADS_1


Ucap zelia saat tiba dihadapan bu ida yang masih duduk terpaku dengan air mata yang sudah tak mengalir karena selalu ia seka.


Zelia hendak meraih tangan bu ida untuk bersalaman , namun bu ida menyingkirkan tangan agar tak tersentuh oleh uluran tangan zelia dan mengalihkan pandangan nya.


Entah sebesar apa rasa kecewa dan perasaan amarah yang ada dalam hati bu ida hingga ia begitu enggan untuk menatap kepergian anak menantunya.


hati zelia terasa begitu runtuh melihat sikap bu ida yang begitu acuh terhadap dirinya.


Zelia berjalan menuju pintu utama untuk keluar rumah, kali ini ia benar-benar merasa bahwa ia bukanlah siapa-siapa lagi bagi mereka dirumah ini.


setibanya di halaman rumah, zelia kembali menoleh menatap rumah yang sudah mau menampungnya selama menyandang status sebagai istri sean.


Tak terasa air yang ia rasa sudah habis kini kembali mengalir melintas di pipinya. Zelia segera menghapus air mata itu karena tak ada lagi yang harus ia tangisi untuk keluar dari rumah ini.


.


.


"non, non zeli mau kemana non ??" suara bik darmi menghentikan langkah kaki zelia yang hendak pergi.


"zeli gak tau bik, tapi bibik gak perlu khawatir. Zeli pasti akan baik-baik saja"


"ini untuk non, bisa non zeli gunakan untuk kebutuhan non diluar sana"


Bi darmi memberikan beberapa lembar uang yang ia taruh paksa di tangan zelia yang berusaha untuk menolak pemberiannya.


"terimakasih bik"


zelia menatap bi darmi dengan ulasan senyum manis mengiringi kepergiannya dari rumah itu .


meskipun bik darmi hanya seorang assisten rumah tangga dirumah itu, namun zelia sudah menganggapnya seperti ibu sendiri. Hingga bi darmi pun merasakan hal yang sama, yaitu menganggap zelia sebagai anak kandungnya sendiri .


.


.


Zelia berjalan tanpa arah dan tujuan. air mata yang sejak tadi bercucuran seolah kering dan tak lagi tertumpahkan.


Hari semakin gelap, rintikan air hujan mulai turun membasahi bumi. zelia segera berteduh di sebuah ruko yang sudah lama tak terpakai.

__ADS_1


zelia mengambil handphone didalam tasnya yang sejak tadi ia abaikan.


Berulang kali zelia mencoba menghubungi nomor handphone dean. namun panggilan itu tak terhubung pertanda bahwa dean memang tak ingin diganggu untuk saat ini.


Zelia menghela nafas panjang


"kak, kakak kemana kak ?! Aku butuh kakak"


ucapnya dalam hati seraya menatap layar handphone yang masih sepi notifikasi dari dean.


"apa mungkin kak dean juga marah sama aku? Apa mama sudah menceritakan semua nya pada kak dean?" batinnya.


.


.


Zelia kembali melanjutkan perjalanan saat ia rasa hujan telah berhenti mengguyur bumi. Ia berniat untuk menghubungi om irwan, namun kembali ia urungkan niatan itu karena tak ingin om irwan khawatir akan keadaannya.


Zelia terus berjalan melintasi jalanan yang basah.


Tak ada tujuan lain selain makam kedua orang tua yang bisa menjadi tempat untuk berkeluh kesah.


zelia bergegas menuju ke tempat pemakaman itu, untunglah jarak yang harus ia tempuh tak terlalu jauh hingga ia bisa berjalan kaki untuk sampai ke sana.


kaki zelia terhenti disebuah nisan bertuliskan nama sang ayah . Zelia duduk bersimpuh dengan dua lutut yang menompang berat tubuhnya.


"yah, apa kabar ?? Ayah pasti baik-baik saja kan???" sapa zelia sambil tersenyum dan mengelus nisan sang ayah.


" Yah ... zeli kangen banget sama ayah. zeli kangen juga sama ibu. Ayah pasti lagi senengkan karena disana bisa bertemu ibu?? Zeli ingin kumpul sama kalian yah bu... zeli disini sendirian yah hiks hiks "


Air mata itu kembali menetes, mengingat dirinya kini hanya tinggal sebatang kara.


Zelia menangis dipusaran sang ayah karena rasa sesak yang tak dapat lagi ia tahan. Didepan makan sang ayah, zelia ingin mencurahkan segala isi hatinya selama ini meski hanya air mata yang dapat berbicara.


zelia rasa deraian air mata lebih mampu menjelaskan semua problem hidup dengan terperinci daripada ia harus berbicara namun tak ada satupun orang yang mau mendengar ucapannya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2