Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 108. menunggu dean


__ADS_3

#dikantor


Usai meeting dean segera masuk kedalam ruangannya. Terlihat hans sudah stay menunggunya disana dengan setia.


begitupun dengan totebag yang berada di atas meja kerja miliknya.


Dean bergegas duduk dikursi kebanggaan miliknya selepas melepas jas dan menaruhnya didinding kursi tersebut.


"punya siapa?" tanya dean sambil melirik ke totebag yang berada di hadapan hans.


" punya lo " jawab hans.


Dean bingung karena ia tak memesan apapun. Lantas mengapa ada totebag diatas meja kerja.


Alih-alih penasaran dengan isi dari totebag tersebut . Dean pun membuka nya untuk melihat apa isi dari totebag itu.


"lo yang bawa semua makanan ini ?" dean mengeluarkan satu persatu kotak makan dari totebag tersebut.


Hans terkekeh mendengar perkataan dean karena mengira dirinya yang membawa semua itu.


"sejak kapan gue perhatian sama lo sampe segitunya" cetus hans.


"terus ini dari siapa?"


"siapa lagi kalo bukan zelia istri lo tercinta" sahut hans.


Dean membulatkan mata menatap hans saat mendengar nama istrinya digadang-gadang yang telah mengantar makan siang untuknya.


"kapan dia kesini?" tanya dean penasaran.


"tadi waktu lo masih meeting" jawab hans.


"kenapa lo gak bilang kalau zelia kesini" dean sedikit menaikkan nada bicara nya pada hans.


"kan tadi lo sendiri yang minta untuk jangan diganggu oleh siapapun saat meeting . Ya gue bilang ke zelia kalo lo sedang gak bisa diganggu ._"


"teruss???" pungkas dean memotong pembicaraan hans.


"ya terus zelia pulang lagi " jelas hans.


" Apa lo tau zelia kesini naik apa? Dengan siapa? dan balik lagi ke apartemen naik apa? Kenapa lo gak berinisiatif untuk mengantar dia hanss ???" dean memicingkan matanya tajam ke arah hans. Seolah siang ini yang akan menjadi santapannya bukan lagi nasi dan sayur melainkan hans.

__ADS_1


Hans hanya nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya dengan gingsul yang menambah manis disenyumnya.


"gue gak sempet nanyain itu semua de"


jawab hans sedikit merinding karena takut jawabannya membuat macan tidur ini jadi benar-benar ngamuk.


"bodoh !!!" umpat dean geram . Untunglah dean masih dapat mengontrol emosi meski dadanya terlihat naik turun akibat menahan semua itu.


Mereka berdua pun larut dalam keheningan beberapa saat. Dean merenungi dab menyadari bahwa ini semua bukan sepenuhnya kesalahan hans. Karena memang sebelumnya ia telah berpesan pada hans bahwa ia tak ingin diganggu oleh siapapun selama meeting berlangsung.


namun ia tak pernah menyangka bahwa zelia akan mendatanginya tanpa meminta izin terlebih dahulu. bahkan tak biasanya zelia melakukan hal seperti ini. Mungkin karena tadi ia meninggalkannya pagi-pagi sekali. Dan kini justru rasa bersalahnya pada zelia turut menghinggapi.


.


.


"lo mau kemana de?"


tanya hans saat dean hendak berjalan meninggalkan ruang kerja.


"mau keluar" jawab dean berusaha untu sesantai mungkin.


"kan setelah ini lo masih ada meeting lagi. Masa lo mau pulang gitu aja" hans mengingatkan dean yang terkadang suka semau nya.


"lo gak makan dulu !" hans mengingatkan dean karena sejak tadi dean malah terdiam dan mengabaikan makan siangnya.


"nanti gue balik lagi buat makan " dean berlalu begitu saja meninggalkan sang assisten tetap diam diruangannya.


"kirain lo gak mau. Kalo lo gak mau kan gue mau de, gue juga laper" ucap hans lirih seraya melirik bekal makan siang yang zelia siapkan untuk suaminya.


.


.


Cukup lama zelia berendam didalam bathtub dengan tujuan untuk mendinginkan pikiran, hati, dan meredam semua amarah yang seperti ingin meledak.


namun tanpa ia sadari bahwa kini ia ikut terlelap saat ia masih berada didalam bathtub. Aroma terapi yang ia teteskan kedalam air dalam bathtub itu mampu menghipnotis dirinya yang merasa sulit untuk menahan kantuk.


Zelia mengerjapkan mata saat ia rasa tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Belum lagi cacing didalam perut yang sedang bernyanyi keroncong memaksa ia untuk segera bangkit dan memakai kimono mandi yang sejak tadi memang sudah ia siapkan .


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Entah berapa lama ia berada dalam bathtub yang merendam dirinya hingga menjadi menggigil dan kulit-kulitnya menjadi sedikit keriput.

__ADS_1


Benar-benar kebodohan baru yang ia cetak selama masa hidupnya.


Zelia segera menyiapkan makan malam untuk dirinya dan dean. Sambil sesekali tangannya ia dekatkan pada api kompor yang menyala dengan tujuan mencari kehangatan.


tak butuh waktu lama masakan pun kini sudah tersaji dimeja makan. Zelia mengembangkan senyum saat dirinya sudah siap menyambut kepulangan suami tercinta.


Kini zelia memilih untuk menunggu dean sambil melihat acara televisi kesukaannya.


Waktu terus berjalan, Jarum jam pun berputar berarah mengikuti porosnya dan kini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Entah kemana dean hari ini, apakah benar dia sedang ada meeting penting. Lantas mengapa belum juga pulang hingga malam seperti ini?


Zelia benar-benar gelisah. Bahkan masakan hangat yang tadi ia masak pun sudah menjadi dingin tak lagi mengeluarkan asap. Perut nya yang keroncongan pun berulang kali ia beri pengertian dan terkadang ia abaikan.


Zelia berusaha menghubungi dean berulang kali. Tapi nomor handphone dean tak kunjung dapat dihubungi. Apa mungkin dean benar-benar tak ingin diganggu karena sedang meeting?


sungguh itu semua hal yang tak mungkin, pikir zelia. Zelia semakin yakin bahwa menghilangnya kabar dean hari ini karena dean benar-benar marah kepadanya.


Bahkan sampai saat ini dean tak memberi kabar sedikitpun termasuk tentang makan siang yang ia kirim langsung ke kantornya. apakah sudah dimakan? Apakah dia suka?.


Zelia benar-benar menunggu respon itu Karena perhatian yang ia berikan semacam ini dengan mengantar makan siang ke kantor dean adalah hal yang baru kali ini ia lakukan.


"Apa aku harus kembali mendatangi kak dean ke kantornya malam-malam begini?"


"ahh untuk apa aku kesana. Kak dean juga pasti pulang. Mana mungkin dia bisa tidur tanpa dekat denganku"


Fikiran untuk kembali mendatangi deanpun sempat terlintas dibenaknya. Namun ia mengurungkan niat itu dan yakin dean akan segera pulang. Bahkan rasa percaya dirinya yang begitu narsis pun mulai bermunculan di otaknya. Seperti nya rasa percaya diri tingkat dewa milik dean sudah menular pada zelia.


.


alih-alih karena rasa bersalahnya yang begitu besar. Timbulan ide gila di fikiran zelia untuk memberi kejutan untuk suaminya. Dan untuk kali zelia yakin dean akan langsung menyukai ide gila nya ini dan tak akan marah lagi. Terlihat seringai jahat disudut bibir manis itu.


.


Zelia memilih untuk rebahan disofa depan televisi. Karena dean yang tak kunjung pulang akhirnya ia memilih untuk menunggu dean disana. Tak lupa selimut tebal pun turut menemani dan menutup rapat seluruh tubuhnya hingga sebatas leher.


Tak lama kemudian, terdengar pintu apartemen dibuka. zelia yakin itu adalah dean. Karena hanya dirinya dan Dean lah yang memiliki akses untuk masuk kedalam apartemen mereka tanpa harus zelia buka pintunya dari dalam.


di balik selimut zelia berpura-pura memejamkan mata agar dean mengira bahwa dirinya benar sudah terlelap disana. Zelia hanya ingin tau apa yang akan dean lakukan saat mendapati dirinya yang tertidur disofa.


Terdengar derap langkah kaki dean yang mendekat ke arahnya. Tarikan nafas panjang lalu ia hembuskan perlahan pun kerap dean lakukan. Degupan jantung zelia memompa semakin cepat. Karena sebenarnya ia belum terlelap dan matanya masih terjaga.


.

__ADS_1


.


__ADS_2