Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 113. pembalasan


__ADS_3

Kini zelia tak dapat lagi bergerak mundur karena tubuhnya telah terbentur dengan tembok yang berada dibelakangnya.


"lo mau ngapain se?!!" tanya zelia dengan wajah panik yang tak dapat lagi ia sembunyikan.


Sean terus melangkah maju dengan seringai jahat yang terus mengembang disudut bibirnya.


"Tuhan tolong aku Tuhan" batin zelia seraya memejamkan mata karena kelakuan gila sean malam ini membuatnya ketakutan.


"sean gue mohon jangan lakuin itu se, gue mohon jang..._"


.


"bi..."


panggil seseorang dari balik kegelapan menuju tempat dimana zelia berdiri.


Zelia dapat mendengar jelas bahwa itu adalah suara suaminya yang mendekat ke arahnya. Ia segera membuka mata dan mengelap keringat di pelipis matanya serta mengatur nafas yang memburu agar sedikit lebih beraturan.


"emm kakak kenapa nyusul kesini?" tanya zelia dengan suara gugup karena panik. Zelia takut bahwa dean melihat keberadaan sean yang tadi bersama nya di ruangan itu.


"iya tadi kakak nyariin kamu dikamar tapi gak ada. Jadi kakak nyariin ke sini"


ujar dean dengan mata yang terlihat sedikit meremang karena menahan kantuk.


Zelia menghela nafas lega saat perkataan dean dengan nada biasa saja. Zelia yakin sepertinya dean tak melihat keberadaan sean tadi karena memang tempat mereka berdua berdiri sangat minim pencahayaan.


"kenapa lampunya gak di hidupin sih bi" dean menekan saklar lampu yang membuat lampu dapur kini menyala dengan terang.


"kamu kenapa keringatan gini bi?" tanya dean saat mendapati sisa-sisa keringat yang masih tertinggal di wajah sang istri.


"eng_gak apa-apa kak. Tadi di kamar aku kegerahan maka nya aku ke dapur untuk ambil minum" jawab zelia sebisa mungkin menyembunyikan rasa paniknya sambil mengangkat gelas berisi air minum ke hadapan dean.


"perasaan AC di kamar gak mati" gumam dean merasa janggal.


mata zelia menelusuri setiap sudut didapur ini mencari dimana keberadaan sean yang tiba-tiba menghilang secepat kilat saat dean datang.


Mata zelia tiba-tiba tertuju pada sosok lelaki yang bersembunyi di balik lemari yang berada tak jauh dari tempatnya dan dean berdiri. Alih-alih ingin melakukan pembalasan atas ketakutan yang tadi sean berikan pada nya. Zelia menyunggingkan senyum smirk ke arah sean yang tengah bersembunyi sambil mengintip mereka berdua.


"kakak mau minum?" tanya zelia lembut.

__ADS_1


"boleh" jawab dean .


zelia mengambilkan segelas air minum dan dean segera meminumnya hingga tandas.


"makasih bi" ucap dean lega karena tenggorokannya kini menjadi basah meski sebenarnya tujuan utama ia kedapur bukan untuk minum.


Zelia mencium bibir dean secara spontan. Dean benar-benar dibuat terkejut dengan aksi zelia yang baru kali ini ia lakukan.


dean membalas uluman bibir itu dan saling bergantian memandu gerakan lidah agar dapat menari di rongga mulut keduanya.


"bi.. ?" tersirat dari sorot matanya dean seolah bertanya 'kenapa? Tak seperti biasanya?'


"tadi ada sisa air disudut bibir kakak" sahut zelia asal namun zelia sudah peka dengan pertanyaan yang hanya tersirat melalui sorot tatapan mata.


"kamu bisa aja. Tapi kakak suka" sahut dean manja seraya membelai rambut panjang zelia dengan mesra.


"kamu mau main lagi?" tawar dean merasa ketagihan dengan permainan zelia yang menantang baru saja bahkan sijoni dibawah sana secara otomatis menjadi tegang kembali menuntut untuk meminta hak nya.


"boleh... Tapi jangan disini"


jawab zelia seraya mendekatkan wajahnya pada tengkuk leher dean hingga membuat desir darah dean menjadi mengalir lebih deras karena hembusan nafas zelia yang menyapu sekujur tubuhnya.


Zelia melirik ke arah sean yang masih berdiri di belakang lemari. Terlihat sean begitu kesal, meski saat ini sean berada di tempat yang minim cahaya, namun zelia dapat melihat raut wajahnya nampak berbeda.


akhirnya dean segera membawa zelia kembali ke kamar setelah desiran gairah hangat ingin kembali ia keluarkan di tempat yang semestinya.


Sean pun segera keluar dari balik lemari setelah dean dan sang mantan istri menjauh dari tempat ia bersembunyi.


"sial... !!! Bisa-bisa nya mereka bermesraan di depan mataku seperti tadi !!!" umpatnya murka saat melihat kemesraan antara dean dan zelia yang mereka tampilkan langsung didepan mata.


.


.


Seperti biasa setiap pagi keluarga arman wijaya selalu melakukan ritual sarapan bersama. Dean dan zelia pun ikut menyempatkan gabung bersama anggota keluarga yang lain untuk sarapan bersama sebelum mereka kembali kerumah.


sean menatap intens ke arah zelia yang duduk bersebelahan dengan dean. Terselip rasa cemburu saat melihat banyak tanda merah di tengkuk leher zelia yang sebisa mungkin berusaha ia sembunyikan.


"ehem" dean berdehem karena sejak tadi mengamati sean yang tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah zelia.

__ADS_1


"ma, maaf sepertinya kami harus segera kembali kerumah" ucap dean karena merasa geram melihat sang istri terys saja diandangi oleh adiknya sendiri.


"kenapa buru-buru de. Habiskan dulu sarapan kalian" bantah bu ida yang melihat ekspresi dean nampak begitu kesal.


"enggak ma, dean sudah kenyang. Ayo bi.." ajak dean sambil mengulurkan tangan ke arah zelia.


Dengan sedikit bingung zelia segera meraih uluran tangan itu. Dan bangkit lalu ikut pergi meninggalkan meja makan.


Pak arman yang menyadari perubahan sikap dean hanya bisa mematung melihat kepergian dean.


"ma aku pulang dulu ya" pamit zelia yang telah menenteng tas bermerk yang dibelikan dean sebagai kado ulangtahunnya beberapa bulan lalu.


"kenapa sih kalian buru-buru banget.. Padahal mama masih ingin ngobrol-ngobrol dulu sama zelia" ucap bu ida yang kini tengah berdiri di teras rumah karena tadi ia langsung membuntuti langkah anak dan menantunya.


"aku kan harus kerja ma" jawab dean.


"kan zelia bisa kamu tinggal disini dulu de, nanti sore setelah pulang kerja baru kamu jemput" ucap sang mama dengan penuh pinta.


" enggak ma. Zelia lebih aman dirumah daripada disini" jawab dean


"memangnya kamu gak kasian sama istrimu ini kalau harus dirumah sebesar itu tapi hanya sendirian?"


"setidaknya dirumah itu tidak akan ada sesuatu yang membahayakan seperti dirumah ini" sahut dean yang berulang kali selalu menimpali setiap perkataan bu ida.


"aku pamit ya ma" ucap zelia memecah perdebatan antara ibu dan anak itu.


.


.


"kakak kenapa sih sama mama ngomongnya gitu banget?" tanya zelia kesal melihat dean yang senang berdebat dengan bu ida.


"kakak gak suka mama meminta kamu untuk berlama-lama dirumah mama" sahut dean.


"ya tapikan itu rumah orang tua kakak juga? Lalu apa yang salah??" tanya zelia.


" kamu mau tau apa yang salah??"


ucap dean menatap ke arah zelia meski tangannya tak terlepas dari stir kemudi.

__ADS_1


__ADS_2