Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 59. hati dean meronta-ronta


__ADS_3

Rendi menoleh ke arah mereka yang masih berada di ambang pintu kamar nya.


"zelia.." ucap rendi lirih. Gerak bibir rendi menyebut nama itu dengan sedikit bergetar. Sejak lama nama itulah yang selalu ia sebut-sebut dan wanita itulah yang selama ini sangat ia rindukan. tatapan mata rendi hanya terpaku pada zelia tanpa menghiraukan dean atau kedua orangtua nya disana.


Zelia menatap rendi sambil tersenyum. hatinya pun turut prihatin melihat keadaan rendi saat ini. Tubuhnya yang menjadi kurus serta penampilannya yang lusuh.


Zelia bergerak lambat untuk masuk kedalam kamar yang bersih dan tertata dengan rapi. Banyak karya-karya lukisannya yang terpajang dengan rapi didalam kamar itu.


Rendi bangkit dan berjalan mendekat ke arah zelia yang berjalan perlahan ke arahnya sambil tersenyum kepadanya.


"zelia kamu disini? Aku sangat merindukanmu" tanpa aba-aba rendi langsung memeluk tubuh zelia. Zelia sangat memahami bahwa itu hanya sebatas tanda jika rendi sangat merindukannya, zelia menghargai itu. Ia pun membiarkan rendi memeluk tubuhnya hingga rasa rindu yang rendi rasakan dapat sedikit mereda.


Dean menatap tajam ke arah rendi yang tiba-tiba langsung memeluk kekasihnya tanpa meminta izin terlebih dahulu dengannya.


tangan dean mengepal karena geram melihat kelancangan rendi yang telah berani memeluk zelia didepan matanya. Dean melangkahkan kaki mendekat, rahangnya mengeras, tangannya bergerak hendak melepaskan pelukan mereka namun zelia mencekal tangan dean. zelia menatap dean sambil menggelengkan kepala. Memberi isyarat bahwa dean tak perlu melakukan itu. Dean pun mengikuti kemauan zelia dengan mengurungkan niatnya, meski hatinya terasa begitu geram begitupun dengan tangannya yang bergetar ingin menghajar lelaki setres itu.


Rendi melepaskan pelukannya setelah ia rasa bahwa rasa rindu dalam hatinya sudah sedikit terobati.


dean menghela nafas lega begitupula dengan zelia yang menghela nafas lega meski tangannya masih menggenggam tangan dean yang terasa begitu kaku karena urat-uratnya yang seperti menegang.


rendi duduk ditepi ranjang. Ia menepuk ruang kosong disebelahnya menandakan bahwa ia meminta zelia untuk duduk disana. Zelia pun berjalan mendekat kearah rendi tanpa sedikitpun rasa was-was karena ia tau bahwa rendi tidak stres seperti yang orang-orang bilang.


Melihat pergerakan langkah zelia, dean pun ikut melangkah kaki ingin menghentikan zelia dan menghajar rendi yang menurutnya sudah berlebihan. Namun pak sofiyan dan bu fatma langsung memegang bahu dean mengisyaratkan bahwa mereka memohon agar dean membiarkan zelia mendekati anaknya. Toh mereka bertiga pun tetap berada didalam kamar yang sama. Disisi lain dean hanya khawatir akan hal buruk yang semalaman mengganggu pikirannya terjadi. meski zelia sudah meyakinkan bahwa rendi anak yang baik namun tak ada yang bisa menjamin rendi tak akan melakukan hal seburuk itu terlebih saat kejiwaan sedang terganggu seperti sekarang ini.


zelia duduk di tepi ranjang sebelah rendi. Rasa kasihan dan prihatin turut menyelimuti hatinya saat ia melihat keadaan rendi seperti sekarang ini.


"apa kamu bahagia?" tanya rendi pada zelia yang membuat zelia bingung bahagia dalam hal apa yang dimaksud oleh lelaki disebelahnya.

__ADS_1


"maksud kamu?" tanya zelia memperjelas maksud dari pertanyaan rendi sambil menatapnya.


"aku dengar kamu sudah menikah. Lantas apa kamu bahagia?" rendi mengulang kembali pertanyaannya.


zelia tersenyum tanpa memberi jawaban, ia sadar bahwa jawaban yang ia berikan hanya akan membuat hati rendi menjadi sakit.


"apa dia memperlakukan mu dengan baik?" sekilas mata rendi melirik ke arah dean yang berdiri ditengah kedua orang tuanya.


Rendi mengira bahwa dean adalah suami zelia yang sesungguhnya. Zelia hanya kembali tersenyum lalu mengangguk tanpa memberikan seucap kata sekalipun.


"tapi mengapa dia melarangmu untuk menemuiku? Sudah lama aku sangat merindukanmu zel" ujar rendi sambil menatap zelia lekat.


"sebenernya dia gila atau paranormal sih? Kok tau kalo aku ngelarang zelia untuk menemuinya?" batin dean.


"dia tak pernah melarangku ren, hanya saja aku baru ada waktu untuk menemuimu. Apa kabar mu? Apa kau sudah baikan?" tanya zelia mengalihkan pembahasan rendi tentang dean dan pernikahannya.


"jelas aku sudah baikan zel karena obat ku sudah ada dihadapanku" jawab rendi sambil tersenyum.


batin dean.


Sebenarnya dean ingin sekali melerai obrolan merek berdua yang seperti tak menganggap kehadiran tiga manusia yang berdiri memperhatikan mereka. Namun dean kembali melihat wajah pak sofiyan dn bu fatma yang seperti terlihat bahagia melihat anaknya yang bisa diajak berkomunikasi kembali dengan baik. Dean mengurungkan niatnya bukan karena merasa iba pada rendi melainkan ia merasa iba pada kedua orang tua rendi.


.


.


"apa kau bahagia menemuiku zel?" pertanyaan rendi memang sedikit ngelantur. Entah karena kejiwaannya yang benar terganggu atau karena rasa rindu yang mendalam.

__ADS_1


"tentu aku bahagia ren" jawaban zelia hanya seala kadarnya karena ia tau ada hati yang pasti sedang terbakar disana.


"apa kau masih menganggapku sebagai teman?" tanya rendi kembali.


"dasaarrr gilaa... Bisa-bisa nya mengharap lebih sedangkan ia tau bahwa zelia sudah bersuami" hati dean meronta-ronta. Ingin sekali ia mendaratkan pukulan hangat pada anggota tubuh rendi.


zelia menggangguk "kau teman terbaikku ren" ucap zelia sambil mengelus bahu rendi lembut.


"sudah kuduga sejak dulu kau tak pernah merubah perasaanmu terhadapku" rendi menundukkan kepala nya merasa kecewa atas balasan dari ungkapan perasaannya.


"tak perlu mengharapkan lebih dariku ren. aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan perempuan yang lebih dari aku" ucap zelia mencoba menenangkan rendi.


"aku terlalu mengharapkanmu zel, sampai saat ini aku berharap tuhan mau merubah perasaanmu terhadapku. Tapi ternyata aku salah, aku telah mencintai wanita yang salah. berdosakah aku jika aku mencintai wanita yang sudah bersuami??" kata-kata rendi mampu menembus hati zelia. Sebab saat ini ia menjalin hubungan dengan orang lain yang bukan berstatus sebagai suaminya.


Begitupula dengan dean yang membulatkan mata menatap rendi.


"mengapa kata-kata rendi seolah menyinggungku. Wah benar ini sepertinya rendi ini bukan gila tapi dia paranormal yang gak kuat dengan ilmu-ilmu nya hingga membuatnya bertingkah seperti orang gila" pikir dean.


"ehem"


Zelia yang mengerti isyarat yang sudah diberikan dean kepadanya pun mengakhiri percakapannya dengan rendi.


"aku pamit dulu ren, ada hal lain yang harus aku selesaikan" ucap zelia.


Rendi mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Ia menatap zelia mungkin untuk yang terkakhir kali karena ia tak tau kapan lagi ia bisa menemui wanita pujannya ini.


"boleh aku memelukmu sekali lagi?" tanya rendi. Begitulah rendi yang zelia kenal. Dia anak yang baik dan sopan. Tutur katanya yang selalu tertata dan kemahirannya yang pandai dalam berkomunikasi, bergaul dan bermasyarakat.

__ADS_1


zelia tersenyum sambil mengangguk. Tak peduli pada dean yang melebarkan matanya menatap zelia , namun dalam hati zelia tak ada perasaan lain selain rasa sayangnya pada rendi sebagai teman.


Rendi memeluk tubuh zelia cukup lama. Ia meneteskan air mata dalam pelukan zelia. Begitupun pak sofiyan dan bu fatma yang ikut meneteskan air mata kala melihat keadaan anaknya yang membaik seperti sedia kala.


__ADS_2