
Zelia hanya terkekeh menanggapi setiap pengaduan yang bu ida lontarkan tanpa mau memberikan asumsi negatif untuk sean dan citra.
Merasa sudah lega karena telah berbagi cerita duka nya memiliki menantu seorang citra. Bu ida kini mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke kediaman mereka.
"oiya li, mama kesini karena ada perlu sama kamu dan dean"
bu ida memposisikan duduknya menjadi lebih nyaman dan serius.
Zelia menatap bu ida dengan seksama dan mendengarkan dengan baik maksud mama mertua nya menyambangi rumah mereka.
"ada perlu apa ma?" tanya zelia begitu antusias.
"mama mewakili sean mengundang kamu dan dean untuk datang ke acaran pengajian tujuh bulanan citra nanti malam. Kamu datang ya "
bu ida menggengam kedua tangan zelia berharap zelia mau datang ke acara mereka.
Bu ida pun paham jika zelia terlihat berat untuk datang karena bagaimanapun dia memiliki masa lalu bersama sean. Namun berbeda hal dengan zelia yang menyadari bahwa kini dirinya sudah menjadi saudara ipar dengan lelaki yang dulu pernah menikah dengannya itu. Bahkan saat ini yang ia jaga bukan lagi hati nya melainkan hati suaminya.
"baik ma. Nanti zeli dan kak dean pasti datang" ucap zelia seraya melempar senyuman pada bu ida.
"makasih ya li. Oiyaa jangan lupa nanti malam kamu harus nginep ya. Mama masih ingin ngobrol-ngobrol sama kamu dan dean. Mama juga sudah lama tak bertemu dengan anak itu"
tersirat dari wajahnya sepertinya bu ida sangat merindukan putra sulungnya yang memang kini jarang bertemu .
"kalo masalah itu nanti zeli tanya kak dean dulu ya ma. Apa dia bisa atau tidak. Soalnya zeli takut dia sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dirumah" jawab zelia mencari alasan.
"baiklah, mama ngerti. Yaudah mama pulang dulu ya. Sampaikan pada dean kalau tadi mama datang kesini"
bu ida pun bangkit begitupun dengan zelia. Zelia pun mengantar bu ida sampai teras rumah setelah ia mencium punggung tangan mertua nya itu. Bu ida pun pergi bersama supir yang sejak tadi setia menunggunya didalam mobil.
.
zelia menghempaskan tubuhnya keatas ranjang tidur setelah kepergian bu ida.
"gagal deh gue hangout sama anita" ucapnya seraya mencebikkan mulut karena merasa kebebasan untuk melepas penat dalam mengurus rumah tangga pun telah sirna.
Kini zelia memilih untuk merendam diri didalam bathtub sebagai pengganti pelepas penat nya yang tak terlaksana hari ini. Apalagi ditambah kiriman foto-foto dari anita yang membuatnya meradang kesal gagal ikut menghirup udara segar diluaran sana.
__ADS_1
.
.
Zelia kini tengah bersiap sambil menunggu kepulangan dean. "bi aku pulang" kata dean seraya membuka handle pintu kamar yang masih tertutup dan sudah dapat ia duga bahwa zelia pasti berada didalam sana.
dean tersenyum saat mendapati sang istri yang tengah duduk didepan meja rias dengan wajah yang terpampang jelas didepan cermin.
"cantik banget , mau kemana nih" ledek dean seraya mengecup pipi sebelah kanan zelia .
Zelia tersenyum merasa betapa bahagia hidupnya dengan semua perlakuan manis dean.
"bi, aku mandi dulu ya setelah itu kita langsung berangkat" dean langsung beranjak pergi masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
zelia pun menyiapkan baju yang akan dean pakai malam ini. Sesuai tema pengajian malam ini, zelia memilihkan kemeja panjang yang senada dengan warna gamis yang ia kenakan.
.
.
"kak ..." panggil zelia pada dean yang sedang mengancingkan kemeja nya.
"tadi mama datang kesini"
"lalu?" tanya dean memungkas perkataan zelia yang belum selesai.
"mama meminta kita untuk datang ke acara tujuh bulanan citra malam ini"
Dean beralih menatap zelia saat mendengar penuturannya.
"jadi maksud kamu, sekarang kita gak jadi dinner?" tanya dean memastikan jawaban zelia.
Zelia mengangguk . "kita harus pergi kesana kak, bahkan mama meminta kita untuk menginap disana. Apa kakak bisa?" tanya zelia.
" baiklah, tapi apa kamu yakin mau menginap disana. kalau kamu keberatan, nanti kita pulang saja" dean berjalan mendekat kearah zelia yang sedang duduk di tepi ranjang.
"aku gak apa-apa kak, lagian kan gak enak sama mama kalau kita menolak tawarannya"
__ADS_1
"jangan memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Karena perasaanmu jauh lebih penting dari segalanya" dean menangkup wajah zelia dengan kedua tangannya.
"aku gak apa-apa kak. Justru aku takut, aku tak bisa menjaga perasaan kakak saat berada disana" zelia kini menatap manik mata dean.
"kakak akan baik-baik saja bi, asal kamu selalu berada disamping kakak dan hanya kakak satu-satunya lelaki yang ada dihatimu" dean merengkuh tubuh mungil itu dan mendekapnya dengan sangat erat.
zelia pun menenggelamkan kepala nya pada dada bidan dean.
Kali ini zelia bukan takut dengan perasaannya. Namun ia takut tak dapat menjaga perasaan suaminya karena sean masih saja berusaha menggangunya.
Dean mengecup puncak kepala zelia. Dalam hati kecilnya, sebenarnya ia pun merasa malas untuk menginap di rumah mama nya. Karena ia tau sean masih saja suka menggangu zelia yang kini telah resmi menjadi istrinya. Bahkan rasa cemburu itu masih sering hinggap karena bagaimanapun sean adalah seseorang yang pernah mengisi masalalu zelia.
"yaudah yuk kak, kita berangkat" ajak zelia yang mulai mengurai pelukannya.
Mereka pun bergegas pergi ke kediaman pak arman wijaya untuk mengikuti pengajian tujuh bulanan citra yang kini menjadi bagian dari keluarga mereka.
zelia berusaha tenang dan bersikap baik pada citra yang terkadang masih begitu ketus menyikapinya . Apalagi karena citra telah mengetahui bahwa zelia adalah mantan istri suaminya.
zelia benar-benar merasa risih saat sean berusaha untuk curi-curi pandang padanya selama acara pengajian itu berlangsung. Bahkan sean seolah tak memandang sang kakak yang berada di sebelah zelia.
.
.
"kamu jadi nginep kan li?" tanya bu ida saat prosese acara demi acara telah selesai dilaksanakan.
"jadi ma" jawab zelia.
"tapi tolong mama ingatkan anak bungsu mama, kalau zelia ini sekarang sudah menjadi kakak iparnya !" sahut dean yang berdiri disamping zelia. Namun mata dean melirik tajam ke arah sean karena sejak tadi ia menyadari jika sean selalu mencuri pandang kearah zelia.
"kak" ucap zelia lirih merasa tak enak hati pada bu ida karena perkataan suaminya.
"iya de, kamu gak perlu khawatir " kata bu ida seraya melihat ke arah kedua anaknya secara bergantian.
"yaudah bi, yuk kita ke kamar" dean menggandeng tangan zelia "kami permisi dulu ma" pamit dean menarik tangan zelia perlahan agar mengikutinya meninggalkan ruangan itu.
zelia hanya bisa mengikuti keinginan sang suami meski sebenarnya ia masih ingin berbicang-bincang dengan mama mertuanya juga keluarga yang lain.
__ADS_1
.