
Zelia termenung sembari menerka-nerka apakah ada hubungan spesial antara tiara dan suaminya.
Namun dilihat dari foto yang tertera disana, nampaknya saat itu tiara masih terbilang cukup muda. Otak zelia terus berputar, entah mengapa ia merasa sedikit resah. Namun ia yakin ini bukan rasa cemburu. Sebisa mungkin ia menepis dan meyakinkan hati bahwa bagaimana mungkin ia cemburu dengan wanita di masalalu suaminya.
Tetapi ada hal yang mengganjal di hati, mengapa dean menyembunyikan semua ini ?
bukankah waktu itu kak dean pernah melihat foto kak tiara dialbum foto lama milikku?"
Lantas mengapa saat itu kak dean seolah tak mengenali kak tiara?
Batin zelia memberondong banyak pertanyaan yang menjadi teka teki baru dalam hidupnya. Entah ada rencana apa di balik semua ini, disaat ia menemukan bukti baru disaat itupula mereka menemukan tiara yang selama ini mereka kira bahwa tiara telah tiada.
Zelia memijat pelipis mata karena kepala yang tiba-tiba sedikit berdenyut. Rasa khawatir pun kerap hinggap di hati. Terselip sedikit rasa khawatir dimana ia takut dean akan kembali kepada wanita dimasalalu nya. Itulah ketakutan terbesarnya saat ini.
.
.
"bi, ayo kita pulang" ajak dean seraya mengelus pipi zelia lembut.
Zelia mengerjapkan mata, netranya langsung menangkap sosok tampan yang sudah setahun lebih berstatus sebagai suaminya.
"sudah selesai?" tanya zelia.
"hem.. Maaf bi, kamu harus menunggu aku meeting sampai tertidur seperti ini" dean terkekeh melihat zelia telah berbaring di sofa ruang kerjanya.
Zelia hanya terdiam. Lagi-lagi hati zelia berkecambuk mengingat apa yang tadi ia lihat. Entah peranan apa atau drama apa yang saat ini sedang dean lakoni dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Zelia memeluk erat tubuh tegap di hadapannya. Seketika rasa takut berbaur sesak hinggap di hatinya kala mengingat bahwa kini mereka telah menemukan wanita masalalu suaminya, yang mungkin sama saja dengan memunculkan problem baru dalam rumah tangga mereka.
"jangan pergi" ucap zelia samar.
Dean mengerutkan dahi melihat tingkah zelia yang tiba-tiba menjadi aneh. Namun ia segera mengembangkan senyum dengan sikap manja zelia yang selalu membuatnya semakin jatuh dan mencinta.
"hey bi, are you okey ??"
Zelia mengangguk tanpa merenggangkan pelukannya.
"kakak gak akan ninggalin kamu bi" lanjut dean mengecup puncak kepala zelia.
"janji?" entah mengapa ketakutan itu begitu menghinggapi hati zelia.
__ADS_1
"he'em" dean mengelus rambut zelia.
"kamu kenapa sih? Mimpi buruk??" tanya dean heran.
Zelia terdiam sejenak sebelum pada akhirnya ia mengangguk.
Zelia enggan menceritakan apa yang ia lihat barusan. Ia benar-benar berusaha untuk menahan diri dan emosi untuk menanyakan langsung tentang hal itu. Zelia harus bisa menunggu sampai dean sendiri yang menceritakan semua itu padanya tanpa ia paksa. Atau ia akan menanyakan semua itu suatu saat nanti diwaktu yang memang tepat menurutnya.
Mereka berdua pun memutuskan untuk pulang. Sebisa mungkin zelia berusaha melupakan tentang hubungan antara tiara dan dean begitupun dengan foto yang tadi ia lihat.
Namun nihil, nyatanya memorinya terus saja bekerja memutar ingatan demi ingatan hingga ingatan tentang masalalu antara mereka.
Dean merasakan ada yang aneh dengan sikap sang istri. Berulang kali ia melirik ke arah zelia yang terlihat sedang melamun memikirkan sesuatu. Dean merasa bahwa saat ini zelia seperti sedang memiliki beban fikiran yang tak bisa ia ungkapkan.
"bi, kamu sakit?" tanya dean memecah keheningan.
Zelia menggeleng tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya.
"kok kamu diem aja sih, laper??" tawar dean mencoba memunculkan kembali ceria zelia seperti semula.
Zelia mengangguk.
Ia tau dean pasti menyadari perubahan sikap nya, hingga ia harus mencari cara agar dean tak terus-terusan mendesaknya dengan pertanyaan mengapa, mengapa, dan mengapa? agar zelia mampu memberikan alasannya.
.
Acara makan pun berakhir dengan keheningan. Dean terheran dengan sikap zelia yang terkesan sedang mengacuhkan dirinya.
"bi" panggil dean setiba nya mereka didalam rumah.
"heem" sahut zelia seraya menaruh tas dan melepas pakaian bersiap untuk segera membersihkan diri.
"kamu kenapa sih? dari tadi kakak perhatiin kok diem terus"
"bukankah ini juga sedang bicara" sahutnya.
"ya tapi kan_"
"sudahlah, aku mau mandi setelah itu istirahat"
Zelia segera melangkahkan kaki masuk kedalam kamar mandi. Enggan berlama-lama berkomunikasi ditengah perasaan hati yang sedang tak baik-baik saja.
__ADS_1
"bi, mandi bareng ya"
Dean mencelos berusaha masuk kedalam kamar mandi yang sama dengan sang istri, namun zelia dengan sigap segera menutup pintu kamar mandi dan mengunci dengan rapat.
Hingga tanpa sengaja kini dahi deanlah yang menjadi korban karena harus terbentur pintu kamar mandi yang zelia tutup begitu saja.
"astaga bi, kamu kenapa sih?? kesurupan setan rumah sakit apa yaa?" teriak dean yang sudah tak mendapat respon lagi dari zelia.
.
Malam pun tiba, zelia merebahkan tubuh disamping sang suami. Ia memilih membelakangi dean daripada harus melihat wajah lelaki yang selama ini masih menyimpan kenangan tentang wanita di masalalu nya dan menyimpan sebuah rahasia.
"bi, kamu kenapa sih?" dean berbicara begitu lembut dan sangat berhati-hati.
"bi, bukan kah dokter tadi bilang kalau kita pasti bisa punya anak?"
Entah mendapat hasutan dari mana hingga dean bisa menyimpulkan bahwa perubahan sikap zelia hanya karena mereka yang hingga saat ini belum juga memiliki keturunan.
"bicara dong sayang, kalo diem terus aku jadi bingung"
Dean memeluk tubuh sang istri dari belakang.
Zelia masih terdiam meresapi hati yang sudah tak bisa lagi ia jabarkan. Ingin sekali ia bertanya namun ia tau jika dalam keadaan hati yang seperti sekarang ini justru hanya akan memancing keributan diantara mereka berdua.
Karena zelia takut ia tak akan bisa menahan amarah nya.
Zelia terus terdiam mencoba mensugesti hati dan fikiran bahwa semua akan baik-baik saja.
Tenanglah, apa lagi yang kau takutkan? bukankah kini dean telah seutuhnya menjadi milikmu?" batinnya.
tapi itukan karena yang dean tau bahwa tiara telah tiada, oleh sebab itu dean memilihmu untuk dijadikan wanita nya.
Bisikan batin yang lainnya seolah mempropokasi kejahatan mencengkram hati yang semakin di liputi rasa kegundahan.
Zelia menghela nafas panjang, matanya terpejam mencerna setiap kata yang terungkap dari hatinya. Entahlah, baru ini ia merasakan bimbang atas pilihannya sendiri.
Semakin lama fikirannya berkecambuk dan hati yang terus saja bermonolog membuat zelia merasa lelah. Lamat-lamat matanya terpejam dan membawanya untuk sejenak melupakan rancu nya fikiran yang saat ini sedang bersemayam didalam hati dan otaknya.
.
.
__ADS_1
Waktu berlalu, tak ada sedikitpun yang berubah dari sikap dean terhadap zelia. Zeliapun berusaha untuk bersikap biasa saja meski di hati dean tetap ada yang berbeda dari sikap zelia. Tapi setidaknya itu jauh lebih baik daripada zelia terus-terusan acuh pada dirinya.
Meski sebenarnya hati zelia belum sepenuhnya pulih. Hatinya masih saja dipenuhi banyak pertanyaan yang sudah ia rancang untuk ia pertanyakan pada dean nanti saat ia telah siap mendengar apapun jawaban dari sang suami.