
Zelia menggerjapkan mata saat cahaya mentari pagi menelusup masuk kedalam kamar melalui celah ventilasi udara seolah menyapa selamat pagi pada mereka berdua dengan begitu ramah.
Zelia merasa tubuhnya sedikit sesak dan kesulitan bergerak karena ada tangan besar milik dean yang melingkar sempurna di tubuhnya.
"kak, tangannya menyingkir dong. Aku mau bangun"
ucap zelia seraya menyingkirkan tangan dean yang tengah memeluknya dengan erat.
"mau apa sih, buru-buru banget mau bangun" jawab dean dengan mata terpejam dan enggan menyingkirkan tangannya.
"mau bantu mama sama bik darmi masak kak, gak enak ini udah siang"
"sudahlah... Mereka juga tau kenapa kamu bangunnya kesiangan"
Zelia mendengus kesal, pasalnya ia akan merasa malu dan tak enak hati jika tak membantu mereka menyiapkan sarapan didapur.
Karena hal itu memang sudah biasa zelia lakukan dirumah ini sejak dulu saat dia masih berstatus sebagai istri sean.
dengan sedikit bekerja keras dan penuh dengan rayuan akhirnya dean mau melepas pelukannya.
Meski semua itu penuh syarat yang harus zelia turuti dengan sukarela, mulai dari morning kiss, peluk secara berhadapan selama beberapa menit, serta masih banyak lagi ritual syarat lainnya.
.
.
Mereka kembali menikmati sarapan bersama.
Kali ini citra ikut bergabung untuk sarapan bersama keluarga suaminya.
Ini pertama kalinya pak arman dan bu ida sarapan bersama dengan kedua anak juga menantunya.
"hueekkk hueekk"
suara citra memekik ditelinga yang lain saat ia tiba di kamar mandi yang tak begitu jauh dari ruang makan.
Sebelum itu citra memang sedang menikmati sarapannya, namun tiba-tiba ia berlari sambil membungkam mulutnya seolah ada sesuatu yang ia tahan.
Seluruh mata mengikuti langkah kakinya yang setengah berlari dan meninggalkan meja makan begitu saja.
"sorry"
Ucap citra saat ia telah kembali duduk di kursi semula.
"jorok banget sih !"
umpat sean saat citra kini telah berada disampingnya. Sean merasa tak enak hati pada keluarga yang lain karena melihat ulah sang istri yang jauh dari kata sopan.
"aku kan lagi hamil se !!"
sanggah citra seolah tak terima dengan umpatan suaminya sendiri. Citra sebenarnya merasa kecewa dengan sikap sean yang terkesan begitu dingin memperlakukannya yang tengah berbadan dua.
"citra benar se, itu hal yang wajar terjadi pada seorang wanita yang sedang hamil muda. Rasa mual yang tiba-tiba muncul seperti itu hal yang biasa "
balas bu ida membela anak menantunya yang diperlakukan begitu ketus oleh anaknya.
__ADS_1
Citra tersenyum kecut sedangkan sean hanya mendengus kesal.
Setelah kesalahpahaman yang sempat terjadi antara sean dan zelia kemarin. Bu ida kini dapat lebih berhati-hati dalam menyikapi suatu permasalahan agar dapat mencari solusi seadil mungkin.
"citra, apa kamu mau berangkat kuliah bareng sean?" tanya bu ida pada citra penuh rasa perhatian.
Sebenarnya bu ida masih merasa sedikit kesal pada anak menantunya satu itu karena telah menjadi pemicu terjadinya masalah dikeluarga mereka hingga mengakibatkan zelia yang menjadi korban utamanya.
Namun karena ada cucu pertama yang sedang berada dalam kandungannya. Bu ida pun sangat memperhatikan setiap gerak gerik citra melebihi siapa saja yang berada dirumah itu karena ia tau kondisi citra saat ini lebih rentan dan akan lebih sensitif.
"iya dong ma, aku bareng sean. Kan sekarang aku yang jadi istri sean !"
Jawab citra sambil melirik ke arah zelia dengan tatapan tak suka.
zelia terus menikmati sarapannya meski ia sadar bahwa citra sedang menatapnya begitu sinis.
Entah apa maksud dari tatapan itu. Apakah citra bermaksud membuat zelia merasa cemburu??
Berbeda dengan dean yang langsung mengambil alih pembahasan saat ia rasa citra sedang mengintimidasi istrinya.
"ma, mulai hari ini kami akan tinggal di apartemen. Jadi setelah ini kami akan bersiap memindahkan barang-barang kami ke sana"
Ucap dean membuat sean melongok mendengarnya.
"kenapa secepat itu?" tanya sean seolah keberatan jika zelia harus pergi dari rumah itu.
"kenapa? Kamu keberatan??" jawab dean.
"benar kata adikmu de, kenapa secepat itu? Apa kamu tidak ingin lebih lama lagi tinggal disini?"
bu ida mencoba mencairkan suasana yang sudah mulai memanas.
Mata zelia seketika menatap suaminya saat mendengar penuturan itu keluar dari mulutnya. Tak ia sangka ternyata dean menyadari bahwa sejak tadi citra memang sedang menyindir dirinya.
Dean menggenggam sebelah tangan zelia. Bu ida pun hanya bisa mengangguk menuruti keinginan anak sulungnya dari pada harus berdebat .
.
sarapan pun telah usai, zelia segera kembali bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengemas barang-barang dan baju miliknya juga milik dean.
.
"ma kami pergi ya" ucap dean saat berpamitan dengan bu ida dan pak arman untuk tinggal di apartemen pribadi miliknya.
"iya nak, jaga dirimu dan jaga istrimu baik-baik ya. Doa terbaik selalu menyertai rumah tangga kalian"
Jawab bu ida sambil mengelus bahu dean.
mereka berduapun kini pergi meninggalkan kediaman utama arman wijaya dan akan memulai hidup baru mereka berdua.
.
.
"sini kakak bantu"
__ADS_1
Dean membawa beberapa tas besar yang telah ia keluarkan dari dalam bagasi mobil.
Begitupun dengan zelia yang membawa beberapa tas yang tak terlalu besar hanya berisi beberapa pernak pernik yang sengaja ia bawa.
zelia pun membereskan dan menyusun baju-baju miliknya dan dean kedalam lemari. setelah itu ia pun membersihkan rumah yang telah beberapa hari ia tinggalkan. Tak lupa zelia kembali menyusun tatanan rumah agar suasanya menjadi lebih fresh lagi.
Tanpa zelia sadari kini ia telah bekerja hingga matahari hampir tenggelam diufuk barat
hari ini ia memang sengaja tak masuk kuliah karena memang sudah memiliki jadwal ingin memindahkan barang-barangnya .
Sedangkan dean, hari ini ia pun tak masuk kantor. Namun sejak tadi ia tak bisa berpaling dari laptop dihadapannya dan sibuk bergelut didepannya bersama tumpukan lembaran kertas yang ikut serta .
Bahkan ia tak menghiraukan zelia yang hilir mudik kesana kemari untuk membersihkan rumah yang beberapa hari lalu ia tinggalkan.
"kakak mau makan apa? Biar nanti zeli masak dulu"
Tawar zelia saat ia telah selesai membersihkan kembali apartemen yang akan menjadi tempat tinggal mereka berdua.
"enggak usah repot-repot masak bi, kakak sudah pesan makanan, mungkin sebentar lagi akan sampai"
Zelia mengangguk, dalam hati sebenarnya zelia merasa senang ternyata dean begitu mengerti dirinya yang sebenarnya sudah merasa lelah ketika harus membersihkan rumah seharian.
tak lama kemudian makanan pesanan mereka pun datang, dengan sigap dean membantu zelia menyiapkan makan malam mereka lalu mereka berdua pun menyantapnya.
.
"apa kakak belum mau tidur? Aku tidur duluan ya"
kata zelia saat ia lihat dean kembali sibuk dengan laptop nya seusai makan malam.
"tunggu sebentar bi, barengg" rengek dean seolah tak ingin ditinggal oleh istrinya.
"hemmm"
Zelia hanya bisa mengikuti keinginan suaminya itu sambil duduk di samping dean yang masih sibuk bergelut dengan pekerjaan.
Tubuhnya yang terasa lelah, membuat zelia tak ingin berdebat dengan dean karena penolakan. Akhirnya ia pun dengan setia menunggu dean meski tanpa ia sengaja kini matanya yang terasa berat membuatnya terhanyut dalam alur mimpi yang indah.
Dean menyadari bahwa zelia telah terlelap sambil duduk bersandar disofa sebelahnya. Terdengar dengkuran halus juga ritme nafas yang beraturan bertanda bahwa zelia memang sangat lelah.
Sebenarnya ia meminta zelia untuk menunggunya sebentar lagi karena ia ingin berolahraga malam terlebih dahulu sebelum mereka terlelap dalam mimpi.
Namun ternyata ia salah, kali ini ia benar-benar hanya mementingkan ego nya tanpa mengerti zelia yang memang benar-benar kelelahan.
Dean segera menutup laptopnya dan memindahkan zelia ke atas tempat tidur.
"goodnight bi"
ucap dean lirih sambil mengecup kening zelia yang tetap lelap meski kini telah berpindah tempat.
"maaf ya aku udah buat kamu ketiduran disofa"
dean merasa bersalah karena ia telah meminta zelia untuk menunggu.
"aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia bi, percayalah"
__ADS_1
Dean menghujani wajah cantik itu dengan banyak ciuman meski zelia tak merasakan. mungkin karena ia benar-benar lelah hingga ia tak merasakan setiap sentuhan yang dean daratkan di wajahnya.
.