Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 54. ratapan sean


__ADS_3

"rencana nya lo mau pergi ke bandung hari apa zel?" tanya sean kepada zelia yang baru saja masuk kedalam kamar mereka.


Zelia duduk didepan cermin meja rias sambil menyisir rambut nya.


"besok" sahut zelia menjawab pertanyaan sean yang ia anggap hanya sekedar basa basi saja.


"hah... Apa gak bisa lo menunda kepergian lo seminggu lagi??" sean kembali bertanya dengan menghela nafas kasar.


"untuk apa?" tanya zelia karena ia ingin tau alasan dari sean mengapa dia memintanya untuk menunda keberangkatan ke bandung.


"ya kan gue masih ada ujian susulan seminggu lagi zel, jadi lo harus nungguin gue biar kita bisa berangkat bareng. Jadi gue bisa jagain lo" jelas sean berharap zelia dapat mengerti dan mengubah keputusannya.


"mulai besok gue udah libur, buat apa gue nungguin lo. Lagian gue gak butuh penjagaan dari lo !!" ucap zelia menyanggah penjelasan sean dengan ketusnya. Entahlah, zelia selalu saja merasa kesal jika harus berbicara dengan sean yang suka berbelit-belit dan berubah-ubah mood nya.


"terus lo mau ke bandung sama siapa? Jangan bilang lo mau kesana sama pacar lo!"


kali ini sean merasa khawatir karena tak bisa menemani zelia. Ia takut bahwa zelia akan berada dalam pengawasan orang lain yang belum ia kenal asal usulnya.


"gue sama kak dean !!! Gak usah sok khawatir deh sama gue se, toh selama ini juga lo gak pernah ada buat gue. seharusnya sih lo seneng ya kalo gue ke bandung sama kak dean, karena disini lo bisa leluasa untuk berduaan dengan citra"


Sean terdiam karena ucapan zelia selalu tepat sasaran untuk menghantam jantungnya. Benar sekali yang zelia ucapkan bahwa sampai saat ini sean masih selalu mengutamakan citra meski sudah berlabuh pada zelia namun citra masih lebih mendominasi dalam kehidupannya.


"bukan gitu maksud gue, gue benar-benar khawatir sama lo zel" sean mengubah nada bicaranya menjadi lembut. Sean memeluk tubuh zelia dari belakang saat zelia sedang mengalihkan pandangannya hingga ia tak menyadari bahwa kini sean sudah berada di belakangnya dan memeluk tubuhnya.


"gak usah kurang ajar deh se !!!" zelia mencoba mendorong tubuh sean dan melepaskan pelukan itu. Namun rupanya sean sudah siaga atas respon yang akan zelia berikan hingga ia mengeratkan pelukan antara dirinya dan zelia.


"ayolah zel, lo tunda dulu kepergian lo sampe gue selesai ikut ujian susulan" ucap dean pelan sambil terus mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"seaaannn!! Gak usah kaya gini gue gak suka!!!" pekik zelia sambil terus memberontak untuk melepaskan pelukan itu.


"gue gak akan ngelepasin lo sebelum lo bilang iya zel" dean tetap kekeh memeluk tubuh zelia yang penuh pemberontakan.


"gue benci lo sean gue benci elo !!!!" teriak zelia


"sebenci itukah lo terhadap gue zel, gue udah mulai sayang sama lo" ucapan sean semakin membuat zelia merasa jengah atas sikap sean yang memang seperti anak kecil.


.


Dean yang mendengar teriakan zelia dari dalam kamar sebelah pun segera bergegas berjalan menghampiri zelia. Ia takut ada hal buruk yang terjadi dengan kekasihnya itu.


Deghhh


Hati dean seolah runtuh saat ia melihat sean dan zelia yang sedang berpelukan. Dean melihat mereka berdua dari celah pintu yang terbuka karena tak tertutup dengan rapat.


"apa kau pun mencintai nya bi?" tanya dean dalam hati kepada seseorang yang ia panggil cabi.


.


.


.


sean pun kini berjalan mendekat ketempat duduk dean. semula ia hanya melihat pemandangan dari kaca jendela, namun melihat keberadaan kakak nya yang sedang duduk termenung di balkon sambil menyesap lintingan benda kecil yang terselip diantara jarinya, sean memutuskan untuk mendatangi sang kakak sekaligus ingin menanyakan kepastian tentang kepergian zelia ke bandung.


dean yang menyadari bahwa sean berjalan mendekat ke arah nya pun tak memberi respon apa-apa atas kehadiran adiknya yang baru saja melakukan adegan yang mampu membakar hatinya.

__ADS_1


"kakak yakin akan mengantar zelia ke bandung besok?" tanya sean yang menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berada disebelah dean .


"iya" dean menjawab dengan singkat nya hingga membuat sean merasa bingung karena tak biasanya kak dean bersikap acuh dengannya.


"apa kerjaan kakak dikantor gak terganggu? Saran aku sih, lebih baik kakak menunda keberangkatan zelia untuk seminggu lagi karena nanti setelah sean selesai ujian sean yang bakal anter dia ke bandung" sean mencoba membujuk dean agar ia mau mencegah kepergian wanita keras kepala itu.


"kakak yakin kau lebih tau sikap zelia"


sean mengganguk, ia menyadari bahwa zelia adalah wanita keras kepala yang tak akan mungkin bisa ia larang.


"aku titip dia kak, karena aku tak bisa mendampinginya" ucap sean yang kali ini tak bisa meminta lebih .


"jangan khawatir, selama ini juga zelia selalu kakak jaga" dean membalas setiap ucapan dean dengan dingin.


"kakak lelah. Kakak mau istirahat" dean pergi begitu saja meninggalkan sean yang masih duduk disana.


sean menatap dean yang tak seperti biasanya bersikap dingin dan cuek ketika mengobrol dengannya. Apa gue yang emang jarang banget kumpul dengan kak dean hingga yang gue rasa sekarang dia begitu acuh.


Dalam hati sean pun merasa sedih.ketika ia harus terpisah dengan zelia. Meski sering bertengkar, nyata nya kebiasaan mereka selalu berdua dalam satu kamar mampu menumbuhkam benih-benih cinta dalam hatinya.


Sean mulai menyulutkan api pada lintingan kecil yang terselip diantara kedua jarinya. Menghempaskan kepulan asap itu ke udara. Ia meratapi nasib dirinya dan penyesalan itu mulai hadir dalam hatinya. Ia menyadari bahwa kesalahannya yang sejak dulu selalu mengabaikan zelia dan lebih memprioritaskan citra. Hingga pada akhirnya zelia membencinya. Sean mengingat bagaimana reaksi zelia saat tadi ia nekat memeluknya. Sungguh zelia melakukan pemberontakan seolah dirinya merasa jijik untuk disentuh oleh sean. Sean memaki hati nya yang kini mulai mencintai zelia namun zelia berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan saat ini.


Untuk saat ini, sean benar-benar sedang dilema entah harus memilih zelia atau citra. meski citra terkadang membuatnya bosan namun 2 tahun kebersamaannya dengan citra membuatnya tak semudah itu meninggalkan kekasih nya itu. Belum lagi tubuh citra yang sudah hafal untuk sean jamah membuatnya kini merasa iba pada nasib citra selanjutnya jika ia harus meninggalkan citra begitu saja.


Sean mengacak rambut dengan kasar, melempar rokok yang baru ia hisab beberapa kali ke tepian balkon. Karena realita sebatang rokok tak mampu menenangkan hatinya yang benar-benar sedang kalut.


.

__ADS_1


.


__ADS_2