
"mamaaaa"
pekik sean yang menyadari keberadaan bu ida yang telah menyaksikan pertengkaran mereka dan kini telah terperosok duduk dilantai hanya bertumpu pada dua lututnya saja.
Sean segera membantu bu ida untuk bangun dan membawa bu ida duduk disofa.
"mama gak apa-apa kan?" tanya sean tanpa rasa bersalah.
plakkk
Bu ida menampar keras pipi sean yang duduk tepat disebelahnya dengan wajah penuh amarah dan air mata yang sudah membanjiri wajah.
Sean memegang pipi yang terasa panas karena tamparan yang dilayangkan oleh sang mama.
"apa yang kamu lakukan se?? Mengapa wanita ini datang kesini dan mengatakan kalau dia hamil anak kamu ??!"
bentak bu ida meski kini ia tengah menangis tersedu tak tau lagi mengapa tuhan memberinya ujian masalah yang sangat bertubi-tubi.
"aku gak tau ma !! Dia hanya mengaku-ngaku bahwa anak yang dikandungnya itu anakku"
Sangkal sean mencoba berpaling dari pertanggung jawaban.
Sedangkan citra kini menatap sean penuh rasa amarah, karena ternyata sean tak berniat untuk mengakui semua perbuatannya.
Tangan citra mengepal keras, seluruh otot dalam tubuhnya seolah menegang mendengar penuturan sean.
Plakkkk
Bu ida kembali melayangkan tamparan pada pipi sebelah sean hingga kini kedua pipinya berwarna merah bekas tamparan sang mama.
"sejak kapan mama mengajarimu untuk lari dari tanggung jawab se !!!"
Pekik bu ida sambil memegang sebelah dadanya yang semakin terasa sesak.
citra tersenyum smirk karena merasa puas melihat bu ida kembali menampar wajah sean yang ingin lepas dari tanggung jawab.
Andai saja bu ida tak menampar sean, mungkin citra lah yang akan mendaratkan tamparan itu di pipi sean karena telah menuduhnya hanya sekedar mengaku-ngaku saja.
"katakan pada mama bahwa kamu hanya berpura-pura !!!"
Kali ini ucapan sean tertuju pada citra. Sean menatap citra dengan tatapan tajam seolah sedang memberi ancaman.
"aku gak sedang berpura-pura sean ! Aku beneran hamil anak kamu. Apa kamu lupa seberapa sering kita melakukan ini berdua penuh rasa cinta?!"
Dengan santai citra memberi jawaban itu karena ia yakin sean tak akan berani mencelakainya selama bu ida masih berada disana.
"kamu bohong citra! Kamu bohong !!! Dan sekarang kamu tak memiliki bukti apapun bahwa kau benar-benar sedang hamil anakku!!"
Sean berusaha untuk mengelak dari semua pengakuan yang telah citra berikan.
"bukti apalagi yang kamu mau ??? Apa kurang cukup bukti alat test kehamilan yang waktu itu aku taruh dalam tas mu ???"
__ADS_1
Deghhhh
Jantung sean dan bu ida seolah berhenti berdetak secara bersamaan saat mendengar perkataan citra.
"alat test kehamilan? Tas?"
Batin sean.
"jadi alat itu benar bukan milik zelia?" batin sean bermonolog sendiri kembali mengingat ucapan zelia saat itu.
"jadi benar apa yang dikatakan zelia waktu itu bahwa alat itu bukan miliknya dan dia telah menemukan alat itu didalam tasmu?"
Kini suara bu ida mulai melemah. Seluruh tenaganya seolah terkuras sudah seiring dengan tetesan air mata.
"zelia??" ucap citra lirih merasa aneh mengapa nama zelia yang ia ketahui bahwa dia hanyalah sepupu sean bu ida sebut dalam ucapannya.
"tunggu ..!! Jelaskan padaku ada hubungan apa antara dirimu dan zelia?"
Tanya citra pada sean. Sean menundukkan pandangannya tak berani menatap wajah kedua wanita yang kini tengah menghakimi hidupnya.
"tante tolong jelaskan padaku mengapa kalian membawa-bawa nama zelia dalam permasalahan ini?? Apa ada hubungan antara sean dan zelia??"
tanya citra pada bu ida karena ia tak mendapatkan jawaban penjelasan apapun dri sean yng masih tertunduk tak berani menatapnya.
"kamu benar, mereka adalah pasangan suami istri yang kini telah berpisah hanya karena satu kebodohan yang dilakukan oleh dia"
bu ida menatap sean tajam menandakan bahwa orang yang sangat bersalah dalam hal ini adalah sean .
Sean telah mengira bahwa zelia tengah hamil. Zelia sempat menjelaskan semuanya namun sean tak mau percaya dengan semua pengakuan zelia dan langsung menceraikannya begitu saja bahkan seanlah yang telah mengusir zelia untuk pergi dari rumah saat itu juga.
Hati citra seolah runtuh seketika saat ia tau bahwa kini ia telah meminta pertanggung jawaban dari seseorang yang telah menyandang status sebagai duda.
"nikahi dia !!!!"
ucap bu ida dengan suara serak karena suaranya yang hampir habis bersama dengan air mata juga pekikan pekikan yang tadi ia lontarkan.
"tapi ma ...!"
"gak ada tapi-tapian... Mama sudah kecewa denganmu !"
Ini bukan pertama kalinya sean melakukan kesalahan yang membuatnya benar-benar kecewa.
Ia fikir setelah bertanggung jawab dengan menikahi zelia karena sean telah menabrak ayahnya hingga meninggal membuat sean merasa jera dan berubah.
Namun ternyata ia salah, lagi lagi sean selalu saja membuat masalah dalam keluarga.
Bu ida menepis kasar tangan sean yang berusaha menggengam tangannya untuk meminta maaf.
"ma...! Maafin sean ma, maafin sean "
Rengek sean pada bu ida yang berlalu begitu saja meninggalkan dia dan citra.
__ADS_1
plaaakkkk
citra mendaratkan tamparan panas itu karena merasa sangat kecewa dengan sean yang selama ini telah berhasil membohonginya.
"jadi selama ini kamu telah menikah dengan wanita yang kamu bilang sepupu mu itu?!"
Pekik citra yang kini tengah berapi-api.
"aku kecewa sama kamu!! "
Citra pun pergi begitu saja meninggalkan sean yang masih mematung menahan pipi yang Terasa panas.
Mungkin ini hari tersial bagi sean karena ia telah mendapatkan tamparan yang dilayangkan oleh dua wanita terdekatnya secara bertubi-tubi tanpa berani membalas.
"arrrggghhhh"
Teriak sean melampiaskan semua kekesalan juga penyesalannya karena telah membuat zelia terluka .
.
.
"sial, jadi selama ini gue udah tertipu oleh sean!"
Umpat citra saat dalam perjalanan pulang dari rumah sean.
" jadi gue akan menikah dengan seorang yang sudah berstatus duda??" citra tersenyum smirk merutuk dirinya sendiri yang telah salah sasaran.
"gue kira cuma gue satu-satunya wanita yang ada di hati sean. Tau gini, mending gue minta pertanggung jawaban dari leon..."
umpat citra kesal.
Citra kini seolah menyesal karena telah meminta pertanggung jawaban dari orang yang salah.
.
Citra memukul-mukul stir kemudi melepaskan kekesalan nya pada sean.
"temui aku di tempat biasa"
Ucap citra ada seseorang dari balik telpon.
"baiklah"
citra segera mengakhiri obrolan mereka saat mendapat jawaban baik dari lawan bicaranya.
Citra memutar balik laju mobil mengurungkan niat untuk pulang kerumah. Rasa kecewa, bercampur amarah juga penyesalan yang ia rasakan tak akan mampu terobati jika ia hanya kembali kerumah tanpa ada teman untuk berbicara.
.
citra melajukan mobilnya menuju tempat yang biasa ia datangi bersama seseorang yang tadi ia ajak bicara.
__ADS_1
.
.