
Semakin hari zelia semakin menyiapkan mental untuk mempertanyakan tentang siapa tiara dan ada hubungan apa antara dia dan suaminya dimasalalu.
Serangkaian pertanyaan sudah ia siapkan layaknya seorang wartawan yang sudah siap mengintrogasi sasarannya agar ia dapat mendengar jawaban yang memuaskan.
Namun sebelum misi itu ia lakukan. Ia ingin memancing agar deanlah yang lebih dulu memulai pembahasan tentang tiara, setelah itu barulah ia luncurkan pertanyaan yang sudah ia simpan lekat-lekat di otaknya.
.
Hari ini, bertepatan dengan jadwal pertemuan dengan dokter obgyn yang akan membantu proses program kehamilan untuk mereka. Zelia sengaja meminta agar dean mau mengantarnya ke rumah sakit meski ia tau dean selalu memiliki jadwal pekerjaan yang sulit untuk di kesampingkan.
Namun dean tak dapat menolak dan sebisa mungkin mengatur jadwal agar ia tetap bisa menemani sang istri tercinta, entahlah mengapa bisa sebegitu cinta dirinya terhadap wanita yang beberapa tahun ini berhasil mengisi kekosongan hari-harinya.
"bi, aku gak bisa lama-lama karena nanti jam dua belas ada jadwal meeting dengan klien" dean menatap jalanan ibu kota menyusurinya membawa mobil yang mereka tumpangi menuju rumah sakit.
"heem"
sahut zelia yang sebenarnya tak bisa janji apa ia bisa menuruti permintaan dean barusan. Setidaknya, ia masih ada waktu beberapa jam untuk sampai nanti tiba di jam dua belas siang.
Mobil mereka pun mulai memasuki area rumah sakit, dean segera memarkirkan mobilnya kemudian turun dan segera membuka kan pintu untuk sang istri . Dean memang selalu bersikap manis, wajar saja jika banyak kaum hawa yang selalu iri melihat zelia yang selalu ia perlakukan layaknya seorang putri oleh sang pangeran.
Apa ini definisi wanita akan menjadi ratu jika berada ditangan lelaki yang tepat?
Mereka berjalan beriringan, tangan zelia tak luput dari genggaman tangan dean layaknya orang mau menyebrang. Zelia pun tak pernah merasa risih dengan sikap dean yang memang terkadang terkesan berlebihan. Mata zelia menyusuri setiap sudut ruangan setelah mereka selesai mendaftar dan duduk sejenak diruang tunggu .
"kemana mereka?" batin zelia mencari seseorang.
"kamu kenapa sih bi? aku perhatiin dari tadi tengak tengok terus?" tanya dean yang juga ikut celingukan entah ikut mencari siapa.
"enggak kok" sanggah zelia.
__ADS_1
Nama zelia pun di panggil, mereka berdua masuk ke dalam ruangan dokter obgyn dan mulai melakukan konsultasi serta serangkaian pemeriksaan.
Setelah selesai, mereka kembali berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Untunglah, pemeriksaan yang dilakukan tak memerlukan waktu cukup lama hingga masih ada waktu beberapa jam lagi agar dean tak terburu-buru untuk tiba di kantor tepat waktu.
"kok gak ketemu mereka sih"
batin zelia mulai gusar karena apa yang sudah ia rencanakan sepertinya mencium aroma-aroma kegagalan.
Ya benar, saat ini zelia memang sengaja ingin mempertemukan dean dan tiara. Zelia yakin dengan begitu dean akan buka suara tentang siapa tiara dan mengapa. selama ini ia sembunyikan statusnya.
Zelia hampir saja putus asa, karena beberapa kali ia berada dirumah sakit ini ia selalu bertemu dengan tiara dan bu fatma. Namun apakah hari ini ia harus menelan pil pahit yaitu kecewa?
Netra mata zelia melihat kerumunan di sekitar taman rumah sakit. Beberapa perawatpun berlarian menuju kerumunan tersebut.
"kak disana ada apa ya?" tanya zelia yang seketika menghentikan langkah kakinya menatap lekat ke arah taman yang sudah kerubung banyak manusia.
Dean tak menghiraukan kerumunan itu dan terus saja menggandeng tangan zelia mengajaknya untuk lekas pergi dari sana.
"enggak kak, zeli mau lihat dulu disana ada apa" sergah zelia menahan pergerakan tangan dean yang hendak mengajaknya pergi.
"kamu ini kepo banget sama urusan orang. Ayolah kita pulang" ajak dean masih tetap kekeh enggan melihat kerumunan itu.
Namun entah mendapat bisikan gaib dari mana zelia berjalan perlahan melangkahkan kaki nya mendekati kerumunan itu meski dean melarangnya.
"bi jangan kesana" sergah dean.
Namun zelia terus melangkah yakin seperti ada yang meyakinkan hatinya bahwa ia harus mendatangi kerumunan itu.
Dean yang semula enggan kini terpaksa mengikuti keinginan sang istri yang terkadang senang membuang-buang waktu hanya dengan hal sepele yang tak begitu penting semacam ini.
__ADS_1
Pergerakan tangan zelia mulai membelah kerumunan orang yang menutupi siapa tersangka yang sedang menjadi bahan tontonan mereka.
"astaga, bu fatma" zelia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya terkejut kala melihat bu fatma yang sudah tergeletak dengan darah yang bersimbah di dahi kanan nya.
"permisi permisi" beberapa perawat segera mengangkat tubuh renta itu dan menaikkannya keatas brankar pasien lalu membawa bu fatma ke ruang IGD.
Netra mata zelia mengikuti kemana arah perawat-perawat itu mendorong brankar yang ditumpangi bu fatma. Kaki nya hendak melangkah namun tiba-tiba ada seseorang yang menahan lengannya "tolong" ucap seorang wanita yang sejak tadi tak terlihat diantara kerumunan orang karena ia hanya bisa duduk di kursi roda.
Hati zelia seketika berhenti berdetak kala ia melihat wanita yang menahannya adalah tiara. Wanita yang sejak tadi ia cari-cari keberadaannya.
"tolong bawa aku ke tempat tante" ucap tiara lirih seperti tak bertenaga.
Zelia mengangguk, lalu memutar arah tubuhnya memposisikan diri dibelakang kursi roda dan siap mendorong kursi yang dinaiki tiara menuju ruang dimana bu fatma mendapatkan penanganan.
Dengan segera zelia menuju keruang IGD, bahkan ia lupa jika tadi dean sedang bersamanya namun kini dean sudah tak tau entah dimana.
Tiara hanya diam selama zelia mengajak dirinya untuk melihat bagaimana keadaan bu fatma. "Kita tunggu disini saja kak" ucap zelia yang telah menghentikan pergerakan kursi roda itu didepan ruang IGD.
Tiara hanya mengangguk, tersirat kesedihan di raut wajahnya. Air matanya pun menetes meski ia tak bersuara. Zelia yang melihat itu pun merasa iba, memori ingatannya mengingat kembali kenangan beberapa tahun silam dimana ia hanya seorang diri diluar ruangan ini menanti kesembuhan ayahnya.
Zelia yang kala itu bernasib sama seperti tiara pun hanya bisa menangis tersedu meski tak ada rintihan suara yang keluar dari mulutnya.
Zelia turut duduk di sebelah tiara. Sekilas ia melirik ke wajah cantik blasteran bule tersebut. Tak banyak berubah dari tiara yang dulu ia kenal, hanya tubuh yang sedikit kurus dan ada beberapa jahitan luka pada wajah termasuk dipipi dan di sekitar pelipis mata.
Sedangkan ditempat lain, dean sibuk mencari keberadaan zelia yang tiba-tiba menghilang dari kerumunan begitu saja. Memang setelah zelia mendekat ke kerumunan itu, dean menyingkir sejenak untuk mengangkat panggilan masuk dari salah satu staff pegawai kantornya yang memberitahukan bahwa jadwal meeting yang seharusnya dilakukan hari ini kemudian diundur menjadi lusa.
Dean terus berjalan karena setelah ia mengangkat telpon dan kembali ke taman. Semua orang yang tadi berkerumun telah bubar dan taman nampak sepi.
"astaga, kamu dimana bi" gumam dean panik.
__ADS_1