
Citra berhenti disebuah tempat yang sering ia kunjungi bersama seseorang yang pasti itu bukan sean.
"welcome girl"
Sapa lelaki yang tengah duduk di sofa sembari menikmati hisapan demi hisapan asap rokok yang terselip diantara kedua jari tangannya itu pada citra yang baru saja masuk kedalam ruangan hotel.
"apakah ada masalah?"
Tanya lelaki itu saat melihat raut wajah citra terlihat begitu kesal. Lelaki itu memang sudah paham betul dengan bagaimana tingkah citra jika sedang dalam keadaan bahagia atau bersedih.
Siapa lagi dia kalau bukan leon, lelaki yang biasa dijadikan pelampiasan oleh citra.
"jelas ! Bagaimana bisa selama ini gue gak tau kalau sean ternyata sudah menikah"
ucap citra sambil mendengus kasar.
"ha ha ha"
Tawa leon menggema memenuhi seisi ruangan.
"sial, malah ketawa. Lo seneng hah !!"
Citra melempar bantal sofa yang berada disebelahnya kearah leon.
"bukankah lelaki itu yang menjadi pilihan lo"
ucap leon merasa bahagia diatas penderitaan citra, karena citra telah menolaknya hanya demi memilih sean untuk bertanggung jawab atas kehamilannya.
"iya, tapi kalo aja gue tau bahwa sebelum ini sean udah pernah nikah. Gue lebih milih lo buat jadi papa dari anak ini"
Leon tersenyum kecut, disaat nasi sudah menjadi bubur barulah citra menyesal telah menolak nya yang ingin bertanggung jawab atas janin yang ada didalam rahimnya.
"apa lo masih mau gue yang bertanggung jawab?"
"gila, mana ada !!! Orang tua gue udah gue kasih tau kalau papa dari anak ini adalah sean. Mau bilang apa gue kalo tiba-tiba gue ralat ucapan gue ke mereka dan bilang bahwa papa dari anak ini adalah elo"
lagi-lagi leon hanya tersenyum smirk, bahkan kini sedikitpun ia sudah tak berminat untuk menjadi ayah dari anak itu.
"sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Lagian sean kan hanya menyandang status sebagai duda bukan sebagai single parent"
Ucap leon yang mulai mendekati citra dan membelai rambutnya mesra.
Leon tau, disaat keadaan kalut seperti ini citra akan mudah sekali untuk di rayu.
Leon memeluk tubuh citra, dan menenggelamkan kepala citra pada dada bidangnya.
Setelah itu ia menciumi seluruh wajah dan tengkuk leher citra hingga penyatuan antara mereka berdua tak dapat lagi terhindarkan.
tubuh citra sama sekali tak memberi penolakan atas semua gerakan leon yang mulai menguasai dirinya. Semua itu pertanda bahwa ini bukanlah pertama kalinya mereka melakukan hubungan itu meski tanpa rasa cinta.
.
__ADS_1
.
Hari demi haripun berlalu. Kesehatan bu ida pun kini semakin menurun karena memikirkan masalah yang datang secara bersamaan.
bu ida segera dilarikan kerumah sakit saat ia ditemukan tak sadarkan diri didalam kamar.
tubuhnya kini menjadi sedikit kurus juga wajah yang terlihat begitu pucat.
pak arman pun terpaksa pulang ke jakarta dan meninggalkan semua pekerjaan di luar kota. Pada akhirnya, ia harus turun tangan langsung untuk menyelesaikan masalah demi masalah yang terjadi pada keluarga nya.
.
"pa, apa mama masih bisa bertemu dengan dean dan zelia"
tanya bu ida pada pak arman yang selalu setia berada disamping nya saat ia terkulai lemah di ranjang rumah sakit.
"untuk apa ingin bertemu mereka?"
Ucap pak arman yang tengah duduk di kursi samping tempat tidur bu ida.
"mama cuma ingin meminta maaf pa. mama mau minta maaf sama mereka terutama pada zelia. Mama sudah banyak salah pa sama mereka, mama hanya takut mereka belum bisa memaafkan mama di hari-hari terakhir mama"
Ucap bu ida memperlihatkan raut wajah sedih.
"hari-hari terakhir? Emang mama mau kemana? Makan saja sudah habis banyak kok, apalagi sudah bisa nawar minta nasi padang"
ledek pak arman pada bu ida yang merasa seolah-olah bahwa penyakit yang dideritanya sudah sangat parah.
.
.
"dean, bisakah kamu sekarang juga datang ke rumah sakit?"
ucap pak arman sesaat setelah keluar dari ruang rawat inap bu ida dan langsung menelpon dean untuk menuruti keinginan sang istri tercinta.
"siapa yang sakit pa? Kenapa dean harus datang kesana?"
"mama kamu sakit. Dia meminta papa untuk menghubungimu, karena ada yang ingin mama bicarakan pada mu dan zelia"
"baiklah pa, dean akan segera kesana "
dean segera menutup telpon dan mengakhiri obrolan mereka.
"siapa yang sakit kak?"
Tanya zelia yang sejak tadi mendengar pembicaraan antara dean dan pak arman.
"mama bi. Mama meminta kita untuk datang kesana sekarang"
"tapi kak... Apa kakak yakin mama udah gak marah lagi sama kita"
__ADS_1
zelia merasa ragu untuk menemui bu ida sekalipun itu atas dasar permintaan dari bu ida sendiri.
"tenanglah bi.. marah atau tidak, aku akan selalu ada disampingmu dan kita akan hadapi semua nya berdua"
Dean menggenggam tangan zelia meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
Zelia tersenyum lalu mengangguk.
Mereka berdua pun bersiap untuk datang kerumah sakit.
Setibanya dirumah sakit, dean yang baru saja keluar dari mobil, langsung menghampiri zelia dan menggenggam tangan nya. mereka melangkah bersama menuju ruangan dimana bu ida dirawat sesuai info yang telah diberikan oleh sang papa .
.
.
zelia kembali menarik tangan dean yang menggenggamnya karena ia masih merasa ragu saat tangan sebelah dean hendak membuka handle pintu ruangan itu.
Dean menoleh dan menatap wajah zelia seraya tersenyum untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
Zelia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.
Tok tok tok
Dean mengetuk pintu kamar tempat bu ida dirawat dengan sangat yakin. Sedangkan semua itu berbanding terbalik dengan isi hati zelia saat ini, yaitu merasa takut dan khawatir jika nanti bu ida akan menyambutnya dengan perkataan kasar lagi.
Zelia mengingat bagaimana bu ida menganggapnya sebagai wanita pembawa masalah. Semua itu sungguh kejadian yang sulit untuk zelia lupakan meski sudah ia maafkan.
Pintu ruang rawat bu ida terbuka sempurna. Terlihat pak arman yang sedang duduk di sofa sambil membaca koran dan bu ida yang sedang rebahan diatas tempat tidurnya.
Bu ida tersenyum melihat kedatangan dua insan yang sudah sangat ia tunggu-tunggu.
sedangkan pak arman hanya melirik sekilas ke arah dean dan zelia lalu kembali melanjutkan aktifitas membaca koran.
.
"apa mama sudah baikan?"
Tanya dean mendekat ke arah sang mama. Sedangkan zelia memilih tetap diam dan berdiri sedikit jauh dari mereka.
"alhamdulillah mama sudah cukup baikan. bagaimana kabar kalian?"
tanya bu ida menatap ke arah den dan zelia secara bergantian.
"li kenapa kamu diam saja disitu? Apa kamu gak rindu sama mama?"
ucap bu ida seraya merentangkan kedua tangan berharap zelia mau memeluknya.
Zelia tersenyum lalu berhambur memeluk bu ida yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
Dean tersenyum melihat sang mama yang kini mau menerima kembali kedatangan zelia dalam kehidupan mereka.
__ADS_1