Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 20. menghindar


__ADS_3

waktu berjalan, menghabiskan waktu berdua di dalam kamar hanya dengan bermain handphone nyata nya membosankan.


seperti biasa sean selalu bersiap untuk pergi seperti malam-malam sebelumnya.


zelia pun tak menghiraukan dan tak ingin tau kemana sean selalu pergi dan dengan siapa sean selalu pergi. seolah bukan menjadi masalah dan bukan lagi urusan nya untuk mengetahui tentang sean yang juga begitu acuh terhadap dirinya.


motor sean melesat jauh keluar dari pintu gerbang . zelia hanya menatap kepergian suaminya dari atas balkon sampai suara moge ny Itu tak terdengar lagi. seperti ada yang hilang, terasa sepi padahal ketika bersama sean pun ia tetap merasa bosan.


libur kuliah membuatnya tak bisa menghirup udara segar diluaran.


zelia bergegas masuk karena sebentar lagi kak dean pasti akan melembur pekerjaannya di kursi balkon seperti biasanya. entah mengapa biasanya zelia sangat bersemangat untuk menemani kakak iparnya itu bekerja, tapi kali ini ia mersa enggan untuk duduk menemani nya disana.


karena kejadian disaat mati lampu semalam membuat zelia merasa malu untuk bertemu kakak iparnya itu. ia takut perasaanya semakin membara berharap lebih kepada kak dean yang ternyata hanyaa menganggapnya sebatas adik ipar biasa.


ia akan berusaha untuk menjauh dari kak dean agar perasaan yang ia miliki tak mencoba mencari kebenaran, ia berusaha untuk menepis bahwa perasaan itu hanya suatu kebohongan belaka.


zelia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. meski bayangannya teringat kepada kak dean diluar sana. ingin rasanya ia duduk menemani dan berbincang seperti biasa sambil menikmati sejuknya angin malam dari atas sana. namun ia tak mau terlalu memanjakan hati , ia takut hati itu terlanjur jatuh pada orang yang tak juga menjatuhkan hati untuknya.


di tempat lain, kak dean merasa ada yang kurang dalam hidupnya malam ini. segelas kopi, sebuah senyum manis , dan obrolan kecil diiringi canda tawa yang biasanya selalu menemani nya bekerja kini malam ini tak ada.


"keman Zelia? kok tumben dia gak keluar.!" batin kak dean. dean menatap ke arah pintu kamar zelia yang tertutup rapat.


"apa dia udah tidur? tapi tumben jam segini dia udah tidur"


"apa dia sakit??"


batinnya masih bermonolog sendiri

__ADS_1


"apa dia marah sama aku karena kemarin malam, tapi kenapa kemarin dia diam saja, bahkan tak menunjukkan ekspresi bahwa dia marah, kenapa baru sekarang???" batin dean dipenuhi dengan berjuta pertanyaan dan kekhawatiran terhadap zelia yang membuatnya tak berkonsentrasi untuk melanjutkan pekerjaan nya.


akhirnya sean pun menutup kembali laptop nya dan kembali masuk kedalam kamar. hati dan pikiran masih bermonolog dan memiliki argumen yang tidak-tidak kepada zelia. bahkan ia benar-benar merasa sangat bersalah karena zelia seolah menghindar dari dirinya.


"ternyata kak dean gak lembur" ucap zelia sambil mengintip kursi kosong yang berada di balkon dari balik tirai.


"tuh kan, kak dean gak butuh gue, nyatanya dia gak lembur apalagi nyariin gue..!! lo kenapa sih li berharap banget sama dia. jelas selera dia bukan lo lah. lo mah gak ada apa-apa nya dibanding cewek diluaran sana yang udah ngantri buat jadi pacar dia. lo sadar li, lo itu siapa. malem itu dia cuma hilaf karena gelap bukan karena cinta"


zelia memukul-mukul kepalanya sendiri seolah fikiranya menentang hatinya yang menginginkan kak dean berada bersama nya.


beberapa hari telah berlalu


zelia masih saja menghindar dari kak dean. ia lebih banyak mengurung diri dikamar membuat dean merasa sangat kebingungan dan merasa sangat bersalah.


siang itu dean sengaja pulang dari kantor lebih awal dari biasanya karena memang beberapa hari ini fikirannya tak tenang hingga dia kehilangan konsentrasi untuk bekerja.


"zel ada yang ingin kakak bicarakan" ucap kak dean yang ternyata sedari tadi sudah duduk memerhatikan zelia. sedangkan zelia tak menyadari bahwa sudah ada seseorang yang duduk di kursi belakang nya karena terlalu sibuk bermain dengan ikan.


"oh, ada apa kak?" zelia menengok sekilas ke arah kak dean, ia berusaha untuk tetap tenang dan tak menatap wajah kak dean karena ia takut tak dapat menahan hati kalau menatap wajahnya begitu lama.


kak dean kini duduk ditepi kolam berdampingan dengan zelia yang tak mau mendekat ke tempat dia duduk


"zel apa kamu marah sama kakak?" kak dean mulai membuka pertanyaan yang sejak lama ia pendam .


zelia menggeleng kan kepala nya tanpa ada suara.


"lalu kenapa beberapa hari terakhir ini kamu menjauh dari kakak zel? kamu seolah menghindar dari kakak?"

__ADS_1


zelia masih terdiam tak tau harus menjawab apa atas pertanyaan yang tak bisa ia beri jawaban. ia malu atas perasaan hati yang dimiliki nya. bukan hal wajar seorang adik mempunyai rasa kepada kakak iparnya.


"zeli bicara sama kakak kamu kenapa? kalau kamu gak marah sama kakak kenapa kamu menghindar dari kakak?"


kali ini kak dean menengokkan wajah zelia dengan paksa karena sejak tadi zelia hanya tertunduk diam tanpa suara.


dean menangkup wajah zelia dengan kedua tangannya.


"apa karena kejadian malam itu? kamu jadi marah sama kakak? zel bicaralah zel kakak butuh penjelasan darimu"


mata kak dean menatap zelia nanar seolah tersirat kata maaf didalam sana. begitupun zelia yang tak bisa berkata banyak karena ada tumpukan sesak yang menggumpal di dada nya. mata zelia berkaca-kaca entah apa yang melukainya namun tatapan kak dean membuatnya benar-benar tak berdaya.


dean tak mengerti perkataan atau tingkah laku dibagian mana yang melukai wanita dihadapannya sehingga buliran bening mengantri ingin keluar dari mata nya.


dean langsung memeluk zelia dengan erat menenggelamkan wajah zelia pada dada nya namun pelukan itu mampu membuat air mata itu tumpah menetes di pipi mulus zelia.


"maafin kakak" ucap kak dean lirih sambil mengecup puncak kepala zelia "maafin kakak" berulang kali kata maaf itu terucap dari bibir manis kak dean.


dia masih memeluk zelia menunggu zelia tenang dan menunggu jawaban dari zelia.


"gak ada yang harus dimaafin kak, kakak gak salah, kejadian malam itu pasti tanpa kesengajaan kak " ucap zelia sambil mengusap air mata nya.


"zel jika kakak bilang itu karena sengaja dan dari dalam hati kakak apa kamu percaya?"


zelia terdiam tak mampu mengeluarkan jawaban dari dalam mulutnya. padahal dalam hati ia ingin berteriak percaya namun otak tak merespon bahwa hatinya itu benar.


zelia tetap diam tak bergeming dalam pelukan hangat kakak iparnya.

__ADS_1


__ADS_2