Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar

Terjerat Asmara Sang Kakak Ipar
part 58. menjenguk rendi


__ADS_3

"Apa kamu yakin akan menjenguk si rendi itu?" tanya dean ditengah perjalanan pulang menuju rumah om irwan.


"iya kak, kakak keberatan?" tanya zelia yang melihat mimik wajah tak suka dari kekasihnya.


dean menggeleng "kakak sih gak keberatan tapi apa gak sebaiknya kamu urungkan saja niatmu itu bi. kakak cuma takut dia berbuat yang gak baik sama kamu nanti" alasan yang tak begitu masuk akal bagi zelia, karena ia sudah menangkap maksud hati dean yang sudah diisi rasa cemburu.


"kan ada kakak yang selalu bisa menjagaku" balas zelia sambil tersenyum manja


"tapi bagaimanapun juga dia kan lelaki yang pernah mencintaimu. Kakak takut dia juga menginginkanmu dan mengambilmu dari kakak" dean masih berusaha keras agar zelia mau mendengar perkataannya dan mengurungkan niatnya untuk menjenguk teman lama nya yang sakit itu.


"mungkin dia memang pernah mencintaiku, tapi aku tak pernah mencintainya. Percayalah tak ada satupun yang bisa merebut diriku dari kak dean. tak ada kata bekas teman diantara kami. Biarkan rasa peduli ku ini aku anggap sebagai bentuk solidaritas ku sebagai teman" jelas zelia sambil menatap wajah dean.


Dean paham sifat keras kepala zelia yang tak akan bisa tertembus oleh apapun. Sekuat apapun dean meminta agar zelia mengurungkan niat itu, zelia tak akan melakukannya terlebih ketika semua itu tak sesuai kehendak hatinya.


.


.


setibanya mereka sampai dirumah om irwan, zelia langsung bertanya kepada oomnya yang sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati segelas kopi.


"Om, apa om irwan sudah tau kabar sakitnya rendi anak pak sofiyan?" zelia duduk dikursi yang bersebelahan dengan om irwan. Begitupun dengan dean yang duduk dihadapan mereka.


"oiya li om sudah tau kabar rendi, apa kamu juga sudah tau kabar tentangnya?" tanya om irwan balik.


"iya om, zeli udah tau dari laila. Tadi sewaktu dikebun teh laila bercerita banyak sama zeli. Besok zeli akan jenguk rendi, boleh kan om?"


Om irwan nampak ragu untuk menyetujui permintaan zelia. om irwan sesekali menatap dean karena merasa tak enak hati bila ia menyetujui ponakannya itu untuk menemui laki-laki lain tanpa seizin suaminya.


"apa suamimu tidak keberatan jika kamu menjenguk lelaki lain?" tanya om irwan sambil menatap zelia dan dean secara bergantian. Om irwan paham bahwa status zelia saat ini sebagai istri sean, jadi seanlah yang memegang kendali atas boleh atau tidaknya zelia menemui laki-laki lain.

__ADS_1


"enggak om, sean pasti gak akan keberatan" sahut zelia. Sedangkan om irwan belum mendengar persetujuan dari kakak ipar yang ia rasa bisa mewakili bagaimana pendapat sean.


"bagaiamana nak dean?" tanya om irwan pada dean yang sejak tadi hanya bungkam seribu bahasa.


"saya sih terserah zelia saja om, selagi itu tak berbahaya baginya saya rasa tak masalah" jawaban dean membuat hati om irwan merasa lega. Meski jawaban itu tak mewakili perasaan sean karena tak ada nama sean yang terucap disana, entah sean akan marah atau tidak tapi setidaknya nanti tidak akan terjadi kesalahpahaman diantara mereka.


Zelia tersenyum mendengar persetujuan dua lelaki yang amat ia cintai ini. Meski dean menjawab pertanyaan om irwan dengan wajah yang amat datar karena hati kecilnya menolak persetujuan itu.


.


.


Keesokan harinya, dean dan zelia pergi kerumah pak sofiyan dan bu fatma, kedua orang tua dari rendi. Mereka mengendarai sepeda motor matic milik om irwan untuk menuju kesana . Mereka berdua sengaja memilih naik sepedamotor karena ingin menikmati suasana pegunungan yang memiliki panorama pemandangan hijau yang begitu asri.


Tok tok tok assalamualaikum


Zelia mengetuk pintu rumah pak sofiyan. pak sofiyan termasuk salah satu orang terkaya di kampung, ia pun pernah menjabat sebagai kepala desa sejak puluhan tahun yang lalu. wajar saja jika rumahnya pun terlihat paling besar dan mewah diantara rumah-rumah yang lain. Meski begitu, namun pak sofiyan dan bu fatma terkenal sebagai orang yang baik dan selalu rendah hati.


"eh zelia, bagaimana kabarnya nak?" sapa pak sofiyan yang memang sudah kenal baik dengan zelia dan keluarga nya termasuk mendiang pak ivan. Mereka saling bersalaman begitu pula dengan dean. Bahkan kali ini dean sudah menyiapkan badan jika nanti ada hal buruk yang rendi lakukan pada zelia.


bagaimana jika rendi menodongkan pisau pada leher zelia dan meminta agar ia bisa dinikahkan dengan zelia secepatnya.


Semalaman dean tak bisa tidur, Pikirannya sudah melayang sejauh itu untuk membayangkan bagaimana reaksi rendi esok ketika ia melihat zelia datang kerumahnya.


"mari masuk, mi umiiii lihat siapa yang datang" pak sofiyan mempersilahkan zelia dan dean untuk masuk. Ia pun memanggil bu fatma yang sedang berada di dapur.


"ada apa sih bi" terdengar derap langkah kaki bu fatma yang berjalan mendekat ke arah ruang tamu.


"ya ampun nak zeli, apa kabar?" bu fatma langsung bersalaman dengan zelia tak lupa ia mencium pipi kanan dan kiri zelia. Zelia sangat terharu melihat bagaimana antusiasnya pak sofiyan dan bu fatma menyambut kedatangannya meski ia di gadang-gadang sebagai penyebab anaknya menjadi setres. Namun kedua orang tua itu tetap memperlakukan zelia dengan begitu baik dan ramah.

__ADS_1


Mereka berempat pun berbincang-bincang ,ucapan bela sungkawa karena kepergian pak ivan dan ucapan selamat atas pernikahan zelia tak lupa mereka sampaikan padan zelia dan dean yang mereka kira sebagai suami zelia. Obrolan mereka pun dilengkapi dengan kopi dan teh hangat yang bu fatma buatkan untuk mereka. tak lupa pak sofiyan pun bertanya tentang bagaimana kuliahnya dijakarta dan bagaimana kehidupan antara di kampung dan dikota.


.


.


Tak lama kemudian zelia pun mengutarakan maksud dan tujuannya datang kerumah pak sofiyan yaitu untuk melihat keadaan rendi yang katanya sakit. Seketika wajah kedua orang tua itupun berubah menjadi layu kala mengingat keadaan anaknya yang semakin hari semakin memburuk.


Mereka menceritakan bagaimana keseharian rendi hingga saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa rasa sedih yang amat dalam sangat menyelimuti hati mereka. Zelia pun turut prihatin atas apa yang terjadi pada anak mereka satu-satunya itu.


Bu fatma mengajak zelia untuk menemui rendi yang selalu mengurung diri dikamar.


rendi yang dulu berbeda dengan rendi yang sekarang, bu fatma benar-benar kehilangan sosok rendi yang pandai bergaul dan bermasyarakat. Namun untuk saat ini Jangankan untuk bersosialisasi dengan banyak orang seperti dulu. Untuk sekedar berbicara dengan kedua orang tuanya pun rendi kini begitu sulit.


Bahkan ia seringkali berteriak-teriak dan mengunci diri dikamar. Jam makannya pun tak lagi teratur, begitupun dengan jam tidurnya.


awalnya bu fatma merasa sedikit ragu untuk mengajak zelia menemui rendi didalam kamar. Karena selama ia sakit, rendi selalu saja menolak jika ada orang yang ingin menemuinya. Bahkan ia pernah melakukan kekerasan pada dokter yang memaksa untuk masuk meski hanya sekedar ingin memeriksa kesehatannya.


Tok tok tok


"apa umi boleh masuk?" tanya bu fatma dari balik pintu kamar rendi.


"heeem" rendi hanya berdehem tanpa memberikan kata-kata atas pertanyaan ibunya. Meski begitu bu fatma sudah tau jika itu artinya rendi memperbolehkan ibunya untuk masuk. Zelia berjalan dibelakang bu fatma, begitupun dengan dean yang selalu berada disebelahnya. Sedangkan pak sofiyan pun turut berada dibelakang mereka.


"ren, coba lihat siapa yang datang bersama umi" ucap bu fatma dengan sangat hati-hati pada rendi yang sedang asyik duduk didepan kanvas yang berisi coretan seni . Ya begitulah rendi, ia salah satu anak yang memiliki bakat seni yang tinggi, kepandaiannya dalam melukis membuatnya mendapat banyak penghargaan. Bahkan ia selalu menang jika mengikuti acaran pameran-pameran yang sering diadakan di kota. Namun itu dulu sebelum ia seperti sekarang ini.


rendi menolehkan wajahnya, bukan karena ia penasaran dengan siapa yang datang. Namun ia ingin segera mengusir orang asing yang berani masuk kedalam kamar pribadinya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2