
"ayo turun" ajak kak dean yang langsung turun dari mobilnya.
"dua putra wijaya group" plang besar tertulis didepan gedung itu. membuat hati zelia bertanya apa ini kantor kak dean? lalu untuk apa aku dibawa kesini? bukankah ini sudah hampir jam pulang kerja?
pertanyaan yang tak mampu terucapkan karena kak dean masih saja memasang wajah datar. pertanyaan yang satu belum terjawab, zelia sudah menambahkan pertanyaan baru di benak dean, itu yang membuat dean memasang mimik wajah datar. entah sejak kapan ia terlihat tua di mata zelia. hatinya benar-benar berhasil zelia buat kesal.
mereka bertemu dengan beberapa karyawan wanita yang menyapa ramah bos nya, namun kak dean tak merespon tegur sapa mereka. hanya zelia yang tersenyum dan mengangguk sebagai salah satu bentuk hormat terhadap seseorang yang pasti usia nya jauh lebih tua darinya.
"apa itu karyawan baru? kok masih anak kuliahan? masih bocah banget?! " kasak kusuk dua wanita yang tadi menyapa kak dean namun terabaikan berhasil menembus ke telinga zelia.
zelia tak menghiraukan mereka ia tetap saja mengekor dibelakang kak dean yang berjalan menyusuri koridor. sesekali matanya memutar ke seluruh ruangan dan gedung yang begitu megah. bangunan yang pasti sangat memakan biaya banyak untuk pembangunannya. belum lagi furniture yang terpampang disana, terlihat begitu cantik dan elegant. pasti itu mahal ! ucap zelia lirih saat matanya tertuju pada sebuah lemari besar berisi berkas-berkas kantor
"kantor ini kan bergerak di bidang furniture, jangan tanya mahal. untuk kantor sendiri tak perlu perhitungan" jawab dean yang ternyata mendengar ucapan zelia. zelia membungkam mulut dengan kedua tangan, mengapa bisa ia keceplosan didepan sipemilik kantor.
"ayo masuk" ajak kak dean saat mereka tiba didepan pintu ruangan yang terlihat berbeda dengan ruangan lainnya. ukuran ruangan ini terlihat tiga kali lipas lebih besar dari ruangan lain, belum lagi beberapa furniture-furniture minimalis namun bisa dipastikan bahwa harga nya sangat mahal mampu meninggalkan kesan mewah pada ruangan tersebut.
"kamu tunggu disana" ucap kak dean sambil menunjuk ke arah sofa yang berada sedikit jauh dari meja kerja nya.
zelia berjalan tanpa banyak bertanya kepada kak dean yang sepertinya masih kesal kepadanya. sedangkan kak dean duduk di depan meja kerja lalu menandatangani beberapa berkas yang zelia sendiri pun tak tau itu berkas apa. zelia merebahkan tubuh disofa dengan kepala yang bersandar ditepi pembatas sambil memainkan handphone.
dean yang menatap sekilas ke arah zelia merasa bersalah karena sejak tadi ia mengabaikan wanita yang sedari tadi menemani nya. dean mengatur nafas, membuang dan menghembuskannya berulang kali agar rasa kesal dihatinya pun terhempas bersama hembusan nafas.
dean berjalan mendekat ke arah zelia meninggalkan berkas-berkas yang telah selesai ia tanda tangani.
__ADS_1
"zel, are you okey" ucap kak dean sambil memegang ujung kepala zelia karena dean berjalan dari arah belakang zelia merebahkan diri.
zelia tersenyum melihat wajah kak dean yang kini tak lagi datar dan tersenyum kepada nya.
"zeli, kamu demam!!" ucap kak dean tersentak saat kening yang juga terpegang memberikan hantaran panas. dean berulang kali menempelkan bahu telapak tangannya pada kening zelia.
"ah gak apa-apa kak, ini karena kehujanan kemarin, bentar lagi juga sembuh" sahut zelia santai yang kini berubah posisi nya menjadi duduk disebelah kak dean.
"tunggu sebentar, kakak akan menelpon karyawan kakak untuk antar obat dan teh hangat buat kamu" kak dean kembali berjalan menuju meja kerja nya dan menelpon salah satu karyawan menggunakan telepon kantor. kak dean kembali duduk disebelah zelia setelah ia selesai menelpon. tangannya bergerak memegang kening zelia berulang kali yang justru membuat zelia merasa risih bahwasannya ia merasa kak dean memperlakukannya seperti anak kecil .
apakah sebegitu paniknya kak dean melihatku sakit? pikirnya. jauh dalam lubuk hatinya merasa senang karena kak dean sangat memperhatikannya. namun lagi-lagu ia merasa risih saat kak dean berulang kali memegang keningnya bahkan memberi ide untuk mengompresnya seperti anak kecil.
tok tok tok
pintu utama ruangan itu diketuk oleh seorang karyawan yang datang mengantarkan obat dan teh hangat untuk zelia.
"cabiku diminum obatnya, biar kamu cepat sembuh" ucap kak dean sambil kembali memastikan suhu tubuh zelia.
"ya ampun, kenapa karyawan itu tak membawakan air putih. apa aku harus minum obat dengan teh hangat ini? bisa terbakar dong tenggorokan zeli"
zelia menatap ke meja dihadapannya yang hanya ada obat dan teh hangat. mungkin karyawan itu sangat mengikuti perintah kak dean yang tak menyuruhnya membawakan air putih juga. zelia bangkit dan hendak berjalan mengambil air putih yang berada tak jauh dari tempat duduknya. namun lagi-lagi naas, kaki zelia tersandung dan beradu dengan kaki meja yang membuatnya terjatuh tepat dipangkuan dean. dean pun dengan sigap menompang tubuh zelia menahan bagian belakang zelia dengan satu tangannya.
mata dean menatap wajah zelia yang kini berada tepat di hadapannya dan hanya berjarak beberapa centimeter saja. begitupun zelia yang juga menatap dean hingga membuat keempat mata mereka saling bertemu cukup lama. dean menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah zelia, sedangkan zelia masih terdiam sambil terus menatap dean.
__ADS_1
kali ini mata dean tertuju pada sebuah benda kenyal yang manis dan merona, benar-benar sungguh menggugah hasrat dan gairahnya yang sempat tertunda sejak tadi pagi. inilah jawaban atas apa yang tadi belum tertuntaskan. tanpa harus dean meminta namun zelia sudah menyuguhkannya meski tanpa sengaja. zelia memejamkan mata saat wajah dean semakin mendekati wajahnya.
hati zelia berdegup kencang, rasanya masih sama seperti pertama kali kak dean melakukan itu terhadapnya. yaa... kak dean yang berhasil mendapatkan first kiss zelia saat listrik padam malam itu. dan kini lembut manis bibir kak dean pun seolah menjadi candu untuk nya, hingga ia tak pernah memberikan penolakan atas perlakuan yang akan kak dean berikan untuknya.
dean mendekatkan wajahnya lebih dekat dan penuh rasa kehati-hatian. jantungnya pun tak kalah berdebar hebat meski ini bukan pertama kalinya ia melakukan itu dengan wanita, karena sebelumnya kak dean pernah mendaratkan ciuman yang sama pada tiara. namun pesona zelia selalu mampu membuat jantung nya seperti mau copot dari tempatnya. apa karena dia sudah lama tak melakukan ini? hingga baginya ini seperti ciuman dengan wanita pertama yang sangat ia cintai.
dean pun memejamkan mata berusaha menikmati suasana dan kenikmatan yang akan mereka berdua ciptakan. tiba-tiba...
.
.
ceklek
pintu utama ruang kerja dean sengaja dibuka oleh seseorang yang membuat dean menghentikan aksi bibirnya yang hampir sudah mendarat sempurna namun belum saling bertautan.
"awww" pekik lelaki yang baru saja masuk itu sambil memalingkan wajah dan menutup kedua mata dengan sebelah tangannya.
"sudah?" tanya nya tanpa berdosa lalu perlahan kembali memalingkan wajah untuk menatap dean dan zelia yang sudah duduk dan sedikit berjarak.
dean mengusap wajahnya kasar, lagi-lagi rasa kesal di hatinya kembali hadir tapi kali ini bukan karena zelia, namun karena orang yang menerobos masuk keruangannya tanpa permisi.
"sorry......" ucap lelaki itu seraya menarik tangannya yang ia pakai untuk menutupi mata.
__ADS_1
"ABANG....???!" pekik zelia terkejut dengan siapa yang datang.
"what abang????" batin dean lebih terkejut saat mendengar panggilan itu zelia lontarkan untuk lelaki yang masih berdiri depan pintu.