
Citra kini merasa resah karena sudah beberapa minggu tak ada kabar dari sean. Bahkan kini sean nampak selalu menghindar darinya, entah karena benda yang ia taruh didalam tas sean waktu itu atau entah karena apa, namun akhir-akhir ini sean begitu sulit untuk ia temui.
citra berulang kali mengirim pesan pada sean, namun hanya sebatas centang dua berwarna biru tanpa ada respon balasan. Setiap kali citra berusaha untuk menelponnya, sean tak pernah mau menjawab panggilannya.
Citra bahkan hampir saja depresi, meski perut nya belum membesar tapi ada bayi yang butuh kasih sayang dan pertanggung jawaban ayahnya.
"ndan apa lo tau kemana sean? Kenapa dia jarang sekali masuk kuliah?"
Tanya citra pada bondan yang ia tau bondan adalah satu-satunya teman yang sangat akrab dengan sean.
"mana gue tau" sahut bondan tak mau ambil pusing dan terus berjalan tanpa menanggapi ocehan citra yang berjalan beriringan dengannya.
Sebenarnya bondan telah mengetahui kemana sean akhir-akhir ini pergi hingga sering tak masuk kelas. Bahkan bondan lah yang menjadi satu-satunya tempat untuk sean menceritakan semua masalah antara dirinya dan zelia.
Namun bondanpun tak mengetahui bahwa saat ini citra tengah mengandung anak sean, dan pertengkaran yang terjadi antara sean dan zelia semua karena ulah citra.
Bondan jalan berlalu begitu saja meninggalkan citra tanpa rasa peduli sedikitpun terhadapnya.
Citra mendengus kesal, tak ada pilihan lain selain nekat untuk mendatangi sean langsung kerumah nya dan meminta pertanggung jawaban atas apa yang telah terjadi pada dirinya.
.
"bukan citra namanya kalau tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan"
citra tersenyum smirk membayangkan bagaimana dia akan berbuat nekat untuk menemui sean dan meminta pertanggung jawaban sean di depan keluarga nya.
.
.
Sean merebahkan tubuhnya di sofa depan televisi. Entah mengapa setelah kepergian dean dan zelia dari rumah itu, suasana rumah terasa menjadi sepi dan sunyi. Tak ada lagi pertengkaran-pertengkaran kecil antara dirinya dan zelia yang sudah seperti tikus dan kucing.
"apa ini yang dinamakan rindu?"
Tanya sean pada dirinya sendiri saat pikirannya selalu saja mengingat semua kenangan saat bersama zelia.
"kamu gak boleh rindu se, dia wanita penghianat !! Kamu gak boleh mencintainya"
sean bermonolog untuk mencoba mensugesti dirinya sendiri agar tak selalu memikirkan zelia.
.
setelah kepergian anak sulung dan menantunya, bu ida pun kini nampak sering mengurung diri dikamar. Bahkan ia nampak sering telat makan.
Wajahnya nampak pucat dan lesu, sepertinya sangat banyak beban yang menghantam pikirannya saat ia kembali ke jakarta . Ia tak menyangka bahwa kepulangannya ke jakarta akan disuguhi dengan banyaknya masalah yang datang secara bertubi-tubi.
Sedangkan pak arman yang masih berada di luar kota pun sebenarnya sudah mengetahui semua yang terjadi. Namun ia tetap terlihat tenang meski sebenarnya isi kepala nya sedang bekerja keras untuk mencari bagaimana solusi terbaik untuk mereka semua.
__ADS_1
ia pun ingin segera kembali ke jakarta setelah pekerjaannya selesai karena tak tega melihat sang istri yang menanggung semua masalah itu sendiri.
.
.
Tok tok tok
Pintu rumah arman wijaya di ketuk oleh seseorang. Bi darmi segera membukakan pintu untuk melihat siapa tamu yang datang.
Terlihat citra yang kini telah berdiri diambang pintu saat baru saja dibuka. bi darmi mempersilahkan citra untuk masuk. Citrapun mengikuti instruksi bi darmi masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
"ada apa non citra?"
Tanya bi darmi pada citra yang telah lama tak datang kerumah itu. Bi darmi memang sudah mengenal citra namun tak tau kalau sean masih menjalin hubungan dengannya hingga saat ini.
"sean ada? Aku ingin bertemu dengannya !"
Ucap citra dengan nada sedikit membentak.
citra memang seorang wanita yang terkenal dengan perkataannya yang selalu angkuh dan sombong. bi darmi menggelengkan kepala entah karena apa tuan muda nya bisa mencintai wanita sombong yang berada dihadapannya.
Bi darmi beranjak pergi untuk memanggil sean yang sedang asyik bermain handphone diruang televisi.
"den, ada yang nyariin?"
"siapa? Paling juga abang kurir" sahut sean santai.
"bukan den, tapi non citra "
jelas bi darmi.
"citraaaaaa??!"
Sean terkejut saat mengetahui bahwa citra lah yang datang untuk menemui nya. Dean bangkit dan mengusap wajahnya kasar.
Disaat hati dan perasaannya yang sedang kalut karena zelia, citra malah datang dan akan membuat keruh suasana.
Sean sengaja menghindar dari citra agar citra tak membuat semua permasalahannya semakin rumit. Namun tak di sangka bahwa citra akan senekat ini untuk menemuinya dan datang langsung ke rumah.
Sean berjalan ke ruang tamu dengan langkah gontai. Sejujurnya saat ini ia malas untuk menemui kekasihnya, namun sean tak ingin citra membuat keributan dirumah itu .
Citra mengembangkan senyumnya saat melihat sean muncul mendekat ke arahnya.
"kamu kemana aja sih sayang? Aku selalu mencari-cari kamu"
Ucap citra dengan gaya nya yang sok manis dan langsung bergelayut di lengan sean dengan manja.
__ADS_1
Sean memutar matanya malas, karena ia tau citra akan selebay ini apalagi jika lama tak berjumpa dengannya.
"untuk apa kamu datang kesini?"
sean langsung menanyakan tujuan utama citra mendatanginya.
"kok kamu tanya begitu? Emang kamu gak rindu sama aku?"
Balas citra saat mendapat respon dingin dari sean tak seperti biasanya.
Sean memutar mata nya malas, ia melepaskan tangan citra yang bergelayut pada lengannya.
"aku ingin istirahat, aku lagi gak mau diganggu" kata sean yang secara tak langsung ia menyuruh citra untuk keluar dari rumahnya.
"jadi kamu ngusir aku??? Jadi bagimu kedatanganku kesini hanya menggangu istirahatmu???!!!"
suara citra mulai meninggi tak lagi manja seperti sebelumnya.
"aku kesini untuk meminta pertanggung jawaban dari mu se !!!" pekik citra saat sean bersikap dingin dengan wajah datar untuk menyambut kedatangannya.
"maksud kamu ??? pertanggung jawaban seperti apa yang kamu minta dari aku?? Uang bulanan untuk shopping? Kesalon?? Atau pertanggung jawaban apa ???"
sean tersenyum smirk, ini pertama kalinya ia berkata kasar pada citra. Mungkin karena masalahnya pada zelia membuatnya mudah sekali terpancing emosi.
Plakkkk
Citra menampar wajah sean dengan kerasnya karena ucapan sean yang terkesan begitu merendahkan.
" aku meminta pertanggung jawaban dari kamu se !!! Aku hamil !!!"
Teriak citra tanpa peduli suaranya menggelegar hingga memenuhi isi rumah.
Bik darmi yang berada didalam dapurpun cukup terkejut mendengar pernyataan citra yang terdengar hingga ke telinga nya.
Lalu apa kabar dengan bu ida?
tubuh bu ida kini terperosok jatuh ke lantai dengan bertumpu pada dua lutut yang menjadi penompang tubuhnya.
Bu ida sejak tadi melihat sean dan citra yang tengah berdebat. Pekikan suara citra membuat nya bangun dan melihat keributan apa lagi yang terjadi dirumahnya.
Namun kali ini kaki bu ida terasa begitu lemas setelah mendengar pengakuan citra tentang kehamilannya. Tulang-tulang dalam tubuhnya seperti terlepas dari tempatnya. Begitu pun dengan jantungnya yang seolah terperosok jatuh dari tempatnya.
hati bu ida terasa begitu sakit, jantungnya pun berdetak tak beraturan. Bahkan dadanya terasa begitu sesak. Bu ida memegang dadanya bersama buliran air mata yang mengalir begitu saja.
.
.
__ADS_1