
"kamu gak bisa bohongi kakak zel" dean masih menangkupkan kedua tangannya erat pada kedua pipi zelia. kini dean mulai mendekatkan wajahnya pada wajah zelia.
hati zelia merasa rapuh dan luluh hingga akhirnya air mata yang sedari tadi ia tahan telah berhasil melintas dipipi mulusnya.
menyadari wanita dihadapannya menitihkan airmata, deanpun memeluk erat tubuh zelia menenggelamkan kepala zelia pada dada bidang miliknya.
"maafin kakak, maaf "
hanya itu kata yang mampu dean ucapkan berulang kali saat ia tak tau harus dengan cara apa untuk merayu wanita dihadapannya yang sedang merajuk entah karena sebab yang sama sekali tak ia ketahui.
"apa zeli cuma pelampiasan?" tanya zelia datar meski tubuhnya masih terdekap dalam pelukan dean .
"no zel, siapa yang bilang? kamu segalanya bagi kakak" sahut dean yang merasa terkejut saat mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut wanita kesayangannya.
"apa zeli terlihat sebagai wanita jal*ng?" tanya zelia ditengah isakan tangis yang masih berusaha untuk ia tahan. zelia masih belum sanggup untuk menatap wajah dean meski kini dean menatap dirinya intens dan penuh banyak pertanyaan mengapa zelia bertanya seperti ini.
degggh
jantung dean seolah seketika berhenti berdetak saat mendengar pertanyaan yang tak lazim yang terlontar keluar dari mulut wanita yang berada dalam dekapannya ini.
__ADS_1
"mengapa kamu tanya begitu? " dean tak habis fikir mengapa anggapan seburuk itu bisa terlintas di fikiran zelia untuk dirinya sendiri.
"apakah zeli ini bisa dibilang wanita baik-baik, sedangkan dalam hidup zeli ada dua lelaki yang bersanding dengan zeli. apa benar kata orang, bahwa zeli ini perempuan jal*ng?! apa zeli seburuk itu hingga orang-orang memandang zeli sehina itu? " tanya zelia dalam sesak karena tangis yang mengalir semakin deras. zelia berulang kali menyeka air matanya, namun sudah tak dapat lagi ia bendung.
dean mengusap rambut zelia perlahan dan lembut, hatinya merasa sakit saat zelia berfikiran seperti itu untuk dirinya sendiri. karena realitanya zelia adalah wanita spesial yang paling dean cinta. lantas apakah alasan orang-orang memberi anggapan seburuk itu untuk kekasihnya? batin dean bertanya-tanya, karena yang ia tau bahwa zelia adalah gadis baik-baik yang terjerat dalam asmara cintanya. ini bukan salah zelia, bukan pula salah siapa-siapa. karena memang tak ada yang bisa disalahkan jika sudah mengenai masalah hati yang terkadang sulit untuk dikendalikan.
"zel... tolong denger kakak. kamu segalanya buat kakak, sedikitpun tak pernah terlintas dalam benak kakak untuk memandangmu serendah itu. kamu adalah prioritas kebanggan kakak zel. percayalah, kakak akan selalu menyayangimu" dean kini kembali menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi zelia, membuat zelia dapat memandang dan memperhatikan dengan seksama ucapannya
"kamu lah penentu hidupmu. biarkan orang lain memandangmu sebelah mata, karena untuk menghidupkan hidupmu yang sesungguhnya, kamu tak membutuhkan kedua mata mereka yang sama sekali tak berperan penting dalam kehidupanmu" lanjut dean dengan tenang sambil melakukan gerakan berulang-ulang untuk mengelus rambut zelia dengan lembut.
dean mencoba menenangkan hati zelia yang pasti sedang bergemuruh. namun benar, pelukan serta perlakuan lembut dan mesra serta perkataan yang teduh mampu menenangkan hati zelia yang sedang rancu dan emosi nya yang membara.
"kakak akan menyayangimu, tak perduli seisi dunia berkata apa tetangmu, namun tekad kakak untuk memperjuangkanmu tetaplah bertengger dengan kokoh. kakak tau, jika saat ini ada dua lelaki dalam hidupmu. namun kakak sangat yakin bahwa hanya ada satu nama yang sudah melekat dan menyatu dalam relung hatimu"
"yaudah jangan nangis lagi, nanti cantiknya luntur" dean mencubit batang hidung zelia yang mancung sambil terkekeh kecil saat tengah menggoda wanitanya yang sepertinya sudah mendapatkan mood nya kembali.
"kakak" zelia mencubit perut dean karena merasa malu ketika dean suka menggodanya. dean menggeliat kesakitan, namun cubitan cinta itu lah yang selalu dean rindukan saat mereka tak lagi bersama.
"yaampun zeli apa ini??? " dean berpura-pura terkejut saat melihat ke kemeja yang sedang ia pakai basah karena sesuatu menempel dan tertinggal disana.
__ADS_1
"sorry" ucap zelia lirih sambil nyengir kuda karena merasa bersalah meninggalkan sisa ingus yang menempel pada kemeja kakak iparnya.
"nanti zeli cuciin deh kak" sahut zelia sebelum mendengar ocehan dean atas ulahnya.
"oke, tapi bukan cuma baju ini aja yang harus kamu cuci tapi semua baju kakak harus kamu cuci juga" ledek dean yang berusaha mencairkan suasana agar zelia tak lagi bersedih dengan memberikan lelucon yang membuat zelia pasti akan kembali menjadi wanita yang berani, periang dan keras kepala.
"hiss, yang zeli kotorin kan cuma yang ini. kenapa harus zeli cuci semua?? lagian, udah tau zeli nangis malah dipeluk ya nempel semua dong ingusnya" sahut zelia kesal sambil melipat kedua tangannya didepan dada .
dean terkekeh mendengar ucapan zelia yang polos dan galak namun selalu ia rindukan.
"iya karena kakak sayang kamu, jadi kakak peluk kamu dong. karena kakak tau obat penenangmu cuma itu" ledek dean dengan rasa percaya diri yang lebih meningkat.
"cckkkkk" zelia berdecak melihat lelaki Dihadapannya ini sudah menunjukkan sifat asli yaitu sifat percaya diri dengan kadar yang terlalu tinggi. dean terbahak melihat zelia yang sudah tak lagi merajuk seperti anak kecil yang minta dibelikan lollipop.
"kita mau kemana? " tanya dean sambil menginjak pedal gas melanjutkan perjalanan mereka.
"pulang aja kak, zeli lelah" zelia menyandarkan tubuhnya pada dinding kursi mobil dean.
"sini" dean menepuk sebelah bahunya mengisyaratkan kepada zelia untuk bersandar disana. "enggk ah, nanti ganggu kefokusan kakak nyetir" sahut zelia menolak ajakan lelakinya itu.
__ADS_1
"gak apa-apa cabiku, kakak ini pengemudi handal" ujar dean yang selalu diselimuti dengan rasa percaya diri yang begitu besar.
zelia pun menyandarkan kepala nya pada bahu dean berdasarkan instruksi yang sudah dean berikan. "pelan-pelan aja kak" ucap zelia lirih saat zelia menatap jarum speedometer mobil dean semakin bergerak ke kanan.