
"apa kau tau konsekuensinya jika api kecil itu suatu saat akan berubah menjadi api yang lebih besar?"
ucap pak arman dengan gaya bicara nya yang tenang dan terlihat santai namun tetap berwibawa.
Dean menarik kembali bungkusan kecil berwarna putih yang tadi ia sodorkan ke arah sang papa, karena ia paham bukan benda itu yang menjadi topik pembahasan papanya. Ada hal lain yang menganjal dalam hati dean namun sampai saat ini entah ke arah mana maksud dan tujuan obrolan pak arman.
"maksud papa?" tanya dean tampa basa basi sambil menatap pak arman dengan tatapan mengintimidasi.
"papa hanya mengingatkan. Jangan pernah bermain api, jika kamu tak sanggup melihat semua nya ikut terbakar" jawab pak arman.
glegggg
dean menelan saliva nya kasar. Hatinya sudah paham bahwa hubungan terlarang antara dirinya dan zelia lah yang sedang pak arman bicarakan. Sepertinya pak arman sudah mengendus hubungan yang telah lama mereka sembunyikan.
"dean sudah mengetahui apapun konsekuensi dari setiap jalan yang telah dean pilih"
jawab dean tak kalah santai nya dengan pak arman.
Begitulah kira nya hubungan antara bapak dan anak yang jarang sekali ada perdebatan. Pak arman yang selalu bersikap tenang mampu menengahi setiap permasalahan yang ada pada keluarga mereka tanpa ada rasa emosi apalagi kekerasan.
"bagus. Papa yakin kau pun sudah mempertimbangkan semua nya. Satu yang papa minta, jangan pernah merebutnya dengan paksa, papa tak ingin ada pertikaian" ucap pak arman mengingatkan anak sulungnya.
Disisi lain pak arman pun merasa bersalah pada keputusannya yang dulu begitu gegabah mengambil suatu keputusan untuk langsung menikahkan sean dan zelia hingga membuat semuanya menjadi seperti ini. Andai saja saat itu ia sempat membicarakan semuanya pada dean dan melibatkan dean dipermasalahannya, mungkin yang terjadi bukanlah seperti ini akhirnya.
Memaksa zelia untuk tetap mencintai sean pun hal yang salah bagi pak arman. Namun membiarkan dean terus bergerak tanpa ia ingatkan pun suatu kebodohan yang akan membuat semua orang terluka. Hatinya yang sedang dilema, namun tak ada jalan lain selain mencari jalan tengah agar semua baik-baik saja.
"apa papa sudah mengetahui semua nya?"
Tanya dean sambil kembali menatap ke arah pak arman menelisik setiap inci wajah pak arman untuk mencari aura baik yang mungkin akan ia pancarkan.
"apa yang tidak papa ketahui tentang anak-anak papa !! " jawab pak arman sambil tersenyum.
"apa papa menyetujui kami?"
__ADS_1
tanya dean mencari kepastian dari raut wajah pak arman yang selalu terlihat tenang namun sulit untuk diartikan.
"papa hanya menjadi penengah bagi mu dan sean. Jika papa bilang kamu harus menjauhinya !! apa kamu yakin bahwa hatimu tak akan terluka? dan tak akan membenci papa ?. Namun, seandainya papa setuju dengan hubungan kalian, apa bisa dipastikan hati adikmu disana akan baik-baik saja?.. "
Dean menundukkan kepala meresapi setiap perkataan pak arman yang pasti terasa berat berada di posisinya.
"papa masuk dulu. Lakukan apa yang memang seharuskan kamu lakukan, jangan merusak semua nya hingga waktunya tiba !!"
Pak arman menepuk bahu dean pelan lalu berjalan meninggalkan nya seorang diri menikmati hembusan angin. Dean memejamkan mata merasa dilema entah kapan ia bisa mengungkapkan semua tentang hubungan antara dirinya dan zelia pada keluarga yang lain. Apa mama masih bisa menerima nya kembali dan bersikap baik seperti papa saat ia tau bahwa dirinya saat ini mencintai adik iparnya sendiri? Pikiran dean berkelana menyusuri hati dan otak yang begitu rumit dan sulit untuk menyatu. Namun rasa cinta yang begitu besar membuatnya yakin bahwa semua akan berakhir bahagia. Ia yakin perjuangan dirinya dan zelia tak akan sia-sia, dan dia bertekad akan terus memperjuangkan zelia sekuat hatinya.
.
.
.
mereka bertiga sudah bersiap untuk kembali ke jakarta. Pak arman dan bu ida mengantar kepulangan ketiga anaknya sampai di bandara. Sean dan dean memeluk mama dan papa secara bergantian karena entah kapan lagi mereka dapat berjumpa. Begitupun dengan zelia yang memeluk sang mama mertua dilanjut dengan bersalaman dengan pak arman serta mencium punggung tangan pak arman dengan takdzim, meski zelia merasa seperti ada hal yang berbeda dari sikap pak arman kepadanya.
"iya sayang, kalian juga jaga kesehatan, baik-baik ya disana" jawab bu ida sambil tersenyum mengelus kepala putranya. Rasa rindu yang belum sepenuhnya terobati membuatnya merasa berat untuk kembali berpisah dengan ketiga anaknya.
sean pun kini bergantian memeluk sang mama yang memang lebih akrab dengannya dari pada dean.
"jaga istri mu baik-baik, jangan nakal !!" pesan yang selalu bu ida ucapkan untuk anak bungsunya yang masih saja bersikap manja dan kekanak-kanakan itu.
"siap bos" jawab sean seraya meletakkan telapak tangannya dikepala seperti memberi tanda hormat . begitulah sean yang memang selalu bertingkah konyol membuat siapa saja yang melihatnya pasti tertawa.
Sedangkan dean memutar kedua matanya mendengar jawaban dari adiknya. Karena selama dijakarta dean lah yang lebih dominan untuk selalu siaga menjaga zelia bukanlah sean ataupun orang lain.
Mereka pun naik ke pesawat dan terbang meninggalkan kota bali serta semua cerita kenangan selama disana.
.
.
__ADS_1
tibalah mereka bertiga di bandara internasional dijakarta. Ternyata Hans sudah lebih dulu menanti kedatangan mereka disana. Sebenarnya dean sempat meminta kepada pak kirman supir pribadi yang bekerja dirumah utama untuk menjemput kepulangan mereka di bandara. Namun ternyata semua diluar rencana, pak kirman sedang sakit hingga dengan terpaksa dean harus meminta hans untuk menjemputnya karena tak ada lagi orang lain yang dapat dimintai bantuan selain assisten pribadinya itu.
Hans menyambut kedatangan dean,sean dan zelia sambil tersenyum meski ketiga orang itu masih terlihat dari kejauhan. Hans mengerti mengapa alasan dean meninggalkan pekerjaannya cukup lama karena ada nya zelia yang ikut berlibur bersama mereka.
hans membuka kan pintu mobil bagian depan dan dean langsung masuk kedalam sana.
Begitupula dengan sean yang dengan sigap membukakan pintu untuk zelia dan langsung berganti membuka pintu untuk dirinya sendiri saat zelia telah lebih dulu masuk kedalam mobil tersebut.
Ada banyak hal yang mengganjal dalam hati hans tentang hubungan mereka bertiga. Hans yang belum mendapat cerita banyak dari dean tentang siapa zelia pun kini hatinya dipenuhi dengan banyak tanda tanya.
"siapa dia sebenarnya? apa hubungan dia didalam keluarga pak arman? Mengapa sean bertingkah seperti lebih perhatian terhadapnya?" batin hans bertanya-tanya meski tatapannya tetap fokus menatap jalanan.
Begitu pula dengan dean dan zelia yang merasa tak enak hati juga canggung saat harus satu mobil dengan hans dan sean.
tak banyak yang dapat mereka bicarakan sedangkan sean lebih dominan untuk berbicara selama di perjalanan.
"bang hans ! Jadi kapan nih rencana mau melepas masa lajang ?? Perasaan abang hans dan kak dean dari dulu anteng-anteng aja" tanya sean dengan datarnya tanpa ada rasa takut bahwa lawan bicaranya akan merasa tersinggung dengan ucapannya.
hanya senyum kecut yang dapat hans berikan untuk menanggapi mulut lemes sean adik dari bosnya itu.
"apa abang sama kak dean lagi berlomba siapa yang paling betah ngejomblo yaa??" kekeh sean saat mengingat umur kedua orang yang duduk di kursi depan tidaklah muda lagi.
"lemes banget ni bocah! Kalo aja bukan adik bos, udah gue sumpel kaos kaki tuh mulut" umpat hans merasa kesal atas perkataan sean, namun lagi dan lagi ia hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban.
dean menghela nafas panjang, sedangkan hans sekilas melirik kearah dean dengan tatapan penuh pertanyaan yang menuntut.
"siapa dia? Mengapa sean tak mengetahui tentang hubungan kalian sedangkan dia nyata ada diantara kalian??"
tatapan hans mengisyaratkan pertanyaan yang kurang lebihnya berisi tentang itu. Hans benar-benar merasa bingung dengan hubungan antara mereka bertiga. Dengan terpaksa dean pun harus mengumpulkan banyak mental untuk menceritakan semua nya pada hans nanti jika sudah tepat waktunya.
.
.
__ADS_1