
Dean mengakhiri panggilannya membuat hans disebrang sana terkekeh geli melihat tingkah bos nya yang sedang bucin seperti anak abg.
dean memijat pangkal hidungnya. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama disini untuk menemani zelia. namun tak ada pilihan lain selain pulang untuk menemui klien karena ada tender besar yang harus ia selesaikan.
"kenapa?" tanya zelia yang seketika melihat raut wajah dean berubah menjadi masam setelah berbicara dengan seseorang dari telpon.
"3 hari lagi kakak harus pulang, ada kerjaan yang harus kakak selesaikan. Kamu gak apa-apa kan disini sendirian?" dean menatap wajah zelia yang terlihat begitu teduh dan sangat menenangkan hatinya yang sedang gusar.
"zeli kan disini sama om irwan dan tante ressa kak, zeli enggak sendirian. Kakak gak usah khawatir" zelia pun balas menatap dean dan sisipi dengan senyuman manis diwajahnya. Justru senyuman itu yang membuat dean merasa semakin berat untuk meninggalkan kekasihnya ini seorang diri. Seandainya saja zelia mau untuk ikut pulang bersamanya tentu dean akan merasa senang, namun dean tak mungkin memberikan penawaran itu sedangkan rasa rindu dalam hati zelia tentu belum sepenuhnya tercurahkan.
"kakak janji, kakak akan jemput kamu nanti kalau urusan kakak selesai" dean menggenggam tangan zelia. Zelia hanya mengganguk, betapa ia dapat merasakan bahwa lelaki yang selalu berada disampingnya ini merasa begitu berat untuk berpisah dengannya.
Dean merengkuh pundak zelia dan menyandarkan kepala zelia dipundaknya. Keteduhan yang selalu ia rasakan ketika ia bersama wanita yang menyandang gelar sebagai adik iparnya ini memang tak dapat ditepiskan dari dalam hatinya.
.
.
"aaawwhhh aduhhhh zell zeliiiii"
pekikan suara tante ressa dari dalam rumah membuat mereka berhambur masuk untuk mencari dari mana sumber suara itu.
"aaaawwwhhh zel to_tooolong"
"tantee, tante kenapa te" zelia memaksa masuk ke kamar mandi pribadi tante ressa yang berada didalam kamar karena ia merasa bahwa sumber suara itu berasal dari sana.
"darah... Tan... Tante kenapa?" tanya zelia panik saat melihat aliran darah mengalir di kaki tante ressa yang sedang meringis kesakitan.
"sepertinya tante akan melahirkan zel" ucap tante ressa terbata-bata karena menahan sakit di perutnya.
__ADS_1
"ayok te kita harus segera kerumah sakit"
zelia dan dean membantu tante ressa berjalan ke mobil dan membawa nya kerumah sakit. Diperjalanan zelia segera menghubungi om irwan agar langsung menyusul mereka di rumah sakit. Dean yang duduk di kursi kemudi seorang diripun kini mengemudikan mobilnya sedikit lebih cepat karena melihat tante ressa yang meraung kesakitan dibagian perutnya. sedangkan zelia berusaha untuk membantu mengurangi rasa sakit dengan berulang kali mengelus perut tante ressa.
mobil dean pun sudah berhenti didepan rumah sakit. beberapa perawat dengan sigap menyambut kedatangan mereka dengan membawa brankar dan langsung membawa tante ressa keruangan bersalin. Zelia pun langsung turun dan ikut membuntuti kemana tante ressa dibawa.
setelah memarkirkan mobil ditempat parkir khusus mobil, dean segera mendatangi zelia yang sudah berada diluar ruangan bersalin. Bertepatan dengan itu, om irwan pun tiba dirumah sakit dan berjalan dengan tergesa-gesa menemui mereka berdua yang sedang duduk dikursi tunggu.
"tante mana?" om irwan pun tak kalah paniknya saat mengetahui sang istri berada dirumah sakit. Terlihat nafas nya yang tak beraturan membuat dada nya naik turun dan sedikit tersengal sengal. Mungkin karena jauhnya jarak antara tempat parkir dan ruang bersalin membuatnya berjalan bahkan setengah berlari.
zelia mengarahkan om irwan agar menemani tante ressa di dalam ruangan. Karena memang sejak tadi dokter yang akan menangani tante ressa pun meminta suami nya untuk menemani sang istri yang hendak melahirkan untuk memberi semangat dan kekuatan.
tante ressa sejak awal memang lebih memilih untuk melahirkan secara normal. Oleh karena itu ia butuh support sang suami agar berada disampingnya saat melahirkan.
.
.
Oeek oek oekk
Cukup lama mereka berdua saling berpelukan untuk saling menenangkan. Kini raut bahagia diantara mereka tercurah saat terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan itu.
tak lama kemudian om irwan pun keluar dengan raut wajah yang begitu bahagia. zelia berhambur memeluk oom nya sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa bahagianya.
"om, dedek bayi nya cowok apa cewek?" zelia mendongakan kepala nya menatap wajah om irwan.
"jagoan dong li" jawab om irwan sambil tersenyum lebar mengingat anak nya lahir dengan sehat dan selamat.
"selamat ya om" zelia kembali memeluk erat tubuh om irwan karena ia pun merasakan kebahagiaan yang sama seperti oomnya.
__ADS_1
"selamat ya om, sekarang udah menjadi ayah" dean mengulurkan tangan kemudian om irwan pun menjabat tangan dean dan saling melempar senyum.
.
Tante ressa pun kini telah di pindahkan keruangan rawat inap. Dean dan zelia pun ikut memandang bayi mungil yang berada dalam box bayi diruangan yang sama dengan tante ressa.
"hallo jagoan kecil, Kesayangan kakak zelia yang cantik. kamu ganteng amatt ttihhh" ucap zelia dengan sedikit cedal sambil mencubit gemas pipi chubby bayi itu.
"iya dong, aku kan ganteng kaya cowok yang disamping kakak zeli" sahut dean seolah-olah ia menjadi bayi tersebut.
"ihh kakak ini" zelia mencubit perut dean membuat dean menggeliat sambil tertawa geli .
Om irwan dan tante ressa yang juga berada dalam ruangan itu tersenyum karena ikut larut dalam kebahagiaan yang mereka ciptakan.
.
.
Tante ressa pun kini sudah diizinkan untuk pulang. Zelia menggendong keponakannya sedangkan om irwan membantu tante ressa untuk berjalan masuk kedalam rumah. Dean pun turut andil membantu mereka dengan membawa beberapa tas berisi pakaian baby .
"tante jangan banyak gerak dulu, untuk masalah rumah biar zeli yang urus" ucap zelia seraya meletakkan bayi yang sudah terlelap dalam gendongannya kedalam box bayi.
"makasih ya li, untung ada kamu disini" ucap tante ressa .
.
.
Zelia segera menuju dapur untuk memasak beberapa menu untuk makan malam. Tak lupa ia masak sayuran untuk tante ressa agar asi nya semakin lancar. Dean membantu zelia menyiapkan makanan dengan memotong beberapa sayuran yang hendak dimasak. Sungguh kerja sama yang bagus diantara mereka berdua membuat makan malam yang mereka masak siap tepat pada waktunya.
__ADS_1