
zelia menatap hans dengan tatapan sedikit terkejut, ia tak habis pikir mengapa ia bisa kembali bertemu dengan laki-laki yang kemarin mengantarnya pulang.
sedangkan dean menatap ke arah zelia dan hans secara bergantian dengan tatapan yang tak kalah terkejut nya, mengapa zelia dan hans sudah saling kenal ?bahkan zelia memanggil hans dengan panggilan abang? pikirnya.
"hay kita ketemu lagi" hans melambaikan tangan ke arah zelia sambil nyengir menunjukkan gigi gingsulnya.
seketika dean menatap tajam ke arah hans merasa tak terima melihat assistennya itu tersenyum kepada kekasihnya.
"kalian kenal? abang?!!! ngapa kamu panggil dia abang?!!!" ucap dean sambil menatap ke arah zelia intens.
zelia malah terkekeh melihat raut wajah dean yang terlihat sangat sulit untuk diartikan, antara marah, kesal, benci, dan cemburu... entahlah.... bukannya terlihat menakutkan, dimata zelia dean justru terlihat menggemaskan.
"nanti zeli jelasin kak" ucap zelia yang merasa sangat gemas dengan kakak iparnya itu bahkan tak tahan untuk tidak mencubit pipinya. hans terkekeh geli melihat bos nya yang selalu bersikap galak dan dingin dengan wanita kini bisa secemburu itu bahkan diperlakukan dengan manja layaknya anak kecil.
"ngapa lo ketawa, sana !!" ucap dean tegas sambil mengarahkan mata nya menatap ke meja kerja mengisyaratkan hans untuk beralih menuju ke meja kerja nya.
hans menuruti perintah bos nya sambil menahan tawa, hans berjalan menuju meja kerja dean yang sedikit jauh dengan sofa tempat dean dan zelia berada.
"kamu tunggu disini dulu ! kakak mau nemuin hans, tapi tugasmu belum selesai !" ujar dean lalu meninggalkan zelia berjalan menuju meja kerja nya.
tugas??? tugas yang mana? penjelasan tentang abang hans atau sesuatu yang tertunda??" zelia terkekeh saat hatinya mempertanyakan maksud dari ucapan kak dean.
.
.
"kalian hampir saja menodai mataku" ucap hans yang sudah duduk dikursi depan meja kerja dean.
__ADS_1
"ceroboh!!! lain kali kalo mau masuk ketuk pintu dulu!!" ucap dean dengan penuh penekanan disetiap kata-kata nya. namun, semua itu bukanlah hal yang aneh bagi hans karena ia memang sering mendapatkan makian atau ucapan-ucapan kasar dari dean. hans sudah paham betul tentang bagaimana sifat dean yang sebenarnya, karena memang mereka sudah bersahabat sejak SMA.
"sorry, gue kira lo sendiri, eh... gataunya ada_" hans tak melanjutkan kata-kata nya karena langsung mendapat tatapan tajam dari dean yang kini sudah duduk dihadapannya.
"ada apa?" tanya dean memotong ucapan hans.
"he he he enggak de" hans menggaruk kepala nya , lalu menyodorkan berkas yang sedari tadi sudah ada dimeja kerja dean agar berkas itu semakin mendekat kehadapan dean.
"ngomong-ngomong sedari dulu selera lo gak berubah ya, lo suka nya daun muda" ucap hans sambil terkekeh kecil lalu melirik sekilas kearah zelia yang usianya terlihat jauh lebih muda dibanding dean.
hans kembali mengingat bahwa sejak dulu dean memang menyukai wanita yang usia nya dibawah mereka. begitupun dengan tiara, sejak dulu hans satu-satu nya sahabat yang menjadi saksi bagaimana perjalanan cinta dean dan tiara, saat itu tiara adalah adik kelas dua tahun dibawah mereka. namun dean tetap kekeh untuk menjalin cinta dengannya. hingga akhirnya kisah cinta mereka berakhir dengan tragis saat tiara meninggal karena mengalami kecelakaan.
cletak....
dean menyentil kening hans saat melihat hans yang melamun . "aduhh sakit de" hans tersadar dari lamunan yang mengingatkannya dengan tiara, hans mengelus kening nya yang terasa sakit karena ulah dean.
"oh jadi nama dia zelia" ucap hans sambil mengangguk pelan.
"awas kalo lo macem-macem sama dia!!" ancam dean kepada hans.
hans terkekeh melihat dean yang sepertinya sangat takut kehilangan wanita yang berada diruangannya ini .
"emang dia siapa lo de?" pertanyaan hans membuat hati dean menjadi bimbang entah harus menjawab dia kekasihnya atau adik iparnya. dean menghela nafas panjang, seperti ada yang ingin ia ceritakan tapi bukan disini dan bukan untuk saat ini.
"kenapa de?" hans kembali bertanya saat melihat raut wajah dean yang seketika berubah saat ditanya tentang status antara dia dan zelia yang sebenarnya
.
__ADS_1
.
"enggak apa-apa, ngomong-ngomong lo kesini mau ngapa?? ini berkas udah gue jauhin malah lo deketin lagi, ini semua udah gue tanda tangan !" ujar dean mengalihkan pembahasan tentang zelia yang membuat hatinya semakit tersudut.
"oh" hans menarik kembali berkas yang ia geser mendekat ke arah dean, "gue cuma mau ngingetin aja, kalo dua minggu lagi ada metting sama klien yang dari jepang" ucap hans yang lagi-lagi hanya bisa nyengir kuda karena seperti mencium gelagat dean yang akan marah mendengar ucapannya.
"bangsrutttt !!! jadi lo kesini cuma mau ngomong begituan doang??!!" tangan dean mengepal kuat, rahangnya mengeras. rasanya ingin sekali dean menghantam wajah hans saat ini juga. andai saja zelia tak berada disana mungkin pendaratan empuk sudah ia berikan kepada assisten yang menyebalkan itu.
mata dean membulat sempurna sedangkan hans hanya bisa nyengir merasa bersalah dan tak enak hati karena kehadirannya telah mengganggu moment penting bosnya.
"sorry, gue cuma takut lo lupa de" kata hans sambil menggaruk kepala nya yang tak terasa gatal.
"gara-gara lo, gue kehilangan momen spesial gue hans" ucap dean dengan penuh penekanan, dean memijat pelipis mata nya mencoba menahan emosi yang hendak meledak, namun ia sadar hans satu-satunya orang yang selalu setia dengannya.
"enyah kau dari ruangan ini !!" ucap dean yang masih memijat pelipis mata sambil terpejam. "oke oke" sahut hans yang langsung belangkit dari tempat duduknya. hans paham bahwa dean pasti sangat marah dengannya, namun hans tak pernah merasa tersinggung atau sakit hati atas ucapan dan perlakuan dean kepada nya. karena berkat dean, dia bisa mendapatkan jabatan dan penghasilan yang cukup untuk menghidupi orangtua dan adik-adiknya di kampung.
hans berjalan meninggalkan dean yang masih terduduk didepan meja kerja nya. bukan langsung meninggalkan ruangan, hans malah berjalan mendekat ke arah zelia berada.
"hai zelia, senang bertemu dengan kamu lagi" sapa hans ramah kepada wanita yang duduk di sofa.
"iya bang hans, itu kak dean kenapa?" tanya zelia yang melihat dean duduk terdiam di meja kerja nya. "oh, dia lagi pusing mikirin kerjaan" sahut hans yang ternyata dean mendengar perkataannya.
"HANS......" teriak dean yang membuat hans menoleh ke arahnya, "dia sedikit galak kalo lagi pusing, tapi sebenarnya dia baik kok zel" ucap hans lirih lalu berjalan meninggalkan zelia sambil terkekeh kecil.
setiba nya diluar ruangan, hans masih terkekeh melihat ekspresi dean yang marah dan cemburu dengannya. namun disisi lain hans merasa senang karena sahabatnya itu kini sudah dapat move on dari tiara mantan kekasihnya yang telah lama meninggalkan nya. "kamu kenapa?" tanya karina yang berada di hadapannya hendak masuk keruangan dean.
"hai karina, oh iya kata pak dean berkasnya biar aku aja yang bawa soalnya dia lagi gak bisa diganggu" hans meraih berkas yang berada ditangan karina sekertaris dean, dan mencegah karina untuk masuk keruangan itu. hans tak ingin wanita yang ia cintai ini pun menjadi sasaran amarah dean yang seperti singa ngamuk. karina menggernyitkan kening nya merasa aneh dengan tingkah hans, dan pak dean yang tak biasa nya menyuruh hans untuk mengambil berkas itu.
__ADS_1
"karina, nanti pulang bareng abang ya" ajak hans dengan sangat percaya diri. "ogah" karina meninggalkan hans dengan begitu saja. sedangkan hans hanya bisa tersenyum kecut mendengar penolakan dari karina, yang baginya sudah menjadi makanan sehari-hari. begitulah hans, dia tak pernah menyerah untuk terus mendekati karina meski karina terang-terangan selalu menolaknya.