
Zelia terkejut dan membuka mata yang baru saja hendak kembali terlelap melanjutkan mimpi indah yang tertunda.
"kakak mau apa?" tanya zelia karena merasa terkejut melihat tingkah dean yang tiba-tiba mengecup bibirnya sedangkan sejak tadi dean bersikap seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
"kakak mau makan, kamu emang gak mau makan??" ucap dean santai sambil melepaskan seatbelt yang ia pakai.
"kakak mau makan siapa???" tanya zelia panik.
"kamu " jawab dean.
mata zelia melihat ke sekitar, ternyata mobil dean sudah terparkir dihalaman sebuah restoran. "ternyata lama banget tadi gue tidur" pikir zelia yang masih mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang belum hadir semua.
"kasian kak dean, dari tadi dia nyetir sendirian dan gue abaikan" lagi-lagi hatinya merutuk dirinya sendiri.
"udah-udah gak usah merasa bersalah, kakak udah biasa nyetir kemana-mana sendirian" ucapan dean seolah menjawab semua umpatan dalam hati zelia. Dean membuka pintu disebelah zelia dan mengajak zelia keluar. Zelia hanya terdiam karena ini bukan pertama kalinya dean seolah bisa membaca isi hatinya. Namun sepertinya zelia sudah melihat angin segar yang telah berhembus pada dean karena kini aura wajah dean tak lagi muram dan dipenuhi rasa amarah. Bahkan dean sudah menyambut zelia yang baru saja membuka mata dengan senyuman dan kecupan manis di bibir.
"ayo" dean menggandeng tangan zelia masuk ke dalam restoran.
"kita udah sampe bandung?" tanya zelia pada dean yang sedang sibuk melihat pilihan menu yang akan ia pesan.
"emang kamu gak nyium bau wangi??"
tanya dean. Zelia terdiam mendengar jawaban dean yang seperti tak nyambung dengan pertanyaan nya dan justru malah bertanya balik dengannya.
"wangi apa? Wangi rendang???" jawab zelia yang sepertinya masih ada sedikit nyawa yang belum terkumpul sebab ia baru bangun tidur.
"wangi harum lah, kita kan sudah berada di kota kembang"
Zelia hanya tersenyum, bukan karena ia mencium wangi harum. Namun ia senang karena dean sudah kembali seperti semula dan tak merajuk lagi dengannya.
.
.mereka berdua menikmati makanan yang sudah mereka pesan. Dan setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah om irwan.
"ada sesuatu yang mau dibeli??" tawar dean saat ia melewati mall di kota tersebut.
"zeli mau beli baju buat calon ponakan zeli"
jawab zelia dengan sangat antusias.
__ADS_1
"oke" dean mengarahkan mobilnya masuk ke area parkir dalam mall tersebut.
.
.
mata zelia terbelalak saat mereka berdua tiba di sebuah tempat khusus perlengkapan baby.
"ambil yang kamu suka" ucap dean yang kini mulai melepaskan gandengan tangannya agar zelia bisa leluasa untuk memilih perlengkapan bayi yang ia suka.
Zelia mulai memilih beberapa baju dan perlengkapan bayi lainnya "emang anak om irwan laki atau perempuan?" bisik dean pada zelia yang sedang asyik memilih.
"enggak tau, maka nya zeli pilih warna biru. selain zeli suka warna biru, warna ini juga netral mau dipake sama anak laki-laki atau perempuan" jawab zelia sambil kembali memilih baju, sepatu, lengkap dengan tempat tidur dar stroller bayi.
setelah zelia anggap sudah cukup untuknya membeli perlengkapan baby untuk menyambut kedatangan keponakannya tercinta mereka pun melanjutkan perjalanan. Tak lupa dean mengajak zelia untuk membeli makanan ringan dan buah sebagai buah tangan untuk om irwan dan tante ressa.
.
.
Tok tok tok
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam" tak lama kemudian terdengar jawaban dari dalam meski terdengar dari kejauhan.
Ceklek
"zeli...." om irwan terkejut saat melihat bahwa tamu yang sedari mengetuk pintu rumahnya adalah keponakan tersayangnya.
Om irwan menyalami zelia dan dean yang berdiri di samping zelia.
Om irwan dan zeli pun lalu berpelukan tanpa lagi rasa canggung karena memng rasa rindu itu sudah menyelimuti hati mereka sejak lama, sejak sepeninggalan pak ivan beberapa bulan yang lalu.
Om irwan mempersilahkan zelian dan dean masuk kedalam rumah.
"apa kabar li?" tanya om irwan pada zelia dan dean yang sudah duduk diruang tamu
"baik om, kabar om irwan sendiru bagaimana?? Oiya kemana tante resaa?"
__ADS_1
Zelia celingukan melihat kesekitar karena tak melihat keberadaan tante ressa dirumah itu.
"oh, tante masih di kamar mandi. Coba om lihat dulu ya" om irwan pun berjalan menuju ke dapur untuk memastikan bahwa tante ressa telah selesai dari kamar mandi.
"hay apa kabar?" tanya tante ressa yang berjalan sangat lambat karena perut nya yang semakin membesar. tante ressa mengulurkan tangan nya pada zelia dan dean begitupun dengan den dan zelia yang menjabat uluran tangan itu dengan sopan.
"baik te, tante sendiri apa kabar?" tanya zelia yang sudah tak tahan untuk tidak mengelus perut besar tante nya yang membuat tante ressa tak bisa leluasa bergerak.
"ya beginilah li, tante udah mulai susah tidur dan sakit pinggang" jawab tante ressa .
"bertahanlah te, sebentar lagi dedek bayinya bakal launching dan semua penderitaan itu akan segera berakhir. Oiya zeli punya hadian untuk dedek bayi, zeli ambil dulu ya"
"nanti ajalah li, kita ngobrol-ngobrol dulu. om kangen banget sama kamu" cegah om irwan yang menolak keinginan zelia untuk mengambil barang-barang yang tadi sudah ia beli.
"oiya, ini siapa? Sean kemana kok gak ikut??" pertanyaan om irwan membuat zelia dn dean saling melempar tatapan mata.
"ini kak dean om, kakak nya sean. Sean gak bisa ikut karena dia ada ujian susulan om" jelas zelia. Om irwan menghela nafas lega karena sejak awal ia sedikit terkejut saat zelia berada dihadapannya bersama lelaki lain.
"saya dean om, ini pertama kali kita bertemu ya om" dean bersikap ramah dan sopan.
"iya nak dean, soalnya waktu pernikahan sean dan zelia nak dean sepertinya tidak ada"
"iya om, waktu itu saya masih di luar negri. Saya pulang berapa hari kemudian setelah pernikahan mereka" jelas kak dean.
Om irwan mengangguk, karena memang ia pernah berbincang dengan pak arman dan bu ida bahwa sean bukanlah anak tunggal mereka.
tante ressa pun datang dengan membawa teh dan kopi serta camilan ringan untuk menjadi pelengkap obrolan mereka.
Mereka pun berbincang dengan sangat hangat, meski hanya sebatas menanyakan keadaan keluarga dan bagaimana kuliah mereka di jakarta.
.
.
Hari telah larut, dean dan zelia pun kini duduk di teras rumah menikmatk udara sejuknya kota bandung
"kak besok kita jalan-jalan ke kebun teh yuk" ajak zelia yang sepertinya sudah rindu untuk berkeliling kebun teh tempat dimana om irwan dan alm ayahnya dulu bekerja.
"oke, emang kamu tau dimana tempatnya?" tanya kak dean sambil menyeruput kopi untuk menghangatkan tubuh ditengah dinginnya udara malam ini.
__ADS_1
"tau dong, gak jauh dari sini kok"
"yaudah sana kamu tidur duluan, kamu pasti lelah karena tadi dimobil gak tidur" ledek dean yang dengan sengaja memojokkan zelia. Zelia pun tertawa karena merasa bersalah sebab selama diperjalanan ia membiarkan dean nyetir sendirian sedangkan ia sibuk berkelana di alam mimpi.