
Zelia tergugu menangis diatas pusaran sang ayah. Ia yakin meski sang ayah tak terlihat olehnya namun disisi lain ia berharap sang ayah dapat melihat betapa hancur dirinya.
cukup lama zelia berada disana. Deraian air mata menetes tiada terkira. entah mengapa ia terasa begitu rapuh saat harus menceritakan semua pada sang ayah. namun tak ada pilihan lain semenjak dean sulit untuk dihubungi, makam sang ayah menjadi satu-satunya pilihan untuk tempatnya bercerita.
zelia benar-benar lelah, entah berapa hari sudah ia tak dapat tertidur dengan lelap. Mata nya yang membengkak juga penampilannya yang lusuh sudah tak lagi menjadi perhatiannya.
.
Di bawah alam sadar, ia seolah melihat sang ayah datang menghampirinya
"mengapa begitu pedih takdir yang harus ku jalani yah. Apa aku kuat melewati ini semua?" tanya zelia pada sang ayah yang wajahnya sedikit tertutup oleh cahaya.
"yah katakan padaku apa aku bisa melewati semua ini sendiri??" tanya zelia penuh rasa harap bahwa sang ayah memiliki jawaban atas pertanyaannya.
Sang ayah hanya tersenyum tanpa memberi jawaban, namun zelia yakin ayahnya pasti sedang menguatkan dirinya dengan senyuman manis itu.
"yah zeli ingin ikut ayah. Zelii gak mau sendiri... Yaaahh yahhh ayahhhh"
Zelia mengulurkan tangannya namun tak tersentuh oleh tubuh sang ayah yang semakin lama semakin menghilang bak ditelan cahaya.
"Ayahhhhhh !!!" teriak zelia saat terbangun dari mimpi nya.
"mbak, mbak sadar mbak" gema suara si pengurus tempat pemakaman itu memanggil nama zelia sambil menggoyang-goyangkan bahu zelia yang belum terkumpul semua nyawa nya.
zelia mengucek kedua mata nya.
Matanya terbuka menyapu kesekitar yang masih dipenuhi makam disekelilingnya. Ia baru menyadari bahwa kini dirinya masih berada ditengah kuburan dan rupanya ia telah terlelap diatas makam sang ayah.
"mbak bangun mbak, hari sudah semakin gelap sepertinya akan turun hujan. Sebaiknya mbak pulang"
Titah si pengurus TPU itu . karena merasa prihatin melihat kondisi zelia, ia menyuruh zelia untuk tinggal dirumahnya sejak ia temui zelia yang sedang menangis dimakam yang sama beberapa hari yang lalu.
"baik pak !"
zelia segera bangkit dan pulang kerumah sipengurus TPU itu yang terletak tak jauh dari sana.
hari itu zelia memutuskan untuk pergi dari rumah sipenjaga itu karena merasa tak enak jika harus berlama-lama tinggal bersama mereka meski istri bapak pengurus makam itupun sama sekali tak keberatan dengan keberadaan zelia dirumahnya.
__ADS_1
Namun zelia tetap memutuskan untuk pergi dan berjanji akan sering-sering main kesana.
Setelah hujan reda, barulah zelia angkat kaki dari rumah orang baik yang mau menampungnya selama beberapa hari.
Sebenarnya ia tak tau harus kemana, namun kaki nya melangkah menuju kontrakan lama tempat tinggalnya dulu sebelum ia menikah dan tinggal dirumah pak arman.
Lagi-lagi zelia hanya berjalan karena uang yang ia bawa semakin menipis tak memungkinkan untuknya memesan jasa angkutan.
Jarak yang ditempuh lumayan jauh namun masih sanggup ia jangkau.
Zelia tersenyum saat tiba didepan sebuah bangunan rumah kecil yang sepertinya sudah lama tak berpenghuni.
"zelia"
Sapa salah satu tetangga yang sampai saat ini masih mengenali dirinya.
"mbak wanti"
zelia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
Sedangkan mbak wanti menatap zelia sambil terheran-heran mengapa zelia bisa selusuh ini sedangkan ia sudah menjadi salah satu anggota dari keluarga yang kaya raya.
Zelia terdiam, kepalanya tertunduk tak tau harus menjawab apa ? Bercerita semua nya pada mbak wanti pun ia rasa percuma karena mbak wanti yang bukan siapa-siapa zelia mungkin tak ingin tau banyak cerita tentang dirinya.
"yasudah kalau kamu belum mau menjawab. Kamu mau apa kesini zel ??"
Tanya mbak wanti yang cukup mengerti akan keadaan zelia yang masih belum ingin bercerita.
"aku ingin menemui ibu kontrakan mbak, aku ingin kembali tinggal disini untuk sementara"
Sebenarnya tanpa zelia menceritakan semua nya, mbak wanti sudah dapat menduga bahwa zelia sedang dirundung masalah hingga ingin tinggal kembali dirumah kumuh itu .
"lho apa kamu tidak tau kalau ibu pemilik kontrakan ini sudah meninggal?"
Ucapan mbak wanti membuat zelia terkejut karena berita duka ini sama sekali tak sampai ketelinga nya selama ia tinggal di kediaman pak arman wijaya dan tak ada satupun yang mengabarinya.
zelia menggeleng , ia merasa sedih karena tak ada si pemilik kontrakan itu, mungkin ia pun tak dapat tinggal disana lagi.
__ADS_1
"tapi.. Kalau kamu mau tinggal dirumah ini untuk sementara waktu. Kamu bisa tinggal disana zel. Kebetulan sebelum meninggal ibu kontrakan menitipkan kunci rumah ini pada mbak wanti"
Zelia tersenyum saat mendengar pernyataan mbak wanti bahwa ia masih tetap boleh untuk tinggal disana.
"sebentar mbak wanti ambilkan kunci rumahnya dulu ya"
mbak wanti berjalan meninggalkan zelia menuju rumahnya sedangkan zelia hanya mengangguk menjawab ucapan mbak wanti.
"ayo zel masuk" ajak mbak wanti seraya membuka pintu rumah dengan kunci yang baru saja ia ambil dari rumahnya.
"maaf ya, mbak jarang bersihin rumah ini"
ucap mbak wanti saat pintu rumah telah terbuka sempurna.
"gak apa-apa mbak, terimakasih mb wanti masih membolehkan aku untuk tinggal disini"
"iya gak apa-apa, yaudah mbak pulang dulu ya"
Zelia mengangguk. Mbak wanti pun pergi meninggalkannya seorang diri dirumah lama itu.
Mata zelia menyusuri setiap benda-benda peninggalan dirinya dan mendiang sang ayah yang masih tersusun rapi. Hanya saja barang-barang itu sedikit berdebu. Mungkin semenjak ia meninggalkan rumah itu, tak ada lagi orang lain yang menempati bekas kontrakannya itu.
Zelia berjalan memegang satu persatu benda kenangan yang menyimpan banyak kerinduan. Zelia tersenyum, saat sebuah potret dirinya yang terpampang di bingkai kecil masih bertengger diatas sebuah meja.
Zelia masuk ke dalam satu per satu ruangan yang telah lama ia tinggalkan. Tak lupa ruangan yang pertama kali ia datangi adalah kamar nostalgia milik nya.
Masih banyak barang-barang kesayangannya yang juga masih tersusun rapi dan dulu memang sengaja ia tinggalkan. Ia fikir keluarga pak arman yang terkenal keluarga kaya raya tak akan butuh akrilik-akrilik sederhana yang terpajang dikamarnya.
tak lupa zelia membuka lemari dan melihat deretan pakaian yang masih banyak tertinggal didalamnya. Untung lah, setidak nya saat ini ia tak perlu khawatir memakai pakaian basah karena disini sudah banyak pakaian ganti yang tersedia.
.
.
Setelah selesai bernostalgia, zelia segera membersihkan diri dan memasak makanan seala kadarnya yang tadi mbak wanti beri.
Untunglah, selama hidup pak ivan selalu berbuat baik pada tetangga sekitar. Hingga sampai saat ini mereka pun tetap memperlakukan zelia dengan baik terlebih saat mereka mengingat bagaimana kebaikan pak ivan dan ingin berbalas budi.
__ADS_1
.
.