Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Sebuah Rencana


__ADS_3

"Sudah siap sayang?" tanya Arga sembari menyandarkan punggungnya di sofa kamarnya.


Erina baru selesai ganti baju, karena permintaan sang suami yang selalu aneh-aneh dan dengan alibi 'Kamu tak boleh tampil cantik ketika keluar'. Membuat Erina harus berganti pakaiannya sebanyak lima kali. Suami yang terlampau posesif, siapa juga yang akan melirik gadis yang perut nya membuncit seperti dirinya saat ini. Yang ada malah terlihat aneh jika ada seorang pemuda mencoba meliriknya. Begitu pikir Erina.



Erina mengenakan hoodie berwarna pink, Ia sengaja memakai kupluknya dan berpose ala-ala girl band Cherrybelle yang pernah booming pada zamannya. Arga terperangah, mulut dan kedua bola matanya membulat sempurna melihat makhluk indah nan menggemaskan yang ada di hadapannya itu.


Sejenak Arga berniat ingin mengurung Erina di kamar saja, Ia tak ingin istrinya yang selalu berhasil membuatnya terpesona itu di lihat oleh orang lain. Namun, keinginannya segera dibuyarkan oleh ingatannya tentang ucapan Dokter Mili. Bahwa Erina butuh refreshing, butuh udara segar.


Arga segera menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir sifat over posesif nya yang sudah menyebar di seluruh isi kepalanya itu, Arga menelan salivanya dengan susah payah. Ia mencoba menepiskan hasratnya yang selama beberapa minggu ini belum terlampiaskan.



Aku harus kuat, Aku harus kuat, gumam Arga dalam hati. Laki-laki itu berperang dengan nafsunya.


"Sayang, kenapa kamu selalu menggemaskan sekali sih," ucap Arga, Ia berjalan mendekati Erina. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna, kedua tangannya Ia letakkan pada pipi cubby istrinya itu. Erina hanya mengerucutkan mulutnya mendapat perlakuan dari suaminya tersebut.


Arga bahkan mulai paham kenapa perasaannya kepada Erina semakin tumbuh dari hari ke hari. Karena kepolosan dan keluguan seorang Erina yang tak didapati pada gadis lain, Erina berbeda dengan kebanyakan gadis yang Ia jumpai.


Tak ada yang bisa menolak pesona Arga, tapi Erina? Dia bahkan sama sekali tak tertarik padanya, justru seorang Arga lah yang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Dan perasaan itu sampai detik ini tumbuh semakin besar.


"Sayang, ayo berangkat sekarang," rengek Erina.


Arga mengulas senyum, "Iya sayang ku, kita berangkat sekarang." Arga melingkarkan tangan Erina pada lengan kekarnya, mereka berjalan beriringan keluar kamar.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Sementara itu di tempat lain, Anggen telah menunggu di sebuah halte yang tak jauh dari rumah nya.


Dan Eric yang bertugas untuk menjemput Anggen, sesuai rencana Arga. Eric bahkan tak tahu menahu soal rencana perjodohan dirinya dengan Anggen.


Kemarin sore Erina memberi kabar bahwa Arga mengajak mereka liburan bersama dan tugas Eric hari ini adalah menjemput Anggen terlebih dahulu, laki-laki yang mempunyai lesung pipi itu hanya menuruti keinginan adik tersayangnya itu.


Di sisi lain, Eric merasa senang bisa bertemu dengan Anggen lagi. Entah kenapa, Eric merasakan sesuatu yang berbeda ketika bersama Anggen. Ada perasaan yang Ia sendiri sulit untuk menjabarkan.


Eric telah sampai di halte tempat Anggen menunggu, Ia segera menepikan mobilnya. Laki-laki itu berjalan menghampiri Anggen yang tengah duduk di kursi panjang, gadis itu tampak terkejut dengan kedatangan Eric.



"Tuan ....," tegur Anggen dengan raut wajah tak percaya.


Kenapa Tuan Eric bisa ada disini? Belum juga terjawabkan teka teki tentang malaikat penolong ku ini, kini sosok malaikat itu hadir kembali disini. Siapa kah sebenarnya Tuan Eric ini? Kenapa takdir terus mempertemukan kita secara tiba-tiba seperti sekarang ini?


Pertanyaan demi pertanyaan menggelayuti kepala Anggen, begitu rumit untuk di uraikan. Gadis itu mendesah pelan, rasanya ingin sekali Ia ungkapkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada Eric. Pertanyaan yang selalu mengganggu pikirannya beberapa hari ini, tapi segera Ia urungkan. Ia tak punya keberanian akan hal itu.


"Tuan Eric, bagaimana anda bisa disini?" tanya Anggen. Eric mengulas senyum, Ia seolah tahu kebingungan gadis itu.


"Tentu saja untuk menjemputmu!" seru Eric dengan senyuman masih tergambar di wajah tampannya.


"Menjemputku?" pekik Anggen, sekali lagi Ia benar-benar dibuat bingung oleh Eric.

__ADS_1


"Iya menjemputmu!" tegasnya.


"Kenapa? Ehm, maksudku kok bisa? Ehm, bagaimana ya? Aku bingung ngomongnya Tuan." Raut wajah Anggen menunjukkan kebingungan. Eric terkekeh dengan ucapan gadis itu.


"Aku disini disuruh menjemput mu oleh Nona Erina," jelas Eric. Ia sengaja menyebut adiknya dengan sebutan Nona, agar Anggen tak merasa semakin bingung dengannya.


"Oh, jadi selama ini anda bekerja menjadi supir Nona Erina?" tanya Anggen polos.


Eric menganggukkan kepalanya dengan mantap, Ia melipat bibirnya dan mencoba menahan tawa. Eric tak mempermasalahkan anggapan Anggen tentangnya, Ia bahkan merasa senang karena meski gadis itu beranggapan bahwa Ia adalah seorang supir. Namun, tak ada perasaan malu pada gadis itu untuk semakin mengakrabkan diri dengannya.


Sungguh gadis yang manis, puji Eric dalam hati.


Anggen tampak bernapas lega, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menggelayuti kepalanya. Perlahan mulai menemukan jawaban satu per satu.


Jadi sopir yang selama ini dimaksud Nona Erina adalah Tuan Eric ini? Dan mungkin Nona Erina juga yang menyuruh Tuan Eric untuk menyelamatkan ku. Oh, betapa baiknya Nona Erina, gumam Anggen dalam hati.


Eric segera membukakan pintu untuk Anggen, "Silahkan masuk Nona Anggen," ucap Eric.



Anggen menyunggingkan senyuman termanisnya, Ia berjalan dengan lenggangnya menuju mobil milik Eric.


Seseorang tampak mengabadikan momen Anggen dan Eric, dan beberapa menit kemudian. Seseorang misterius itu tampak menelpon bosnya untuk melaporkan apa yang baru saja Ia lihat.


Bersambung ....

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Selamat Hari Raya Idul Adha 1441H Teman-teman, semoga kita menjadi manusia yang senantiasa selalu berbenah menjadi lebih baik lagi dan lagi. Dan semoga virus corona segera menghilang dari muka bumi ini. AamiinπŸ€²πŸ’–


__ADS_2