
Eric sudah berada di halaman rumah Anggen, Ia sengaja tidak memberi kabar terlebih dahulu kepada gadis yang saat ini sedang mengisi relung hatinya.
Eric sengaja naik motor kali ini, Ia ingin membuktikan perasaannya yang sesungguhnya dengan berbagai cara kepada Anggen. Salah satu nya, seperti sekarang ini. Mengajak kencan ala pemuda pada umumnya, berkeliling naik motor. Laki-laki yang mengenakan jaket kulit itu, segera turun dan berjalan menuju teras Anggen.
Tok-tok-tok ....
Tak ada sahutan dari dalam, tapi Eric memilih menunggu sebentar sebelum mengetuk untuk kedua kali pintu tersebut. Pria itu menyandarkan punggung nya pada dinding teras rumah Anggen seraya mendekap tangannya, tak berapa lama Anggen pun membukakan pintu rumahnya.
Anggen terkesiap melihat Eric dengan penampilan lain dari biasa nya, gadis itu melihat Eric dengan seksama dari atas sampai bawah. Matanya membulat seiring dengan keheranannya.
"Ada yang aneh?" Eric menyadari bahwa penampilan nya membuat Anggen terperangah.
Anggen segera menggelengkan kepalanya, "T-tidak, hanya saja. Saat ini kak Eric terlihat berbeda," sahut Anggen sambil mengulas senyuman manis nya.
"Benarkah?" tanya Eric menegaskan ucapan Anggen, raut wajahnya terlihat menunjukkan rasa bahagia.
Anggen hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa kamu berniat menyuruhku untuk tetap berdiri disini?" pertanyaan Eric sontak membuat Anggen, segera menyadari bahwa mereka sedari tadi masih berdiri di teras rumah gadis tersebut.
"Maaf, maaf kak Eric. Ayo masuk kak," ucap Anggen sedikit canggung.
"Ha-ha-ha ... Tidak, aku akan menunggu disini saja. Oh ya, aku mau mengajakmu kencan, apa kamu mau?" tanya Eric to the point.
Anggen tersipu dengan ucapan Eric, antara malu dan senang.
"Kenapa kak Eric tidak mengirim pesan dahulu?" tanya Anggen untuk mengusir rasa canggung nya.
"Kejutan ....," ucap Eric dengan membentangkan kedua tangannya.
Anggen terkekeh. "Dan terimakasih, aku benar-benar terkejut sekali kak," seloroh Anggen. Tawa mereka berdua pun akhirnya pecah. Meskipun bukan hal yang benar-benar lucu, namun perasaan nyaman antara mereka berdua mampu menciptakan suasana yang menyenangkan untuk ditertawakan.
"Aku ganti baju sebentar ya kak, gak apa-apa kan menunggu sebentar?" tanya Anggen memastikan.
"Tentu saja, Aku akan menunggumu sampai kapanpun," jawab Eric. Sebuah senyuman tergambar di wajah tampannya, membuat detak jantung Anggen berpacu tak karuan.
Gadis itu segera berjalan masuk ke dalam rumahnya, kedua pipinya terlihat bersemu merah. Rasa bahagia mulai menyusup di relung hatinya, betapa sangat menyenangkan rasa ini. Cinta hadir pada waktu yang tepat, keraguan yang pernah hadir di benaknya. Perlahan menghilang seiring perasaan yang semakin tumbuh kuat, namun Ia tak ingin terlalu terbawa perasaan.
Bukankah Eric memang akan membuktikan perasaan tulusnya, tak ada salahnya sambil menunggu perasaannya tumbuh sempurna. Sekaligus melihat perjuangan seseorang yang kelak akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Bukankah Cinta memang butuh perjuangan? Meskipun pada akhirnya yang di perjuangkan merasa sudah cukup dengan pembuktian dari orang yang memperjuangkan.
Tak ada salahnya melihat perjuangan tersebut, sampai pada akhirnya mereka yang telah di perjuangkan dan memperjuangkan merasa inilah saatnya. Menyatukan cinta atau berpaling dari cinta karena merasa perjuangan yang Ia lakukan sudah sia-sia. Begitulah cinta, begitu rumit untuk di urai. Namun percayalah, ketika cinta menemukan jalannya. Cinta akan bertahta di tempat yang seharusnya, memberi kebahagiaan kepada sang pemilik hati.
πππ
__ADS_1
Anggen sudah selesai ganti baju, Ia terlihat begitu cantik dengan balutan kaos lengan panjang berwarna pink. Degup jantung Eric berdetak lebih cepat, Ia terpesona melihat kecantikan Anggen. Matanya tak berkedip ketika Anggen berdiri di hadapannya.
"Kak Eric ... kak Eric, ayo kita pergi sekarang!" seru Anggen untuk kedua kalinya.
Eric menggelengkan kepalanya cepat, mengusir lamunan yang menyergap kepalanya.
"A-ayo ...." ucap nya, ia mencoba bersikap setenang mungkin. Tak ingin Anggen berpikiran macam-macam kepada nya.
Dia terlihat sangat cantik hari ini, Aku tak bisa membayangkan satu minggu tanpa melihatnya. Pasti sangat menyiksa rasanya, batin Eric.
Mereka berdua berjalan menghampiri motor Eric, Anggen tampak senang karena kali ini Eric mengajaknya jalan-jalan dengan menaiki motor.
"Tidak apa-apa kan kita naik motor hari ini?" tanya Eric. Ia segera menyerahkan helm kepada Anggen.
"Aku sangat menyukainya kak," ucap Anggen dengan mata berbinar senang.
Anggen tampak kesusahan mengaitkan pengait helm nya, Eric segera membantu gadis itu untuk memasangkan pengait nya. Mereka terlihat begitu dekat, hanya berjarak beberapa centimeter saja. Anggen memutar bola matanya agar pandangan mereka tak beradu, suasana begitu canggung di rasa kan oleh Anggen.
Setelah berhasil memasangkan pengait helm milik Anggen, Eric masih belum berpaling dari wajah Anggen. Pria itu malah menatap lekat bibir merah nya, salah satu tangan Eric mencoba meraih bibir Anggen. Detak jantung nya kembali berpacu lebih cepat, Ia menelan salivanya dengan susah payah.
Tangan Eric mengusap lembut bibir bawah Anggen seraya berkata, "Lipstick mu belepotan sedikit, aku bantu mengusap nya ya."
Deggggg ....
"Sudah selesai, ayo kita pergi sekarang," ajak Eric. Namun, Anggen masih mematung di tempat.
Eric mengulas senyum, Ia menarik pelan tangan Anggen. Hal itu, membuat Anggen segera tersadar. Rasa senang bercampur malu kembali menghinggapi perasaan nya. Gadis itu dengan malu-malu naik ke atas motor Eric.
"Pegangan ya, biar kamu gak jatuh," perintah Eric seraya menarik tangan Anggen untuk berpegang pada pinggangnya.
Deggggg ....
Lagi-lagi Anggen di buat spot jantung oleh Eric, gadis itu tak mengiyakan juga tak menolak perintah Eric.
πππ
Eric memarkir motor nya di dekat kursi taman yang berjejer rapi di pinggir jalan, pria itu membantu Anggen untuk melepaskan pengait helm nya.
"Tadi kamu bilang belum lapar, jadi aku mengajakmu kesini terlebih dahulu. Gak apa-apa kan?" tanya Eric seraya mendudukkan tubuhnya di kursi taman tersebut.
Anggen pun melakukan hal yang sama dengan Eric, gadis itu duduk di sebelah Eric dengan sedikit canggung.
__ADS_1
"Iya, aku masih belum lapar kak," jawab Anggen.
Gadis itu menengadahkan kepalanya memandang langit malam, tampak mendung menyelimuti. Membuat sang bintang malu untuk menampakkan diri nya.
"Apa kamu mencari bintang?" tanya Eric membuka percakapan.
"Iya, tapi sepertinya awan menutupi mereka," desis Anggen.
"Apa kamu menyukai bintang?" pertanyaan kedua Eric membuat Anggen menoleh ke arah nya.
Anggen menganggukkan kepalanya berulang kali. "Iya, Aku sangat menyukai bintang dan langit malam. Menurutku mereka sangat indah sekali, meskipun dalam gelap. Mereka tetap bersinar dengan terang," jelas Anggen dengan mengulas senyum.
"Begitu pun dengan perasaan ku saat ini, hatiku yang awalnya begitu gelap dan kosong. Kini terasa indah karena kehadiran sang bintang yang berpijar indah disana," ungkap Eric.
Anggen terdiam, Ia tampak menggigit bibir bawah nya. Ia tak mau terlalu percaya diri, dengan mengira bahwa yang dimaksud bintang tersebut adalah diri nya.
Eric menarik pelan jemari Anggen, Ia menggenggam lembut jemari Anggen.
"Besok siang Aku akan ke Singapura untuk mengurus perusahaan Arga yang ada disana, aku akan berada disana kurang lebih satu minggu. Aku harap dalam waktu satu minggu itu, kamu bisa berpikir tentang perasaan mu yang sesungguhnya kepada ku. Karena setelah pulang dari Singapura nanti, aku akan meminta pertanggungjawaban hatimu yang sudah membelenggu hatiku," ungkap Eric masih dengan tangan menggenggam erat jemari Anggen.
"Kamu adalah bintang yang membuatku kembali merasakan hadirnya Cinta, kamu membuatku bahagia karena ternyata mencintaimu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan saat ini. Aku bahkan tak yakin, seminggu ke depan apa aku bisa jauh dari mu. Yang pasti aku akan sangat merindukanmu," imbuhnya.
Perasaan Anggen diselimuti rasa bahagia tak terkira mendengar pengakuan dari Eric, kedua matanya tampak berkaca-kaca karena terharu dengan apa yang baru saja Ia dengar.
"Apa ini tangisan bahagia?" tanya Eric ketika melihat airmata Anggen lolos secara perlahan dari kedua sudut matanya.
"Iya kak," ucap Anggen sembari menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Terimakasih, aku juga sangat bahagia karena sudah mencintaimu." Eric menjeda kalimatnya, "Apa aku boleh memelukmu?" lanjut nya.
Anggen menganggukkan kepalanya pelan seraya berkata, "Boleh kak."
Eric segera mendekap erat tubuh Anggen ke dalam tubuhnya, mereka terlihat sangat bahagia malam itu. Anggen membalas pelukannya, bersandar pada dada bidang Eric dengan linangan airmata bahagia.
Bersambung ....
πππ
Mohon maaf ya, kemarin tidak up. Karena kesehatan dan kondisi yang tak memungkinkan.π€π
Tapi semoga bab tentang Eric dan Anggen kali ini bisa menebusnya ya teman-temanπ
Jangan lupa dukungannya ya, like + komen dan vote kalian sangat berarti untuk semangat authorπ₯°
Sambil menunggu up mampir ke novel super duper keren ya, bercerita tentang Rianti seorang gadis yang awalnya di jebak untuk nikah kontrak dengan taipan kaya blasteran Indonesia dengan Turki yang bernama Alex. Namun, lambat laun Cinta itu tumbuh di hati mereka berdua. Namun, perjuangan Cinta tak semulus harapan. Banyak rintangan dan ujian yang mereka lewati. Penasaran, kuy simak kisahnya di novel karya Kak Tya yang berjudul Nikah Kontrak. π
__ADS_1