Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Senam Ibu hamil


__ADS_3

"Tuan, ada seorang perempuan mencari anda dan nona." seru Bibi Mar.


Arga yang tengah membaca buku di ruang utama, segera menutup bukunya dan meletakkan di samping tempat ia duduk.


"Perempuan?" Arga mengernyitkan keningnya, merasa tidak mengundang seseorang ke rumahnya.


Namun, tiba-tiba suara Erina mengagetkan nya dan juga Bibi Mar. Erina berjalan menuruni anak tangga setapak demi setapak, dia terlihat begitu hati-hati melangkahkan kakinya.


"Aku rasa, dia pasti instruktur senam yang di minta ibu untuk datang kesini sayang." tukas Erina.


Erina memegang pelan pundak Bibi Mar. "Terimakasih ya Bi." ucapnya lirih.


"Iya non, kalau begitu saya permisi dulu mau balik ke dapur." seru Bibi Mar dan segera berlalu dari Arga dan Erina. Erina hanya menganggukkan kepala dan menyunggingkan senyuman kepada Bibi Mar.


***


"Selamat siang." sapa Erina kepada perempuan yang sedang duduk di ruang tamu, perempuan itu bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan kepada Erina.


"Selamat siang nona ... Saya Linanda Anggen, panggil saja Anggen nona. Saya instruktur senam hamil yang ditunjuk Nyonya Hutama." ujar perempuan yang bernama Anggen, perempuan yang mempunyai postur tubuh tinggi sekitar seratus enam puluh lima centimeter itu tersenyum manis kepada Erina.


"Saya Erina dan ini suami saya Arga." seru Erina sambil menoleh sekilas ke arah Arga.


"Suatu kehormatan bagi saya, bisa bertemu langsung dengan nona Erina dan Tuan Arga." ucap perempuan yang memiliki kulit putih bersih dengan rambut dikuncir tinggi, raut wajahnya terlihat sangat senang karena bisa bertemu dengan taipan kaya di negerinya.


Erina tersenyum menanggapi ucapan Anggen. "Anda terlalu berlebihan." lirih Erina.


Arga nampak sedikit ragu dengan penampilan Anggen, Arga melihat Anggen dari atas sampai bawah. Gadis itu terlihat casual dengan gaya pakaian yang ia kenakan, celana jeans berwarna biru muda dan kaos hodie lengan panjang berwarna fanta.



"Berapa usiamu?" tanya Arga pada Anggen.


Anggen menyunggingkan senyumannya, ia tampak begitu manis ketika tersenyum.


"Dua puluh lima Tuan." jawab Anggen dengan senyum masih terlihat di bibirnya.


"Kamu sudah menikah?" seru Arga yang kini tampak seperti menyelidik latar belakang Anggen.


"Belum Tuan, rencana tahun depan saya menikah." lirih Anggen, Anggen merasa sedikit canggung dengan rentetan pertanyaan yang di ajukan Arga.


"Wah ... semoga lancar ya nona Anggen." Erina mencoba mencairkan suasana.


Arga mengernyitkan keningnya, dia semakin sanksi dengan Anggen.


"Kamu belum menikah, tapi sudah menjadi instruktur senam hamil?" Arga berkacak pinggang dengan pandangan tajam menatap Anggen.


Anggen menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan. Raut wajahnya terlihat sedikit kesal dengan pertanyaan Arga, tapi siapa dia sampai berani marah kepada Tuan Muda yang suka semuanya itu.

__ADS_1


"Tuan, apakah menjadi Dokter kandungan harus hamil dulu baru boleh menjadi Dokter kandungan? Lalu bagaimana jika Dokter kandungannya laki-laki?" tukas Anggen dengan hati kesal, tapi ia mencoba untuk bersikap tenang dengan senyum masih tampak di bibirnya.


Arga memutar bola matanya, terlihat berpikir sejenak. Erina yang heran dengan sikap suaminya, segera mencoba menengahi keduanya.


"Sayang ... betul yang di ucapkan nona Anggen, kenapa kamu malah meragukan profesinya. Sudah, jangan di masukkan hati ya nona Anggen ucapan suami saya. Mari kita segera ke ruangan untuk memulai senamnya, aku rasa lebih cepat lebih baik bukan." Erina merasa canggung dengan situasi antara mereka bertiga, semenjak kehamilan Erina. Arga sangat sensitif jika menyangkut tentang masalah kandungan istrinya itu.


Erina menarik pelan tangan Anggen, agar mengikutinya masuk ke dalam ruangan tempat mereka melakukan senam hamil tersebut.


Wanita yang berumur dua puluh lima tahun itu, mencoba tersenyum walau sedikit dipaksakan. Dia masih kesal dengan sikap Arga, tapi dia merasa tersanjung dengan perlakuan Erina.


Seorang nyonya muda yang sikapnya sangat ramah, dia bahkan memperlakukan Anggen layaknya seorang teman. Sangat mirip dengan sikap Nyonya Hutama, begitu pikir Anggen. Tapi melihat sikap Tuan Arga, dia juga tidak heran. Karena rumor beredar. Arga adalah orang dengan sikap dingin dan suka semaunya sendiri, ternyata bukan hanya isapan jempol belaka. Itu benar-benar terjadi pada dirinya, seorang Tuan Muda yang sangat arogan.


***



Ruang yoga yang berada di sebelah ruang Gym, terlihat begitu nyaman dan menenangkan. Sejenak Anggen, terlihat takjub dengan ruang yoga yang berada di kediaman Arga Hutama.


Ruang yoga yang memiliki lebar hampir sama dengan ruang Gym, membuat siapa saja yang melakukan aktifitas disana betah untuk berlama-lama. Ruangan yang di dominasi dengan warna putih dan lantai terbuat dari bahan kayu berkualitas itu terlihat sudah menghipnotis seorang gadis seperti Anggen, latar belakang nya yang memang menyukai olahraga yang tak terlalu berfokus pada gerakan ekstrim. Membuat ia berpikir untuk mengubah konsep tempat yoga yang ia miliki.


"Nona Anggen, bisa kita mulai sekarang?" suara Erina membuyarkan lamunan Anggen tentang perubahan konsep yang sedang dirancangnya.


"Eh ... iya nona, mari kita mulai sekarang.


Oh ya, panggil saja saya Anggen nona. Saya tidak nyaman jika anda memanggil saya nona." tukas Anggen, Erina hanya mengiyakan dan tersenyum kepada Anggen.


"Karena kandungan nona masih Tri semester awal, jadi kita melakukan senam Kegel. Senam Kegel yaitu senam dimana nona bisa berbaring dan kaki diangkat salah satu lalu bertumpu pada kaki satunya." jelas Anggen, dia mempraktikkan gerakan yang ia maksud.


Arga membelalakkan matanya, dia sedikit kurang senang dengan gerakan yang dilakukan oleh Anggen.


"Tunggu ... kamu menyuruh istriku melakukan gerakan seperti itu, dia sedang hamil bagaimana mungkin dia melakukan seperti itu." protes Arga, dia tampak bersungut-sungut kesal kepada Anggen.


Erina mendengus pelan, entah apa yang sudah Tuan Muda makan setelah sarapan pagi ini. Sehingga membuat dia bersikap sangat konyol seperti sekarang ini.


"Iya Tuan, saya paham. Ini memang gera--."


"Tidak ... kamu tidak paham. Itu terlihat aneh, sepertinya itu bukan gerakan senam ibu hamil." Arga memotong kalimat Anggen, Arga segera berjalan mendekati Erina.


"Jangan ikuti dia ya sayang, gerakannya sungguh aneh sekali." serunya dengan mengelus pelan perut Erina. Erina merasa sangat tidak enak dengan Anggen, Erina memejamkan mata karena malu dengan tingkah suaminya yang sangat kekanakan itu.


"Siapa bilang gerakannya aneh?" suara seorang perempuan mengejutkan mereka bertiga, mereka segera menoleh ke arah sumber suara tersebut. Tampak seorang paruh baya namun masih terlihat cantik dan anggun sedang berdiri di depan pintu.


"Ibu .... " lirih Arga


Nyonya Hutama berjalan mendekati Anggen.


"Anggen, lakukan yang harus kamu lakukan. Maklum dia suami kolot, jadi dia sedikit parno dengan semua yang berhubungan dengan kehamilan istrinya." ucap Nyonya Hutama di iringi tawa kecil dan sesekali melirik kesal kepada Arga.

__ADS_1


Arga mendengus kasar. "Ibu, tapi itu memang gerakan yang aneh. Nanti jika terjadi sesuatu dengan Erina bagaimana?" Arga masih bersikukuh dengan pendapatnya.


"Ck ... sepertinya ibu salah menyuruhmu menemani Erina senam hamil, kamu bahkan bertingkah sangat konyol hari ini. Sudah, biar ibu saja yang mendampingi Erin. Kamu bisa melakukan aktifitas lainnya." usir Nyonya Hutama kepada Arga. Arga membelalakkan mata kesal kepada ibunya.


"Tidak bisa ibu ... aku akan tetap disini menemani Erina." Arga melingkarkan tangannya di pinggang Erina, seolah tak rela untuk meninggalkan Erina.


"Ish ... kamu ini ya, ya sudah tapi jangan mengganggu gerakan erina." Nyonya Hutama terlihat kesal, namun di dalam hatinya dia sangat senang karena putra kesayangannya sudah berubah menjadi pria yang sangat bertanggung jawab dengan keluarganya.


"Baik ibu." ucapnya lirih, selama hidup Arga. Dia selalu menurut kepada ibunya. Bagi Arga ibunya adalah segalanya baginya, dan sejak Erina mengisi relung hatinya. Kedua perempuan yang berada di hadapan nya saat ini adalah prioritas utama baginya.


Anggen merasa tenang dengan kehadiran Nyonya Hutama, setidaknya dia bisa terbebas dari kekonyolan yang disebabkan oleh Arga. Ia juga merasa senang karena bisa melihat sisi lain dari keluarga Hutama yang sesungguhnya. Keluarga yang sangat harmonis, keluarga yang benar-benar hangat. Dimana tidak ada batas antara seorang ibu dan anak.


Anggen dan Erina segera melanjutkan gerakan yang sempat tertunda tadi, walaupun sesekali Arga masih melakukan protes terhadap senam yang ia contohkan kepada Erina. Namun, hal itu malah membuat Anggen tertawa karena Nyonya Hutama juga tidak tinggal diam dengan kelakuan putra kesayangannya itu.


Bersambung


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Mau tau siapa itu Linanda Anggen, dia adalah author keren kakak online author. 😁👍


Kunjungi karya Kak Anggen dan teman-teman author lainnya ya.🥰


Balas Dendam Cowok Kampungan ~ Linanda Anggen



Wanita Simpanan Bryan ~ Mechan



OB Kerudung Biru ~ Putri Tanjung



Love A Mafia King ~ Liska Oktaviani.



.


Suamiku Bukan Jodohku ~ Roffiey Zain



.

__ADS_1


__ADS_2