
"Ketemu!" seru Erina sambil menunjukkan layar ponsel miliknya di hadapan Arga. Sebuah nama cafe yang menjual menu nasi bakar tampak terpampang di layar tersebut.
"Baiklah, ayo kita pergi kesana!" sahut Arga dengan penuh semangat, Ia tak mau salah ucap di hadapan istrinya tersebut. Setidaknya Ia ingin menunjukkan bahwa Ia adalah suami yang benar-benar siaga.
Setelah lima belas menit mencari cafe yang tertera di layar ponsel nya, akhirnya mereka menemukan cafe yang dimaksud. Meskipun dini hari tapi pengunjung cafe masih tampak ramai, pengunjung yang hampir di dominasi oleh pemuda pemudi itu tampak sangat menikmati suasana cafe yang memang di konsep untuk menarik untuk kalangan muda mudi. Lampu-lampu tampak berpendar di setiap dinding, membuat kesan romantis dan nyaman untuk pengunjung yang hanya sekedar nongkrong maupun menikmati hidangan di cafe tersebut.
Arga mengaitkan jemarinya di sela-sela jemari Erina, mereka berjalan beriringan masuk ke dalam cafe. Arga mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, kedua manik coklatnya menangkap tempat kosong yang berada tak terlalu jauh dari pintu masuk.
Mereka berdua duduk berhadapan, tak terlalu buruk, begitu yang terlintas di benak Arga. Ini adalah pengalaman pertama mereka, makan di cafe pada waktu dini hari.
Arga berdandan tak terlalu mencolok kali ini, bahkan mereka berdua tak berbeda jauh dengan pengunjung lainnya. Tampil sederhana, sama dengan pemuda pemudi yang tengah bercengkrama itu. Beberapa pengunjung tampak bercanda menikmati suasana yang kelak akan menjadi sebuah cerita dan kenangan untuk anak cucu mereka.
πππ
Seorang pramusaji laki-laki tampak mendekati meja mereka, ia menyerahkan buku menu kepada Erina dan Arga.
"Mau pesan apa Tuan dan nona?" tanya pramusaji.
Erina dengan semangat membuka buku menu tersebut, ada beberapa pilihan macam isian nasi bakar di buku menu itu. Ada isian ayam, teri, daging, cumi, dan beberapa macam lainnya.
"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Erina kepada Arga, matanya masih terfokus pada buku menu di tangannya.
Arga tampak mengernyitkan keningnya, pasalnya menu di cafe tersebut sangat asing baginya. Menu andalan yang tak lain adalah nasi bakar dengan berbagai macam isian, membuat Arga tidak terlalu berselera makan.
"Aku pesan sama denganmu saja sayang," jawab Arga, ia masih belum menemukan makanan yang membuatnya berselera. Setidaknya dengan memakan menu yang sama dengan istrinya, membuat nafsu makan nya berselera.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu. Pesan nasi bakar teri nya dua ya mas sama minumnya air jeruk dua," jelas Erina.
"Baik, jadi untuk pesanannya nasi bakar teri dua dengan air jeruk dua ya nona?" tegas pramusaji tersebut.
Erina hanya menganggukkan kepala dan menyunggingkan sebuah senyuman untuk sang pramusaji, Arga tampak tak senang dengan sikap Erina.
"Ehem ...." Arga berdehem keras setelah pramusaji meninggalkan meja mereka.
Erina menatap suaminya dengan pandangan heran seraya berkata, "Apa adasesuatu yang aneh sayang?" tanya Erina yang tak paham dengan maksud deheman suaminya tersebut.
"Sudah berapa kali aku katakan, jangan tersenyum kepada laki-laki lain. Dan harusnya kamu tadi tidak bicara dengannya," ketus Arga, wajahnya tampak begitu kesal.
Erina terkekeh dengan ucapan suaminya, "Jika aku tidak bicara dengannya, bagaimana dia bisa tahu kita memesan makanan apa sayang?" sahut Erina dengan mengulas senyuman manisnya.
"Kamu kan bisa minta tolong aku yang bilang kepada laki-laki asing itu," celetuk Arga.
"Lalu kenapa kamu tidak menyela sayang, kamu kan bisa bicara dengan pramusaji tersebut. Dia kan hanya menjalankan tugas dan aku sebagai seorang pelanggan, memang sepatutnya kan aku memberikan informasi tentang apa yang ingin aku pesan," jelas Erina panjang lebar.
Arga hanya terdiam tapi rasa kesalnya masih terlihat di guratan wajahnya. Perdebatan yang tak penting selalu mereka alami disemua situasi, rasa cemburu berlebihan. Membuat Arga terlihat begitu posesif kepada Erina, perempuan berparas ayu itu sebenarnya tak masalah dengan keposesifan suaminya tersebut. Tapi jika berlebihan seperti yang ia alami saat ini, rasanya membuat ia sedikit tak nyaman.
Arga mendengus kasar, "Lain kali, biar aku saja yang pesan makanan. Dan ini adalah terakhir kali nya kamu tersenyum pada laki-laki lain, kamu hanya boleh tersenyum padaku saja," ucap Arga penuh penekanan.
Erina yang mendengar kalimat Arga, tampak senang. Karena laki-laki yang berada di hadapannya ini adalah laki-laki yang selalu dan selalu memberi cinta yang lebih setiap hari. Selama rasa cemburunya di rasa wajar, Erina akan merasa senang. Karena itu pertanda, suaminya benar-benar mencintainya. Tentu saja, hal itu tak perlu ia ragukan lagi. Karena melihat sikapnya saja, semua orang juga tahu. Bahwa Tuan Muda yang dingin dan arogan ini sangat mencintai istrinya.
πππ
__ADS_1
"Ini makanan?" tanya Arga dengan raut wajah heran, matanya tak berkedip menatap makanan yang terbungkus dengan daun pisang itu.
"Iya sayang ... Jangan melihat dari bungkusnya, tapi rasakan isinya," ucap Erina sambil menarik piring Arga dan membuka perlahan daun pisang yang membungkus makanan tersebut.
Arga mengerutkan keningnya, ia merasa semakin aneh dengan makanan yang berada di hadapannya itu. Laki-laki itu tampak melirik istrinya yang tengah melahap nasi bakar miliknya, Erina terlihat begitu lahap sekali.
"Kenapa kok malah diam sayang, ayo di makan. Kamu cicipi dulu deh, nanti pasti suka," terang Erina sambil mencecah tahu gorengnya ke dalam sambal.
Arga tampak mengambil beberapa butir nasi di sendoknya, dengan ragu-ragu ia mencoba mencicipi makanan yang baru pertama kali ia rasakan. Indra pengecapnya merasakan sebuah rasa yang nikmat pada makanan tersebut, Ia mengambil suapan yang kedua dan kini ia melahapnya tanpa keraguan. Matanya berbinar merasakan sensasi dari nasi yang bercampur dengan lauk yang kaya rempah-rempah tersebut.
"Hmm ... ternyata rasanya sangat enak sayang," ucap Arga dengan mulut penuh.
Erina mengulas senyum melihat suaminya menyukai makanan yang ia pilih, Arga terus melahap suapan demi suapan. Dan tak terasa suapan terakhir masuk ke dalam mulutnya. Ngidam kali ini tidak terlalu buruk bagi Arga, karena dia bisa menikmati makanan enak dan murah.
Dan satu lagi, Arga belajar dari nasi bakar tersebut. Jangan menilai dari bungkusnya, karena jika kita sudah membuka bungkusnya. Kita bakal ketagihan untuk nambah lagi dan lagi. Begitu juga dengan hati manusia, kita tak bisa menilai dari penampilan luar saja. Don't judge a book by its cover.
Bersambung ....
πππ
Jangan lupa untuk like + komen + vote yaππ€
Sambil menunggu up, bisa mampir ke novel temen author ya. Novel yang menguji kesabaran cinta seorang pria tampan bernama Dion kepada wanita cantik bernama Rosa, karena masih belum bisa move on dari sang mantan. Penasaran, kuy simak kisahnya di Novel Tentang Hati karya Kak Aldekha Depe. Dijamin baper lahπ€π
__ADS_1