
"Ayo sayang." seru Arga sambil memegang tangan Erina.
Erina dan Arga telah siap untuk pergi ke rumah orang tua Arga, untuk memenuhi jamuan makan malam Nyonya hutama yang tak lain adalah ibu dari Arga Hutama suami Erina.
"Sayang, aku perhatikan dari tadi kamu terlihat kurang bersemangat. Apa kamu sakit?" Arga menundukkan kepala agar bisa melihat wajah Erina lebih dekat. Erina segera melebarkan mata nya, senyum terpaksa mengembang di bibir Erina.
"Tidak ... aku baik-baik saja kok sayang. Yuk kita pergi." Erina segera menarik tangan suaminya. Arga hanya tersenyum simpul melihat tingkah Erina.
***
Di sepanjang perjalanan Erina hanya terdiam, pikiran nya melayang. Dia memikirkan jawaban apa yang akan diberikan kepada ibu mertua nya atas kejadian di galeri tadi siang.
"Sayang ... dari tadi kamu ngelamun terus lho!" seru Arga. Arga menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Erina.
Erina menghembuskan nafas dalam-dalam dan mencoba untuk bersikap sewajarnya.
"Maaf ya sayang, kalau aku sudah buat kamu khawatir. Aku gak apa-apa kok, beneran." sahut Erina sambil mengangkat dua jarinya hingga membentuk huruf "V".
Arga tersenyum dan segera memeluk Erina, Erina membalas pelukan suaminya.
"Aku tak suka melihatmu sedih, jadi jangan perlihatkan wajah itu lagi di hadapanku ya." Arga semakin mempererat pelukan nya sambil menggoyangkan tubuh Erina ke kanan dan ke kiri. Erina menganggukkan kepala sambil terkekeh di pelukan suaminya.
***
Arga dan Erina telah sampai dirumah kediaman keluarga Hutama, beberapa pelayan sudah menyambut kedatangan Arga dan Erina. Mereka mempersilahkan Arga dan Erina untuk segera menuju ke ruang makan, karna Tuan dan Nyonya Hutama sudah menunggu disana.
Erina berjalan beriringan dengan Arga, Erina segera menundukkan kepala ketika sudah berada di ruang makan. Seorang pelayan menggeser kursi untuk Erina dan Arga, Erina duduk berhadapan dengan ibu mertuanya. Erina menundukkan kepala dan memberi salam untuk kedua mertua nya.
Nyonya Hutama tampak tenang tapi tak seramah biasanya, Erina menggigit bibir bawahnya. Perasaan nya campur aduk tak karuan.
__ADS_1
Mereka memulai aktifitas makan malam nya, berbagai macam makanan sudah tersaji di meja makan. Erina hanya mengambil sedikit nasi dan beberapa lauk dan sayuran, dia sungguh tak berselera makan dengan suasana hati tak karuan seperti ini. Ayah mertua Erina yang merasa menantunya sedikit berbeda segera mengajukan pertanyaan kepada Erina.
"Erin, apa kamu baik-baik saja? Dari tadi kamu hanya mengaduk-aduk makanan di piringmu?" tanya Tuan Hutama sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.
"I ... iya, aku baik-baik saja ayah." ucap Erina lirih. Erina melirik ibu mertuanya yang masih sibuk melahap makanan di piringnya, ada perasaan getir yang dirasakannya.
"Makan yang banyak, jaga kesehatanmu ya." seru ayah mertuanya.
"Baik ayah." jawab Erina singkat.
Tak ada obrolan basa basi di sepanjang makan malam di keluarga Hutama malam ini, perasaan canggung sangat di rasakan Erina. Dia merasa seperti orang asing, dia merasa memang tak pantas berada di tengah keluarga kaya dan terpandang ini. Perasaan tak enak dan rasa canggungnya sudah menyelimuti hatinya, membuat sesak dan benar-benar tak nyaman bagi Erina.
***
Makan malam telah selesai, tapi Erina masih tetap menundukkan kepala. Dia merasa takut jika harus beradu pandang dengan ibu mertuanya.
"Erin .... " panggil Nyonya Hutama.
"Ikut aku ke ruang tengah." ucap Nyonya Hutama datar. Nyonya Hutama segera berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan, Erina memandang Arga. Arga hanya mengedipkan mata di iringi dengan anggukan kepala, yang diartikan ikuti saja apa kata ibu.
Erina berjalan pelan mengikuti langkah ibu mertua nya, tangannya terus memilin baju yang dikenakannya. Erina mencoba menyusun kata di kepalanya, sesekali dia mendengus kasar.
Ya Tuhan, kenapa aku sangat takut sekali ya. Aku takut ibu benar-benar akan marah dan membenciku.
batin Erina berkecamuk, dadanya terasa sangat sesak sekali.
Erina telah sampai di ruang tengah, ruangan yang sangat besar dengan beberapa lukisan terpajang rapi di dinding. Ruangan yang biasanya di rasakan Erina begitu sejuk dan nyaman, kini terasa sesak dan pengap. Keringat dingin terlihat jelas di keningnya. Ya, Erina benar-benar sangat ketakutan menghadapi ibu mertuanya, ketakutan yang tak seharusnya terjadi. Ketakutan karna kesalahan yang tak pernah dia lakukan.
Erina berdiri di belakang sofa tempat ibu mertua nya duduk, menunggu intruksi yang akan diberikan oleh ibu mertua nya. Nyonya Hutama menoleh ke Erina secara kasar.
__ADS_1
"Kenapa masih berdiri di sana, duduk ....!" perintahnya, ucapannya terasa tajam di telinga Erina. Erina hanya menuruti dan berjalan mendekatinya, Erina duduk dengan perlahan.
Erina mengatupkan kedua bibirnya, mencoba untuk mengatur nafasnya. Karna suasana yang dirasakannya begitu mencekam, sehingga untuk bernafas pun rasanya dia kesulitan. Erina menundukkan kepala dengan tangan terus memilin ujung baju yang dikenakannya.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?" ucapan ibu mertua nya memecah keheningan, saliva Erina tersekat di tenggorokan. Erina bersusah payah untuk menelan salivanya, dia benar-benar tak tahu apa yang harus dia katakan.
Ingin sekali Erina bersuara bahwa kejadian di galeri hanya sebuah kesalahpahaman saja, tapi lagi-lagi suara nya tertahan. Erina hanya terdiam tak berani menjawab pertanyaan ibu mertua nya.
"Erin, kenapa kamu diam?" seru ibu mertuanya membuat Erina gelagapan.
"Ibu ... " kalimatnya terhenti, Erina terasa sulit berkata-kata. Dia menggigit bibir bawahnya, kedua sudut matanya sudah penuh cairan bening. Erina mencoba sekuat tenaga agar airmata nya tidak jatuh untuk saat ini, rasanya akan sia-sia. Begitu pikirnya.
"Erina ... bicaralah kepada ibu, apa kamu sudah tidak menghormatiku lagi? Sehingga sekarang, kamu sudah tidak mau bicara jujur kepada ibu." kalimat Nyonya Hutama penuh penekanan. Erina seketika langsung mendongakkan wajahnya, mengumpulkan segenap keberanian nya untuk beradu mata dengan ibu mertua nya.
Pandangan Nyonya Hutama tampak tenang namun begitu menakutkan bagi Erina. Mulut Erina seolah terkunci, antara bingung dan takut yang dia rasakan.
Bagaimana aku harus memulai, kenapa rasanya sulit sekali untuk ku berkata.
gumam Erina dalam hati.
Arga berjalan menghampiri Nyonya Hutama dan Erina.
"Ibu ... aku mohon maafkan aku, aku .... " kedatangan Arga secara tiba-tiba membuat kalimat Erina terhenti.
Arga segera duduk di hadapan Erina dan ibu nya, raut wajahnya menunjukkan kebingungan. Pandangan Arga melihat ke arah Erina dan ibu nya secara bergantian, Arga mengerutkan keningnya. Tanda tanya besar seolah tergambar di bola matanya yang berwarna coklat.
"Ibu .... " panggil Arga dengan tatapan tak senang.
Nyonya Hutama hanya mendengus kesal melihat Arga datang di saat yang tak tepat.
__ADS_1
Bersambung