Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Aku sangat menyukainya ...


__ADS_3

Eric dan Anggen sudah sampai di lokasi, mereka segera turun dari mobil dan menghampiri Arga dan Erina yang memang sudah datang terlebih dahulu.


Liburan kali ini mengusung tema double date ala rakyat jelata, begitu sebutan yang dibuat oleh Arga. Walaupun begitu Arga tak ingin lengah, bodyguard nya sudah menyebar di lokasi liburannya.


Suasana akhir pekan, ditambah dengan awal bulan. Membuat tempat liburan ramai dikunjungi oleh banyak orang, akhir pekan selalu identik dengan melepas penat dan jalan-jalan bersama keluarga. Jadi masyarakat seringkali menyasar pada tempat liburan yang memiliki banyak pilihan wahana dan suasana yang mendukung seperti yang saat ini menjadi destinasi liburan Arga dan Erina.


Arga sengaja memilih liburan di dalam negeri saja, karena kehamilan Erina yang semakin besar. Ia tak ingin mengambil resiko, jika memilih liburan ke luar negeri.


Liburan di dalam negeri juga tak kalah bagus, banyak tempat liburan yang menyuguhkan pemandangan yang indah.serta wahana yang lengkap untuk dicoba. Tapi untuk hal itu, Arga harus antisipasi agar Erina tidak merengek untuk minta naik wahana roll coaster atau wahana ekstrem lainnya. Tapi bukankah itu memang sebuah permintaan yang tidak mungkin diminta oleh Erina? Tidak hamil saja dia tidak berani, apalagi ketika dia hamil. Sungguh pikiran absurd seorang Tuan Muda Arga yang benar-benar tak masuk akal. Haha.


🍁🍁🍁


Erina yang melihat kedatangan Anggen dan Eric segera melambaikan tangan ke arah mereka berdua, Anggen segera berhambur memeluk Erina. Entah kenapa rasanya gadis itu sangat merindukan Erina, padahal mereka baru berpisah beberapa hari saja.


"Nona, aku sangat merindukan nona," ucap Anggen sambil terus mendekap tubuh Erina.


"Eheem ...." Arga berdehem, ia tampak tak suka Erina di peluk erat oleh Anggen.


"Hei, gadis senam ibu hamil. Kenapa kamu memeluk Erina ku seperti itu, cepat lepaskan!" protes Arga, ia tampak begitu kesal melihat Anggen memeluk Erina.


Hal itu tentu saja membuat Erina dan Eric berdecak heran dengan sikap Arga, bagaimana mungkin dia bisa kesal melihat istrinya di peluk oleh sesama perempuan. Bukankah itu sungguh sangat berlebihan tingkat keposesifannya.


Anggen segera melepaskan pelukannya dan mengambil jarak beberapa langkah dari Erina, Ia lupa diri dan konyolnya kejadian itu di lihat langsung oleh Eric. Sungguh dirinya merasa sangat malu kepada Eric.


"M-maaf Tuan, saya hanya merasa rindu dengan nona Erina. Jadi saya kelepasan tadi," jelas Anggen, Ia mencoba membela diri.


Tapi memang dasar si Arga yang sudah terlampau posesif nya, "Apa ...? Jadi benar dugaanku, kamu menyukai istriku?" pertanyaan nyleneh terlontar juga dari mulut Arga.


Mereka bertiga tampak terkejut dengan pertanyaan laki-laki bernama Arga itu, tak terkecuali Erina. Ia tak habis pikir, suaminya akan mempertanyakan sesuatu yang begitu konyol menurutnya.


"Tentu saja Tuan, aku sangat menyukai nona Erina," Entah keberanian darimana gadis itu berani menjawab pertanyaan tak penting Tuan Muda tersebut.


"Apa katamu?" Arga mendelik ke arah Anggen.

__ADS_1


Erina sudah tidak tahan dengan sikap suaminya itu, "Ish ... sayang, sudah hentikan. Kita kesini untuk mencari hiburan, bukan untuk beradu argumen tak penting," protes Erina.


"Anggen merindukanku itu, sebagai seorang teman yang rindu dengan temannya. Kamu jangan mikir aneh-aneh deh, pertanyaanmu tadi benar-benar terdengar sangat konyol sayang," protes Erina.


Perempuan yang tengah hamil dua puluh tujuh minggu itu tampak kesal dengan suaminya, Eric hanya mengulas senyum melihat tingkah ketiga orang yang ada di hadapannya itu.


Aku bahkan sudah lama tak melihat Erina seperti ini, Arga benar-benar sudah membuatnya lebih dewasa dengan tingkah konyolnya dan tentu saja dengan curahan cinta yang di berikan kepadanya untuk Erina. Sekarang tak ada lagi yang perlu aku cemaskan, dan sekarang waktunya untukku menata hidupku dan mencoba menemukan pendamping hidupku, gumam Eric dalam hati.


Pandangan mata Eric langsung tertuju pada Anggen, seketika ada perasaan aneh yang muncul secara tiba-tiba. Detak jantungnya berpacu lebih cepat saat tatapan matanya beralih di bibir mungil Anggen, Ia segera mengusir pikirannya yang mulai berimajinasi semakin liar.


Ada apa denganku? Kenapa hanya dengan memandangnya saja. Sudah membuat jantungku terasa mau copot.


Eric segera mengalihkan pandangannya, Ia menepuk pelan dadanya. Mencoba menetralkan detak jantungnya agar bisa kembali normal.


🍁🍁🍁


Mereka berempat akhirnya melanjutkan perjalanan liburannya, setelah perdebatan tak penting antara Arga dan Anggen. Dan di hentikan oleh protes keras oleh Erina. Arga akhirnya mau mengakui tingkah konyolnya. Eric sudah kembali tenang. Namun, Ia tampak sedikit canggung pada Anggen. Ia tak mau karena sikap anehnya, gadis itu merasa tak nyaman dan akhirnya menjauhinya. Laki-laki itu tampak bersikap setenang mungkin, agar Anggen tak mencurigainya.


Arga dan Erina memilih untuk berteduh di sebuah tempat yang tak jauh dari kolam renang, sedangkan Anggen dan Eric memilih untuk membeli minuman terlebih dahulu.


"Tentu saja, apa yang ingin kamu tanya kan?" jawab Eric dengan senyuman tergambar di wajahnya.


"Kenapa nona Erina memanggil anda dengan panggilan kak Eric, Tuan?" pertanyaan itu akhirnya lolos juga dari mulut Anggen, Ia begitu penasaran. Karena tadi sempat mendengar Erina menyebut nama Eric dengan sebutan 'kak'.


Eric terdiam sejenak, Ia berusaha mencoba memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan Anggen. Setidaknya Ia ingin gadis itu mengetahuinya secara langsung dari Erina.


"Ehm, nona Erina memang suka menyebutku seperti itu. Selain lebih akrab juga terdengar lebih menyenangkan bukan? Jika kamu mau, kamu bisa memanggil ku dengan sebutan itu," tawar Eric. Laki-laki itu tersenyum penuh arti kepada Anggen.


"Oh, jadi seperti itu ya. Nona Erina memang orang yang sangat baik ya, dia bahkan memperlakukan Tuan seperti saudaranya sendiri." Anggen menjeda kalimatnya, sesaat Ia mengingat kebaikan Erina kepadanya. Ia mengulum senyum lalu melanjutkan kalimatnya.


"Apa boleh aku memanggilmu dengan panggilan kak Eric juga?" tanya Anggen malu-malu.


"Tentu saja, aku akan sangat senang sekali jika kamu memanggilku seperti itu," jawab Eric.

__ADS_1


"Baiklah, mulai saat ini aku akan menyebut mu dengan panggilan kak Eric ya," tegas Anggen. Gadis itu menyeruput minumannya, Ia tersenyum manis sekali dengan menatap Eric.



Eric tampak terpesona dengan senyuman Anggen, perasaan aneh itu muncul lagi. Namun, kini Eric merasa nyaman dengan perasaan itu. Perasaan yang selalu ingin melihat senyum Anggen lagi dan lagi, gadis polos yang sangat manis sekali. Begitu pikir Eric.



"Aku sangat menyukainya," lirih Eric. Tanpa Ia sadari, kalimat itu lolos dari mulutnya. Ia segera menyadarinya dan berharap Anggen tak mendengarnya.


Anggen segera mengerutkan kening dan bertanya, "Menyukai? Maksud kak Eric?"


Eric tampak kikuk, "Ehm, maksudku. Aku sangat menyukai minuman ini. Ya, Aku sangat menyukainya," sanggah Eric. Ia melipat mulutnya.


Hampir saja aku, gumam Eric. Ia tampak bernapas lega.


Anggen hanya membulatkan mulutnya, "Oh, begitu," ucapnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Seseorang yang misterius itu masih terus mengawasi mereka berdua, mengabadikan setiap gerak gerik Anggen dan Erina. Namun, salah seorang bodyguard Arga tampak curiga dengan laki-laki misterius itu. Bodyguard tersebut tampak mendekatinya, tapi Ia berhasil lolos.


Bersambung ....


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Mohon maaf ya, karena telat update. Karena kesibukan di dunia nyata yang sudah sangat menyita waktu.


Semoga teman-teman tidak bosan dengan cerita receh dari author yang hanya remahan biscuit ini. 🀭


Terimakasih karena telah setia mengikuti kisah Erina, Arga, Eric dan Anggen πŸ₯°πŸ€—πŸ’•


Mampir juga ke karya kak Tya ya, novelnya kocak dan seruπŸ˜πŸ‘


__ADS_1


.


__ADS_2