
Kamu harus tenang Erin, kamu tak boleh gegabah saat ini. Apa yang akan kamu katakan, jika Clarissa mendapati mu disini sekarang.
Erina mencoba bersikap tenang, dia menikmati kue yang tinggal satu potong. Mengunyah pelan dan menelannya.
Bersikap wajar, seolah tak terjadi apa-apa.
gumamnya dalam hati.
Clarissa masih mengawasinya, tapi tak lama dia kembali melanjutkan obrolannya dengan sahabatnya itu. Erina bernafas lega karena Clarissa tak menyadari keberadaannya.
"Aku rasa keadaan sudah aman, sekarang waktunya untuk pergi dari sini. Oh ... rasanya aku seperti mata-mata saja disini." Erina mendengus pelan.
Erina berdiri dari kursinya, dia mencoba bersikap biasa saja. Tak ada reaksi dari Clarissa 'keadaan aman', pikir Erina. Erina berjalan keluar, namun tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkan nya.
"Tunggu .... " ucap seorang gadis dari belakang Erina. Erina menghentikan langkah nya. Terdengar jelas suara heels beradu dengan marmer melangkah ke arahnya.
"Aduh .... " seru Erina lirih, dia sangat tidak menyukai situasi ini. Erina memejamkan matanya, menunggu bagaimana reaksi Clarissa terhadapnya. Namun, Erina seperti mendapat energi baru. Dia segera membuka kelopak matanya dan menyemangati dirinya sendiri.
"Kali ini aku tak boleh lemah, aku harus berani." ucapnya menyemangati diri. Suara heels itu semakin mendekat, dan akhirnya Erina memilih untuk berbalik badan. Dalam hitungan tiga kali Erina sudah berbalik badan dengan sempurna. Kini Erina dan Clarissa saling berhadapan, raut wajah Clarissa tampak terkejut.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini ...? Kamu mencoba memata-mataiku ....?" ucap Clarissa dengan nada tinggi.
Erina mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar.
Suasana hening sejenak, lalu Erina angkat bicara.
"Aku tak tahu kalau toko kue ini milikmu, aku hanya tak sengaja datang kesini dan kebetulan kamu duduk di belakang ku. Itu saja." ucap Erina apa adanya. Erina tak ingin membesar-besarkan masalah.
Namun, Clarissa tak begitu saja mempercayainya. Dia mengerutkan keningnya. Jika di nalar, memang ini kelihatan bukan hal yang kebetulan. Semua orang tahu bahwa cake ini adalah milik Clarissa pengusaha muda dan cantik. Kali ini Erina merutuki kebodohannya. Kemana saja dia selama ini sampai-sampai dia sangat kuper.
"Haruskah aku percaya ....?" ucapnya sambil mengangkat satu sisi bibirnya dan melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Memang seperti itu kenyataannya .... " Erina mengangkat bahunya.
"Kamu sudah pandai bicara ya sekarang, bagaimana mungkin aku bisa percaya begitu saja dengan ucapanmu ... ? Tak ada alasan untuk ku mempercayaimu .... " tatapan Clarissa terlihat sinis.
Erina mendengus kasar.
"Lalu apa yang harus ku katakan untuk membuatmu percaya padaku ...? Aku sudah jujur padamu, aku tak mengada-ada atas ucapanku ... Ini benar-benar kebetulan, aku menyukai coklat hangat di .... "
"Cukup .... " Clarissa memotong kalimat Erina.
"Aku tak perlu penjelasan mu ... tak penting ...." ada penekanan pada ucapan terakhir Clarissa. Erina merasa kesal dengan ucapan Clarissa, tapi dia coba untuk tak ambil pusing.
"Ya sudah kalau begitu ... aku permisi dulu." Erina membalikkan tubuh, tapi tangan Clarissa berhasil menarik lengan Erina.
"Kenapa setiap yang kamu lakukan, selalu menambah kebencianku padamu ....?" tangan Clarissa tetap berada di lengan Erina, dia mencengkramnya. Erina meringis menahan sakit. Pandangan Clarissa terlihat jelas tersirat rasa benci di dalamnya.
"Lepaskan Cla ... sakit." Erina mencoba menepis tangan Clarissa, tapi cengkraman Clarissa terlalu kuat.
"Lepaskan Erina ku Cla .... " suara seorang laki-laki berhasil membuat Erina terpaku. Suara laki-laki yang sangat dia kenal, dia adalah Arga. Seorang laki-laki yang sangat dirindukan Erina selama dua hari terakhir ini, Arga berjalan mendekati Erina dan Clarissa. Hingga kini ia berdiri tepat di antara Clarissa dan Erina. Clarissa memandang Arga dengan pandangan tak senang, lalu berganti memandang Erina dengan pandangan merendahkan.
"Jangan ikut campur ... siapa yang tidak akan marah, jika dia secara tiba-tiba datang ke tempatku. Menjadi penyusup lalu mendengarkan semua percakapan ku dan temanku." Clarissa masih tak mengalihkan pandangan nya dari Erina.
"Apa kamu sedang melakukan kejahatan ...? Takut akan rencana mu terbongkar ....?" seru Arga sambil meraih tangan Clarissa yang sedari tadi meremas lengan Erina, lalu menghempaskan nya secara kasar. Membuat Clarissa tersentak, mulut Clarissa membulat terdiam tak bisa berkata-kata.
"Dilihat dari segi mana pun sepertinya ini salahku, tak seharusnya aku datang kesini. Aku minta maaf nona Clarissa." Erina menundukkan kepala, Arga terheran melihat tingkah Erina.
"Damn it ... I really hate you." umpat Clarissa dengan mata penuh kebencian, lalu pergi meninggalkan Erina dan Arga. Clarissa berjalan dengan mengepalkan tangan, dia sangat kesal dengan Erina. Dia merasa tak akan bisa menekan Erina selama ada Arga di sampingnya.
Erina menghembuskan nafas lega, dia melirik Arga dan berjalan cepat meninggalkan Arga.
"Erin ... tunggu .... " panggilan Arga tak dihiraukan oleh Erina. Perasaan tak karuan membuat dia bimbang, Erina tak tahu harus bagaimana berhadapan dengan Arga saat ini. Padahal tadi pagi dia sangat berharap Arga akan kembali, nyatanya setelah harapannya terwujud perasaannya berubah tak menentu seperti saat ini.
__ADS_1
"Erin .... " Langkah Erina berhasil di hentikan oleh Arga, Arga memegang erat pundaknya. Erina menundukkan kepala, pikirannya benar-benar kacau saat ini.
Arga memegang dagu Erina dan mengangkat nya perlahan, kini wajahnya dapat dilihat jelas oleh Arga. Ini yang diharapkan nya tapi kenapa hatinya masih terasa sakit, Erina menahan sekuat tenaga agar airmatanya tidak jatuh.
"Erina ... maafkan aku .... " seketika itu cairan bening keluar dengan derasnya, membuat Arga merasa sangat bersalah akan sikap egoisnya. Erina tak bisa berkata-kata, dia menggigit bibir bawahnya. Mulutnya bergetar. Namun, perlahan ada rasa lega menyelimuti perasaannya.
Entah kenapa airmata Erina mengalir semakin deras, isak tangis nya juga terdengar semakin kencang. Arga panik karena banyak mata yang melihat aneh ke arah mereka berdua, tak pikir panjang Arga segera memegang tekuk Erina yang terbuka. Dia mendekatkan bibirnya di bibir Erina, Arga segera memagut bibir Erina agar Erina menghentikan tangisannya.
Mata Erina terbelalak, tak percaya suaminya melakukan French Kiss di depan umum. Bahkan kini lidah Arga sudah bermain dengan lincah di dalam mulut nya, Erina tak ingin mereka jadi tontonan gratis yang dapat membangkitkan gairah orang lain. Dia segera mendorong tubuh kekar Arga untuk menghentikan ciumannya.
"Kenapa ....?" seru Arga datar.
Mata Erina membulat, sedangkan mulutnya menganga tak percaya dengan tindakan dan ucapan Arga barusan.
"Jangan melakukan tindakan gila ....!" ketus Erina. Erina mengatur nafasnya, darahnya berdesir dan jantungnya semakin berdetak tak karuan. Ini bukan ciuman pertamanya dengan Arga, bahkan mereka sudah melakukan berkali-kali. Tapi kali ini rasanya berbeda, andai saja ini tidak di depan umum. Erina akan dengan mudah terbawa oleh suasana yang diciptakan oleh Arga.
Arga melihat Erina dengan seksama, ada yang berbeda dengan Erina. Arga segera menyadari rambut Erina yang terikat di atas, Arga tidak suka melihatnya. Bukan alasan khusus, tapi karena dia tak senang jika ada orang lain melihat tekuk Erina terbuka. Erina terlihat sangat sexy ketika rambutnya di ikat ke atas, hal itu sangat mengganggunya.
Sama seperti sekarang ini, Arga tak mampu menahan untuk tak menciumnya walau ada alasan lain dibalik maksud ciuman nya. Untuk meredam tangisan Erina, tapi dia juga sangat menginginkan Erina saat ini juga.
Arga mengangkat kedua tangannya, dia bergeser agar tubuhnya lebih dekat dengan Erina. Erina kembali membulatkan matanya, jantung Erina seperti marathon. Tangan Arga dengan cekatan melepas ikat rambut Erina, dia menarik pelan dan sekarang rambut Erina sudah terurai. Arga mendekatkan wajahnya di telinga Erina.
"Aku sangat merindukanmu ... bibirmu terasa sangat manis hari ini ... aku sangat menyukai nya." ucapnya lirih, suara nya yang pelan membuat desahan nafasnya terdengar jelas di telinga Erina. Erina benar-benar dibuat spot jantung oleh Arga.
Apa-apa an Tuan Muda ini, setelah pergi tanpa kabar. Kini dia kembali dengan tiba-tiba dan membuatku tak bisa menahan diri.
gumam Erina kesal.
Arga menggenggam erat tangan Erina, Erina yang masih terpaku hanya mmenurut saja. Seolah sedang tidak terjadi apa-apa terhadap mereka berdua, Arga menggandeng tangannya dan menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil.
Bersambung
__ADS_1