
"Bagaimana hasilnya? Sudah ada perkembangan dimana posisi Gea berada?" tanya Pak Sam kepada anak buahnya yang bertugas untuk melacak keberadaan Gea.
"Sudah Tuan, kita bisa melakukan misi penyelamatan hari ini juga. Sesuai prediksi Tuan. Mereka sudah meremehkan tingkat keamanan kita, bahkan di semua titik penjagaan hanya ada beberapa orang yang berjaga." jelas salah seorang bodyguard kepada Pak Sam.
Pak Sam mengangkat salah satu sudut bibirnya, dugaannya benar. Gerald benar-benar sudah meremehkan Tuannya. Tapi dengan misi penyelamatan ini, dia akan menunjukkan siapa Arga Hutama sebenarnya. Walaupun tanpa ikut campur Arga, kesetiaan Pak Sam tidak perlu dipertanyakan lagi.
Laki-laki yang mempunyai sifat dingin dan kejam melebihi Arga itu, bahkan tak segan untuk menghabisi lawan yang sudah terang-terangan untuk memusuhi Arga.
"Siapkan semuanya, kita selesaikan misi hari ini juga." perintah Pak Sam kepada beberapa bodyguard yang ditunjuk menjadi bodyguard VIP untuk misi kali ini. Mereka mempunyai ratusan anak buah untuk menyelesaikan misi penyelamatan Gea.
Itu menunjukkan bahwa Arga tak pernah main-main dalam bertindak, sekalipun yang di culik adalah karyawannya. Tapi dia tetap ingin semua berjalan dengan sangat baik dan juga menjadi peringatan untuk lawannya.
***
Gudang Penyekapan Gea
Gerald berjalan dengan langkah penuh percaya diri, ia masuk ke dalam gudang tempat sasarannya di sekap.
Gea terlihat lemas karena pengaruh obat bius yang diberikan kepadanya, ia sempat memberontak dan membuat keributan di dalam gudang. Namun dengan cepat salah seorang dari penculik Gea segera membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah di bubui dengan obat bius.
Gerald melihat ke arah Gea yang terkulai lemas, ia mendekati gadis itu. Tangan Gerald memegang dagu Gea dan mendongakkan nya secara kasar, laki-laki bertubuh besar itu menatap lekat-lekat gadis yang berada di kursi dengan tali mengikat pada tangan dan pinggang gadis itu.
Gerald menautkan kedua alisnya, ia seolah berpikir untuk mengingat perempuan yang pernah ia temui di kantor Arga kemarin siang. Ia semakin lekat memandang wajah gadis yang dengan sekuat tenaga mencoba untuk bangun dari pengaruh obat bius itu.
Gerald semakin menyadari bahwa gadis yang berada tepat didepannya saat ini bukanlah istri Arga, tangan Gerald yang sedari tadi masih memegang dagu Gea kini ia hempaskan dengan kasar di iringi amarahnya yang memuncak.
"Stupid! " umpat nya dengan suara meninggi, ia melihat anak buah nya dengan pandangan tajam. Gerald mendekat ke salah satu anak buahnya, ia melayangkan sebuah tamparan keras pada pipi kiri pada laki-laki yang berhasil menculik Gea.
"Aku bahkan tak mengenal gadis ini, siapa dia? Kenapa kalian sangat bodoh sekali." rahang Gerald mengeras, matanya berkilat menahan amarah akibat kesalahan anak buahnya.
"Tapi, gadis ini yang berada di mobil itu bos." desis salah seorang anak buahnya.
"Apa?" Gerald seolah tersentak dengan ucapan laki-laki berkepala plontos itu.
"Benar bos, mobil CEO Montana yang bos kirim kemarin berisi gadis ini dan seorang pria. Dia sepertinya sopir dari CEO itu." tegas temannya.
Gerald nampak terdiam, pikirannya menerawang. Tangannya yang semula mengepal, perlahan mulai ia rilex kan.
"Sepertinya aku salah menilai Tuan Arga, dia bahkan lebih pintar dari dugaanku. Dia sudah merencanakan ini semua, dia menjadikan gadis ini sebagai umpan untuk kita." Gerald tersenyum licik ke arah Gea yang masih terlihat lemah.
***
Sementara itu, setelah pesta pernikahan Raymond dan Alice. Arga dan Erina pergi ke sebuah hotel yang sudah Arga pesan sebelumnya. Arga tak mau melewatkan kesempatan langkah ini, pergi ke luar negeri pertama kalinya bersama Erina. Ia merencanakan babymoon, inilah kesempatan yang bagus menurutnya. Karena kesibukannya yang sangat padat, ia hampir tak bisa meluangkan sedikit saja waktunya untuk liburan.
__ADS_1
Erina nampak sudah mengenakan baju santai, ia terlihat duduk bersantai di sofa di sudut kamar hotel dengan ditemani secangkir teh hangat yang sudah ia seduh beberapa menit yang lalu.
Erina menyesap pelan teh yang sudah mulai dingin itu. Ia tampak menikmati keindahan luar dari balik kaca jendela yang terpampang jelas dari dalam kamarnya. Tiba-tiba pandangannya teralihkan pada ponsel yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk.
Drrrrttt ... drrrttt ... drrrrttt ....
Erina bangkit dari tempat duduknya. Ia segera meraih ponsel Arga yang berada di atas nakas, ia melihat nama Pak Sam di layar ponsel Arga.
Erina sempat ragu untuk mengangkat telfon dari Pak Sam, tapi melihat Arga yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Membuat Erina memilih untuk menggeser tombol hijau, ia segera meletakkan benda pipih milik Arga di telinga kirinya.
"Tuan, maaf jika saya menggangu waktu Tuan. Saya hanya ingin memberi informasi, hari ini saya mengerahkan hampir sebagian anak buah kita, untuk misi penyelamatan Gea. Semua saya lakukan sesuai intruksi anda Tuan." suara Pak Sam sukses membuat mulut Erina menganga tak percaya, ia dengan cepat membekap mulutnya dengan salah satu tangannya agar Pak Sam tidak mendengar suaranya.
Arga yang baru saja keluar dari kamar mandi nampak heran melihat Erina.
"Ada apa sayang?" tanya Arga, ia berjalan mendekati Erina. Erina segera menyerahkan ponsel milik Arga.
Arga yang masih kebingungan, segera meraih ponsel dari tangan Erina. Ia melihat nama Pak Sam masih melakukan panggilan di ponselnya, raut wajah Arga seketika nampak panik. Namun, ia coba untuk bersikap setenang mungkin.
"Halo." suara Arga memecah keheningan.
"Tuan, ada masalah?" seru Pak Sam di sebrang sana, ia sekilas mendengar suara Arga yang bertanya pada Erina.
"Tidak, tidak ada ... Bagaimana?" pikiran Arga terpecah, ia menduga bahwa Pak Sam mengira ia yang sedang mengangkat telfonnya tadi. Dan Pak Sam memberikan laporan, seperti biasanya. Arga mendesah pelan.
Arga melirik ke arah Erina yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia tak bisa menutupi masalah ini terus menerus. Mungkin saat nya ia jujur sekarang.
"Baiklah, lakukan tugasmu sebaik mungkin Pak Sam. Buat Gerald menyesal dengan perbuatan nya." suara Arga nampak begitu tegas, kali ini ia tak akan melepaskan Gerald yang sudah mencoba merencanakan penculikan terhadap Erina.
"Baik." ucap Pak Sam seraya menutup telponnya.
***
Arga terdiam setelah di cerca beberapa pertanyaan oleh Erina, ia tahu bagaimana perasaan Erina saat ini. Airmata yang sudah menggenang di kedua sudut mata Erina, kini perlahan turun membasahi pipi mulus Erina. Arga menarik pelan tubuhnya, ia mengusap cairan bening itu dengan kedua tangannya lalu ia benamkan wajah Erina di dada bidangnya. Erina nampak nyaman berada dalam rengkuhan tubuh kekar suaminya itu.
Erina masih nampak sedih dengan penculikan yang menimpa Gea, ia merasa bersalah. Pikirannya berkecamuk.
Andai saja aku tak minta berhenti? Andai saja aku menolak diantar Gea? Andai saja aku terus bersama dengannya sampai rumah? Andai saja ....
Pikiran Erina di penuhi rasa bersalah, ia merasa ialah yang menjadi penyebab terjadinya penculikan Gea.
"Sayang." suara Arga membuat lamunan Erina tersadar.
__ADS_1
Erina mendongakkan kepalanya, menatap lekat-lekat wajah suaminya.
"Aku ingin kita pulang malam ini." suara Erina terdengar lirih, namun masih bisa di dengar jelas oleh Arga.
Arga memegang pelan wajah Erina dengan kedua tangannya, Arga mengusap sisa cairan bening di salah satu sudut mata Erina.
"Sayang, inilah alasanku kenapa aku tak memberitahumu soal Gea sejak awal. Aku takut kamu terlalu mencemaskan nya." desis Arga, ia menatap lekat kedua manik hitam Erina.
"Tapi, ini memang salahku. Aku yang menyebabkan Gea diculik." suara Erina tertahan, airmatanya semakin deras mengalir. Pikirannya kembali menerawang tentang kejadian penculikan yang terjadi padanya beberapa bulan yang lalu.
Waktu itu, ia benar-benar merasa takut. Merasa nyawa menjadi taruhannya, ia bahkan harus kehilangan anak yang dikandungnya. Erina menggeleng-gelengkan kepala, rasa trauma seolah menyelimuti ketakutannya saat ini. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan kepada Gea.
"Sayang. Aku mohon, jangan pernah menyalahkan dirimu lagi. Ini bukan salahmu, ku mohon berhentilah menangis." Arga segera mendekap tubuh Erina yang mulai merasa ketakutan.
"Gea akan baik-baik saja, percaya padaku. Pak Sam akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Gea. Jadi, aku mohon kamu sekarang tenang ya." Arga mengelus pelan punggung Erina.
"Aku tak akan bisa tenang, sampai aku melihat langsung bahwa Gea baik-baik saja. Aku mau pulang sekarang sayang, aku mohon." Erina mendorong pelan tubuh Arga, ia menangkupkan kedua tangannya. Memohon agar Arga mau mengabulkan permintaan nya kali ini.
Arga segera meraih tangan Erina yang masih memohon kepadanya, ia menggenggam jari Erina dan meletakkan di atas pangkuannya.
"Sayang, kita baru sampai di London kemarin dan hari ini kamu ingin kita kembali pulang? Bukankah itu sangat beresiko untuk kehamilanmu?" Arga mencoba untuk membujuk Erina.
"Aku tahu, tapi aku tak akan tenang disini. Aku mohon kabulkanlah permintaan ku kali ini saja, dan dia adalah anak yang kuat. Tak akan ada masalah selama aku nyaman sayang, ku mohon." Erina mengelus pelan perutnya, lalu ia menatap Arga dengan tatapan memohon.
Arga mendengus kasar, mata sendu Erina membuatnya tak ada pilihan lain kecuali menurutinya untuk saat ini. Selama kehamilan nya. Erina memang sangat moody, namun Arga dengan sabar selalu menuruti semua kemauan sang istri. Ia tak mau Erina merasa sedih, seperti malam ini.
***
Arga dan Erina sudah berada di bandara, ia bahkan harus meminjam pesawat pribadi milik koleganya yang kebetulan berada di London. Karena tak mungkin, menunggu pesawat miliknya datang menjemput karena kepulangannya yang secara tiba-tiba.
Suhu udara yang sangat dingin membuat Erina harus memakai pakaian berlapis, ia juga mengenakan mantel tebal agar tubuhnya tak kedinginan. Sama halnya dengan Erina, Arga juga mengenakan baju tebal yang hangat.
Bersambung
Mampir ke karya teman author ya, novelnya bikin baper ❤
Menikah Karena Skandal ~ Linanda Anggen
__ADS_1
Senja ~ Venny