
*K**etika dia sudah menaruh hati sepenuhnya kepadamu, maka bersiaplah untuk serangan cemburu secara tiba-tiba. Karena cemburu adalah perasaan yang takut kehilangan. Cinta adalah sesuatu hal yang rumit, tapi ketika kamu mulai memahaminya kamu akan belajar banyak hal dari cinta*.
Erina masih terpaku dengan kepergian Arga, dia merasa kali ini dia sudah benar-benar membuat suaminya sangat marah kepadanya.
Erina berada di balkon kamarnya, hari sudah gelap tapi Arga belum juga kembali kerumah. Erina duduk di kursi yang berada di balkon, dia menyandarkan kedua tangannya pada pinggiran balkon. Menempelkan dagunya di kedua punggung tangannya, Erina bernafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara kasar. Hatinya terasa sangat sakit, dia merasa sangat bersalah atas marahnya Arga hari ini.
"Harusnya aku lebih tegas ... harusnya aku menahannya tadi." ucap lirih Erina, dia memandang dengan tatapan kosong ke atas langit.
"Kenapa perasaan aneh ini muncul saat aku melihat Bima dengan tunangannya, dan ini sudah membuat semua berantakan. Bukankah aku sudah melupakan Bima dan membuka lembaran baru dengan Arga." hati Erina bergetar menyebut nama Arga, hatinya terasa sakit sekali. Dia mengingat kejadian siang tadi, disaat Arga mengacuhkannya.
"Apakah ini akan berakhir? Apakah ini yang terakhir kali?" Erina memejamkan matanya, tak terasa airmatanya jatuh disaat dia memejamkan mata. Erina benar-benar bingung harus berbuat apa.
"Maafkan aku suamiku ... maafkan aku." ucapnya lirih, airmatanya masih terus keluar. Seiring sakit yang dia rasakan, airmata itu menjadi bukti penyesalan nya.
Erina beranjak dari kursi, dia berjalan gontai menuju kamarnya.
Ceklek ....
Dia menutup pintu yang menghubungkan balkon dengan kamarnya, Erina menyeret sisa tenaganya untuk berjalan ke tempat tidurnya. Dia sangat lelah hati dan pikirannya. Erina berharap dengan memejamkan mata di atas tempat tidur, rasa sakitnya akan hilang dan kekuatan untuk menjelaskan semua kepada Arga akan muncul.
"Ku harap saat nanti aku membuka mata, dia sudah berada di sampingku. Seperti biasanya, memandangku dengan segenap cintanya .... " Erina tak sanggup melanjutkan kata-kata nya, dia segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya, airmatanya keluar semakin deras. Dia baru menyadari betapa besar cinta Arga untuk nya.
Kita akan menyadari seseorang yang berarti untuk kita, ketika dia telah pergi meninggalkan kita.
Erina sangat tersiksa batinnya, bahkan lebih sakit dari rasa ketika dia harus merelakan hubungannya dengan Bima kandas begitu saja. Dia baru menyadari bahwa Arga adalah satu-satunya orang yang dicintainya, tidak ada lagi nama Bima di hatinya. Semua hanya tentang Arga. Erina menelungkup di tempat tidurnya, dia menangis sejadi-jadinya, menyesali kebodohannya yang tak bisa jujur tentang perasaannya kepada Arga.
Erina merasa semuanya sudah terlambat, bahkan untuk meminta maaf saja rasanya sulit.
"Aku sangat menyesal, sungguh-sungguh sangat menyesal." ucapnya di sela-sela isak tangisnya.
"Ku mohon pulanglah, beri aku kesempatan sekali lagi untuk mencintaimu dengan tulus. Ku mohon beri aku kesempatan." suaranya semakin lirih, isak tangisnya sayup-sayup mulai tak terdengar. Erina terlelap dalam tangisnya, penyesalan yang dia rasakan benar-benar membuat dia lelah dan tertidur.
***
__ADS_1
Arga sudah berada di hotel miliknya, dia duduk di sofa yang tepat mengarah ke arah jendela besar di kamar hotelnya. Arga membiarkan kordennga terbuka lebar, hingga ia dengan leluasa memandang langit yang dipenuhi dengan bintang.
Hatinya masih sangat kacau, rasa sakit yang dia rasakan sejak pulang dari taman hiburan belum juga hilang. Dia memilih menginap di kamar hotel miliknya, dia butuh waktu untuk menyendiri. Memberikan waktu kepada Erina untuk meyakinkan perasaan nya sendiri, bahwa masih ada orang lain yang ada dihatinya.
Arga memejamkan mata, airmatanya ikut tersapu.
"Aku terlalu mencintainya, jadi sekarang aku merasakan sakit yang amat sangat." tangan Arga mengepal.
Perasaan cinta yang selama ini ia coba untuk tunjukkan kepada Erina, ternyata suatu hal yang sia-sia. Arga merasa Erina belum sepenuhnya mencintainya, hati Erina masih terbagi. Begitu pikirnya.
Arga mengusap kasar airmatanya, pikirannya masih terbayang wajah polos Erina. Batinnya semakin tersiksa.
"Apa seperti ini rasanya mencintai seseorang dengan tulus? Apakah sesakit ini rasanya?" Arga memegang dadanya yang terasa sesak.
Arga beranjak dari kursi dan melangkah keluar balkon di kamar hotelnya. Dia melihat pemandangan di sekeliling, tangannya berpegangan pada pegangan balkon yang terbuat dari stainless. Arga bernafas dalam-dalam dan berteriak sekencang-kencangnya.
Aaaaaaaaaaarrrrrrrrgggghhh ....
"Erina ... apakah aku tak berarti untukmu? Aku sudah memberikan seluruh cintaku kepadamu, sampai tak bersisa sedikit pun. Tapi kenapa .... " ucapannya tertahan, dia menundukkan kepala. Airmatanya kembali terjatuh, kali ini Arga membiarkan cairan bening itu membasahi pipinya.
"Kenapa sesakit ini .... " ucapnya lirih
Dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya, Arga merebahkan diri di atas ranjang besar di kamar hotelnya. Dia mencoba untuk memejamkan matanya, berharap kesedihannya akan larut dalam mimpinya.
***
Ke esok kan harinya, Arga sudah selesai mandi. Sebelumnya dia mengirimkan pesan kepada Pak Sam untuk membawakannya setelan baju untuk dia pakai ke kantor. Pak Sam sudah terlihat menunggu di sofa kamar Arga.
Pikiran Pak Sam mencoba mencerna apa yang sedang terjadi dengan Tuan nya, dia hanya bernafas dalam-dalam. Berharap urusan Tuan Muda nya agar cepat terselesaikan.
Arga sudah terlihat rapi, perasaannya juga terlihat sedikit membaik.
"Sarapannya di antar ke kamar Tuan?" tanya Pak Sam.
__ADS_1
"Tidak, kita turun saja. Suasana di kamar sangat pengap, aku ingin menghirup udara luar." ucapnya seraya membuka handel pintu. Arga melangkah keluar di ikuti dengan Pak Sam.
Tatapan matanya tak seramah biasanya, tapi sikap Arga terlihat tenang. Dia terlihat mencoba menahan sesuatu.
Mereka pergi ke restauran yang berada di dekat loby hotel, Arga hanya memakan beberapa suap nasi yang tersaji di piringnya. Arga tidak terlalu nafsu makan, suasana hatinya sangat mempengaruhi nafsu makannya. Mereka telah selesai sarapan dan bergegas menuju kantor.
***
Suasana di kantor Arga.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara ketukan pintu, Pak Sam yang hendak keluar segera membuka pintu. Seorang staff sudah berdiri di depan pintu.
"Ada apa?" tanya Pak Sam.
"Ada seorang perempuan mencari Tuan Arga, dia bernama Vina." jelasnya kepada Pak Sam.
Arga yang konsentrasinya terpecah akibat perasaannya yang sedang kacau tak menghiraukan ucapan staff itu.
"Apa keperluan dia?" tanya Pak Sam menyelidik.
"Dia bilang, dia teman nona Erina Tuan." jelasnya sekali lagi.
"Akan saya sampaikan kepada Tuan, tunggu sebentar disini." ucapnya kepada staffnya. Pak Sam melangkahkan kakinya untuk mendekat kepada Arga.
"Tuan, ada seseorang mencari Tuan. Dia bernama Vina dan dia bilang dia adalah teman nona Erina." jelas Pak Sam. Arga yang saat itu sedang menandatangani sebuah dokumen segera mendongakkan kepala melihat ke Pak Sam.
Arga terdiam sebentar dan memutar bola matanya.
"Suruh dia masuk." perintah Arga. Arga segera melanjutkan aktifitasnya kembali.
Bersambung
__ADS_1