
Erina mencoba memejamkan matanya, mencoba untuk istirahat sejenak tapi tidak juga berhasil. Sejak pagi dia merasakan perutnya sangat melilit. Erina hanya bisa merintih menahan sakit.
Apa ini masih ada hubungan dengan pendarahan waktu lalu ya, kenapa rasanya sakit sekali.
Bibi Mar khawatir dengan keadaan Erina. Karna Erina tidak turun untuk makan siang, bibi Mar membawakan makanan ke kamarnya dan mendapati Erina merintih kesakitan.
"Nona, nona tidak apa-apa? " Bibi Mar menempelkan tangannya di kening Erina. Mengecek suhu tubuh Erina. "Tidak demam, Aku harus segera menghubungi Tuan Arga. " Bibi Mar bergegas turun untuk menghubungi Tuan Arga. Meninggalkan Erina yang masih membungkuk untuk menahan perutnya.
"Pak Sam, tolong sampaikan kepada Tuan Arga, nona Erina sakit di bagian perut. Saya tidak tahu harus berbuat apa, jadi saya telfon Tuan. " Jelas bibi Mar ditelfon yang tampak begitu panik. "Baik bi, akan saya sampaikan kepada Tuan Arga." Kata pak Sam. Bibi Mar menutup telfon dan segera kembali ke kamar Erina.
"Nona, mau dibuatkan teh hangat atau sesuatu yang hangat mungkin? " ucap bibi Mar yang terlihat masih sangat mengkhawatirkan Erina.
"Tidak usah bi, perutku tidak nyaman untuk makan dan minum. " Jawab Erina lirih
***
Suasana di kantor Arga.
"Tuan, bibi Mar memberi kabar bahwa nona Erina sedang sakit di bagian perut. " Jelas Pak Sam kepada Tuan Arga.
"Apa?" Arga tampak sangat kaget. "Siapkan mobil dan telfon dokter Mili. " Arga berjalan meninggalkan ruangannya. Diikuti dengan pak Sam yang sibuk dengan ponsel di tangannya.
Sampai dirumah, Arga langsung berlari ke kamar. Wajahnya terlihat sangat khawatir sejak di perjalanan pulang tadi.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan? " Arga memeluk tubuh Erina. Erina hanya meringis menahan sakit di perutnya. Arga membopong tubuh Erina.
"Kita mau kemana? " Erina bertanya lirih.
"Kerumah sakit, memangnya mau kemana lagi! Lihat tubuhmu begitu lemah" Arga sedikit berteriak karna panik melihat keadaan istrinya.
"Tunggu honey, aku mau ke kamar mandi sebentar. " ucap Erina yang merasakan perutnya mulai mules. Arga dengan sigap membopong nya ke kamar mandi.
"Honey, kumohon tunggu diluar sebentar. " pinta Erina.
"Tidak, kalau nanti kami tiba-tiba pingsan bagaimana?" Arga tetap bersikeras menunggu di dalam kamar mandi.
"Tidak honey, sekarang keadaanku lebih baik. Karna mungkin ada kamu disini, jadi sakitku hilang. Atau apa mungkin ini karna kekuatan cinta? " Erina tersenyum, dia asal bicara agar suaminya lekas keluar kamar mandi.
__ADS_1
Disaat situasi seperti ini, kenapa bicara ku semakin aneh si.
Erina menyesali kata kekuatan cinta yang baru saja dia ucap.
"Baiklah, kalau ini tidak karna kekuatan cintaku padamu. Aku tak akan rela meninggalkanmu, walau kamu di kamar mandi sekalipun. " Arga menuruti perintah Erina dan keluar kamar mandi.
Tu kan, dia jadi ikut bicara sesuatu yang aneh juga. Eh, tapi perutku memang udah agak mendingan ya. Apa benar karena kekuatan cinta.
Erina merinding dengan kalimat nya sendiri.
***
Erina keluar dari kamar mandi dan langsung berjalan ke arah bibi Mar.
"Bibi, ternyata aku sedang datang bulan. Bisa minta tolong carikan pembalut." Bisik Erina kepada bibi Mar. Bibi mengangguk dan berlalu meninggalkan kamar Erina.
Arga yang sudah penasaran dengan keadaan Erina, segera berteriak. "Kenapa malah bisik-bisik sama bibi Mar, apa aku suami yang tak dianggap?!" Arga terlihat kesal.
"Bukan begitu suamiku, aku hanya tak nyaman kalau tidak bicara dengan sesama perempuan." Melirik ke arah pak Sam.
Arga yang menyadarinya langsung menyuruh pak Sam keluar kamar.
Mulai narsisnya.
Erina terkekeh dalam hati.
"Aku datang bulan hun. " Jawab Erina singkat.
"Datang apa? Datang bulan? Apa itu? Kenapa begitu aneh didengar. " Arga masih tak mengerti apa maksud istrinya. Erina tersenyum mendengar reaksi suaminya.
"Datang bulan hun, siklus yang terjadi pada tubuh wanita setiap bulan. " Erina mencoba menjelaskan.
"Ah, aku tak pandai menjelaskan. Biarlah nanti dokter Mili yang akan menjelaskan secara detail kepada suamiku yang lugu ini. " gumam Erina sambil tertawa kecil.
Arga melirik Erina. "Kenapa kamu tertawa, apa yang sudah kamu rencanakan? Kamu sedang menggodaku ya? " Arga menggelitik tubuh Erina.
"Sudah honey, kumohon lepaskan." Erina yang masih merasakan sisa sakit di perutnya kini tertawa menahan geli akibat ulah suaminya.
__ADS_1
"Sayang kamu benar sudah tidak apa-apa? " Arga masih tak percaya dengan perubahan Erina yang begitu cepat dan masih tampak khawatir
"Iya, aku tadi cuma nyeri karna datang bulan." Erina meyakinkan Arga.
Dokter Mili masuk dengan bibi Mar.
"Selamat sore nona Erina. " Sapa dokter Mili yang sedikit heran dengan keadaan yang terjadi. Karna ditelfon tadi pak Sam mengatakan bahwa situasi terlihat genting.
"Selamat sore dokter Mili. " Erina tersenyum menyambut dokter Mili.
"Nona Erina, anda baik-baik saja? " Tanya dokter Mili memastikan.
"Iya dok, hanya nyeri haid. " Erina menjawab singkat.
dokter Mili sudah mulai mengerti situasi yang terjadi. Kepanikan Tuan Muda yang berlebihan terhadap istri yang sangat dicintainya. Itulah yang ditangkap oleh dokter Mili. dokter Mili tersenyum dan mulai memeriksa Erina.
"Nyeri di perut nona tidak ada masalah, hanya nyeri haid biasa. Nanti saya resep kan obat untuk mengurangi nyerinya." Jelas dokter Mili
"dokter, kapan aku dan istriku bisa melakukan hubungan suami istri lagi? " Tanya Arga secara langsung dan tanpa basa basi. Membuat Erina benar-benar malu, Erina mencubit pinggang suaminya.
"Ouch.. Sakit sayang! " Arga meringis, Erina melotot dan mulutnya komat-kamit tak jelas.
Bibi Mar dan dokter Mili terkekeh melihat dua sejoli ini.
"Tenang Tuan Arga, setelah nona selesai datang bulan. Kalian sudah bisa melakukan hubungan suami istri seperti biasa. " jelas dokter Mili sambil tersenyum penuh arti.
Arga senyam-senyum mendengar ucapan dokter Mili. Berbanding terbalik dengan Erina yang sangat malu. Sampe seluruh pipinya bersemu merah.
"Baiklah, resep obatnya nanti saya titipkan pak Sam. Saya permisi dulu nona Erina dan Tuan Arga." dokter Mili berpamitan dan pergi berlalu diiringi bibi Mar.
"Sayang, Kira-kira berapa lama ya selesainya? " tanya Arga polos. Erina memukul bahu suaminya, Erina sangat malu dan membenamkan dirinya di bawah selimut. Arga mengikutinya, membenamkan diri dibawah selimut. Trus menggoda Erina sampai Erina lupa akan nyeri di perutnya.
Bersambung
Happy reading
Jangan lupa untuk like, coment + vote ya.. 😍🥰
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya para readers❤❤