
Pak Sam dengan puluhan anak buahnya sudah berada di lokasi penyekapan Gea, bodyguard VIP berada di barisan depan dalam misi penyelamatan ini. Mereka adalah bodyguard pilihan, mereka selain memiliki badan yang kekar, mereka juga memiliki kecerdasan dalam merencanakan berbagai misi.
Laki-laki berpostur tinggi 183 cm itu memberikan instruksi kepada bodyguard pilihannya.
"Kita menyebar ke beberapa titik, lumpuhkan semua penjagaan nya. Setelah itu kita lakukan misi penyelamatan terhadap Gea. Apa sudah kamu pastikan Gerald berada di dalam?" seru Pak Sam.
"Iya Tuan, Mr. Gerald sudah berada di dalam. Dia datang sekitar 30 menit yang lalu." jelas salah seorang bodyguard nya.
"Baiklah, lakukan sesuai rencana. Misi kali ini tidak terlalu berat, juga tidak terlalu ringan. Kita harus tetap waspada di setiap tindakan kita, mengerti?" Pak Sam memberikan tekanan pada kalimat terakhirnya.
"Mengerti Tuan." jawab mereka kompak.
Mereka segera menyebar untuk menjalankan rencana yang sudah disusun sebelumnya.
Satu persatu penjagaan di setiap titik berhasil mereka lumpuhkan, sampai akhirnya tiba di pintu gudang. Tempat dimana Gea di sekap.
Pak Sam memberikan komando untuk mendobrak pintu gudang tua itu, dua bodyguard yang bertubuh kekar dari lainnya itu segera mencoba membuka pintu dengan menendang daun pintu gudang. Hanya beberapa kali tendangan, pintu sudah terbuka lebar.
Nampak Gerald berdiri bersama lima anak buahnya, ia terlihat kaget dengan kedatangan Pak Sam yang tiba-tiba.
Gerald mengangkat kedua tangannya lalu bertepuk tangan dengan keras, senyum licik terlihat jelas di wajahnya.
Pak Sam tak ingin berlama-lama, ia ingin segera mengakhiri aksi penyekapan yang dilakukan terhadap Gea.
Kesadaran Gea berangsur pulih, ia meronta. Tubuhnya masih terikat dengan kencang di kursi yang didudukinya.
"Ternyata kalian datang lebih cepat dari yang aku duga." seru Gerald menajamkan pandangannya kepada Pak Sam.
"Anda bertindak terlalu tergesa-gesa Mister," ujar Pak Sam, ia terlihat sangat tenang. Bahkan raut wajahnya terlihat datar seperti biasanya.
Laki-laki berambut silver itu mengangkat salah satu sudut bibirnya, "Bahkan ini masih permulaan, bagaimana bisa kamu mengatakan aku tergesa-gesa?"
"Saya bukan orang yang suka berbasa basi Tuan, lepaskan gadis itu. Maka saya akan berbelas kasih kepada anda." tawar laki-laki kepercayaan Arga.
cih
"Aku tak butuh belas kasihan mu, aku bahkan bisa membunuh gadis ini jika aku mau. Kenapa aku harus menyerahkan kepadamu? Bukankah gadis ini hanya seorang gadis biasa yang tak berarti bagi Tuan Arga, kenapa kalian repot-repot menyelamatkan nya. Idiot man!" Gerald tersenyum smirk menatap Pak Sam.
Pak Sam tampak geram, Ia mengepalkan tangannya karena kesal Gerald mengumpat padanya. Tangannya sudah tidak sabar ingin segera menghajar laki-laki bertubuh besar itu. Pak Sam berjalan mendekati Mr. Gerald, ia tampak tak gentar sedikitpun. Raut wajahnya juga tak menunjukkan kecemasan.
Namun berbeda dengan Gerald, ia merasa terintimidasi dengan sikap Pak Sam saat ini. "Jangan mendekat, atau kalian akan melihat gadis ini mati sia-sia." Gerald mengeluarkan pistol dan mengarahkannya tepat di hadapan Gea.
Pak Sam menghentikan langkahnya, tapi tetap bersikap setenang mungkin. Beberapa bodyguard yang berada di belakang Pak Sam nampak geram dengan ulah Gerald.
__ADS_1
Gea yang kesadarannya sudah pulih, tak merasa gentar dengan ancaman Gerald. Sorot mata Gea menatap tajam manik biru laki-laki yang menodongkan pistol kepadanya.
Gerald merasa gertakan nya berhasil membuat Pak Sam menghentikan langkahnya, ia menyunggingkan senyum kemenangan dengan pandangan tetap tertuju Pak Sam.
Gerald tampak lengah, Gea mengendurkan heels yang ia pakai. Ia mengayunkan dengan kuat kaki kanannya, heels 7cm miliknya melayang ke arah laki-laki besar di hadapannya.
Pletak ....
Sepatu heels Gea sukses mendarat di kening Gerald, laki-laki paruh baya itu mengaduh kesakitan. Ia tak sengaja melempar pistolnya ke sembarang arah, dengan cepat salah seorang bodyguard yang sedari tadi sudah berjaga segera mengambil pistol milik Gerald.
Dalam hitungan menit anak buah Gerald berhasil ditaklukan oleh bodyguard pilihan Pak Sam, Gerald yang sudah dibekuk oleh Pak Sam menatap nyalang pada Gea.
"*****." pekiknya kepada Gea.
Gea hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan laki-laki tua itu. Misi penyelamatan kali ini berhasil tanpa ada satupun yang terluka.
"Good job Gea." puji Pak Sam kepada Gea.
Gea merasa bangga dan terharu, karena Pak Sam mengerahkan puluhan anak buahnya untuk misi penyelamatan dirinya.
***
Suasana di kediaman Arga Hutama
"Kita baru tiba beberapa jam yang lalu, aku tak mau kamu terlalu capek sayang. Kita istirahat dulu, lalu aku janji akan membawamu untuk bertemu dengan Gea." ucap Arga mencoba membujuk Erina.
Erina membenarkan ucapan suaminya, mereka memang baru sampai beberapa jam yang lalu. Dengan berat hati Erina menyetujui dengan rencana yang Arga katakan, untuk istirahat beberapa jam. Mereka butuh merilekskan tubuh dan pikirannya, dan itu akan sangat baik untuk janin dalam perutnya.
Dua jam berlalu Erina sudah tampak segar, setelah merendam tubuhnya dengan air hangat. Ia nampak bersemangat sekali.
Erina melihat Arga masih terlelap di atas tempat tidur nya, ia mendekati Arga. Arga nampak begitu polos ketika tidur, ia tak sampai hati untuk membangun kan suaminya itu.
Erina beranjak dari tempat tidurnya, namun tangan Arga segera menarik pelan tangan Erina. Hingga membuat tubuh Erina tersentak dan kini berada tepat di atas Arga.
"Kenapa tak membangunkan ku?" suara Arga terdengar parau, suara khas orang bangun tidur. Ia menyibak rambut Erina yang menghalangi wajahnya.
"Aku tak tega membangunkan mu, kamu tampak begitu lelah." lirih Erina.
"Aku tidak akan capek jika kamu memberikanku hadiah." raut wajah Arga nampak polos, ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas hingga terbentuk senyuman yang mampu meluluhlantakkan hati Erina.
Wajah Erina merona, "Hadiah?" tanya Erina penasaran. Ia menautkan kedua alisnya.
"Iya hadiah. Jika kamu tak ingin melihat ku kecapekan, kamu harus segera memberikanku hadiah." Arga memiringkan tubuhnya, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Erina yang terlihat semakin sexy karena kehamilannya.
__ADS_1
"Hadiah seperti apa yang kamu inginkan?" Erina menempelkan wajahnya di dada bidang Arga. Arga semakin senang dengan tindakan Erina.
"Aku ingin hadiah di sini," Arga menunjuk pipi kanannya.
Erina seolah mengerti yang dimaksud dengan Arga, ia segera mendaratkan bibirnya di pipi yang ditunjuk Arga. Namun, telunjuk Arga berpindah ke pipi kirinya.
"Disini juga," goda Arga sambil menunjuk pipi kirinya. Erina masih menuruti ucapan suaminya itu, ia mencium pelan pipi kiri Arga.
Tapi ciuman itu rupanya bukan yang terakhir, telunjuknya masih menunjuk ke arah bibirnya. Dengan dalih yang terakhir.
"Ini yang terakhir." ucap Arga sambil berulang kali mengangkat kedua alisnya, ia tersenyum penuh arti.
Erina merasakan pipi nya mulai memanas, ia yakin saat ini pipi nya sudah memerah. Arga melihat perubahan wajah itu, ia sangat menyukainya. Arga sangat senang menggoda Erina.
"Kenapa diam?" desis Arga
"Kalau begitu aku akan memejamkan mataku lagi, karena kamu tak mau memberikan hadiah yang aku inginkan." imbuhnya, ia segera menutup kedua kelopak matanya.
Erina yang melihat tingkah suaminya hanya mendengus pelan.
"Ish ... kenapa kamu jadi merajuk seperti ini sayang? Bukankah kamu sudah berjanji untuk mengantarkan ku bertemu Gea sekarang." seru Erina dengan raut wajah kesal. Namun Arga tak bergeming sedikitpun, Ia tetap menutup rapat kedua matanya.
Erina tak ada pilihan lain, selain menuruti kemauan Arga. Ia mendekatkan wajah nya tepat di depan wajah Arga yang sedang pura-pura tidur. Ia mengecup pelan bibir Arga, tetap tak ada reaksi. Erina mengerucutkan bibirnya semakin kesal dengan tingkah Arga.
Ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, Erina kembali mengecup pelan bibir Arga yang nampak penuh itu. Arga mulai mengikuti ritme ciuman Erina, ia memegang tekuk Erina dengan mata masih terpejam, Arga membalas ciuman Erina dengan hasrat yang mulai memuncak. Nafasnya mulai memburu, darahnya berdesir. Mereka mulai menikmati ciuman yang berubah menjadi semakin liar dan semakin memanas, mereka larut dalam ciuman yang memabukkan itu.
***
Setelah aksi permintaan hadiah ala Arga, Erina kembali meminta janji Arga untuk mempertemukannya dengan Gea. Laki-laki yang memiliki tinggi 186 cm itu nampak semangat untuk memenuhi janji Erina.
"Baiklah, karena aku adalah laki-laki sejati yang selalu menepati janji. Aku akan mengantar istri tercinta ku untuk bertemu Gea sekarang." seru Arga dengan nada dibuat semanis mungkin, Erina hanya terkekeh mendengar kalimat suaminya itu.
Bersambung
Gea
Pak Sam
__ADS_1